
Kenzhou tak berhenti menatap paras cantik Arin yang terlelap disampingnya. Wajahnya kini lebih bersinar, sudah nggak kelihatan gurat kurang tidur yang beberapa bulan terakhir terlihat.
"Seenggaknya beban kamu sudah berkurang satu yank. Sekarang kiita hanya tinghaal menungggu Aleesha sadar, da kita bisa hidup bahahhia seperti mimpi kita bersama" Kenzhou mendaratkan sebuah kecun hangat di pucuk kepala Arin. Ini sudah 3 bulan sejak Kenzhou mendapatkan ingatannya kembali. Dia lebih sering bersama Arin, tidak pernah lagi membiarkan Arin sendiri. Seperti sekarang, Kenzhou kembali menemani Arin menjaha Aleesha.
Tap..Tap..Tap...
Terdengar suara sepatu bersaut-sautan dari arah pintu masuk. Kenzhou terkejut ketika para dokter masuk kedalam ruangan Aleesha. Pasalnya belum ada semenit yang lalu, seorang suster datang untuk memeriksa kondisi Aleesha.
Kenzhou bangkit berdiri ketika melihat Dokter Jeff hampir memasuki ruang ICU dimana putrinya dirawat intensif.
"Jeff ada apa???" Kenzhou bertanya dengan cemas, bahkan Arin yang mendengar keramaian sampai terbangun dari tidurnya.
"Tenang Ken. Kami janji akan berusaha semaksimal mungkin. Suster yang akan memeriksa Aleesha tadi menemukan kejanggalan. Detak jantung Aleesha melemah. Kami harus segera menanganinya. Permisi" Setelah Jeff masuk kedalam ruangan Aleesha, tubuh Kenzhou lemas, hingga merosot namun masih bisa ditopang tubuh Karui yang entah sejak kapan berada diruangan itu.
"Bang,ayo duduk dulu!"
"Sayang.. Aleesha??"
Airmata Kenzhou menetes, "Mas tenang ya. Aleesha anak yang kuat. Ini sudah entah keberapa kali Aleesha kolaps seperti ini" Arin menunduk, kesedihan kembali terlihat diwajahnya.
"Tuhan,, kumohon selamatkan putriku" tubuh Kenzhou lemas, airmatanya semakin deras menetes.
"Bang tenang. Bang Jeff pasti bakal selamatin Aleesha lagi" Kenzhou mengangguk lemah, tangan kanannya mulai merangkul Arin yang juga kembali menangis sesenggukan. "Aku akan menelpon Keiko untuk mengatakan kondisi sementara Alessha."
"Rui.." panggil Arin, saat adik iparnya itu mulai melangkah menjauh.
"Iya mbak? Ada apa?"
"Jangan bilang sama papa mama. Biar ditangani Jeff dulu. Nanti setelah Jeff selesai dan ada keputusan pasti, baru kita kabari mama." permintaan Arin membuat Rui mengurungkan niatnya untuk menghubungi Keiko. Dia memahami dan membenarkan larangan kakak iparnya itu, jika dia menelpon Kei maka hanya akan menimbulkan banyak kekhawatiran.
__ADS_1
"I.. iya mbak." Karui menatap nanar wajah Kenzhou yang memerah, dia nampak terpukul karena kondisi Aleesha yang tiba-tiba mengalami Drop.
"Sayang..." panggil Kenzhou lirih.
"Kenapa??"
"Apa Aleesha sering seperti ini??" pertanyaan Kenzhou dijawab anggukan pelan Arin. "Dan kamu sendiri menunggu disini??"
"Kadang bersama Rui, tapi lebih sering bersama Ares."
"Berapa hari sekali kamu menunggu disini??"
"Setiap hari kalau malam."
"Setiap malam???"
"Ya.."
"Setiap malam aku memang selalu menunggui Aleesha. Biasanya sampai jam 10 atau jam 11, tapi kadang juga sampai pagi." Arin menjelaskan, "Kamu inget nggak mas, waktu aku tiba-tiba ngilang pad lagi nemenin kamu ngelamar Maira waktu itu?? Kenzhou mengangguk, dia ingat saat itu. Bahkan dia kelimpungan mencari Arin ke setiap sudut kota "Waktu itu Arin kolaps"
"Jadi waktu itu kamu bohong??"
"Demi kesehatan elo bang. Dokter Firzha udah wanti-wanti supaya kita semua nggak nekan elo, memaksa elo untuk mengingat. Jadi kita hanya bisa menyembunyikan semua." Rui menimpali membantu kakak iparnya.
"Aku ini nggak berguna.." Kenzhou terus memukuli kepalanya,
"Yak..bang, berhenti! elo ngapain sih?? Ini bukan salah elo, kita lakuin ini biar abang cepet sembuh??" Rui mencoba mencekal tangan Kenzhou agar berhenti memukul kepalanya sendiri.
"Gue nggak berguna Ru. Gue ayah dan suami yang payah. Gue cuma mikirin diri gue sendiri, harusnya waktu gue sadar dan ngelihat Arin nggak ada, harusnya gue tanya. Bukan hanya menuruti ego gue"
__ADS_1
"Mas tenang. I'm ok!"
"Yank.. aku..."
"Mas, kamu adalah ayah yang baik untuk Alessha. Aleesha pasti tahu, kalau ayahnya juga sedang berjuang untuk dia. Berjuang untuk mengingat dia. Dan kamu juga suami yang baik, meski kamu hanya mengingatku sebagai sahabat, setidaknya aku selalu bisa berada disisi kamu tanpa halangan apapun. Sekarang, kamu sudah disini mas. Sama aku, kamu juga udah janji bakalan selalu disamping aku. Makanya, sekarang kita berdoa supaya Aleesha cepat sadar"
"Tuhan..selamatkan putriku. Aku tidak ingin kehilangan dia. Kumohon. Gantikan rasa sakitnya dengan kesembuhan. Kalau perlu tukar kesehatanku dengan kesakitannya. Biar aku saja yang merasakan sakitnya"
Krekk..
Pintu ruang ICU terbuka, wajah lelah Jeff terlihat jelas. Kenzhou, Arin dan Karui langsung mendekat kepada Dokter tersebut dengan tidak sabaran.
"Jeff bagaimana kondisi Aleesha"
Jeff menghela nafasnya berat. Perasaan ketiganya menjadi tidak enak.
"Gini Ken, ini sudah ke 15 kalinya kondisi Aleesha mengalami drop. Gue yakin Arin udah cerita hal ini. Dan gue bilang dengan jujur, ini adalah titik terlemah Aleesha. Ini adalah kondisi drop paling parah. Karena dia tadi sempat Henti Jantung." Saat ini Aleesha kritis. Dan sorry kalau gue harus bilang ini." Jeff menarik nafas panjang, "Jika dalam 1 X 24 jam Aleesha belum juga melewati masa kritisnya, dengan terpaksa kami harus mencabut semua alat bantu pasa tubuh Aleesha"
Tubuh Kenzhou menengang, emosi tampak diwajahnya, "Apa maksud elo Jeff? Nggak.. elo nggak boleh cabut alat apapun dari tubuh anak gue. Gue bakal bayar berapapun. Elo dokter hebat Jeff, elo pasti bisa selametin anak gue lagi. Please Jeff.. tolong!"
"Ken tenang, gue..."
"GIMANA GUE BISA TENANG JEFF? ELO BILANG MAU CABUT SEMUA ALAT BANTU, ELO MAU BUNUH ANAK GUE?" Emosi Kenzhou benar-benar tak bisa di kendalikan.
"Ken... gue udah bilang sejak Aleesha datang kerumah sakit ini. Kalau kondisi Aleesha sangat buruk . Bahkan Arin tahu, kalau tanpa alat bantu itu Aleesha sudah nggak ada sejak dulu. Arin yang maksa gue tetap pertahanin kerja alat-alat itu padahal Arin tahu gimana parahnya kondisi anak elo. Dan Gue pernah bilang dimalam Kolaps Aleesha waktu itu sama Arin, kita butuh ngedorong dia pergi, atau membawa dia kembali.. Nyatanya, kehadiran elo bahkan nggak berpengaruh apapun. Sekarang kondisinya bahkan lebih parah.. Dia menolak semua kerja alat-alat ditubuhnya. Jadi gue harap, kalian semua harus siap dengan kemungkinan terburuk yang akan terjadi. Tapi, gue akan selalu berusaha supaya dia bisa segera bangun" Jeff meninggalkan mereka yang masih shock..
"Sayang ... Alee" Kenzhou tak mampu melanjutkan kata-katanya. Dia begitu terpuruk sekarang.
"Sayang, ayo berdoa. Mudah-mudahan Aleesha segera diberi kesehatan. Aku juga hancur sama denganmu. Aku bahkan tak setegar ini" Arin mengelus punggung Kenzhou perlahan, menyalurkan kehangatan agar kondisi Kenzhou kembali tenang.
__ADS_1
"Aleesha, dengar mommy sayang. Tolong kembali pada Mommy dan Daddy. Jangan tinggalkan kami. Mommy mohon sayang"
...■■■■■■■■...