
Melanjutkan perjalanan kembali. Elric tanpa sengaja bertemu dengan seorang pemuda yang tampak sedang berisitirahat di dekat gerobaknya yang rusak.
Biasanya gerobak ditarik oleh seekor kuda namun pemuda ini menggunakan sapi sebagai alternatif.
"Kau tidak apa-apa?" yang bertanya itu adalah Anita.
"Ah iya, aku tadinya mencoba membawa air ini ke desaku namun roda gerobaknya malah rusak, para penduduk pasti menungguku."
"Apa di desamu tidak air?"
"Airnya tercemar, untuk minum aku selalu mengambil di sana demi semua orang."
Sudah jelas jaraknya sangat jauh.
Elric mengintip ke dalam gerobak sepertinya airnya masih aman.
"Anita apa kau bisa membawanya dengan tanganmu."
"Bukan masalah."
"Tunggu, apa yang akan kalian lakukan?"
"Jangan khawatir, kami juga akan ke desamu."
__ADS_1
Elric membiarkan si pemuda duduk di atas sapi, sementara Anita mengangkat gerobak tersebut dengan satu tangan seolah seringan bulu unggas.
"Apa ini yang dimaksud berkat?"
Elric mengangguk mengiyakan sebelum akhirnya mereka berjalan pergi, jarak desa sekitar 2 Km yang mana itu cukup jauh, kendati demikian kekuatan Anita bukanlah hal yang bisa diremehkan.
Dengan santai dia menurunkan gerobak di depan para penduduk sementara pemuda yang dia tolong mengucapkan terima kasih, kepala desa pun mengatakan hal sama selagi membungkuk rendah atau sejujurnya karena penuaaan tubuhnya tidak bisa rendah dari sekarang.
Seekor tupai dari balik pakaian Elric naik ke atas pundak, seperti sudah biasa Elric memberikan sebuah kacang untuknya.
"Ngomong-ngomong bukannya kalian punya sumur kenapa kalian tidak menggunakannya?"
"Sejujurnya sumur kami sudah mengering sejak dua tahun yang lalu sementara sungai kami tercemar sesuatu hingga airnya tidak bisa dipakai, beberapa penduduk memaksakan diri untuk memakainya hingga mereka mengalami keracunan serta penyakit kulit yang cukup parah."
Pemuda sebelumnya menambahkan.
"Belakangan ini ada orang yang ingin membeli desa kami, katanya akan dibangun sebuah perusahaan pakaian dan kami disuruh pergi dari sini, apa mungkin ini ulah mereka? Sebelum mereka datang, desa ini baik-baik saja."
"Boleh aku melihat sumurnya."
"Silahkan."
Elric mengikat sebuah tali pada tubuhnya sebelum turun ke dalam sumur, kedalamannya hanya sekitar 10 meter meski begitu biasanya air bisa sampai setinggi permukaan sumur.
__ADS_1
Itulah yang dikatakan kepala desa padanya.
Elric menyalakan obor yang dibawanya untuk memeriksa dasarnya, ternyata benar-benar kering. Namun ada sebuah batu sekepalan tangan di tengahnya yang cukup menarik perhatian Elric.
Dengan berhati-hati Elric memegangnya lalu mengangkatnya, bersama itu semburan air menerpa tubuhnya lalu mengirimnya ke atas melebihi tinggi sumur.
"Uwah."
Para penduduk desa berteriak bersemangat selagi menyatukan tangan mereka seolah sedang berdoa sementara Elric melompat turun dan Anita yang lebih dulu bertanya.
"Apa ada sesuatu?"
"Apa kau tahu tentang batu ini?"
"Ah ini, batu yang dibuat dengan sihir yang mampu menghisap air dan menahannya. Ini bukan barang mahal meski begitu cukup merepotkan jika digunakan seperti ini."
"Benar."
Elric maupun Anita hanya menatap penduduk yang terus membiarkan dirinya basah dalam tetesan air. Dengan ini Elric mengetahui satu hal, bahwa seseorang sengaja membuat desa ini dalam musibah.
Sebelum ada bukti Elric dan Anita akan tinggal di sini sementara waktu, lagipula sejak tadi Dewi Venus terus bermain dengan anak-anak desa hingga air matanya terus mengalir.
Elric tidak mungkin membuat anak-anak kecewa.
__ADS_1