
"Eugh..."
"Arin??" Kenzhou langsung berlari menghampiri Arin, "Apa yang elo rasain??" Ares mengerutkan keningnnya mendengar panggilan Kenzhou.
"Ken.." Kenzhou tahu apa yang akan diucapkan Ares, lalu dia memberikan tanda dengan tangannya agar Ares tak mengatakan pada Arin bahwa dia sudah mengingat semuanya.
"Rin??"
"Ken.."
"Apa yang sakit?"
"La .. lapar" jawab Arin terbata. Jawaban Arin membuat Kenzhou tersenyum lega. Hampir 4 jam setelah penanganan dan baru sadar, Kenzhou senang yang dicari pertama kali oleh istrinya adalah makanan. Karena wanitanya itu benar-benar harus makan yang banyak.
"An, kamu tadi beli makanan??" Ana mengangguk menanggapi Kenzhou, lalu menyerahkan sebuah goodie bag pada Kenzhou.
"Hanya nasi dan ayam bakar madu pak"
"Nggak apa-apa, Arin suka kok" Kenzhou membuka bungkusan dihadapannya dan mulai menyuapi Arin.
"Aku mau makan sendiri Ken!" tolak Arin merasa tidak enak disuapi Kenzhou.
"Ck.. nggak usah protes. Buruan buka mulutnya trus makan. Orang pegang angin aja tangan elo getar, mau peganng sendok." sindir Kenzhou.
"Iya Rin.. biar disuap Kenzhou.. Kapan lagi di suapin cowok ganteng dan jomblo."
"Ck.. maaf gue nggak jomblo ya.. cuma lajang"
"Ck.. sama"
KEnzhou tersenyum remeh pada Ares sambil menyuapi Arin. Setelah suapan ketiga, Arin baru menyadari kalau tangan Kenzhou terluka. Bahkan mengeluarkan tidak sedikit darah.
"Ken tangan elo kenapa?? Elo jatuh dimana? Atau ini kena apa?" Arin mencoba memegang tangan Kenzhou, tapi langsung ditarik oleh Kenzhou. Nggak mau kalau istrinya begitu khawatir hanya karena luka kecil.
"Nggak apa-apa"
"Apanya yang nggak apa-apa sih Ken?? Ini berdarah.. Res panggilin suster buat obatin ini, gue.."
"Arin.. its okay.. Ini nggak sakit."
"Jangan berlagak bilang nggak sakit, bahaya kalau infeksi.. Ares buruan!!"
"Elo makan dulu, nanti habis ini gue obatin lukanya." putus Kenzhou
"Nggak, obatin dulu. Baru gue makan! Ares bu..."
__ADS_1
"Pilih makan atau pilih gue cium??" Ancam Kenzhou.
"Ishh... apaan sih, buruan obatin dulu. Ar.."
"Nyonya Kenzhou Alatas bisa nggak ini dimakan dulu. Kamu itu lagi sakit, ngeyel banget dibilangin."
Arin mematung mendengar panggilan yang diucapkan oleh Kenzhou.
"Malah diem. Arin ayo makan!!"
"Ken.."
"Hemm... apa?? Buruan makan!" Sudah tak lagi menolak, akhirnya Arin menerima suapan dari Kenzhou. Arin menerima suap demi suap makanan dari tangan Kenzhou. Bahkan hingga nasinya hampir habis.
"Nah... Sudah habis. Sekarang minum!" Arin menurut masih dengan hati bergetar.
"Nyonya Kenzhou Alatas?? Apa yang gue denger tadi serius, atau gue salah denger???"
"Rin... Arin.. Hei..!"
"AH... ya!"
"Kok ngelamun. Kenapa??" Arin menggeleng, "Beneran??"
"I.. itu tangan.." Arin menunjuk luka Kenzhou,
"Sekarang!!" titah Arin
"Baiklah! Res, jangan balik dulu ya. Tungguin gue balik kesini baru elo balik" Ares hanya menjawab dengan mengacungkan 2 jempolnya. "Gue obatin ini dulu. Habis ini minum obat trus kalau bisa mending kamu tidur" pesan Kenzhou pada Arin.
"Iya Ken.." Kenzhou tersenyum lalu mengelus pucuk kepala Arin penuh sayang, bahkan mendaratkan sebuah kecupan manis dikening Arin sambil berucap lirih, namun jelas ditelinga Arin.
"Semoga lekas sembuh istriku"
Kenzhou merasakan tubuh Arin menegang ketika dia mengucapkan kata istriku. Namun, lagi-lagi Kenzhou bersikap acuh seolah tidak mengatakan apapun. Bahkan dia langsung berlalu keluar dari ruangan Arin.
"Rin, are you okay sweety??" Ares mendekat, dan membelai sayang rambut Arin. Ares sebenarnya tahu apa yang sedang Arin pikirkan, namun sepertinya ia dan Ana harus menahan diri untuk memberi tahu.
"Mungkin Arin ngantuk mas habis minum obat"
"Ah.. e.. enggak kok. Res.... itu beneran Kenzhou udah nggak apa-apa?? Kemarin kan dia masih kaya orang nggak napsu hidup" lirih Arin. Sungguh dia tidak hanya berharap Kenzhou kembsli ceria setelah dikhianati, namun dia berharap suaminya kembali.
"Ya.. mungkin aja semalem kepalanya kejedot pintu" jawab Ares asal, bahkan Ares sendiri heran bagaimana bisa Kenzhou mengingat semuanya dalam satu malam.
"Ishh.. Nggak lucu!"
__ADS_1
"Tadi katanya udah ketemu obatnya sih Rin, pas ku tanya"
"Obat?? Dia balikan sama Maira?"
"Ya nggak mungkinlah bege.. Maira lagi hamil, mana mungkin Kenzhou mau sama perempuan yang bentar lagi brojol."
"Namaya juga cinta Res.. " sahut Arin
"Cinta boleh goblok jangan. Kalau Kenzhou lakuin itu, berarti dia sama gobloknya kayak elo."
"Enak aja. Gue ngelakuin itu buat laki gue, bukan laki orang." Bukannya istirahat, Arin malah berdebat dengan Ares. Dan Ana hanya bisa menggeleng melihat pertengkaran mereka.
...***...
Kenzhou kembali setelah hampir 5 jam meninggalkan Arin. Setelah mengobati tangannya, dia memutuskan untuk menemui Dr. Firza dan menjelaskan kondisi ingatannya saat ini. Dan setelah menjalani sedikit pemeriksaan, Kenzhou sedikit banyak lega. Karena menurut Dr. Firza kondisinya sudah stabil, hanya pemulihan saja yang diperlukan.
Klek..
Ruangan Arin nampak senyap, istrinya tengah terlelap diranjang. Sedangkan Ares dan Ana keduanya sudah pulang sejak tadi. Ares sempat mengirim pesan dan mengatakan bahwa dia harus pulang karena Langit merengek minta bertemu dengan dirinya.
Kenzhou menarik kursi disebelah Arin, menatap lekat wajah istri yang sangat dia cintai. Wanita yang telah membolak balikan kehidupannya sejak dulu. Wanita yang dulu ia benci karena menyebabkan pernikahannya dengan Nabilla hancur berantakan. Namun, seiring berjalannya waktu dia menyadari bahwa pernikahannya dengan Nabila hancur karena memang sejak awal Nabila dan dirinya tidak benar-benar saling mencintai.
Bahkan saat Aleesha lahir, Nabilla memilih kembali pada mantan kekasihnya dan menyerahkan perawatan Aleesha padanya dan keluarga Alatas. Serta menggugat cerai Kenzhou. Nabilla jugalah yang meminta Arin untuk menjaga Aleesha.
"Cepatlah sembuh seperti sedia kala. Dan kamu harus menjelaskan semuanya sama aku." Airmata Kenzhou menetes, dia terisak. Mengingat segala kebodohannya hingga menyebabkan wanita yang dicintainya terluka. Isakan yang makin lama, makin keras dan pilu membuat Arin terbangun dari tidurnya.
"Ken.. elo kenapa??" Bukannya menjawab, Kenzhou justru memeluk perut Arin dan menangis disana. "Kenzhou.. elo kenapa?? Jangan bikin gue takut??"
"Maaf.. maafin gue"
"Astaga Ken.. nggak apa-apa. I'm fine." Bohong jika ia mengatakan baik-baik saja, jika nyatanya dia terluka ketika suaminya menangisi wanita lain. Kenzhou menggeleng,
"Maaf.. gara-gara gue elo jadi begini"
"Ken.. udah!! Gue nggak apa-apa. Yang penting sekarang elo udah semangat lagi" Ken terdiam masih dengan memeluk pinggang Arin. Sebenarnya dia berpikir bagaimana caranya bilang sama Arin, kalau dia sudah mengingat semuanya.
"Ken??"
"Hemmm"
"Secinta apa sih elo ke Maira, sampai elo kemarin seterpuruk itu?" pertanyaan Arin menyebabkan Kenzhou makin tak sabar untuk bilang kalau dia sudah mengingat semuanya.
"Entah"
"Move on yuk Ken. Gue yakin banyak perempuan baik diluar sana yang bisa mencintai elo dengan tulus. Rekan bisnis kita yang baru banyak yang cantik-cantik kok. Ntar gue kenalin" Kenzhou tersenyum smirk, lalu mengangkat kepalanya dan memandang Arin dalam.
__ADS_1
Lalu Kenzhou terkekeh "Baru kali ini ada seorang istri yang merekomendasikan wanita lain untuk suaminya"
...■■■■■■■■■...