The Little Apple Garden

The Little Apple Garden
Chapter 35 : Alasan


__ADS_3

Di balik rumah-rumah yang tampak termakan usia itu, ada sebuah bukit tinggi di mana untuk sampai ke atasnya, keduanya harus menaiki tangga selama 30 menit.


Sebelum tangga terakhir Anita membantu Elric untuk menutup matanya dengan kain biru sebelum tangannya dipegang Anita memandunya terus berjalan.


Anita adalah seorang penyihir tinggi bahkan jika itu pesona Dewi, dia tidak akan terjebak hal semacam itu.


Konon Dewi selalu menjadikan kuilnya sebagai tempat berbicara pada pengikutnya, jadi sudah sepatutnya Dewi Venus juga begitu, terlebih dia hanya memiliki kuil satu-satunya di tempat ini.


Saat keduanya mendekat ke arah patung, hujan bunga berjatuhan dari atas langit, di samping patung tampak seorang wanita berdiri selagi memegang seikat bunga.


Ia mengenakan gaun putih panjang dengan rambut pirang yang tampak memukau yang dibiarkan terurai begitu saja sampai pinggul.


"Penyihir Keserakahan kah?"


"Kurasa tidak perlu berpura-pura, kau pasti tahu bahwa kami datang kemari."


Wanita itu tertawa kecil.


"Fufu begitulah."


Elric membuka mulutnya untuk memotong percakapan.


"Kudengar bahwa Dewi yang memanggilku ke dunia ini?"


"Benar sekali, aku yang memanggilmu... semua yang dikatakan Anita adalah kebenaran."


"Lalu apa alasannya?"


"Tidak ada yang khusus, aku pikir Elric ingin menjalani hidup yang lebih baik jadi aku kirim kemari."


"Hidup baik apanya? Aku sampai sekarang terus-menerus mengalami kematian, bukan tidak sedikit orang yang mati di depanku," ketika Elric meninggikan suaranya, Dewi itu berlinang air mata.


Elric seketika terdiam.

__ADS_1


"Apa Dewi Venus menangis?" tanyanya heran.


"Iya, kau baru menyakiti hatinya."


"Heeeh," Elric tak bisa berkata-kata lagi, dia sempat memikirkan bahwa sosok Dewi itu begitu keras kepala namun yang sesungguhnya Dewi di depannya terlalu lembut.


"Padahal aku ingin membantumu, saat aku melihatmu aku sedikit kasihan jadi aku mengirimkanmu ke dunia ini yang mana menjadi dunia satu-satunya yang kuawasi, aku tahu bahwa hidup di dunia ini sangat sulit karena itulah aku juga memberikanmu keabadian."


Memberikan seseorang keabadian tanpa bertanya dulu pada orangnya, sudah jauh dari melanggar privasi.


Elric berdeham sekali lalu melanjutkan.


"Dengan kata lain tidak ada alasan lain kenapa aku datang kemari?"


"Tidak ada."


"Seperti menyelamatkan dunia atau sebagainya?"


"Mana mungkin aku memberikanmu beban begitu berat setelah tahu hidupmu juga sangat sulit."


"Soal itu."


"Anda terus melihatku kan?"


"Jangan katakan, aku malu."


Anita yang memperhatikan mendesah pelan.


"Seharusnya kau mengatakannya langsung ke Elric saat memanggilnya kemari, bukannya para pengikutmu meninggal karena sebab ingin bertemu denganmu tapi berbeda dengan Elric dia akan langsung bisa bertemu denganmu kan."


"Soal itu, aku sedikit trauma.... karena kehilangan banyak pengikut kini aku hanya Dewi tanpa apapun, semakin banyak pengikut Dewi maka kekuatan Dewi tersebut juga akan semakin tinggi dan sekarang aku paling lemah... aku tidak bisa melakukan apapun hingga aku pun menyembunyikan diri di tempatku satu-satunya di sini."


"Entah kenapa aku merasa kasihan padamu."

__ADS_1


Elric juga berfikiran demikian.


"Kurasa tidak apa jika melepaskan ikat penutup mata Elric," kata Anita selagi melakukannya, saat itu dilakukan ada perasaan aneh saat Elric melirik ke arah Dewi.


"Kenapa dengan perasaanku?"


"Dia sangat cantik bukan?"


"Benar sekali."


"Jangan melihatku seperti itu, aku jadi malu," Dewi Venus mati-matian menutupi wajahnya, semua yang dimilikinya sama seperti apa yang digambarkan patung di sebelahnya.


Kulit yang putih seolah transparan, wajah yang cantik, tubuh yang tinggi serta aura yang melebihi dari wanita biasanya.


Dewi memang sosok yang berbeda dengan manusia akan tetapi ini melebihi apa yang diperkirakan Elric, bahkan jika Dewi Venus meminta ingin menginjak Elric, dia tidak mungkin keberatan.


Anita dengan ringan berkata.


"Tinggal di sini terus, pasti membosankan, apa Dewi mau ikut bersama kami?"


"Anita bukannya itu berlebihan? Dia seorang Dewi loh."


"Tidak apa-apa, walau tidak bisa membantu, Dewi tetaplah Dewi mereka adalah pusat dari ilmu pengetahuan, aku ingin menelitinya."


"Anita, kau baru saja menunjukkan niat jahatmu."


Elric berusaha memperingatinya.


"Aku akan memberikan hukuman ilahi padamu."


"Tolong jangan lakukan itu, aku salah bicara... Tapi aku serius mengatakannya hal itu, mungkin suatu hari kau akan memiliki pengikut lagi dan kembali ke surga."


"Itu memang keinginanku namun saat itu tiba aku tidak akan bisa turun lagi kemari, terlebih aku juga tidak bisa sembarangan menunjukkan penampilanku di dunia ini."

__ADS_1


"Kau memiliki banyak hal untuk dikhawatirkan rupanya, tapi serahkan saja padaku... aku punya sihir yang bagus."


Elric hanya menatap dengan wajah bermasalah, ia merasakan firasat buruk dari senyuman Anita.


__ADS_2