The Little Apple Garden

The Little Apple Garden
Chapter 38 : Pertarungan Sengit


__ADS_3

Sosok Devina menerjang ke depan dengan suara mengerikan, setiap mulut di tubuhnya bergemeretak menghasilkan suara yang melengking yang membuat tubuh Elric tak bisa bergerak, di sisi lain Anita yang merupakan penyihir tidak pernah terpengaruh oleh intimidasi tersebut.


Dia menutup jarak Devina dengan memukul wajahnya hingga terlempar menabrak pepohonan.


"Elric kendalikan dirimu?"


Aku sama sekali tidak bisa bergerak.


Anita meletakan bibirnya serta memasukan lidahnya untuk memberikan rasa manis ke dalam mulut Elric. Tiba-tiba tubuh Elric bergerak sedikit demi sedikit.


Air liur Anita bisa menghilangkan kutukan apapun, bagaimanapun seluruh tubuh Anita memanglah istimewa, jika seseorang meminum darahnya mereka juga akan abadi, hal itu adalah kebenaran.


"Jika kau merasa takut, maka tubuh akan membantu, dia hanyalah penyihir kita masih bisa membunuhnya," mendengar perkataan Anita akhirnya Elric kembali ke dalam kesadarannya.


Dia abadi walau beberapa kali dia mati, dia akan selalu hidup.


Sepantasnya dia tidak perlu takut akan kematian, meski begitu dia sekuat tenaga untuk tidak mati.


"Bagus, akhirnya kau sadar."


"Maaf Anita."


"Tak perlu meminta maaf, ini adalah tugas istri untuk mendukung suaminya."


Devina berdiri seolah tak terjadi apapun, dia dengan ringan mengembalikan lehernya ke tempat asal tanpa kendala. Ketika dia mengarahkan tangannya sebuah lingkaran sihir muncul.

__ADS_1


Itu adalah sihir api tingkat tinggi yang menerjang ke arah keduanya.


Anita melakukan hal sama dan menciptakan dinding tanah setinggi yang bisa dia buat hingga kobaran api mengambil jalurnya di kiri dan kanan.


"Jadi ini penyihir."


"Karena tidak ada roh yang terikat, kami bisa menggunakan segala elemen, seperti yang kukatakan kami tidak memiliki roh untuk menjaga agar gerbang mana kami tidak menyerap energi negatif, jika kau gagal mengendalikan maka kau akan berubah iblis seperti kerakusan tapi jika bisa kau bisa melakukan ini."


Sekarang lingkaran sihir Anita berubah menghitam.


"Sihir hitam?"


"Benar sekali."


Dari lingkaran itu menembakan api hitam yang menghancurkan apapun di depannya, sayangnya mulut di tubuh Devina menyerapnya lalu memakannya.


Elric yang kesal karena dari tadi hanya menjadi beban Anita memutuskan maju ke depan, dia menembakan senapannya dengan cepat, mengenai bahu maupun dada Devina.


Bahkan dengan senjatanya itu tidak mempan, apa senjata pembunuh penyihir ini tidak sekuat yang dibayangkan atau mungkin karena Devina penyihir tingkat atas.


Dengan ringan Elric menunduk saat sebuah tangan hendak menebas lehernya, ketika ada celah Elric mengirim senapannya ke mulut yang berada di dadanya.


Dengan sekali tarikan, mulut itu hancur.


Teriakan Devina menggema ke udara, Devina menendang tubuh Elric hingga dia memuntahkan darah selagi menyisir tanah yang di laluinya.

__ADS_1


Mulut itu juga ternyata kelemahannya.


"Sialan kau, akan kucabik-cabik tubuh kalian berdua."


Anita mengirim beberapa sihir serangan namun sayangan seperti sebelumnya sihir itu terhisap ke dalam setiap mulutnya.


"Mati kalian."


Anita tersenyum, selanjutnya kedua tangan yang hendak menggapai keduanya terpotong-potong beberapa kali.


Devina begitu terkejut saat tahu siapa yang melakukannya, itu adalah wanita yang selalu berada di peti mati yang sering dibawa Anita.


Dia adalah Namira.


Dia sudah mati karena itu walau telanjang dia tidak akan mungkin merasakan kedinginan.


"Necromancer, kau benar-benar penyihir yang paling terkutuk Alina."


SRAK!


Giliran kepalanya yang terbelah dua kemudian seluruh badannya, sudah jelas bahwa Namira menggunakan sihir angin sepertiku.


Dari semua kekuatannya hal yang paling berbahaya dari kerakusan adalah kutukannya, jika itu tidak mempan, maka dari awal pertarungan ini sudah bisa ditentukan siapa pemenangnya.


Anita menghela nafas panjang sementara Namira kembali ke petinya.

__ADS_1


Syukurlah bahwa mereka berhasil mengalahkan Devina sebelum efek obat ramuannya menghilang.


__ADS_2