
Setelah berada selama 30 menit di dalam Bar, Elric keluar dengan tatapan yakin, ia telah menerima berbagai informasi tentang kota ini dan ia tahu bahwa sosok istrinya Anita bisa menyelamatkan semua orang di tempat ini.
Walau tidak terlihat, sebenarnya semua orang di kota ini sedang merasa cemas, soalnya beberapa bulan terakhir ini para pelancong sudah berhenti berdatangan kemari.
Bukan karena tempatnya yang membosankan hanya saja, orang-orang mulai menyebar gosip bahwa kota ini telah dikutuk penyihir.
Bagi orang luar yang tidak tahu apapun mereka akan dengan senang mempercayainya begitu saja tanpa mencari tahu alasannya, memang ada sangkut pautnya dengan penyihir namun masalah itu tidak termasuk soal kotanya.
Selagi melihat jalanan di bawah kakinya, Elric memutuskan untuk kembali ke penginapan selagi mengingat kembali pembicaraan sebelumnya.
Awalnya kota ini sama seperti kota biasanya, namun semuanya berubah saat putri dari pemilik kota ini bertemu penyihir saat kedatanganya setelah berpergian jauh.
Penyihir itu sempat memberhentikan kereta, tapi sejujurnya penyihir itu tidak bermaksud jahat, dia hanya seorang wanita tua yang sekarat karena kelaparan.
Dia meminta untuk meminta sedikit makanan pada putri itu, akan tetapi sang putri tak menghiraukannya malah dia memukulinya sampai mati dan berkata kasar padanya hingga akhirnya dia dikutuk memiliki penampilan serba merah termasuk pakaiannya.
Penampilan merah itu berasal dari darah yang terus keluar dari setiap kulitnya. Orang tua putri tersebut akhirnya membuat kota dan seisinya menjadi merah agar sang putri tidak mengingat kehidupan sebelumnya demi meredam rasa frustasinya.
Padahal saat itu dia bisa meninggalkannya begitu saja.
__ADS_1
Penyihir memang makhluk mengerikan meski demikian kita tidak sepatutnya melakukan hal tersebut, sekarang entah penyihir atau putri tersebut sama-sama mengerikannya, itulah yang Elric pikirkan sekarang.
Kurasa putri itu telah belajar satu hal dengan kejadian yang menimpanya.
Elric menaiki tangga lalu membuka pintu kamar, Anita sudah tertidur pulas jadi dia secara perlahan tidur di sampingnya, meski begitu bagi penyihir hawa keberadaan seseorang bisa dengan mudah dia rasakan.
"Kau sudah pulang Elric?"
"Aah, aku perlu sesuatu untuk membantu kota ini."
"Sudah kuduga, kau tidak bisa meninggalkan seseorang saat mereka membutuhkan bantuanmu, aku tidak membencinya hanya saja jangan sampai memaksakan diri."
"Sebenarnya besok aku lebih membutuhkan bantuanmu Anita."
"Begitukah, kalau begitu aku akan melakukannya dengan semangat jika kau mau memanjakanku malam ini."
"Di sini ada Dewi Venus?"
"Jangan khawatir, aku sudah memberikannya obat tidur, benar juga sebaiknya aku mematikan penerangannya juga "
__ADS_1
Elric hanya bisa menerima apa yang ditawarkan Anita padanya hingga keesokan paginya suara Dewi Venus menggema di ruangan.
"Apa yang terjadi? Aku tidak ingat apapun semalam."
Elric dan Anita yang menutupi tubuhnya dengan selimut hanya bisa tertawa kecil sebagai balasan saat melihat tingkah tupai yang panik mencari kacangnya.
"Kau pasti memakannya?"
"Aku minta maaf, aku akan menggantinya dua kali lipat," balas Anita.
"Jika begitu tidak masalah, ngomong-ngomong kenapa kalian telanjang? Kalian melakukannya meski ada Dewi kan."
"Aku harus bergegas menemui pemilik kota ini."
"Aku juga."
"Jangan melarikan diri," Dewi Venus hanya mendesah pelan selagi menggeleng-gelengkan kepalanya pasrah.
Ketiganya keluar dari penginapan tanpa membawa senjata ataupun peti mati, membiarkannya di penginapan adalah pilihan terbaik terlebih hari ini ada festival dan sebisa mungkin mereka tidak boleh mencolok.
__ADS_1