The Love Secret (Bertahan Di Tengah Kesalahan)

The Love Secret (Bertahan Di Tengah Kesalahan)
Eps. 37


__ADS_3

Beberapa saat kemudian pintu ruang operasi itu terbuka dan seorang dokter keluar dari dalam ruangan itu.


"Keluarga pasien?" Tanya Dokter, seketika kedua orang tua Nurma dan Nirmala berjalan mendekat ke arah dokter.


"Saya Dok!" Teriak ketiga nya bersamaan.


"Loh ibu? bapak? Kalian disini?" Tanya Nirmala terkejut dan lagi barusan diri nya di peluk oleh laki-laki lain yang bukan suami nya.


"Iya, nanti ibu sama bapak mau ngomong sama kamu!" Ucap ibu Nirmala dengan sekilas menatap putri bungsu nya.


"Bagaimana keadaan anak saya dok?" Tanya bapak yang saat itu tidak sedikit pun menggubris Nirmala yang ada di samping nya.


"Operasi nya lancar, sebentar lagi pasien akan di pindahkan ke ruang rawat, permisi" Ucap Dokter yang kemudian segera berlalu.


"Syukurlah" Ucap kedua orang tua itu, kemudian mereka kembali duduk untuk menunggu Nurma di pindahkan ke ruang rawat inap.


"Pak buk" Ucap Nirmala yang ikut duduk di samping mereka.


"Ya bisa kau jelaskan sekarang" Ucap Ibu.


"Dan kau! nak Dafa bisa kesini sebentar, kau juga!" Ucap Bapak dengan menunjuk Dafa dan Kevin secara bergantian.


Kedua nya pun menganggukkan kepala lalu berjalan mendekat ke arah bapak dengan Kevin yang membantu Dafa mendorong kursi roda Dafa.


"Bisa tolong jelaskan? pemandangan apa yang bapak dan ibu lihat barusan?" Tanya Bapak dengan memandang ketiga muda mudi yang ada di hadapan nya kini.


"Maaf kan Nirmala pak, sebenar nya, Mala dan a' Dafa sedang mengurus surat perceraian" Ucap Nirmala yang mampu membuat ibu, bapak serta Firza terkejut hinga ke tiga nya menganga.


"Nak! pernikahan itu bukan mainan yang kapan saja bisa kau akhiri!" Ucap Ibu.


"Tapi sejak awal Mala sama sekali tidak mencintai A'Dafa bu, Mala hanya menganggap nya seperti kakak Mala sendiri tidak lebih" Ucap Ibu.


"Nak Dafa?" Lirih ibu yang mungkin telah merasa gagal mendidik putri nya.


"Tidak bu, tidak semua salah Mala, sebenar nya saya yang menggiring Mala agar ia mau menikah dengan saya, dan saya pikir dengan seiring berjalan nya waktu cinta akan tumbuh di antara kita, tapi ternyata tidak" Ucap Dafa menjelas kan.


"Lalu kau? siapa kau? berani sekali memeluk putri kami di tempat umum seperti ini" Tanya ibu dengan memandang ke arah Kevin.


"Saya... "


"Dia Kevin buk, dia adalah kekasih Mala sejak awal, yang selalu mensuport Mala di kala Mala terjatuh, dan selalu ada untuk Mala" Ujar Mala yang menyela perkataan Kevin.


"Jadi untuk menjawab pertanyaan dari ibu saja kau tidak mampu, harus di wakil kan putri ibu? mau kau beri apa putri ku jika sampai menikah dengan mu?" Cibir ibu Nirmala.

__ADS_1


"Ibu, nggak boleh gitu" Lirih Nirmala.


"Maaf, jika saya boleh meminang putri ibu, maka akan saya berikan semua yang terbaik untuk nya" Sahut Kevin dengan kepercayaan diri yang begitu tinggi.


"Mala kau percaya kata-kata manis seperti ini?" Tanya ibu.


"Ibu! dia CEO di tempat Mala bekerja!" Bisik Nirmala agar ibu nya berhenti untuk mencibir Kevin.


Mata ibu pun mendadak terbuka lebar dan kemudian menganggukkan kepala nya.


Firza memegang pundak Kevin dan membawa nya mundur beberapa langkah.


"Kau gila! kau akan menikah dengan Mala?" Tanya Firza.


"Seperti rencana awal, dan tanpa bantuan mu!" Ucap Kevin masih dengan ke PD an tingkat dewa.


Firza menepuk kening nya dengan menggelengkan kepala nya tidak habis pikir dengan apa yang ada di dalam otak Kevin.


Kevin kembali berjalan mendekati kedua orang tua Nirmala dan duduk di hadapan kedua nya.


"Pak, buk, apa boleh jika saya meminang putri ibu dan bapak untuk saya jadi kan ratu di dalam istana saya?" Ucap Kevin dengan PD namun masih dalam batas kesopanan.


Semua orang yang ada di sana pun terkejut dan mendadak terdiam dan memandang Kevin.


"Suka sih suka bro tapi bisa nggak itu niat nya di tahan dulu biar kita cerai nya sah dulu" Ucap Dafa yang masih stay di kursi roda nya.


"Ya kan gue cuma minta restu untuk ke depan nya" Ucap Kevin dengan menoleh ke arah Dafa.


"Iya bapak sama ibu tidak bisa memutuskan, karena melihat pengalaman yang sudah-sudah, biarkan masalah ini di selesaikan satu persatu dulu, nanti apa pun keputusan Mala, kita sebagai orang tua pasti nya nurut atau ngikut aja, yang penting Mala bahagia" Ucap Ibu yang dengan mengingat pernikahan pertama putri bungsu nya saat itu terlalu di paksakan dan tidak mendengarkan keputusan Nirmala.


"Terimakasih pak, buk" Ucap Nirmala dengan Memeluk kedua orang tua nya.


"Maaf Nirmala sudah bikin malu kalian" Lirih gadis itu di tengah isak tangis nya.


Melihat Nirmala yang seperti nya bahagia dengan perpisahan itu, Dafa perlahan menggulirkan kursi roda nya menjauh dari mereka dan keluar dari gedung rumah sakit, ia menuju taman dan duduk sendiri di atas kursi roda nya.


Di tengah keheningan yang sangat ia nikmati pundak Dafa tiba-tiba ditepuk oleg seseorang,


"ASTAGA!!" Karena terkejut Dafa pun menoleh dengan mengelus dada nya.


"Hehe kaget ya? maaf" Ucap Gadis yang tiba-tiba muncul di belakang Dafa.


"Yeee ya iya lah kaget! Lo tiba-tiba datang trz nepuk pundak gue, manusia mana coba yang nggak kaget?" Gerutu Dafa dengan memonyongkan bibir nya.

__ADS_1


"Iya iya maaf" Ucap Gadis itu yang tak lain adalah Mia.


"Apa rencana mu selanjut nya?" Tanya Mia.


"Entahlah, mungkin gue akan sendiri dulu untuk waktu yang cukup lama" Sahut Dafa.


"Loh? kok gitu? nggak baik lo bersedih terlalu lama" Ucap Mia dengan mengelus punggung Dafa.


"Ya gue kan lain, gue nggak mau nyakitin cewek kaya kalian" Ucap Dafa.


"Maksud kakak?" Tanya Mia yang tidak mengerti maksud Dafa.


"Ya gue kan sebenar nya nggak begitu tertarik dengan perempuan" Ucap Dafa.


"Apa? jadi? ekhem... sudah berapa lama?" Tanya Mia.


"Belum ada satu tahun sih tapi gue yaman dengan dia, gue nggak yakin alat gue bakal ngerespon kalau sama cewek" Ucap Dafa dengan murung.


"Hah? yang benar? gue bantu terapi mau?" Tanya Mia dengan nada yang tulus.


"Cara nya?" Tanya Dafa yang tida tau bagaimana cara nya.


"Ya gimana ya? emmm... coba nanti gue tanya temen-temen gue deh" Ucap Mia yang kemudian sejenak terdiam.


"Atau nggak kita browsing aja?" Ide gila itu muncul dari otak polos Kila.


"Lo yakin? kita? terus nanti kalau sesuatu terjadi gimana?" Tanya Dafa yang memikirkan kemungkinan terburuk dari terapi itu.


"Ya kita tanggung bersama dong!" Dengan enteng nya Mia berucap.


"Em... ok tapi tunggu kaki gue sembuh ya? gue nggak mau lo repot gegara gue nggak bisa jalan" Ucap Dafa.


"No! kenapa harus nunggu bisa jalan, kan bisa sambil duduk" Ucap Mia.


"Duduk?" Tanya Dafa dengan pikiran yang traveling entah kemana.


"Ya kan duduk aja nggak usah berdiri, kan capek berdiri, kita juga nggak tau berapa lama waktu untuk terapi ini" Ucap Mia.


"Owh... ok" Sahut Dafa yang merasa lega, dia pikir Mia akan melakukan seperti apa yang ada di dalam otak kotor nya itu.


"Ok gimana kalau sekarang aja?" Tanya Mia dengan semangat, gadis itu berusaha membantu Dafa agar move on dari Rio yang sudah pergi jauh.


"Sekarang? disini?...

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2