
Saat Elric dan Fanilia hendak berjalan kembali sebuah ledakan terjadi dari arah masion, asap hitam mengepul tinggi ke udara membuat semua orang seketika merasa panik.
Elric memegangi tangan Fanilia lalu mendorong kepalanya untuk menunduk ke bawah.
"Elric?"
"Bersembunyilah di belakang."
"Tapi."
"Sudahlah."
Atas paksaan Elric, Fanilia mundur ke belakang, bersamaan itu sebuah pedang gergaji berputar di udara mengincar Fanilia.
Elric yang menyadarinya mendorong tubuh Fanilia ke depan dan dalam sekejap tangan Elric terputus menyemburkan darah dari bekas potongannya.
"Tiiiidak.. Elric." Fanilia tampak sok selagi menutupi mulutnya berbeda jauh dari Elric yang dengan santai mengambil tangan kanannya yang terpotong.
"Cepatlah pergi."
Fanilia buru-buru bersembunyi di balik bangunan sedangkan pedang gergaji itu terus terbang ke langit lalu kembali ke tangan pemiliknya yaitu seorang wanita berbaju merah dimana rantai terlilit di tubuhnya menyilang antara pinggang dan dada.
"Kau mengorbankan tanganmu demi seorang gadis bukannya itu romantis."
"Aku tidak mengorbankan apapun."
Darah yang tercecer kembali ke dalam tubuh Elric termasuk tangannya yang kembali menyatu.
__ADS_1
"Apa-apaan itu? Kau ini manusia? Tapi biarlah, jika tubuhmu bisa kembali bagaimana jika aku memotong-motong tubuhmu jadi seukuran kerikil pasti sangat menyenangkan."
"Perkataan penyihir memang mengerikan."
"Ibu bukan apa-apa."
Mengibaskan pedangnya wanita itu berlari sekuat tenaga, dia memunculkan sebuah lingkaran sihir di bawah kakinya untuk membuat lompatan jauh di depan Elric, mengangkat pedangnya tinggi dia menghantamkannya tepat di tanah dimana sebelumnya Elric berdiri.
Akibat benturan keras tanah terbelah menjadi dua kemudian membelah bangunan yang di lewatinya, sementara itu Elric langsung berlari menjauh ke arah masion.
"Kau ingin melarikan diri, tidak akan kubiarkan."
Yang dipikirkan Elric hanyalah jika dia berlari menjauh maka wanita gila ini akan mengejarnya hingga Fanilia akan aman namun apa yang dipikirkannya jelas bertolak belakang.
Dengan kuat wanita itu menarik rambut Fanilia lalu menyeretnya bersamanya.
"Jika kau lari wanita ini akan mati loh, aku bisa mengeluarkan isi organnya lalu membelah kepalanya, aku penasaran apa tubuhnya akan menyatu lagi?"
"Pilihan bijak."
Dengan kuat wanita itu melempar tubuh Fanilia membanting tembok hingga ia tak sadarkan diri, sebagai seorang putri dia harusnya dilindungi oleh seorang kesatria tapi malah mendapatkan perlakuan kasar seperti ini, membuat Elric marah, seharusnya dia membawa senjatanya saat ini.
Elric mengatupkan mulutnya lalu berlari sekuat yang bisa dia buat, wanita itu memegangi pedangnya dengan kedua tangannya lalu menebas tubuh Elric menjadi dua bagian hingga potongan itu tergeletak begitu saja.
"Uwah, tubuhmu masih seperti manusia rupanya, hey, kapan tubuhmu menyatu lagi?"
Wanita itu berjongkok selagi memainkan genangan darah dengan jarinya, saat tubuh Elric menyantu lagi wanita itu mengayunkan pedangnya kembali.
__ADS_1
"Sekarang mari penggal kepalamu."
Bertepatan saat pedang memenggal leher Elric, dia dengan sigap memasukan sesuatu ke dalam mulut wanita itu.
Potongan kepala jatuh begitu saja ke lantai batu sementara wanita pembawa pedang ketakutan.
"A-apa yang kau masukan ke dalam perutku?" dengan gelisah wanita itu menggeledah seluruh pakaian Elric dan menemukan sebuah batu-batu berwarna biru yang disebut kristal Azura.
Dia berteriak
"SIALAN KAU.. TERKUTUK KA.."
DUAR.
Sebelum perkataannya selesai tubuh wanita itu meledak dahsyat menyemburkan setiap daging dan darah ke segala arah, sementara itu kepala Elric terbang bersama darah yang tercecer menjadi satu bagian lagi dengan tubuh utamanya.
Fanilia yang bangun hanya bisa diam tak bisa berkata apapun bahkan saat Elric mendekat ke arahnya, tubuhnya terlihat gemetaran hingga tak terkendali.
Elric membantunya berdiri lalu berkata.
"Maaf memperlihatkan hal yang mengerikan padamu, lebih baik kau mencari pasangan yang lebih baik."
Saat Elric hendak berjalan pergi tangannya ditarik oleh Fanilia mendekat, saat ia sadari sebuah bibir yang lembut nan manis mengambil ciuman darinya.
"Fanilia?" panggil Elric kebingungan sementara Fanilia hanya tersenyum selagi menutup satu matanya.
"Sekarang aku baik-baik saja."
__ADS_1
"Setelah ini aku akan menjelaskan semuanya, mari pergi."
Fanilia mengangguk sebagai jawaban.