
Ares menatap heran calon istrinya. Sejak tadi Ana hanya diam nampak memikirkan sesuatu. Makanan yang ada dihadapannya bahkan tak tersentuh sama sekali. Padahal semua urusan untuk pernikahan mereka telah mencapai angka 80%. Kondisi Langit juga sudah pulih pasca operasi satu bulan yang lalu. Balita 3th itu kini sangat aktif dan lincah.
"Sayang??" Ares menyentuh dan menggenggam tangan Ana, membuat wanita itu terkejut.
"Ehm.. mas Ares tanya sesuatu sama Ana??"
Ares menggeleng, "Nggak. Mas nggak nanya apa-apa. Cuma mas perhatikan kamu dari tadi diem aja. Ngalamun juga" Ares membelai rambut Ana dan menatap mata calon istrinya itu dengan penuh kelembutan. Membuat Ana tak berani memandang dan memilih menunduk. "Kamu kenapa??"
"Mas??"
"Hemm..."
"Mas udah ketemu Arin??"
"Arin??" Ana mengangguk, "Belum. Emangnya kenapa??"
"Bisa nggak mas Ares ngasih tahu Arin supaya makan. Arin sekarang kurus banget mas. Ana nggak tega ngelihatnya."
"Kurus??" Ares mengeryit, dia bahkan tidak memperhatikan Arin sedetail Ana memperhatikan. Bahkan dia tidak mengetahui, sekarang adiknya itu kurus.
"Iya mas. Kurus banget. Emang mas Ares nggak perhatiin ya?? Kalau sekarang makan Arin itu nggak teratur?"
Ares menggeleng, "Dia 'kan tinggal sendirian yang.. mas juga nggak bisa kontrol dia terus menerus. Nanti mas temuin dia, biar mas nasehati"
"Mas... Arin sudah terlalu memaksakan diri. Aku tahu dia sangat mencintai Pak Kenzhou, tapi dengan dia bekerja kaya robot gini Arin akan sakit mas. Ditambah dia selalu mencoba untuk bisa goal tender. Belum lagi dia yang selalu acuh pada jam makan siangnya, yang ada dalam fikirannya hanya kerja-kerja dan kerja. Dia hanaya akan semakin melukai dirinya sendiri, mas. Mas... please lakuin sesuatu untuk Arin.,"
"Sayang... tenang." Ares menghentikan ucapan sang kekasih yang sangat-sangat terdengar khawatir. "Tenanglah. Mas juga ngerasain apa yang kamu rasain. Mas juga akan secepatnya menemui Kenzhou. Mas sudah nggak peduli dengan larangan keluarganya atau dokter sekalipun. Mas nggak akan membiarkan keadaannya semakin larut. Mas nggak bisa biarin adik mas terus menderita. Oya..sudah 2 hari mas nggak ketemu sama Arin, dan mas lihat kamu menghandle pekerjaan hanya berdua sama Rency. Arin nggak masuk?"
Ana menatap Ares dengan tatapan heran. "Mas Ares nggak tahu???"
Ares menggeleng, "Tahu apa??"
"Arin tidak telpon Mas Ares??" Ares menggeleng lagi.
"Astaga Nyonya Antares, bisa nggak bilang ada apa?? Jangan buat calon suamimu ini khawatir"
"Heheh...maaf mas. Arin ke Bali"
"Bali??? Buat apa??"
"Nggak tahu, tapi..."
__ADS_1
"Tapi apa??"
"Ada yang aneh, mas. Arin tiba-tiba bilang mau ke Bali setelah beberapa hari yang lalu ada 2 orang dari bank Central kesini."
"Bank Central??? Ada apa memangnya??"
"Aku tidak tahu apa yang mereka bicarakan, tapi aku menemukan ini" Ana menyerahkan selembar kertas berisi surat perjanjian. Surat itu adalah surat perjanjian hutang piutang antara Kenzhou dan Bank Central.
"Astaga.. ini"
"A..ada apa mas? Ada yang serius??"
"Ini surat perjanjian hutang antara Kenzhou dan Bank Central, dan disini ada surat perjanjian yang tertulis Arin menyanggupi untuk melunasi hutang Kenzhou dalam waktu seminggu. Astaga.. Arin pasti ngelakuin hal bodoh lagi"
"Maksud mas Ares???"
"Menjual aset pribadinya."
"What??"
"Ya...aku pernah bilang Arin pernah membayar denda pelanggaran kontrak??" Ana mengangguk dia ingat cerita Ares beberapa waktu lalu.
"Arin menjual rumah pribadinya di Bandung. Dan..aku yakin sekarang dia akan melakukan hal yang sama. Tapi kali ini mas yakin dia ngejual rumahnya yang di Bali"
"What??"
"Ya...rumah yang Arin bangun dengan uang hasilnya bekerja selama 5 th. Kita harus menghentikan Arin,"
"Apa masih bisa??"
"Kita coba"
Ares menggambil handphonenya dan mencoba menghubungi Arin. Namun sampai panggilan kelima, masih saja operator yang menjawab.
...***...
Dibelahan bumi yang lain, Arin menatap langit malam kota Los Angeles, Amerika Serikat. Senyum merekah mengembang dibibirnya, sore tadi dia telah melunasi semua hutang Kenzhou, dia mentransfer langsung uang hasil penjualan rumah miliknya. Bukan di Bali, tapi rumahnya yang di Los Angeles. Rumah yang dia beli patungan dengan Erick saat masih SMA dulu. Dia sudah meminta izin Erick untuk menjualnya. Dan mau nggak mau Erick harus menyetujuinya.
Sebenarnya rumah sekaligus vilanya yang di Bali juga sudah ditawar, hanya saja ada banuak hal yang mempengaruhi pikirannya ketika akan menjual rumah itu.
"Haaahhhhh..." Arin menghela nafasnya kasar, "Cepatlah kembali seperti dulu, Ken. Batas lelah yang gue rasakan sudah sampai diujungnya. Rasanya gue udah pengen banget nyerah, tapi gue bener-bener nggak bisa kehilangan elo"
__ADS_1
"Kamu terlalu maksain diri Rin, jujur abang nggak ikhlas kidat kamu kayak gini" Arib menoleh dan mendapati kakak laki-lakinya, Marverick Sebastian, berdiri gagah di pintu balkon kamarnya.
"Bang.."
"Ini sudah 11th dan kamu masih menunggu hatinya?? Kamu masih tetap berdiri disampingnya walau kamu tahu, hanya akan tersakiti. Berapa tahun lagi kamu akan berkorban untukknya?? Sejak SMA hingga sekarang. Sudah 2 rumah hasil kerja kerasmu yang kamu korbankan, lalu suatu saat kamu akan mengorbankan apalagi??"
"Aku mencintainya bang"
"Cintamu terlalu buta Rin. Ingin sekali rasanya aku memukul kepala Kenzhou dan membuatnya sadar akan semua pengorbananmu. hampir separuh dari usiamu saat ini kamu habiskan hanya itu berkorban buat dia. Kapan kamu akan memikirkan dirimu sendiri Rin??? Usiamu sudah 28 th, mau menunggu berapa tahun lagi hingga dia membuka hatinya? Dia menikahimu saat itu pasti hanya karena permintaan papanya??"
Arin tersenyum dan mendongkak menatap langit, "Aku akan dengan rela melepasnya jika dia sendiri yang memintaku untuk pergi. Aku ingin dia mengingat semuanya dan menentukan pilihannya dengan sadar. Jika dia masih ingin denganku, aku akan terus menemaninya. Tapi, jika dia menginginkan orang lain sebagai pendamping hidupnya dan ibu bagi Aleesha, aku akan pergi. Bahkan aku akan dengan rela menemui Nabila jika dia memang ingin kembali dengan Nabila"
"Aku tidak tahu apa yang membuatmu kukuh berada disampingnya? Dia terlalu sering menyakitimu"
"Cintaku tulus padanya, sampai kapanpun."
"Baiklah. Akan sangat sulit membuka hatimu yang sudah dipenuhi cinta pada bajingan itu"
"Berhenti menyebutnya bajingan bang. Bajingan itu bahkan sudah pernah menumbuhkan nyawa keponakanmu dirahimku" Erick tersenyum miris, ya... pada kenyataannya pria yang disebutnya bajingan, Kenzhou, adalah pria yang sangat dicintai adiknya, yang bahkan sudah menabur benih dirahim adiknya.
"Ya.. itulah yang ku sesali"
"Bang.. please. Sebentar lagi,, aku mohon dukung aku sebentar lagi"
"Lakukan sesuka hatimu, Nona Sebastian. Abang hanya bisa mendukungmu. Besok pulanglah, abang harus kembali mencari Ella."
"Apa masih belum ada informasi" Erick menggeleng.
"Belum, aku dan papa sudah kesana kemari. Tapi masih zonk"
"Apa aku bisa membantu" tawar Arin
"No... urusi saja Kenzhou dan Aleesha. Biar aku, papa dan Kak Felix yang nyariin"
Erick berlalu meninggalkannya, membuat Arin krmbali tersenyum miris pada dirinya sendiri.
"KENAPA AKU SANGAT MENCINTAIMU, KENZHOU ALATAS"
...#########...
Selamat membaca
__ADS_1