The Little Apple Garden

The Little Apple Garden
Chapter 39 : Kota Berwarna Merah


__ADS_3

Elric dan Anita kembali ke kota untuk meminta bayaran pada pemilik kota yang terus bersembunyi di balik selimutnya, saat keduanya mengatakan bahwa penyihir kerakusan berhasil dikalahkan wajahnya berubah menjadi cerah.


"Kalian seorang penyelamat."


Anita dengan tak sabaran menyodorkan tangannya.


"Tolong bayaran kami."


"Ugh... tentu, aku akan membayar kalian dua kali lipat."


Setelah mendapatkan uangnya, keduanya langsung melanjutkan perjalannya kembali.


Terlalu lama berada di kota akan sangat berbahaya terlebih mereka sudah menjadi pusat perhatian karena mengalahkan penyihir, seseorang mungkin dapat mengenali sosok Anita sebagai penyihir keserakahan jika terus diam di sana.


Baru saja meninggalkan tempat sebelumnya, kegelapan menelan mereka.


Keduanya menengadah ke langit di mana matahari telah tertutup seutuhnya. Atau lebih tepatnya sebuah gerhana matahari.


Anita akhirnya memutuskan mengatakan sosok yang ditakuti seluruh ketujuh penyihir dosa pada Elric, sementara Elric hanya mengangguk kecil selagi menepuk rambut Anita.


"Jika dia datang, kita akan kalahkan bersama."


"Um."


Elric mengepalkan tinjunya bertekad untuk semakin kuat lagi meskipun Dewi yang mengirim dirinya ke dunia ini tampak tertidur pulas di saku bajunya seolah tak peduli.

__ADS_1


Paling tidak Elric berharap dia akan memberikan kekuatan cheat atau oper power padanya namun sayangnya itu tidak pernah terjadi.


Yang dimiliki Elric hanya sebuah kehidupan abadi, meski begitu dia tidak akan pernah merasa terbiasa jika terus menghadapi kematiannya secara terus menerus.


Saat matahari kembali bersinar, keduanya telah sampai di sebuah aliran sungai yang jernih di mana air tersebut berasal dari dalam tebing.


Elric mengambil air tersebut lalu memberikannya pada Anita yang duduk di atas peti.


"Terima kasih."


"Dari sini kota masih jauh, kemungkinan besar kita hanya tidur di dalam hutan dalam beberapa hari."


"Bagaimanapun keadaannya, jika bersama Elric semuanya tampak menyenangkan.. Ah, pipimu memerah."


"Jangan menggodaku."


Setelah menghabiskan waktu di dalam hutan akhirnya mereka sampai di sebuah kota unik dimana hanya orang-orang yang mengenakan pakaian berwarna merah saja yang diperbolehkan masuk.


Berkat bantuan para penjaga akhirnya keduanya bisa masuk ke dalam walaupun harus membayarnya sedikit mahal, Elric mengenakan pakaian seperti di abad pertengahan dengan celana pendek serta kemeja tangan panjang, sedangkan Anita mengenakan gaun dengan kain tudung untuk menutupi kepalanya.


"Bagaimana, apa ini cocok denganku?"


"Cocok sekali."


"Benarkah?"

__ADS_1


Anita mendorong wajahnya mendekat dan Elric memilih untuk sedikit menjauh.


"Semua orang melihat kita, jangan melakukannya di sini."


Anita hanya mengembungkan pipinya cemberut, sementara Elric tersenyum masam sebagai balasan. Meski mereka suami istri mereka perlu membatasi hal seperti ini di depan umum dan Elric tahu bentul tentang itu.


Kepala tupai menyeruak dari bajunya.


"Tidurku sangat nyenyak, apa aku melewatkan sesuatu?"


"Sejujurnya Dewi, Anda malah jadi semakin buruk. Dan mulai terbiasa hidup menjadi pengangguran."


"Memangnya kau mengharapkan apa dari tupai kecil sepertiku, aku hanya bisa makan kau tahu? Dan sekarang aku lapar, tolong siapapun belikan aku kacang."


"Dewi ini lama-lama menyebalkan."


"Kalian berdua tenanglah," Elric memotong keributan lalu membawa Anita untuk berjalan bersamanya kembali.


Mereka melewati beberapa toko di jalanan utama kota, seperti yang terlihat, tak hanya orang-orangnya, rumah juga terlihat di cat warna merah.


Anita berkomentar.


"Mungkin saja pemilik kota ini, sangat gila warna merah."


"Warna merah bukan warna bagus, itu malah mengingatkanku soal darah," tambah Elric tersenyum pahit.

__ADS_1


Terlepas dari warnanya, tidak dipungkiri lagi bahwa kota ini tetap saja bagus dari segi penampilannya, terlebih apapun yang kau inginkan semuanya ada di sini.


Termasuk penginapan serta pemandian air panasnya.


__ADS_2