The Little Apple Garden

The Little Apple Garden
Chapter 25 : Ibukota Night Tail Kerajaan Ediora


__ADS_3

Elric dan ketiga rekannya sampai di sebuah tempat yang menjadi pusat negara ini bernama Night Tail, beberapa hari sebelumnya kerajaan Ediora telah diserang oleh penyihir keserakahan Rumus dan sekarang kerajaan dipindahkan kemari seutuhnya.


Syukurlah ratu dan putri raja berhasil menyelamatkan diri meski begitu luka atas kehilangan raja tidak pernah terobati.


Saat kelompok Elric melintas melewati ruang terbuka di tengah kota tampak orang-orang sedang berkumpul untuk menyaksikan putri mereka berpidato, berbeda dengan ayahnya yang mementingkan kekuatan militer sepertinya putri ini lebih mengutamakan kesejahteraan penduduknya.


Ia berteriak meminta dukungan sedangkan Elric hanya menatapnya datar.


"Wanita sepertinya terlalu memaksakan diri, bukan begitu?"


"Aku juga berfikiran sama, dia sudah jelas tidak bisa berdiri di depan orang banyak."


Tubuhnya memang sedikit gemetaran dan nadanya kadang tergagap-gagap.


Mina yang digendong di pundak Mariella hanya memiringkan kepalanya, sampai sebuah suara putri semakin terdengar keras.


"Sebagai orang yang akan memimpin negara ini aku akan membuat pasukan kuat untuk mengalahkan para penyihir serta membunuh penyihir keserakahan yang telah membantai ibukota, karena itu siapa yang mau ikut denganku?"


Di saat orang-orang terbakar oleh semangat Mariella tertawa hingga mereka terdiam untuk menyaksikan wanita serigala tersebut, putri menuturkan pertanyaan padanya.


"Maaf, apa ada yang lucu?"


"Bukan apa-apa, hanya saja penyihir keserakahan yang kau maksud telah tewas, aku dan Namira sudah menghabisinya."


Elric yang mendengar itu memicingkan mata ke arah keduanya.


"Jadi benar, kalian berdua mengalahkan penyihir itu tanpa sepengetahuanku."


"Ah soal itu.. Kami hanya tidak ingin melibatkan Elric saja," balas Namira selagi mengalihkan pandangannya di susul Mariella.


"Seharusnya aku tidak mengatakannya."


Di saat ekpresi semua orang berubah dari keterkejutan menjadi kebahagiaan, Elric berkata pada Namira.

__ADS_1


"Nanti aku ingin bicara berdua saja denganmu."


"Mungkinkah aku akan dihamili."


"Berhentilah bermimpi hal aneh-aneh, kalian berdua hanya akan menjadi contoh buruk untuk perkembangan Mina."


"Aku tidak keberatan sih, soalnya aku sudah dewasa."


"Aku lupa soal itu," teriak Elric sampai ia sadari bahwa putri itu sudah berada dihadapannya, pandangannya tertuju pada senjata di belakang Elric.


"Bukannya itu senjata untuk membunuh penyihir."


"Bukan, ini hanya senjata biasa, kalau begitu kami permisi."


Elric berusaha untuk menghindari hal merepotkan kendati demikian tangannya lebih dulu dipegang putri.


"Aku menginginkanmu, tolong jadi suamiku."


"Kau tidak bisa meminta seseorang menikahimu begitu saja, pria ini tunanganku."


"Tunanganku juga, hubungan kami seperti tuan dan budak."


"Kalian berdua seenaknya saja."


Mina berkata dengan jahil.


"Ayah, apa aku akan memiliki ibu baru?"


"Kalian semua sama saja."


Elric sekuat tenaga menahan emosinya agar tidak keluar, semenjak datang ke dunia ini hari-harinya jelas selalu buruk, banyak hal yang terasa berbeda dari dunia lamanya bahkan hal merepotkan seperti ini.


"Untuk sekarang ikutlah denganku, banyak hal yang ingin kutanyakan."

__ADS_1


Mereka hanya bisa menuruti permintaan putri ini dan pergi ke sebuah masion megah, istana sedang dibangun karena itulah hanya di sinilah tempat keluarga kerajaan tinggal.


"Biar aku perkenalkan, namaku Fanilia Ediora Cleo, seperti yang kalian lihat aku seorang putri dan ini ibuku Sonia Ediora."


"Salam kenal."


Ibu dan putri itu memiliki kesamaan rambut dan mata berwarna biru.


Mereka pun memperkenalkan diri juga.


Hanya Mina yang menikmati hal ini dengan duduk di pangkuan Elric selagi memakan cemilan.


"Perkataan sebelumya, apa benar bahwa penyihir keserakahan Rumus telah dikalahkan?"


"Memang benar," ketika Mariella menegaskan kembali tampak wajah keduanya terlihat lega.


"Aku benar-benar bersyukur, orang itu telah membantai kerajaan kami, kalian sepatutnya mendapatkannya hadiah dari kami.. Tolong tinggallah di kota ini sementara waktu aku jamin semua pelayan akan memanjakan kalian semua, bagaimana menurut ibu?"


"Itu benar, kami ingin menunjukkan rasa terima kasih dengan sepantasnya."


Namira mengangkat tangannya.


"Sayang sekali kami sangat sibuk, kami tidak memiliki waktu untuk tetap tinggal, bukan begitu Elric?"


"Benar sekali, kami akan senang jika diberi perbekalan untuk melanjutkan perjalanan kami."


"Kalau begitu kita akan mengadakan pernikahan malam ini juga," ucap Fanilia.


"Oi, kalian ingin menjeratku dalam pernikahan politik."


Elric segera bangkit namun tangannya ditahan oleh sang putri lebih dulu, dengan ini sudah dua kali putri ini melakukannya.


"Walau kau menikah denganku, aku tidak peduli jika kau ingin mempunyai banyak selir.. Paling tidak aku mohon selamatkan negara ini."

__ADS_1


__ADS_2