
Para penyihir terus menembakan sihirnya sementara Elric mengeluarkan kristal lalu melemparkannya ke seluruh penyihir yang menyerangnya hingga meledak dahsyat.
Para penyihir itu tumbang dengan beberapa ledakan yang mereka terima.
Anita membakar seluruh buku mereka sementara Elric mengintrogasi salah satunya.
"Siapa yang memerintah kalian?"
"Bangsawan di kota terdekat, dia ingin membuat para penduduk desa itu pindah hingga dia mendapatkan tanahnya."
"Apa yang dia inginkan, aku tidak yakin dia hanya ingin membangun perusahaan di sana?"
"Soal itu kami tidak ada yang tahu."
Elric mendorong penyihir itu ke belakang.
"Jika kalian ada di sini lagi, akan kubunuh."
"Baik."
"Bagaimana sekarang?"
"Untuk sekarang kita kembali saja ke desa, jika suruhan bangsawan itu datang mari kita tangkap."
Seperti yang dikatakan Elric, saat suruhan itu datang mereka menangkapnya kemudian menyekapnya di salah satu bangunan dengan seluruh badan terikat.
Elric mengambil kursi lalu duduk saling berhadapan.
"Jadi apa yang atasanmu inginkan dari tempat ini? Tak mau berbicara, terpaksa kami akan menyiksamu sampai malam hari."
Pria itu akhirnya mengatakan semuanya sebelum Elric dan Anita membiarkannya pergi setelah mengatakan bahwa jika mereka menemukannya yang mereka cari maka mereka akan pergi menemuiku bangsawan tersebut.
__ADS_1
Sesuai informasi yang didapatkan, ada makam tersembunyi di tempat ini, dan di duga sebagai penyihir. Penyihir ini dikatakan dikubur bersama benda sihir yang diperebutkan banyak orang, sayangnya tanpa diketahui penduduk desa mereka malah mendirikan bangunan di atasnya.
Elric mendesah pelan.
"Kuburannya tanpa nisan, kecuali menggali seluruh desa ini, tidak mungkin bisa dilakukan?"
"Benar sekali, Dewi lakukan sesuatu?"
"Aku hanya seekor tupai... mana bisa membantu, ngomong-ngomong Elric apa tak masalah senapanmu hancur?"
"Aku bisa membuatnya lagi, itu tidak terlalu sulit."
"Begitukah."
"Untuk sekarang mari menyebar?" atas pernyataan Anita, ketiganya mulai mengambil jalan berbeda.
Elric menyisir rerumputan di belakang desa, hampir mustahil untuk menemukan sesuatu seperti gumpalan tanah meski demikian setelah seharian Elric menemukannya.
Di jari telunjuk kanannya terdapat cincin tengkorak yang jelas menakutkan.
"Dia terlihat cantik, rasanya seperti masih hidup."
"Berhati-hatilah, kemungkinan ada jebakan atau semacamnya jika kita terlalu lama membukanya."
"Aku akan mengambil cincinnya."
Tepat saat Elric melakukannya, tanpa terduga dia langsung berhenti.
"Ada apa Elric?" tanya Anita dari atas.
"Barusan aku melihat dadanya naik turun."
__ADS_1
"Mana mungkin, dia sudah mati."
Dewi Venus yang sejak tadi berada di kantong baju Elric pun mengatakan hal sama.
"Ketika Anita menengok ke dalam peti mati tersebut, wanita di dalamnya membuka mata hingga dalam sekejap seluruh tubuhnya berubah menjadi tengkorak lalu terbang ke langit mirip seperti sebuah asap hitam.
Langit yang sebelumnya cerah telah berubah menjadi gelap gulita bersamaan petir dan kilat yang menyayat di sekitarnya.
Elric buru-buru keluar dari lubang yang dia buat dan berdiri di samping Anita, angin berhembus begitu kuat sehingga tidak aneh bahwa mereka berdua bisa diterbangkan dengan mudah jika terlalu lama dalam pusaran.
Di sisi lain sang penyihir tertawa.
"Akhirnya ada yang membangkitkan aku juga, dengan ini era kegelapan akan kembali dimulai dan semua orang akan terkena wabah mengerikan."
"Kurasa tidak secepat itu."
"Apa maksudmu?"
Anita menunjukkan cincin tengkorak yang dia ambil sesaat saat penyihir itu terbang ke langit.
"Karena kau sudah mati, jadi kau tidak merasakan jarimu dipatahkan."
"Sialan kau."
"Mundurlah Elric biar aku yang mengatasinya."
Tepat saat penyihir itu terbang melesat ke bawah. Anita mengumpulkan kekuatannya di tangan. Saat menghantam wajah musuhnya tubuhnya langsung melebur menjadi debu.
Pemandangan yang gelap gulita kembali menjadi cerah kembali.
"Tanpa cincin ini, penyihir barusan bukan apa-apa."
__ADS_1
Dalam waktu singkat Anita telah memahami situasi hingga mengambil langkah yang tepat, untuk sesaat Elric merasa kagum akan hal itu.