
Dafa mengacak rambut nya sungguh ia mulai frustasi, ia seorang laki-laki yang biasa hidup dengan berganti-ganti wanita kini malah di tolak mentah-mentah bahkan setelah menikah.
"Apa yang harus aku lakukan?" Dengan frustasi Dafa mengacak rambut nya, ia memandangi punggung istri nya yang kian menjauh.
Drrrrrttt...
Drrrrrttt...
Drrrrrttt...
Sampai dering ponsel yang ada di dalam saku celana nya membuyarkan lamunan Dafa.
"Siapa malam-malam begini?" Gumam nya dengan merogoh saku celana nya dan mengeluarkan gawai tipis yang berhasil menyita perhatian nya itu.
"Rio? tumben ni anak telfon" Gumam Dafa setelah membaca nama yang tertera di layar benda canggih itu.
"Halo?" Ucap nya setelah menggeser tombol hijau yang tertera.
📞"Halo Fa, lo bisa kesini nggak? Ini Sandi lagi ngadain party!" Terdengar suara Rio yang bersahutan dengan dentum musik dari seberang telfon sana.
"Posisi?" Tanya Dafa dengan senyum semirik nya.
📞"Biasa apartemen Sandi" Sahut Rio yang ada di seberang telfon.
"Ok otw" Sahut Dafa yang langsung memutuskan sambungan telfon tersebut.
Dafa berjalan melewati ranjang Big size nya dan di sana ia melihat Nirmala tengah tertidur.
Dafa perlahan mendekati nya dan ia menyelipkan anak rambut yang menutupi wajah Nirmala ke belakang telinga gadis itu.
CUP!
Dafa mengecup kening Nirmala yang sudah memejamkan mata.
"Maaf" Ucap Dafa dengan lirih, kemudian ia segera berdiri dan keluar dari dalam kamar nya.
Setelah mendengar pintu kamar di tutup Nirmala pun membuka mata nya dan mengusap kening nya berkali-kali, terlihat dari raut wajah gadis itu ia sangat membenci Dafa, bagaimana tidak benci? seharusnya ia masih hidup bebas tanpa status dan ini malah diajak menikah bahkan dengan ancaman.
Nirmala bangun dari posisi tidur nya ia masih duduk di atas ranjang dan tangan nya meraih gawai tipis yang ada di atas nakas.
Awal nya ia iseng-iseng membuka situs permodelan, dan tanpa sengaja ia melihat ada salah satu agensi yang menerima model untuk photo shoot, di sana ia juga menemukan kalau agensi menerima model amatir yang arti nya baru, bahkan memberikan kelas untuk kursus.
"Bisa di coba nih" Gumam Nirmala dengan mata yang berbinar, seketika gadis itu lupa dengan masalah beban kehidupan nya.
...****************...
Apartemen Sandi...
Suara musik memenuhi ruangan kedap suara itu, botol minuman tertata di atas meja lengkap dengan wanita-wanita sexy yang siap menuangkan nya bagi yang berniat untuk minum.
"Woy! Dafa!" Panggil Rio dengan sedikit berteriak karena suara musik yang sangatlah keras.
Dafa yang merasa nama nya di panggil pun menoleh ke arah Rio yang tengah duduk di kelilingi wanita-wanita sexy, pemuda yang telah berstatus itu pun segera melangkahkan kaki nya mendekati sahabat nya itu.
"Gila lo! mentang-mentang besok nggak ada kelas, main party-party aja" Ucap Dafa sambil meletakkan bokong nya di samping Rio.
__ADS_1
"Heh... gue kira lo nggak bakal datang, gue kira lo bakal unboxing beneran malam ini, eh atau udah dari kemarin-kemarin pas masih di kampung? hahaha... " Sengaja Rio menggoda dengan gelak tawa nya.
"Haish... pikiran lo! masih sendiri nggak boleh mikir begituan!" Ucap Dafa dengan meneguk minuman yang berwarna merah di hadapan nya.
"Tenang lah kan ada mereka" Ucap Rio dengan mencubit kecil dagu wanita yang ada di samping nya.
"Heh sejak kapan lo berani main beginian?" Tanya Dafa yang tau pasti kalau sahabat nya ini sama sekali tidak pernah dekat dengan yang nama nya wanita apa lagi sampai pegang ini dan itu.
"Sejak kapan ya?" Rio seolah menerawang kemudian ia tenggak minuman yang ada di depan nya langsung dari botol nya.
"Rio! gila lo! lo itu nggak kuat minum, jangan aneh-aneh deh" Ucap Dafa dengan merebut botol minuman yang sudah terminum setengah nya.
"Apa sih!" Sahut Rio dengan melemparkan tatapan tajam ke arah Dafa.
"Sejak kapan lo kaya gini?" Tanya Dafa sekali lagi.
"Sejak lo lebih milih dia dibanding gue" Ucap Rio dengan setengah sadar, dan tangan yang mengelus pipi Dafa.
"Ih apa an sih lo! geli gue!" Dafa dengan cepat menampik tangan Dafa yang sempat mengelus pipi nya.
"Sandi!" Teriak Dafa yang memanggil sang tuan rumah.
Dengan sedikit berlari Sandi mendekati Dafa yang menunjukkan raut wajah yang khawatir.
"Ada apa Fa?" Tanya Sandi yang kini berdiri di hadapan Dafa.
"Ini Rio sejak kapan dia minum-minum, dia kan paling nggak bisa minum" Ucap Dafa dengan menopang tubuh Rio yang mulai hilang kesadaran.
"Hah? itu dia, sejak itu... "
"Sini gue bantu, bawa dia ke kamar gue aja" Ucap Sandi menawarkan.
"Hem" Dafa pun menyetujui nya dan mereka berdua memapah Rio yang sudah tak kuat lagi untuk berjalan.
CEKLEK!!
Pintu kamar itu pun terbuka dan Rio di bawa nya masuk kemudian di rebahkan di atas ranjang.
"Gimana dong?" Tanya Dafa yang memang tidak pernah mengurus orang mabok.
"Ya buka aja itu sepatu nya! Longgarin itu kemeja nya, ih masa gitu aja gak tau" Cerocos Sandi yang sedikit gemas, bagaimana tidak gemas, masa ngurus sahabat nya nggak bisa, sahabat macam apa? begitu lah isi dalam otak Sandi.
"Ya lo tau sendiri kan, gue biasa nya yang di urus in bukan gue yang ngurusin!" Sangkal Dafa sambil membuka kancing kemeja Rio.
"Haish kau ini!" Sandi pun mau tak mau membantu Dafa untuk mengurus Rio.
"Dah biar in dia istirahat, ayo keluar!" Ucap Sandi, Dafa pun segera beranjak dari duduk nya namun baru saja ia berdiri tangan Rio meraih tangan Dafa.
"Fa jangan tinggalin gue!" Lirih Rio dengan mata yang masih terpejam.
"San! San! Sssttt!" Bisik Dafa yang memanggil Sandi, namun apalah daya Sandi sudah terlanjur keluar dari kamar itu.
"Astaga! malah nyelonong keluar! teman macam apa kau San!!" Gerutu Dafa sambil mengusap kasar wajah nya. Kemudian ia melirik Rio yang masih stay menggenggam tangan Dafa.
"Rio lo itu harus istirahat! lo nggak boleh minum-minum lagi lain kali, lo denger!" Dafa ngomel-ngomel dengan kembali duduk di tepi ranjang.
__ADS_1
"Fa lo nggak boleh tinggalin gue sendirian Fa! gue nggak bisa tanpa lo" Masih dengan memejamkan mata nya Rio mengigau.
"Iya iya gue di sini, aman udah aman" Ucap Dafa, namun tiba-tiba Rio bangun dari posisi tidur nya, ia duduk dan menghadap ke arah Dafa, ia menangkup kedua pipi Dafa.
"He.. hei.. hei lo... lo... lo jangan macem-macem Rio! jangan bikin gue takut!" Dengan berusaha menghindar Dafa terus saja mengoceh.
Namun Rio seperti tak mendengar ia malah semakin memangkas jarak di antara kedua nya.
"Rio! Rio... "
CUP!!
Satu kecupan mendarat di bibir Dafa ketika ia memanggil nama Rio, terkejut bukan main Dafa sampai membelalakkan mata nya, sungguh saat itu jantung nya berdetak tak karuan.
Ingin rasa nya ia marah, namun ia ingat Rio saat ini sedang tidak sadar, mau menolak tangan Rio malah menekan tengkuk Dafa.
"Ok sebentar saja, Dafa lo harus tenang lo nggak boleh menyakiti nya" Batin Dafa dengan mengelus punggung Rio.
Rio pun seolah merasa terkode, ia segera melepaskan pagutan nya.
Dengan mata sayu nya ia menatap Dafa.
"Lo sadar?" Tanya Dafa yang melihat Rio membuka mata nya.
"Hem... gue tau ini salah, tapi gue sakit ketika melihat lo dengan cewek lain" Lirih Rio yang mulai terisak.
"Ssssttt cup cup cup! Jangan nangis" Ucap Dafa yang berpikir Rio takut kalau diri nya akan melupakan Rio setelah menikah dengan Nirmala.
Dafa pun menenggelamkan kepala Rio di dalam dekapan nya.
"Gue janji gue nggak bakal ninggalin lo kok" Ucap Dafa dengan menepuk-tepuk punggung Rio.
...****************...
Pagi hari dengan di dampingi sinar mentari yang menghangatkan bumi, Nirmala kembali menata semangat nya, ia seolah seperti anak kecil yang mendapatkan permen kesukaan nya.
"Ok sudah rapi, sudah cantik, waaaahhh ternyata hasil begadang ku tidak lah sia-sia" Gumam nya, karena semalam suntuk Nirmala belajar make up untuk ia mendaftar menjadi model di salah satu agensi yang ia temukan malam tadi.
"Pagi bu" Sapa Nirmala kepada ibu mertua nya yang tengah menyiapkan sarapan.
"Pagi Mala, yuk sarapan" Ajak bu Dina dengan senyum ramah nya karena memang ia sangat menyukai Nirmala yang semangat seperti pagi ini, Nirmala pun menganggukkan kepala nya sembari tersenyum, ia kemudian duduk di dekat bu Dina, dan mereka sarapan hanya berdua.
Di sebuah kamar apartemen...
Sinar lembut dari mentari pagi yang hangat berhasil menembus celah tirai yang menutupi kamar milik Sandi sampai sinar terang nan hangat itu menyilaukan sepasang mata yang tengah terpejam di atas ranjang nan lembut itu.
"Hengggg.... " Dafa meregangkan otot-otot nya sebelum ia membuka mata nya, namun tangan nya menyenggol sesuatu yang lembek-lembek di bawah sana.
"Apa ini? apakah semalam aku dan Nirmala sudah melakukan nya?" Batin Dafa dengan mata yang masih terpejam.
"Eh tunggu tunggu tunggu! gue kan semalam nggak pulang" Batin nya lagi yang segera ia membuka mata nya dan melihat ke samping nya.
"ASTAGA!!!...
Bersambung...
__ADS_1