
Nirmala dengan segera beranjak dari duduk nya dan hendak berjalan meninggalkan Kevin, namun dengan cepat Kevin meraih lengan Nirmala dan menahan nya.
"Mau kemana?" Tanya Kevin dengan tangan yang mencengkeram lengan Nirmala dengan kuat.
"Sa... kkkiit Vin!" Ucap Nirmala dengan berusaha melepaskan cengkeraman itu.
"Kamu mau kemana?" Tanya Kevin lagi.
"Rumah sakit!" Ucap Nirmala dengan berjalan meninggalkan Kevin setelah lengan nya terlepas.
"Biar ku antar!" Ucapan Kevin langsung membuat Nirmala berhenti wanita itu sejenak menghela nafas dan berbalik menghadap CEO muda itu.
"Kau mau mengantar ku? atau memenuhi nafsu mu?" Ketus Nirmala dengan menunjuk wajah Kevin dengan jari telunjuk nya.
"Bukan seperti itu Nirmala!" Dengan suara tak kalah lantang Kevin berucap sampai pak satpam pun menongolkan kepala nya dari dalam pos satpam.
"Bukan seperti itu kata mu?" Dengan setengah berbisik Nirmala berucap dan melangkahkan kaki nya memangkas jarak di antara kedua nya.
"Kau pikir tidak kah cukup bukti untuk siang tadi? kau yang sudah bergelar CEO saja masih takut dengan pandangan ayah mu, dengan se enak hati mu kau merayu ku untuk kembali padamu, lalu setelah aku luluh kau akan dengan mudah nya membuang ku begitu saja? hah? begitukah?" Tanya Nirmala masih dengan nada yang penuh tekanan juga suara yang setengah berbisik.
"Nirmala ku mohon semua bisa ku jelas kan, kita bisa bicarakan di dalam mobil ok" Ucap Kevin dengan memohon.
"Kau pikir dengan penjelasan mu saja kau sudah bisa mengobati luka hati ku?" Tanya Nirmala dengan mulai berderai air mata.
Di dalam pos satpam diam-diam kedua satpam yang tengah bertugas jaga malam mengintip Nirmala dan Kevin yang tengah berdebat di lobi dan tempat itu terlihat dari pos satpam.
"Itu pak Kevin kan Yon?" Tanya Agus dengan mengintip kedua insan yang tengah berdebat di lobi.
"Au ah peduli amat sih lo!" Agus masih acuh dengan apa yang di ucapkan Yono.
"Eh lo gimana sih? kalau itu pak Kevin, berati cewek itu neng Mia dong, yang kata nya imut cantik gemesin, udah kek gambar anime aja" Ucap Yono yang memang menyukai tokoh-tokoh anime.
"Halu wae lo! udah tua suka banget ngehalu, ingat tu kulit dah bau tanah!" Ketus Agus mengingatkan.
"Astaga Agus! kalau ngomong nggak boleh gitu Gus!" Ucap Yono dengan masih fokus melihat Kevin yang sedang bersama Nirmala.
"Terserah lo!" Ketus Agus tanpa melihat ke arah Yono yang masih fokus menongolkan kepala nya dari jendla.
Kembali ke Lobi...
Dengan mengusap air mata yang membasahi pipi Nirmala, Kevin berusaha meyakinkan lagi wanita pujaan nya itu.
"Bukan begitu sayang, ku mohon mengertilah" Ucap Kevin, namun Nirmala seolah tak mau mendengar ucapan apa pun yang di ucapkan oleh laki-laki di hadapan nya itu.
"Mala, sayang, saat ini kedudukan ku belumlah begitu kuat, belum sepenuh nya perusahaan ini milikku sayang, dan soal beberapa hari yang lalu itu sungguh, aku hanya, hanya tidak mau kehilangan kamu, walaupun kau sudah menikah, aku masih tak bisa menerima kenyataan ini sayang" Ucap Kevin panjang lebar.
"Lalu... bagaimana dengan calon istri mu? kau akan menyakiti nya!" Ucap Nirmala menegaskan juga mengingatkan Kevin akan kehadiran Mia di tengah-tengah mereka.
"Aku yakin dia pun terpaksa menerima perjodohan ini, kau lihat kan dia itu masih bocah, baru saja lulus sekolah" Jelas Kevin yang membuat Nirmala lagi-lagi mempertimbangkan hubungan mereka berdua.
"Sayang, Mala" Lirih Kevin dengan membelai pipi Nirmala.
Di pos satpam Yono yang sedari tadi mengamati kedua insan yang tengah berdiri di lobi itu mulai heboh sendiri.
__ADS_1
"Gus Gus Gus Gus!! mereka mau mau mau itu Gus Aguuuuuusss!!!" Heboh Yono dengan tangan yang menarik-narik pundak Agus.
"Apa an sih Yon!?! ganggu orang lagi main game aja! gue jadi kalah kan!" Geram Agus pun akhir nya ikut menongol kan kepala nya untuk melihat ke arah lobi.
"Astaga! Yon! lo itu udah jomblo tontonan lo kaya gituan, ntar kalo ada yang berdiri mau gimana lo!" Ucap Agus dengan menarik Yono agar tidak melihat ke arah lobi.
Kembali ke Lobi...
"Cukup Vin, kau selalu tau apa yang menjadi kelemahan ku" Ucap Nirmala ketika jarak kedua nya hanya tinggal sejengkal saja.
"Mala ku mohon, kau jangan menghindar ya, kita berjuang bersama, lagi pula suami mu tidak menafkahi mu secara batin bukan?" Ucap Kevin dengan setengah berbisik karena jarak kedua nya sangatlah dekat.
"Lancang kau Vin!" Geram Nirmala sampai tangan kanan nya terangkat hendak menampar Kevin, namun dengan sigap Kevin menangkap tangan itu dan menarik nya hingga tubuh kedua nya kini saling bersentuhan "BRUK!"
"Sejak kapan kau berani main tangan?" Ucap Kevin dengan memiringkan wajah nya.
"Sejak aku merasakan kekecewaan yang begitu mendalam" Tegas Nirmala.
"Kau tak perlu marah, jika memang apa yang ku katakan barusan adalah sebuah kebenaran, buat apa kau menutupi nya dari ku, kalau mahkotamu saja aku yang mendapatkan nya" Ucap Kevin di samping telinga Nirmala, hingga membuat sang empu nya meremang dan menarik nafas panjang.
"Tubuh mu menginginkan nya sayang" Bisik Kevin dengan tangan yang meremas pinggang Nirmala.
"No Kevin, tidak! stop! cukup! Haahh... haahhh... " Ucap Nirmala dengan nafas yang mulai tak beraturan.
"Kenapa selalu membohongi perasaan mu? hem?" Bisik Kevin.
"No! Kevin! Hentikan!" Ucap Nirmala dengan mendorong tubuh Kevin sekuat tenaga namun apalah daya tubuh Kevin jauh lebih besar dan kuat dari pada tubuh Nirmala.
"Ok ok ok! stop please! jangan berontak, aku nggak akan apa-apain kamu tapi, kamu mau ke rumah sakit, aku antar ya?" Ucap Kevin dengan menyatukan kening nya dengan kening Nirmala.
"Kamu nggak yakin? atau memang kau menginginkan nya?" Tanya Kevin dengan senyum miring nya.
"Ok ok! aku percaya" Teriak Nirmala dengan mendorong tubuh Kevin dan ia berhasil terlepas dari pelukan pria itu.
Dengan ketakutan jika sampai Kevin menyentuh nya lagi dan juga kekhawatiran akan kodisi kakak nya, kini hati juga perasaan Nirmala tercampur aduk membuat diri nya tak dapat berpikir jernih.
Dengan senyum penuh kepuasan dan merasa menang Kevin mengajak Nirmala menuju basemen.
Mereka pun memulai perjalanan menuju rumah sakit menggunakan mobil Kevin.
Di rumah sakit...
Dafa terlihat duduk, ia sibuk bermain game dengan gawai tipis yang ada di tangan nya itu.
Sedangkan Mia terbaring dengan mata yang masih bening tanpa rasa kantuk sedikit pun, gadis itu menoleh ke arah di mana Dafa di sibukkan dengan gawai tipis itu.
"Kak?" Panggil Mia, namun seperti nya Dafa sedang asik-asik nya bermain sampai panggilan itu pun ia tak mendengar nya.
"Kak Dafa!" Sekali lagi Mia memanggil Dafa, namun masih tak ada respon dari Dafa.
Pada akhir nya Mia pun bangun dari tidur nya dan turun dari ranjang pasien, di sana Dafa baru menyadari kalau Mia berusaha turun dari ranjang pasien itu.
"Stop! hey! mau kemana?" Teriak Dafa yang membuat Mia langsung berhenti bahkan tak bergerak sedikit pun.
__ADS_1
"Mau kemana?" Tanya Dafa sekali lagi.
"Mau ke toilet" Lirih Mia dengan menundukkan kepala nya namun mata nya melirik ke arah Dafa.
"Ayo gue bantu" Ucap Dafa yang langsung memegang lengan Mia.
"Makasih ya kak?" Ucap Mia dengan senyum yang mengembang. Mereka pun berjalan menuju toilet.
Namun ketika Mia baru saja masuk ke dalam toilet, ia kembali keluar dan Dafa mengangkat ke dua alis nya tanya ia bertanya.
"Ada apa?" Akhir nya kata itu pun terucap dari mulut Dafa.
"Ah itu kak Dafa Mia minta tolong dong" Ucap Mia dengan tampang yang memelas namun malah terlihat imut.
"Minta tolong apa?" Tanya Dafa.
"Hehehe... tolong belikan pembalut ya? please?" Ucap Mia dengan mengatupkan kedua telapak tangan nya.
"Hah? kok gue?!" Teriak Dafa tak terima.
"Kak, ayo lah, kalau Mia yang beli bakal lama nanti malah meleler kemana-mana gimana coba?" Ucap Mia dengan wajah melas nya.
"Hem... " Sejenak Dafa terdiam juga menghela nafas.
"Ya udah ok ok! gue beliin, merek apa ni?" Ucap Dafa sedikit jengkel.
"Hehe... yang herbal nanti mbak nya tau kok" Ucap Mia.
Dengan wajah yang di tekuk Dafa pun berjalan menuju toserba yang ada di sebrang rumah sakit.
"Mba ada pembalut herbal?" Ucap Dafa dengan setengah berbisik.
"Apa mas? pembalut?" Tanya mbak-mbak kasir dengan suara lantang nya.
"Sssstttt iya tapi jangan kenceng-kenceng ngomong nya" Ucap Dafa dengan berbisik.
"Oh ok ok, pembalut ya?" Sahut si kasir dengan ikut berbisik, Dafa pun menganggukkan kepala nya.
"Yang merek apa? ukuran berapa? siang atau malam?" Tanya si kasir dengan nada berbisik lagi.
"Yang herbal siang malam dua-dua nya aja nggak papa lah" Bisik Dafa.
"MBAK AMBILKAN PEMBALUT HERBAL SIANG MALAM MASING-MASING SATU YA!!" Teriak si kasir dengan suara yang terdengar sampai ke bulan.
"Astaga! salah gue percaya sama ni cewek" Gumam Dafa dengan menepuk kening nya.
Setelah melakukan pembayaran Dafa pun berjalan keluar dari toserba di sepanjang jalan mau keluar Dafa di lihat oleh setiap pembeli terutama seorang wanita.
Mereka terlihat saling berbisik, di sana Dafa merasa ingin segera menghilang dari toko itu.
Ketika ia baru saja masuk kedalam rumah sakit ia melihat sosok Nirmala berdiri di meja resepsionis.
"Mala?...
__ADS_1
Bersambung...