
"Arin... dimana elo??" Ares berteriak setelah membuka pintu utama dan masuk ke rumah Arin tanpa permisi. Bahkan dia langsung menuju lantai atas tanpa menoleh ke kanan dan ke kiri. Bahkan Ares tak menyadari bahwa ada Kenzhou di ujung tangga yang terkejut dengan kedatangan Ares yang secepat kilat. Dia sempat mendengar Ares mengatakan akan tiba 15 menit lagi, tapi belum sampai 10 menit pria itu sudah sampai disini..
Brakk..
Bahkan pintu kamar Arin di buka dengan keras oleh Ares.
"Sebenernya ada hubungan apa mereka berdua?? Kenapa gue nggak tahu?? Apa iya mereka punya hubungan dibelakang gue?? Kok rasanya nggak nyaman gini ya??"
"Mas Ken??" Ken terkejut ketika pundaknya ditepuk dari belakang oleh Bik Sun.
"Bik Sun?? Kenapa bik??"
"Itu tadi suara apa ya den?? Non Arin nggak apa-apa kan den?" Bik Sun bertanya dengan raut wajahnya yang khawatir.
"Oh.. itu tadi Ares bik. Buka pintu kamar nya Arin."
Raut wajah khawatir Bik Sun berubah menjadi raut wajah kaget dan heran.
"Mas Ares??"
"Iya bik.. Itu di kamar. Tadi Arin jatuh, mau Ken bawa ke rumah sakit nggak mau. Trus telepon Ares minta dianter ke rumah sakit. Mungkin sebentar lagi Arin sama Ares turun buat ke rumah sakit. Mereka pacaran ya bik??"
"Eh??" Bik Sun menggaruk tengkuknya, bingung mau menjawab apa.
"Ehm.. bik Ken pamit dulu ya. Mau ada urusan. Diatas sudah ada Ares, Arin pasti baik-baik aja." Kenzhou langsung pergi, raut wajah Bik Sun menjadi khawatir lagi. Bukan karena mendengar Arin yang akan dibawa ke rumah sakit. Tapi bik Sun khawatir karena melihat perubahan wajah Kenzhou sebelum berlalu dari hadapannya tadi.
Diatas.. yang terjadi tak seperti yang mungkin Kenzhou bayangkan. Yang Kenzhou bayangkan adalah Ares yang khawatir dan Arin yang bermanja. Nyatanya, Arin dibuat misuh-misuh karena Ares membuka pintu dengan bantingan dan menyebabkan engsel pintu kamar nya patah.
"Bangsayy... Aresss..." Ares tidak peduli umpatan Arin, dia hanya fokus pada Arin yang tidur terlentang diatas tempat tidur.
"Elo jatuh?? Mana yang sakit? Mana...??" Ares membolak balikan tubuh Arin dengan sedikit kasar..
Plakk..
"Anjir.."
Kepala Ares dipukul tangan Arin dengan keras.
"Sakit Rin.."
"Elo pikir gue nggak sakit elo bolak-balik kayak tadi. Sakit Bege."
"Gue kan khawatir Rin.."
"Khawatir sih khawatir Res.. tapi lihat noh pintu gue ... pokoknya elo mesti ganti atau gue telpon bunda." marah Arin
__ADS_1
"Coba aja telpon, biar sekalian gue bilang elo sakit. Biar elo disuruh pulang ke rumah sama bunda sama Papa. " Ancam Ares balik. Arin lalu terdiam.
"Bener juga. Telpon bunda sama aja bunuh diri"
"Pokoknya gue nggak mau tahu, elo kudu ganti itu pintu. Gue buat rumah ini pakai uang dan perencanaan ya. Enak aja elo rusakin." protes Arin
"Astaga Arinn... gue khawatir elo sakit, elonya malah mikirin pintu."
"Bodo amat... kalau sampai laki gue tahu rumahnya dirusakin sama elo, siap-siap aja kepala elo melayang."
"Ck.. kaya dia udah sadar aja. Kalau dia udah sadar gue duluan yang bakal pites kepalanya, sebelum kepala gue di pites sama dia" Ares nyerocos tanpa kontrol, membuat Arin diam dan kembali mendung.
"Kenapa bisa jatuh sih??" tanya Ares mengalihkan pembahasan ketika melihat wajah itu kembali mendung.
"Bantuin bangun dulu" Arin mengulurkan tangannya, dan Ares dengan sigap membantunya untuk bangun.
"Udah enak belum posisinya??"
"Udah kok" Arin menyandarkan tubuhnya pada kepala ranjang dengan nyaman, setelah Ares membantunya mencari posisi yang nyaman.
"Sekarang cerita, kenapa bisa jatuh??"
"Di dorong Kenzhou" jawab Arin sambil meringis.
"Tadi dia kesini ngajak jalan"
"Ngajak jalan?? Dia..?" tanya Ares tertahan ketika melihat Arin menggeleng.
"Nyari perhiasan buat ngelamar Maira." lirih Arin, namun Ares masih bisa mendengarnya.
"Shitt... dia beneran mau ngelamar cewek itu??" Arin mengangguk,
"Elo tahu banget dia kan Res?? Dia itu paling keras kepala. Kalau sudah A ya harus A.. Mana mau ganti B apalagi C."
"Haahh... salah gue juga waktu itu." keluh Ares
"Bukan salah elo sepenuhnya kok. Namanya juga orang lagi jatuh cinta."
"Hemm.. Trus kenapa dia bisa ngedorong elo?? Elo coba ngompori dia biar nggak jadi ngelamar Maira??"
"Bukan"
"Lah trus??"
"Gue nyoba godain dia, trus dia grogi setengah horny nanggung, trus gue di dorong" jelas Arin.
__ADS_1
"Itu elo yang cari penyakit" Ares menonyor kepala Arin pelan, "Biar bagaimana pun dia laki-laki normal bege.. ngapain juga elo coba-coba buat godain? Pengen ingetin masa lalu hem?? Mau buat anak lagi??"
"Anjirrrrr... belum niat bunting lagi gue" jawab Arin ngasal...
"Aish.. udah sekarang ikut gue kedokter. "
"Gendong" manja Arin, Ares menghela nafasnya berat. Mau nggak mau dan harus mau dia akhirnya menggendong Arin ala bridal style.
Ares secara perlahan menggendong Arin keluar kamar. Dia berjalan pelan ketika sampai di tangga. Dia tidak mau jatuh konyol sambil menggendong Arin.
"Astaga non.. ini kenapa gendongan??" Bik Sun yang masih belum beranjak dari ujung tangga terkejut ketika Ares turun sambil menggendong Arin. "Bibi kira Den Kenzhou bohong waktu bilang Non Arin jatuh. Bibi kira juga mas Ken nggak serius pas bilang Mas Ares dateng"
"Gimana bi?? Ken.. Kenzhou tahu Ares kesini???" Bik Sun mengangguk.
"Tahu kok Mas. Pas mas Ares keatas mas Ken ada disamping tangga. Tapi mas Ares~nya nggak ngeliat mas Ken." jelas bik Sun
"Haduh.. bakal jadi salah paham ini. Aish.."
"Salah paham gimana Res?? Ngapain juga Kenzhou salah paham sama elo??"
"Bukan sama gue, tapi sama kita. Dia bakal mikir yang nggak-nggak soal hubungan kita. "
"Udah terlanjur den. Soalnya tadi mas Kenzhou nya komentar gini. Arinnya jatuh bik, mau Ken bawa kerumah sakiit nggak mau. Ken disuruh pulang, tapi Arin nya malah telepon Ares minta dianter ke Rumah Sakit. Mereka pacaran kali bik" Bik Sun menceritakan yang tadi diucapkan Kenzhou dengan sedikit tambahan.
"Lah kan..."
"Buat apa sih Res, Kenzhou salah paham sama kita. Dia nggak lagi lupa ingatan kalau kita ini sahabat.."
"Aish.. Justru itu. Dia inget kita ini sahabat, dan sahabat juga bisa jadi cinta."
"Tapi gue ini adek elo bege... gue belum berubah status jadi pacar elo. Status gue masih Adek elo yang paling cantik dan imut." cerocos Arin
"Iya gue tahu. Tapi kalau elo lupa... Kenzhou nggak tahu kalau gue ini kakak tiri elo ogeb.." Arin speechless, dia baru ingat kalau Kenzhou sama sekali tidak tahu kalau dirinya dan Ares sudah menjadi saudara tiri sejak beberapa tahun lalu.
"Ahh... Ares, masa bodo soal itu. Mending sekarang ke rumah sakit. Temuin Ben, pinggang gue sakit ini. Urusan Kenzhou bisa diatur nanti"
"Astaga.. gue lupa" Setelah berdebat agak panjang, Arin dan Ares baru sama-sama ingat kalau tujuan mereka sebelumnya adalah membawa Arin rumah sakit. Ares langsung bergegas sambil menggendong Arin. Menuju rumah sakit untuk menemui dokter spesialis Tulang.
Sebelum melajukan mobilnya ke Rumah Sakit, Ares mendapat notifikasi pesan di handphonenya yang membuat Ares harus mencari alasan untuk menyelesaikan kesalahpahaman hari ini.
KENZHOU
Gue baru tahu kalau elo sama Arin pacaran. Sejak kapan Res?? Elo harus cerita sama gue.
...■■■■■■■■...
__ADS_1