The Secret Of My Heart

The Secret Of My Heart
Kolaps


__ADS_3

Selepas kepergian Ken kedalam rumah Maira, Arin menghela nafasnya kasar. Hatinya bergemuruh dadanya terasa sesak. Arin tak tahu kenapa, tapi dia merasa tidak rela.


"Kenapa rasanya sakit??" Arin mengusap dadanya perlahan.


Kring...Kring..kring..


My Galaxy Calling...


Senyum Arin perlahan tertarik tipis ketika melihat nama Ares tertera di layar handphonenya. Pria itu menelponnya disaat yang tepat.


"Ada apa Res?? Tumben jam segini elo nelpon gue?"


"Elo dimana?" suara Ares bergetar penuh nada kekhawatiran.


"Gue lagi nemenin Ken dirumah Maira. memangnya kenapa Res? Elo baik-baik aja 'kan?" dahi Arin mengeryit perasaannya mendadak tidak tenang.


"Kerumah sakit sekarang! Dr. Jeff menelponku kalau Aleesha.."


"Aleesha?? Aleesha kenapa Res?? Dia nggak kenapa-kenapa 'kan??" Tidak ada jawaban dari Ares, hanya terdengar helaan nafas berat dan lelah.


"Res??? Jawab Ress Aleesha kenapa??" Arin berteriak sedikit tidak sabaran.


"Dia kolaps lagi Rin" Bahu Arin melorot mendengar kabar dari Ares, tangisnya seketika pecah pikirannya benar-benar kalut.


"Elo tunggu disana. Gue kesana sekarang" Arin keluar dari mobil Ken dengan tergesa-gesa, namun Arin masih sempat melihat Ken yang sedang terlibat perdebatan dengan Maira. Arin menyetop taksi yang secara kebetulan lewat dihadapannya.


"Pak, rumah sakit Central dan tolong cepat!!" Arin terus bergerak gelisah, dia terus menerus menyuruh supir taksi melajukan mobilnya lebih kencang. Airmatanya tak berhenti menetes bahkan makin deras turun membasahi pipinya.


"Tuhan aku tak pernah bosan meminta padamu, tolong selamatkan anakku lagi. Untuk kesekian kalinya. Aku mohon padamu. Aku tidak akan sanggup kehilangannya. Aleesha, anak bunda... ku mohon bertahanlah nak. Bunda nggak bisa kehilangan kamu Nak."


Begitu sampai di rumah sakit, Arin memberikan sejumlah uang yang dirinya sendiri tidak menghitung berapa nominalnya pada supir taksi. Dia tidak peduli apapun lagi sekarang. Pikirannya kalut, bahkan panggilan supir taksi yang merasa uangnya terlalu banyak sama sekali tak didengarkan oleh Arin.


Arin terus berlarian disepanjang koridor rumah sakit, entah sudah berapa banyak orang sepanjang koridor yang ia tabrak. Sampai Emergency Room dirinya bisa melihat pemandangan yang membuat hatinya seketika makin sakit, Ares duduk menunduk dikursi depan ruang tersebut. Tubuhnya terlihat lelah, matanya merah, bahunya tegang dan bergetar. Pria yang selalu menenangkannya itu kini juga rapuh. Dia juga menangis sama seperti dirinya.


"Ares!" Ares menoleh dan mendapati Arin diujung koridor berlari kearahnya. Ares menyongsongnya dengan pelukan erat, sama eratnya dengan pelukan yang Arin berikan sekarang.


"Aleesha kenapa lagi Res? Kenapa dia bisa kollaps lagi?Bukannya Jeff kemarin bilang kalau kondisinya sudah semakin stabil. Gue nggak bisa kehilangan dia Res.. Gue takut dia bakalan pergi ninggalin gue. Gue takut..." Arin terus meraung dalam pelukan Ares. Ares kembali meneteskan airmatanya. Dia ikut merasakan sakit dan teriris, melihat orang yang sangat dicintainya terpukul, tertekan dan bersedih.


"Tenang Rin, Jeff pasti melakukan yang terbaik untuk menyelamatkan Aleeshaa. Kita harus punya keyakinan, kalau dia akan melewati masa kritisnya hari ini, sekali lagi. Dia nggak akan ninggalin kita gitu aja Rin. Dia pasti bangun"


"Kapan Res?? Kapan semua ini bakalan berakhir? Kapan gue bisa ngejalanin hidup gue secara normal lagi? Kapan kebahagiaan yang dulu ada bisa kembali lagi?? Gue capek Res, bener-bener udah capek. Rasanya lelah Res, sakit banget kalau gue harus ngeliat dia terus-terusan kayak gini. Kenapa bukan gue Res?? Kenapa bukan gue yang tidur didalam sana? Harusnya gue aja yang didalam Res" Ares mengeratkan pelukannya pada Arin, menyalurkan kekuatan agar adiknya itu lebih tenang.

__ADS_1


"Kalau elo yang ada didalam sana, lalu gimana dia bisa hidup disini tanpa elo Rin??? Dia nggak akan sanggup Rin, dia nggak akan setegar elo sekarang. Rin, ini semua adalah takdir yang harus elo jalanin. Percaya sama gue, semua ini bakalan segera berakhir. Sebentar lagi.. sebentar lagi semuanya akan kembali seperti semula. Kita bakalan berkumpul bersama lagi. Elo hanya perlu bertahan sebentar lagi. Jangan nyerah Rin, karena semangatnya sekarang cuma elo. Cuma elo satu-satunya penyemangat yang pasti akan dia dengar. Elo harus kuat untuk dia" Arin masih terisak meski tak sekeras tadi, hanya ucapan dan pelukan hangat Ares yang  selalu bisa menenangkannya setiap dia merasa kalut seperti ini. Kecupan hangat yang Ares daratkan di kening Arin, menambah sedikit ketenangan di hati Arin.


Mereka berdua menunggu dengan tidak tenang di depan emergency room sambil terus berpelukan dan saling menguatkan.


"Res.. kenapa Jeff lama sekali???" Sudah hampir 2 jam, Dr. Jeff dan team ada didalam sana. Sedikit lebih lama dari biasanya. dan itu menimbulkan sedikit rasa takut lagi di hati Arin.


"Seb..."


Klek...


Belum juga sempat menjawab pertanyaan Arin, ruang emergency sudah terbuka. Jeff keluar dari sana dengan wajah tegang dan lelahnya. Begitu melihat Jeff, baik Arin dan Ares keduanya langsung menyongsong Jeff.


"Jeff... gimana?? Dia baik-baik saja 'kan?? Dia selamat kan Jeff??" Arin menyentuh tangan Jeff, meremasnya pelan. Dia sedikit takut, andai kabar buruklah yang ia dengar.


"Kondisinya sudah stabil Rin. Dia selamat untuk kesekian kalinya." Bahu tegang Arin dan Ares perlahan kembali lemas. Seakan ribuan ton batu diangkat dari atas pundak mereka.


"Terima Kasih Jeff... elo udah nyelametin dia sekali lagi. Gue berhutang banyak sama elo Jeff. Terima Kasih" ucap Arin dengan tulus.


Jeff tersenyum menguatkan, "It's okay Rin... everything is gonna be alright. Setidaknya untuk saat ini. Kita hanya bisa berdoa dan terus berusaha. Jujur, gue nggak pernah menyangka kalau dia akan bertahan hingga hari ini. Dengan kondisinya yang benar-benar parah ketika dia datang kerumah sakit ini setahun yang lalu, dan dengan seringnya dia kollaps selama ini. Gue benar-benar nggak nyangka kalau dia akan bertahan selama ini. Hanya saja, ...


"Hanya apa Jeff??" Tanya Ares


"Apa kita akan terus membiarkannya seperti ini??"


"Rin, mau sampai kapan dia hidup seperti ini Rin?? Mau sampai kapan dia hidup dengan ditopang semua alat bantu?? Seenggaknya kita harus bisa mendorongnya untuk pulang atau untuk pergii. Kasihan dia Rin. Nggak mungkin dia selamanya hidup dengan alat-alat itu."


"Jeff.. kita udah coba semua cara untuk menyuruhnya kembali. Tapi elo tahu, hasilnya tetap tidak cukup kuat untuk membuatnya bangun."


"Ada satu hal yang belum kalian lakukan!"


"Satu hal??? Apa itu Jeff?? Bilang ke kita, kita akan lakukan itu. Yang penting dia bisa kembali. ya 'kan Rin???" Arin mengangguk antusias, sama antusiasnya dengan Ares.


"Tapi gue nggak yakin kalian sanggup untuk ngelakuin hal itu saat ini"


"Kita sanggup Jeff, bilang aja. Kita bakal turutin."


"Bawa Kenzhou kemari." Ares dan Arin yang antusias berubah diam seribu bahasa mendengar saran dari Jeff.


"Elo tahu itu nggak mungkin 'kan Jeff. Elo yang paling tahu kondisi Ken sekarang." Arin menggeleng membawa Kenzhou kesana sama dengan membunuh keduanya. "Gue belum segila itu sampai ingin kehilangan keduanya. Gue masih egois untuk sama-sama memiliki keduanya, meski dengan cara yang berbeda"


"Gue tahu Rin. Itulah kenapa tadi gue bilang kita nggak akan bisa melalukan itu dalam waktu dekat. Tapi seengaknya kalian harus melakukan sesuatu, seperti yang tadi gue bilang. Kita nggak bisa selamanya membiarkan dia seperti ini. Gue pergi dulu ada pasien lain yang harus gue check keadaanya. Kalian bisa istirahat kondisinya sudah stabil. Semua akan baik-baik saja" Jeff tersenyum tulus dan meninggalkan Arin dan Ares yang sama-sama menunduk. Arin berjalan pelan kembali ketempat duduknya tadi diikuti oleh Ares.

__ADS_1


Ares membawa Arin kedalam pelukannya, mendekap hangat satu sama lain.


"Everything gonna be allright Rin... kita harus percaya apa yang dikatakan Jeff tadi" Arin mengangguk.


"Tapi gue nggak siap kalo Ken tahu semuanya dalam waktu dekat. Gue takut Res. Gue nggak bisa..."


"Gue paham Rin, kita bisa cari cara lain. Pasti ada cara lain." Arin mengangguk lagi.


"Udah makan??" Arin menggeleng,


"Kenapa belum makan sih???"


"Gue nggak laper Res... bener-bener nggak napsu makan sekarang."


"Rin elo harus makan. Kita kekantin ya, gue nggak mau elo jadi ikutan sakit dan masuk rumah sakit karna maag"


"Res... i'm okay... tadi pas nemenin Ken ke rumah Maira gue udah nyemilin coklat di mobil dia." Arin belum melepas pelukannya, justru mempererat. Sungguh, dia nyaman dalam pelukan Ares. Sangat.. Sangat nyaman. Kalau dia tidak ingat statusnya, rasa nyaman pada Ares ini bisa saja menimbulkan rasa cinta.


"Ken jadi melamar Maira???" Arin mengangguk, "nekad juga tu anak"


"Biarin aja. Orang dia berani tanggung resikonya. Ntar misal ditolak dan dia nangis bombay biarin aja." Ares tergelak mendengar jawaban Arin.


"Trus elo tadi bilang apa ke dia pas elo gue telepon??"


"Gue nggak pamitan sama dia." Jawab arin enteng


"Serius??" Arin mengangguk, "Ntar kalau dia nyariin gimana??? Kenapa gak pamit dulu sih??"


"Elo fikir saat gue panik gue masih mikiran buat pamitan sama Ken. Nggak Res.. udah bukan Ken lagi yang gue pikirin. Dan sekarang gue malah lupa-lupa ingat jendela mobil Ken udah gue tutup atau belum. Gue bukan takut Ken nyariin gue, gue takut Ken nyariin mobilnya."


"Kabarin dulu sana."


"Handphone gue mati. Pas tadi telpon elo mati, handphone gue juga ikutan mati."


"Ya udah. Elo charger dulu sana. Gue kekantin dulu mau beli minum. Ntar gue nyusul."


"Kita nginep??" Ares mengangguk menjawab pertanyaan Arin.


"Iya.. gue belum tenang kalau harus balik. Mending malam ini kita nginep aja. Bentar lagi dia pasti dipindahin ke ruangan biasanya." Ares berlalu meninggalkan Arin yang masih berdiri didepan pintu.


Makasih sayang.. Sudah bertahan untuk bunda.

__ADS_1


...■■■■■■■■...


__ADS_2