The Secret Of My Heart

The Secret Of My Heart
Jujur


__ADS_3

Dilain tempat, Maira sedang diam dan menunduk penuh rasa takut.. Tak pernah terbayang dalam pikirannya bahwa kebohongannya akan terbongkar secepat ini. Sejak dalam perjalanan pulang, Suaminya hanya diam. Dan Maira tahu, suaminya itu sedang menahan amarahnya.


"Sekarang jelaskan padaku apa hubunganmu dengan Kenzhou Alatas??" Mario sudah menahan pertanyaan itu sejak dirinya melihat amarah yang meluap-luap dari Kenzhou dipesta ulang tahun Noy.


Maira hanya diam dan menunduk, takut dan bingung harus menjawab apa.


"JAWAB AKU, MAIRA DIMITRI" Kini Mario sudah kehilangan kesabarannya, karena Maira tak kunjung menjawab pertanyaannya. "ADA HUBUNGAN APA KAMU DENGAN KENZHOU ALATAS. JANGAN BILANG KALAU KAMU MAIN GILA SAMA DIA"


Maira menggeleng kuat, bagaimana dia bisa main gila dengan Kenzhou, sedangkan disini sebenarnya korbannya adalah Kenzhou, dan dia tersangkanya."Bagaimana bisa kamu mengatakan aku main gila sama dia, kalau selama 2th lebih aku bahkan nggak pernah keluar rumah?? Bagaimana kamu bisa mengatakan aku main gila, sedangkan dia adalah korban dari kita yang main gila" Mario terkejut, tidak memahami apa yang maksud istrinya. "Dia mantan kekasihku. Saat pertama mengenalmu, bahkan saat aku hamil Damian aku masih berstatus kekasihnya" Maira berkata sangat lirih,


Deg...


"Jadi??" Mario terkejut mendenngar pengakuan Maira. "Saat kita baru bersama dan melakukan hal terlarang itu kalian masih pacaran??" Maira mengangguk. Sudah nggak ada gunanya berbohong. Lagipula, mendengar kebohongannya Mario tidak akan menceraikannya. Dia sangat yakin itu.


"Ya... bukankah saat itu aku bilang kalau aku masih punya pacar dan kamu mengatakan tak peduli akan hal itu. Kita jalani hampir 3 bulan, dan tepat saat aku tahu sedang hamil Damian, aku memutuskan untuk mengakhiri hubungan ku dengannya."


"Lalu kamu menjanjikan apa sama dia, sampai dia semarah itu mengetahui kita menikah??"


"Tidak ada..aku tidak pernah berjanji apapun padanya. Hanya saja, saat itu alasan ku yang ku gunakan untuk mengakhiri hubungan dengannya adalah aku akan meniti karir dan kuliahku di Paris. Aku juga menolak lamarannya karena aku mencintaimu. Kenzhou terus menerus mendesakku agar mau menerima lamarannyaa. Namun lagi-lagi aku terus menolaknya. Sampai tanpa sengaja aku mengatakan padanya agar menungguku sampai aku kembali. Aku tidak tahu kalau dia adalah rekan bisnismu. Dan aku benar-benar tidak menyangka kalau dia benar-benar menungguku. Maaf" Maira meneteskan air mata. Takut-takut Mario akan kembali berteriak.


Mario duduk disamping Maira dan mengusap puncak kepalanya pelan dan memeluknya.


"Kenapa kamu tidak jujur sama dia kalau kamu menyukai orang lain?? Kenapa harus berbohong?"


"Maaf .... Dia adalah orang yang sangat kukuh dalam pendiriannya. Dia tidak menerima perselingkuhan apapun alasannya. Aku hanya takut kalau dia bisa saja menyakitimu. Aku nggak mau kamu sampai terluka, sedang saat itu aku tengah hamil Damian. Aku takut kehilangan kamu, mas. Hiks." Maira mengeratkan pelukannya pada Mario.


"Jangan menangis ya. Maaf.. maafkan aku sudah membentakmu. Nanti kapan-kapan kita atur janji. Kita temui dia bersama-sama. Kita jelaskan dan kita minta maaf sama dia." Mario menenangkan Maira, disini dia ikut andil menimbulkan masalah. Kalau dulu dirinya tidak menggoda Maira, dan tidak mengatakan "No problem, kita bisa bersama dibelakang kekasihmu" mungkin kejadian hari ini tidak akan terjadi. Dia bahkan sampai mengambil kehormatan Maira sebelum mereka menikah, dan menyebabkan Maira hamil 4 bulan saat dia memperistri wanita itu.

__ADS_1


Namun, bukannya cinta tidak pernah salah dalam memilih takdirnya. Dan Mario egois saat itu, karena dia sangat mencintai Maira.. Sangat. Dia menghamili Maira karena ingin Maira lah yang menjadi ibu dari anak-anaknya.


...***...


"Mas, boleh aku masuk?? Aku bawa kopi buat mas Vano" merasa terpanggil, pria berusia 48th itu menoleh, mendapati wanita cantik yang menjadi istrinya sejak 9th yang lalu. Vano tersenyum tulus, senyum yang mampu menyentak hati wanita dihadapannya.


"Masuklah! Kenapa harus minta izin hem??"


"Hanya takut mengganggumu kerja mas. Soalnya beberapa hari belakangan mas sibuk banget." Daisy, berjalan menuju sofa dan meletakkan kopinya disana. Dia tidak mengantar ke meja kerja karena disana banyak berkas-berkas yangsedang dikerjakan suaminya.


"Iya.. mengejar deadline sebelum cuti" Vano meletakan pekerjaannya dan mendekati Daisy dan duduk disampingnya. Vano mengambil kopi dihadapannya dan mennyeruputnya perlahan. "Ah.... rasanya masih sama" Daisy tersenyum mendengarnya.


"Oya mas.. mas bilang tadi bilang mau cuti?? mas kenapa??"


"Hanya pengen saja?? Kenapa?? Apa aku tidak boleh istirahat??" Vano memancing, dia tahu bukan maksud buruk istrinya menanyankan itu.


"Bu.. bukan begitu mas. Mas jangan salah paham." Daisy kalang kabut, dia selalu tidak bisa mengutarakan kekhawatiran dan berakhir dengan marahnya Vano. Meski sebenarnya, Vano tidak pernah bisa marah pada Daisy.


"Mas...bukan itu maksudku" Daisy ikut berdiri ketika Vano lebih dulu berdiri dan membelakangi Daisy.


"Aku..."


"Aku sudah melakukan semuanya, Des. Aku sudah membawa H&D pada puncaknya. Dan sekarang sudah waktunya aku berhenti. Ares juga sudah bisa berdiri sendiri, mengatur semuanya."


"Maksud mas Vano apa??" Daisy membalik badan suaminya, menatap lekat pada manik hitam suaminya. "Apa maksudnya berhenti mas??"


"Aku lelah Des. Aku sudah tua. Biar anak-anakmu yang memegang apa yang seharusnya memang mereka yang mengendalikan. Sudah saatnya aku menyerahkan kembali semuanya padamu dan anak-anak kalian. Anak-anakmu dan Herman."

__ADS_1


Deg...


Hati Daisy berdetum keras, ketika Vano menyebut "anak-anakmu dan Herman" ada rasa sakit yang mencubit hatinya. Entah kenapa dia merasa tidak rela, Vano menyebut anak-anakmu.. Bukan lagi anak-anak kita seperti biasanya.


"Mas.. jangan begini mas. Maaf kalau Daisy ada salah. Tapi please, jangan bilang mengembalikan mas. Itu milik mas Vano. Itu.."


"Bukan milik ku Des.. itu milik mu dan anak-anak. Aku hanya menjalankan amanat dari Herman. Menjaga anak-anaknya agar tumbuh baik dan berkecukupan. Menjaga perusahaannya agar tetap maju dan terus berkembang pesat. Juga menjaga kamu, istrinya, agar selalu baik-baik saja."


"Mas, apa bagi kamu aku hanya sebatas istri Herman, dan bukan istrimu mas??" Tangis Daisy pecah seketika, saat mendengar ucapan Vano.


"Bukankah kamu memang istri Herman, Des?? Aku hanya menjalankan apa yang diamanatkannya. Untuk menikahimu, menjaga anak-anak kalian, dan meningkatkan keuntungan H&D" jawab Vano, raut wajahnya dingin.


"Hiks.. apa selama 9th ini, hanya itu arti ku mas? Apa tidak ada sedikitpun cinta untuk aku mas?? Apa tidak ad.."


"Lalu apa selama 9th ini kamu mencintai aku Des??"


Daisy terkesiap.. dia menilisik hatinya.


"Selama 9th, bukankah kamu yang menganggap aku hanya sebagai orang kepercayaan Herman untuk mengurus perusahaan. Bukan sebagai suami. Bukankah kamu yang mengangap aku hanya orang asing yang tinggal dirumah mu. Bahkan, selama 9th pernahkah kita sekali saja melakukan hubungan suami istri?? Kamu bahkan selalu menolak ketika ku ajak. Matamu terlihat takut ketika sedang bermesraan, seolah-olah kamu seperti takut ketahuan selingkuh. Kamu salah menanyakan cinta padaku Des. Karena kamu yang paling tahu isi dari hatiku Des. Seberapa besar aku mencintai kamu. Bahkan jauh sebelum kamu menikah dengan Herman. Seharusnya kamu nggak lupa seberapa hancur aku ketika kamu menikah dengan Herman 30th yang lalu. Bahkan ketika kamu tahu, kamu hamil anak ku, kamu tetap menikah dengan Herman.. Padahal saat itu aku sudah menawarkan pernikakan. Tapi kamu yang tak ingin...." Vano menghentikan ocehannya ketika melihat Daisy menangis. Cukup panjang dia memancing istrinya, dia sebenarnya tidak ingin mengungkit masa lalu. Dia hanya ingin Daisy sedikit memahami dirinya.


"Maaf mas.. maaf. Aku minta maaf" Daisy sesenggukan, mendaratkan pelukan pada suaminya. Dia mencintai Vano. Sangat. Dia tidak ingin ditinggalkan. Setelah 30 tahun, dia bisa bersama dengan orang yang dicintainya. "Aku mencintai kamu mas. Sangat. Aku bukan tidak ingin kamu sentuh mas. Aku hanya selalu teringat saat pertama kita melakukannya. Aku malu mas, aku takut dan aku merasa bersalah padamu. Apalagi kalau aku mengingat bahwa Jingga, adalah anak kita mas. Aku merasa berdosa sama kamu mas. Aku hanya tidak bisa mengungkapkan kekhawatiranku mas. Aku sangat tidak ingin kamu kenapa-kenapa."


Vano tersenyum, inilah yang ingin Vano dengar. Ucapan cinta Daisy. Pengakuan dan kejujuran Daisy tentang Kara Jingga. Putrinya, hasil kesalahannya dan Daisy dimasalalu.


"Kamu lebih tahu kalau aku mencintai kamu Des. Aku hanya ingin kamu jujur. Besok, aku ingin kita semua berkumpul. Ada yang harus aku sampaikan pada anak-anak. "


"Mas.. mas nggak ada niatan buat ninggalin aku kan mas?"

__ADS_1


"Never"


...■■■■■■■■...


__ADS_2