The Little Apple Garden

The Little Apple Garden
Chapter 57 : Keluar Dari Hutan


__ADS_3

Pixie itu terbang di depan rombongan Elric selagi mengeluh akan sesuatu.


"Kalian semua beruntung karena aku terkena jebakan kalian, coba bayangkan jika kalian tidak bertemu denganku."


Entah Elric atau Anita keduanya tampak tersenyum masam. Mereka sama sekali tidak berbuat jahat ini hanya murni cara meminta tolong dengan memaksa.


"Kami benar-benar berterima kasih sebesar-besarnya, kami telah terperangkap di hutan ini sejak lama."


Pixie menghela nafas atas pernyataan Anita kemudian membalas.


"Ikuti aku, kita akan masuk ke dalam batu itu."


"Tapi itu jalan buntu?" tanya Elric.


"Ikuti saja."


Tepat saat mereka melangkahkan kakinya, mereka semua menembus batu tersebut dan saat disadari mereka telah berada di luar area hutan.


Anita bergumam pelan.


"Sampai kapanpun semua orang yang masuk ke dalam hutan ini tak akan bisa keluar."


"Seperti yang kau katakan, tidak ada yang bisa keluar dari hutan ini... seluruh areanya telah di lindungi oleh mantra hanya para Pixie saja yang diizinkan keluar masuk dari wilayah ini, kalau begitu aku masuk lagi, semoga beruntung dalam perjalanan."


Anita segera menghentikan Pixie yang hendak berbalik.


"Apa lagi?"


"Ini madu yang tersisa, kau boleh mengambilnya."

__ADS_1


"Baiklah, kuanggap ini bayarannya."


Dewi Venus menyeruak dari dalam baju Elric.


"Untuk sekarang aku ingin makan sesuatu, Elric belikan sesuatu nanti di kota."


"Aku mengerti."


Elric dan Anita melanjutkan langkah mereka menuju kota terdekat, di sana mereka memberikan sedikit uang untuk para penjaga sebelum akhirnya diperbolehkan masuk ke dalam.


Ini adalah negara yang disebut sebagai negara damai di mana semua orang dilarang melakukan konflik apapun, tidak main-main siapa yang terbukti bersalah mereka akan dikurung dalam penjara dalam waktu lama tanpa diberi makan atau minum.


Dan itu sama saja dengan mati.


Benar-benar kota mengerikan meski begitu Elric maupun kelompoknya tidak bisa berbuat banyak, mereka hanya tinggal sebisa mereka lakukan dan menjual beberapa barang untuk mendapat uang.


Seperti yang sekarang mereka lakukan.


Ini adalah toko antik yang menjual dan menerima barang apapun selagi barang tersebut memiliki nilai seni.


Elric mengeluarkan sebuah pisau yang mana ia berikan pada pemilik toko.


"Aku ingin menjual ini."


"Di mana kalian menemukannya?"


"Di reruntuhan, kami seorang petualang yang berpergian jauh."


"Begitu, sebentar aku akan menilainya.... dari jenisnya serta lamanya kurasa pisau ini sudah ada 500 tahun lalu, aku pikir aku akan membelinya sekitar 20 koin emas."

__ADS_1


"Apa tidak bisa lebih?"


Anita mengutarakan protesnya namun Elric memotong.


"Kami menerimanya."


"Oke."


Dengan ringan Elric mengambil kantong uang yang disodorkan padanya, samar-samar dia bisa mendengar ucapan pemilik tokonya.


"Jika dijual, ini bisa sekitar 40 koin emas, beruntung sekali."


Di luar toko Anita tampak mengembungkan pipinya.


"Bukannya kita malah rugi, aku yakin harganya lebih mahal dari itu."


Elric mendekatkan wajahnya selagi meletakan satu jari di bibirnya hingga Anita terdiam.


"Negara ini melarang siapapun untuk berdebat, atau mungkin kita akan dipenjara."


Seolah mengerti apa yang dikatakan Elric, Anita mengangguk mengiyakan dan melihat ke sekeliling orang-orang yang memperhatikan.


"Kenapa mereka?"


"Kurasa peraturan negara ini mereka gunakan untuk merampok para turis yang datang kemari, kita akan menginap semalam lalu pergi dari kota ini secepatnya."


Anita mengangguk mengiyakan bersama Dewi Venus yang diam-diam mendengarkan.


Walau penginapan dan makanan terbilang mahal paling tidak ini lebih baik daripada tidur di luar.

__ADS_1


Itulah yang dipikirkan Elric sekarang.


__ADS_2