
"Apa Maksudnya itu?" tanya Elric dan Anita menjawab.
"Ini adalah nama iblis yang telah membunuh semua orang di desa ini."
"Jika begitu lalu di mana kita bisa menemukannya?"
Atas pernyataan Elric, Anita tersenyum kecil.
"Kenapa dicari iblisnya sudah datang kemari, coba pikirkan kenapa pak tua ini ada di desa padahal semua orang masih tidak terlihat?"
"Jangan-jangan?"
Pria tua itu menyeringai senang kemudian meninju wajah Elric hingga menembus ke dalam penjara dengan sedikit ledakan.
"Kukira kalian bisa membuat orang-orang itu bisa kembali telihat, aku ingin menghancurkan lingkaran sihir tersebut sayangnya benda itu bereaksi terhadap iblis."
"Sudah kuduga kau memang sengaja memancing kami untuk datang kemari... Elric?"
"Aah."
Elric menyeruak dari puing-puing batu bata yang menimpanya kemudian menusukan sebuah pisau tepat di dada pria tua itu sebelum akhirnya keluar bersama Anita.
Keduanya melompat bertepatan saat bangunan tersebut meledak dahsyat oleh beberapa kristal yang dijatuhkan Elric sebelumnya.
Dari api yang berkobar tersebut pria tua sebelumnya berjalan muncul, tubuhnya tampak telah hangus terbakar kendati demikian dia masih bergerak secara normal.
Anita meninju tanah untuk menciptakan retakan besar menahan pergerakan pria tersebut.
"Kalian berdua benar-benar membuatku marah, harusnya semua penduduk desa ini akan menjadi santapanku."
"Tidak, yang benar aku yang mengalahkanmu."
Elric mengambil peti mati dari Anita sebelum memutuskan untuk melihat dari kejauhan, iblis ini tidak terlalu kuat karenanya Anita meminta hanya dirinya saja yang mengalahkannya.
__ADS_1
Dengan hentakan di kaki, Anita meluncur cepat ke depan, dia memegang erat tinju lalu melesat dari atas.
Menyadari bahaya tersebut, pria tua itu melompat ke belakang kemudian mengambil arah ke samping untuk menghindari serangan lanjutan dari Anita.
Mulut pria tua itu merobek menampilkan lidah yang panjang yang mampu melilit tubuh Anita sebelum akhirnya dia hantamkan ke tanah.
"Ugh.. jadi begitu wujud aslimu."
"Benar sekali, aku lebih suka seperti ini, dibanding memberikan sihir pada manusia aku lebih suka membunuh manusia dengan tanganku sendiri... mereka memang santapan yang lezat."
Pria tua itu merayap di tanah dengan rambut menyelimuti seluruh tubuhnya, lidah panjang yang keluar dari mulutnya tampak bergerak-gerak di udara
Di sisi lain Elric hanya bisa melihat dari kejauhan bersama Dewi Venus yang keluar dari saku bajunya.
"Benar-benar mengerikan, bisakah kau menyerang dari sini Elric?"
"Tanpa senjataku itu sangat sulit, serangan anginku juga tidak sampai ke sana."
"Begitu, aku yakin Anita sendiri bisa melakukannya."
Mulut yang merobek itu hancur dengan percikan darah membasahi tanah, meski begitu luka iblis bisa tertutup kembali.
"Haha... aku sudah membunuh banyak manusia, jika saja wanita itu tidak muncul aku pasti sudah menjadi yang terkuat... tak kusangka di luar sana ada penyihir yang baik juga yang rela membantu manusia," katanya menembakan lidah dari mulutnya yang bisa dihindari Anita.
"Apa yang kau katakan? Aku juga penyihir. Kau tahu."
"Jangan bercanda, dari tadi kau hanya menggunakan berkatmu saja."
"Aku sudah terbiasa menggunakannya, tapi jika kau ingin melihatnya akan kutunjukan."
Pecahan es bermunculan di udara membentuk dirinya menjadi tombak yang mana melesat tertuju pada iblis tersebut, menggunakan rambut di sekujur tubuhnya iblis bisa mematahkan setiap serangan.
"Sepertinya sihir es tidak berpengaruh padaku, jika demikian bagaimana dengan ini."
__ADS_1
Sebuah lingkaran raksasa muncul dibawah kaki iblis tersebut, ekspresi yang tadinya percaya diri seketika berubah menjadi keputusasaan.
"Bagaimana kau bisa menggunakan sihir yang lain, terlebih ini sihir tingkat atas yang mengurung musuh dalam sekejap."
"Sudah kubilang aku ini penyihir?"
"Penyihir, rambut perak, kulit putih dan juga tubuh kecil... ka-kau, penyihir keserakahan?"
"Benar sekali."
"Aaaarrrgrhh."
Pilar api membakar tubuh iblis itu dalam sekejap.
"Iblis sudah dikalahkan," kata Anita dengan pose imut melirik Elric dan Dewi Venus dibelakangnya.
Beberapa saat kemudian Anita menggendong kembali peti mati di punggungnya, selagi menyusuri jalanan setapak dia bertanya pada Elric.
"Apa kau yakin tidak ingin mengembalikan desanya sedia kala?"
"Kupikir itu memang keinginan desa ini."
"Keinginan?"
"Jika mereka mau kurasa mereka sudah melakukannya sejak awal," atas pernyataan Elric, Anita maupun Dewi Venus tersenyum kecil.
Tanpa diketahui siapapun, saat malah hari tiba di salah satu meja makan yang tadinya kosong beberapa keluarga muncul secara tiba-tiba, salah satunya seorang ibu yang menuangkan sup ke mangkuk putri dan suaminya, saat ia menengok ke arah jendela orang-orang yang lainpun mulai terlihat.
Benar.
Dia adalah penyihir yang membuat desa ini menjadi seperti sekarang dan hidup bahagia bersama penduduk lainnya.
Penyihir itu tersenyum selagi bergumam ke arah rombongan Elric yang dia lihat sebelumnya.
__ADS_1
"Terima kasih."