
"Tapi apa pun itu, 0 mencintai mu kok" Sambung Nirmala, Kevin yang mendengar itu pun tanpa pikir panjang menarik tengkuk Nirmala berusaha mencium bibir nya, namun...
"Adududuhhhh!!! Kevin mengaduh karena belum sampai bibir nya mengecup bibir Nirmala Arga sudah lebih dulu menarik daun telinga nya.
"Dasar anak tidak sopan! ini ada orang tua di depan mu kau masu main nyosor anak orang?!" Geram Arga dengan menguatkan cengkeraman jari nya di telinga Kevin.
"Aduh pah sakit! iya iya Kevin minta maaf" Ucap Kevin memohon agar telinga nya di lepaskan dari cengkeraman jari Arga.
"Papa masih di sini saja kau berani seperti itu, bagaimana jika papa tidak ada?!" Cecar Arg dengan melepaskan telinga Kevin.
"Ya nama nya anak muda pah" Ucap Kevin.
"Hais kau ini" Ucap Arga dengan menggelengkan kepala nya.
"Oh iya selain hal tadi, papa kesini mau mengatakan pada mu kalau malam nanti jam tujuh kita ke rumah calon istri nya Niko untuk melamar sekalian menentukan hari pernikahan" Arga menyampaikan maksud dan tujuan nya mencari Niko sore itu.
"Kenapa tidak lewat telfon saja?" Tanya Arga.
"Sudah ku hubungi nomor mu tapi tidak ada sedikit pun tanda-tanda kau akan menjawab nya" Ucap Arga dengan kembali menyeruput teh nya, Kevin segera mengeluarkan benda canggih itu dari dalam saku nya dan menggeser layar nya untuk mengecek apakah ada panggilan masuk.
"Hehe... maaf pah tadi ponsel nya Kevin silent, jadi tidak dengar kalau papa telfon" Dengan tersenyum konyol Kevin meminta maaf, karena di dalam layar nya tertera kalau Arga menghubungi nya sampai tujuh kali panggilan tak terjawab.
"Dasar anak muda" Gumam Arga.
"Tapi pah, tadi papa bilang setuju kalau aku dulu yang menikah, kenapa sekarang malah Niko dulu yang akan lamaran?" Tanya Kevin dengan menekuk raut wajah nya.
"Kau lihat lah kondisi hubungan Niko dan Mila, saat ini Mila sudah mengandung keturunan keluarga kita, kalau sampai kandungan itu membesar dan keluarga Mila tidak terima, nama baik keluarga kita bisa terancam" Jelas Arga.
Sedangkan Nirmala melihat Kevin dengan menepuk pelan pundak kekasih nya itu.
"Memang nya kenapa Vin kalau Niko menikah dulu?" Tanya Nirmala dengan lirih.
"Ya... ya... ya aku sebagai abang nggak mau di langkahin!" Ketus Kevin.
"Tapi ini situasi nya sedang tidak baik-baik saja Vin, Niko dan Mila, mereka lebih membutuhkan pernikahan ini dari pada kita" Ucap Nirmala berusaha membuat agar Kevin mau mengalah.
"Jadi kau tidak butuh pernikahan?" Tanya Kevin yang salah memahami ucapan Nirmala barusan.
__ADS_1
"Ya bukan begitu sayang... "
"Sudah lah Nirmala, kau tinggalkan saja jika dia masih rewel seperti anak kecil, papa pulang dulu nanti malam jangan lupa datang tepat waktu" Ucap Arga dengan beranjak dari duduk nya.
Nirmala segera menjabat tangan Arga dengan sopan, dan mengantarkan calon mertua nya itu sampai ke teras depan.
Malam hari di apartemen...
Terlihat Mia tengah memanaskan sayur yang di beli nya, sedangkan Dafa terlihat sibuk menyeduh kopi.
"Hati-hati kak itu air panas nya nanti kena tangan" Ucap Mia yang tidak percaya kalau Dafa bisa menyeduh kopi sendiri.
"Kau pikir aku begitu bodoh, sampai-sampai membuat kopi saja harus kau ajari" Ucap Dafa dengan melirik sekilas.
"Aw... aw ssshhh aduuuuhh... " Tak sengaja Mia menyentuh panci panas itu, Dafa yang kebetulan melihat nya pun segera berlari ke arah gadis imut itu.
"Hati-hati dong! kan kena!" Omel Dafa yang kemudian meniup dan lanjut mengecup jari telunjuk Mia.
Gadis itu terperangah, seolah rasa sakit nya tak lagi kerasa karena ia terpesona oleh perlakuan Dafa yang sangat peduli juga lembut pada nya.
"Masih sakit?" Tanya Dafa dengan masih menggenggam jemari Mia.
"HEY!!" Dengan suara yang lantang dan juga menjentikkan jari nya di depan wajah Mia, Dafa berhasil membuyarkan lamunan gadis itu.
"Hah!" Terkejut Mia, gadis itu sedikit tersentak juga mengedipkan mata nya beberapa kali.
"Hayooo... ngeres ni pasti otak nya" Tuding Dafa dengan tangan yang masih stay menggenggam jari jemari Mia.
"Eh... Ng... Nggak, nggak kok" Ucap Mia tergagap.
"Lah di tanya in bukan nya jawab malah bengong" Dafa kembali meniup pela kulit jari yang sedikit memerah itu.
"Tanya? tanya apa?" Dengan raut wajah tak berdosa nya Mia bertanya. Mendadak Dafa menghela nafas, namun tetap dengan sabar laki-laki itu mengulang lagi pertanyaan nya.
"Masih sakit?" Tanya Dafa dengan suara yang sangat lembut.
"Sedikit perih" Sahut Mia yang tak melepaskan pandangan nya dari menatap mata Dafa.
__ADS_1
Dafa yang merasa di perhatikan terus oleh sepasang netra indah itu pun membalas tatapan Mia.
Kedua pasang netra itu bertemu satu sama lain, pandangan Dafa pun beralih ke bibir sensual yang tempo hari pernah ia rasa nya.
Tanpa aba-aba dan juga tanpa persiapan, bayangan hari itu pun kembali menyebrangi dan bahkan melayang-layang memutari kepala Dafa.
Tanpa di suruh Dafa perlahan mengikis jarak di antara kedua nya, tak dapat menolak, Mia malah seolah menunggu dan berharap lebih.
Perlahan jarak kedua bibir itu pun semakin mendekay dan semakin dekat sampai pada akhir nya kedua bibir itu bertautan.
Dengan perasaan yang bercampur aduk, Mia yang terkejut juga tidak siap menerima kecupan itu hanya mampu membelalakkan mata nya.
Karena biasa nya gadis itu yang memulai duluan dengan dalil ingin membantu Dafa agar lekas move on dari Rio. Namun kali ini Dafa yang berinisiatif mencium nya terlebih dahulu.
"Pejamkan mata mu dan nikmatilah" Bisik Dafa dengan menyatukan kening kedua nya.
Karena sudah mulai terbakar gairah nya Mia pun melingkarkan kedua tangan nya di leher kekar Dafa dengan menyatukan kedua bibir mereka kembali.
Lu***an dan juga kecupan itu kini semakin mendalam dan membuat Mia *******-***** rambut kepala Dafa.
Dengan satu tangan nya Dafa segera mematikan kompor yang masih menyala itu, dan melerai tautan kedua benda lembab nan kenyal itu.
"Sayur nya sudah matang, kita makan dulu" Ucap Dafa dengan mencubit gemas hidung Mia.
Dengan pipi yang memerah menahan malu karena menginginkan hal yang lebih dari itu Mia menganggukkan kepala nya.
Mereka pun menyiapkan makan malam untuk mereka makan berdua.
Di rumah keluarga Mila terlihat kedua keluarga tengah berkumpul, seperti rencana awal Arga, laki-laki setengah abad itu masih kukuh dengan tujuan utaman nya untuk menikahkan putra bungsu nya dengan gadis desa yang sederhana.
"Apa saya tidak salah dengar pak Arga?" Tanya orang tua Mila.
"Bukan nya bagaimana-bagaimana, hanya saja putra putri kita kan sudah saling suka, dan anak muda jaman sekarang tidak baik jika berhubungan tanpa setatus yang jelas terlalu lama" Ucap Arga yang berusaha membujuk kedua orang tua Mila agar mau menerima usulan nya untuk menikahkan putra putri nya.
"Maaf pak tapi apakah pantas putri saya di sandingkan dengan putra bapak yang sangat jauh perbandingan nya dengan kondisi Mila" Ucap Orang tua Mila.
"Kalau anak-anak sudah saling suka, kita sebagai orang tua bukan kah harus mendukung nya?" Cecar Arga dengan percaya diri nya.
__ADS_1
Niko mulai was-was karena kedua orang tua Mila masih terdiam cukup lama.
Bersambung...