
Di aliran sungai yang mengalir tenang itu Anita maupun Dewi Venus sedang membasuh tubuhnya di balik batu besar.
Di sisi lain Elric sedang menyiapkan sup untuk mereka bertiga nikmati, setelah perjalanan jauh mereka sama sekali tidak bisa menemukan kota ataupun desa yang bisa digunakan sebagai peristirahatan karenanya mereka hanya bisa terus berkemah di hutan ini.
Keduanya memakai pakaian mereka kembali selagi mengeringkan rambut mereka yang basah sebelum duduk di batang kayu di depan Elric.
"Aromanya harum sekali," ucap Anita disusul Dewi Venus.
"Apa masih belum matang."
"Sudah matang, aku akan memindahkannya ke dalam mangkuk."
Elric memberikan satu mangkuk ke arah Anita kemudian pada Dewi Venus.
"Harusnya aku duluan."
"Istri harus didahulukan, apa kau tidak tahu itu?"
"Tapi aku seorang Dewi."
"Maaf saja, di dunia ini kita setara."
"Lain kali kalian ambil saja sendiri," balas Elric demikian.
Menikmati sup hangat di pagi hari memang sesuatu yang patut disyukuri.
Elric berkata setelah menghabiskan supnya.
"Ada yang harus kukatakan pada kalian berdua?"
"Apa itu?"
"Sebenarnya kita tersesat."
"Apa?" teriak keduanya.
"Apa kalian baru menyadarinya."
__ADS_1
"Kukira karena hutan ini sangat luas kita perlu lebih dari seminggu melewatinya, benar kan Dewi Venus."
"Aah, aku juga berpikiran begitu."
Selama itu mereka terjebak di sini.
"Bukannya kalian terlalu santai... yah, untuk sekarang setelah selesai mari kita lanjutkan perjalanan lagi."
Elric mengeluarkan pisau dari tangannya untuk menandai setiap rute yang mereka lewati dengan tanda panah.
"Kita ke sini."
"Um."
Setiap mereka menyusuri hutan Elric terus membuat goresan setelah beberapa jam dia berhenti di salah satu pohon besar.
"Ada apa Elric?"
"Aku yakin bahwa kita pernah melewati pohon ini."
Sementara itu Anita memeriksa seluruh bagian pohon tersebut selagi masih membawa peti mati di punggungnya.
"Tidak salah lagi pohon ini memang sudah kita lewati tapi bukan hari ini melainkan tiga hari sebelumnya."
"Kau yakin?"
"Aku mengingat susunan ranting di pohon ini."
"Bukannya kemampuanmu sangat menakutkan Anita?" ucap Dewi Venus yang dibalas senyuman masam.
"Aku hanya kebetulan melihat pohon ini saat melihat burung juga."
Elric menyimpulkan beberapa hal sekarang.
"Pohon ini mungkin hidup dan membuat kita terus terjebak, atau mungkin ada seseorang yang sengaja membuat kita mengalami hal ini."
"Itu mungkin saja, terlebih aku benar-benar tidak bisa menyadari semuanya.. apa mungkin kita harus menangkap Pixie?"
__ADS_1
"Pixie?" Elric mengulang kata tersebut.
"Mereka peri kecil yang suka tinggal di dalam hutan dan senang bersembunyi selain itu mereka juga ahli menemukan jalan keluar, aku yakin sebelum mereka bisa ditemukan kita tidak akan bisa keluar dari sini."
"Maksudmu mereka selalu bermain petak umpet."
"Bisa dibilang begitu," balas Anita pada Dewi Venus lalu melanjutkan.
"Jika kita bisa menemukan serta menangkapnya mereka pasti akan menunjukkan jalan yang benar."
"Itu pasti sulit, apa ada cara yang lebih mudah?"
Anita memikirkannya sesaat.
"Mereka menyukai hal yang manis, mungkin kita bisa menjebaknya tapi sayangnya kita bisa membawa apapun yang bisa digunakan sebagai umpan."
"Mudah saja, kita hanya harus membuatnya... mari cari buah-buahan serta sarang madu, pastikan untuk tidak berpencar."
Di belakang semak-semak rimbun itu ketiganya bersembunyi selagi mengawasi jebakan yang telah dipersiapkan.
Mereka sedikit kesulitan untuk mengambil madu meski begitu mereka bisa melakukannya walaupun wajah mereka sedikit lebam karena tersengat.
"Dia muncul."
Mengikuti perkataan Anita seekor Pixie wanita terlihat terbang masuk ke dalam jebakan, saat Elric menarik tali di tangannya, kurungan yang terbuat rotan jatuh ke bawah lalu mengurungnya di dalam.
"Heh, kenapa ini?"
Elric dan Anita menatap tajam ke arah peri tersebut, untuk Dewi Venus dia hanya mengangkat tangan tupainya.
"Akhirnya kita mendapatkannya."
"Tolong jangan makan aku, aku punya tiga anak yang menungguku pulang."
"Kami akan memperlakukanmu dengan baik haha."
"Kalian penjahat kah," teriak Dewi Venus.
__ADS_1