The Secret Of My Heart

The Secret Of My Heart
Calon Mantu Tante


__ADS_3

Kondisinya baik-baik saja. Benturannya cukup keras. Namun tidak sampai menyebabkan cidera." Setelah pemeriksaan intensif yang dilakukan, Ben menemui Daisy dan Ares diruangan Aleesha.


"Tapi, tadi tante lihat dia menahan rasa sakit di tulang ekornya. Apa itu beneran nggak papa Ben??"


"Nggak apa-apa tan. Cuma memar sedikit. Udah aku kasih pereda nyeri, biar rasa sakit nya berkurang"


"Trus dia sekarang dimana Ben?" tanya Ares


"Dia tadi minta bantuan suster untuk mengantar keruang rawat anaknya. Aku sedikit kaget sih Res, ternyata dia punya anak yang juga dirawat intensif di ICU"


"Apa penyakitnya sudah separah itu??"


"Penyakit itu memang bukan penyakit sembarangan Res. Anemia sel sabit atau yang dalam dunia kedokteran sering disebut dengan Sickle Cell Anemia adalah kondisi anemia di mana terdapat ketidaknormalan bentuk sel darah merah, dari yang semestinya bulat dan fleksibel, menjadi berbentuk sabit dan keras. Pada anemia sel sabit, tubuh menjadi kekurangan sel darah merah normal untuk memenuhi transportasi nutrisi dan oksigen ke seluruh tubuh. Berbeda dengan sel darah merah normal yang mampu mengalir secara lancar karena berbentuk bulat dan fleksibel, sel darah bentuk sabit sering menempel satu sama lain dan ‘tersangkut’ di dalam pembuluh darah dan menyebabkan penyumbatan"


" Penderita anemia sel sabit dapat menunjukkan berbagai gejala-gejala akibat kekurangan sel darah merah (anemia), berupa tubuh terasa lelah dan kurang bertenaga, detak jantung tidak teratur, dan sesak napas (terutama setelah melakukan aktivitas fisik). Penyumbatan pada pembuluh darah dapat menyebabkan kerusakan pembuluh darah sehingga penderita anemia sel sabit dapat merasakan nyeri yang tidak tertahankan. Episode ketika nyeri ini kambuh disebut sebagai sickle cell crisis. Diperkirakan penderita anemia sel sabit bisa mengalami kondisi ini sampai 14 kali dalam setahun (meskipun umumnya 1-2 kali), dengan durasi nyeri sekitar 5-7 hari. Pada anak-anak, munculnya episode sickle cell crisis bisa dikenali dari pembengkakan pada tangan dan kaki. Seiring pertumbuhan usia, nyeri bisa menyebar ke bagian tubuh lainnya, seperti ke daerah perut, tulang dada, tulang belakang, panggul, dan iga.


Pertumbuhan anak-anak yang menderita anemia sel sabit berisiko terhambat karena mengalami defisiensi sel darah merah yang memasok nutrisi dan oksigen yang dibutuhkan oleh tubuh. Kondisi ini juga berisiko memperlambat masa pubertas mereka di usia remaja."


Ares semakin menajamkan pendengarannya, mendengarkan segala yang dijelaskan oleh mamanya..


Dia tidak akan melewatkan satu katapun yang keluar dari wanita yang melahirkannya 25th yang lalu ini. Dengan penjelasan ini, mungkin dia akan memahami kehidupan berat yang sedang dijalani oleh wanita yang dicintainya.


"Selain itu, penderita dapat mengalami Gangguan penglihatan akibat kerusakan pada retina, mudah terkena infeksi bakteri atau virus akibat rusaknya limpa, tubuh tampak kuning (jaundice), luka pada kulit akibat sumbatan di pembuluh darah kulit, priapisme atau ereksi berkepanjangan yang menimbulkan rasa sakit dan berisiko menyebabkan kerusakan pada ***** serta kemandulan. Jika sudah semakin parah gejala yang terjadi adalah sesak napas, terlihat bingung, demam tinggi, pusing dan leher kaku, sakit kepala hebat, mengalami priapisme selama lebih dari dua jam, perut bengkak dan terasa sangat sakit, tetap merasakan nyeri di masa sickle cell crisis meskipun sudah diberi obat pereda nyeri, dan kejang-kejang"


"Emm...tante, Ben juga jadi kepo ..sebenarnya penyebab penyakit ini apa? viruskah?? Dan apakah penyakit ini menular"


Daisy tersenyum,


" Anemia sel sabit bukanlah penyakit menular. Kondisi ini disebabkan oleh adanya mutasi gen yang menjadikan molekul-molekul hemoglobin saling menempel dan mengeras ketika proses deoksigenasi (pelepasan oksigen dan penyerapan karbondioksida). Gumpalan-gumpalan hemoglobin inilah yang kemudian merusak bentuk asli sel darah merah, dari yang seharusnya bulat menjadi sabit. Sickle cell anemia (SCA) adalah penyakit genetik yang Resesif Autosomal, artinya seseorang harus mewarisi dua gen pembawa penyakit ini dari kedua orangtuanya. Hal inilah yang menyebabkan penyakit SCA jarang terjadi. Seseorang yang hanya mewarisi satu gen tidak akan menunjukkan gejala dan hanya berperan sebagai pembawa. Jika satu pihak orangtua mempunyai gen sickle cell anemia dan yang lain merupakan pembawa, maka terdapat 50% kesempatan anaknya menderita sickle cell anemia dan 50% kesempatan sebagai pembawa."

__ADS_1


"Oke..aku mulai paham mah. Tapi, jika sebuah keluarga dengan orang tua penderita penyakit ini memiliki lebih dari 1 orang anak, apa semuanya akan menderita penyakit ini??"


"Tidak. Sebenarnya proporsi terkena atau tidak terkena anemia sel sabit pada anak dengan kedua orang tua pembawa sifat penyakit ini adalah sama, yaitu 25%. Artinya 1 dari 4 anak berpeluang mewarisi sepasang gen cacat atau bisa juga sepasang gen normal. Sedangkan proporsi bagi anak untuk tetap menjadi pembawa adalah 50 persen."


"Ngomong-ngomong, tante kan dokter bedah. Kenapa tante tahu tentang penyakit ini?? Dan kok tante tahu, kalau perempuan tadi anaknya kena SCA??" Jujur saja, Ben sedikit heran ketika Daisy menjelaskan panjang lebar tentang penyakit itu, padahal dia belum mengatakan alasan kenapa anak Ana dirawat intensif disini.


"Sebelum kesini, kami sempat berbicang. Trus tante baca-baca. Lagian tante tadi sempat bertukar pesan dengan Andrew. Dia dokter yang menangani anaknya Ana. Lagian nih Ben... Ana itu calon mantu tante. Jadi tante harus banyak tahu, biar tante juga bisa bantu cucu tante"


"Calon mantu?? maksudnya??"


"Nih... calon istrinya Ares."


"Hah??? serius Res??"


"Ck... bunda jangan bikin gosip deh. Orang pedekate aja belum. Yakin banget sih kalau Ana mau nerima Ares." Ares hanya bisa menggeleng menanggapi bundanya.


"Gak papa dong. Anggap aja itu doa dari bunda. Biasanya doa ibu itu mujarab. Ya nggak Ben??" Ben hanya bisa mengangguk menanggapi tantenya itu.


Brakk...


Pintu ruang tunggu kamar Aleesha diterjang dengan keras. Bahkan kondisinya nyaris rusak. Disana sang pelaku, seorang pria paruh baya berusia 55th berdiri dengan gagah namun dengan raut wajah khawatir. Matany menatap khawatir pada satu-satunya wanita dalam ruangan tersebut.


"Mas?"


"Papah?"


"Om Vano?" Ketiga terkejut bersamaan, melihat Elvano, suami Daisy, Papa sambung Ares sekaligus Om dari Ben.


"Kok mas disini? Katanya pulang besok? Nggak jadi??" Daisy memandang heran pada suaminya. Baru beberapa jam yang lalu, pria matang dan gagah dihadapannya itu menelpon kalau baru akan kembali dari Bandung besok sore. Bukannya menjawab, Vano melangkah lebar kearah Daisy dan menarik ibu 3 anak tersebut kedalam pelukannya. Dan menjatuhi wanita kesayangannya itu dengan ciuman dalam.

__ADS_1


"Mas?? Are you okay??"


"Harusnya mas yang nanya itu sama kamu? Apa kamu baik-baik aja?? Mas dapat laporan dari Rezer kalau kamu nyaris ditabrak mobil." gurat kekhawatiran itu benar-benar terlihat jelas di wajah Vano. Daisy yang merasa tidak nyaman lalu melepas pelukan Vano. Bukan tak ingin dipeluk suaminya, namun ada orang lain di ruangan itu. Membuatnya tidak leluasa mengungkapkan sayangnya pada sang suami.


"Seperti yang mas lihat, Daisy baik-baik aja mas. Rezer terlalu berlebihan melaporkan hal sepele kaya gini sama kamu mas. Gara-gara laporan Rezer, mas jadi harus keburu-buru ke Jakarta. Padahal mas bilang tadi pagi, meeting siang ini penting dan nggak bisa diwakilkan oleh siapapun. Karena jika mas menang tender, H&D akan untung besar. Trus sekarang gimana?? Ck.. pasti klien kecewa kan sama H&D." wajah kecewa Daisy yang melihat kedatangannya ke RS dan meninggalkan meeting besar membuat wajah khawatir Vano berubah menjadi wajah datar dan dingin dalam sekejap. Dan Ares menyadari benar perubahan wajah papanya itu.


"Syukurlah kamu baik-baik saja. Kalau gitu aku kembali ke Bandung sekarang. Res jaga bundamu" Tanpa pelukan tanpa ciuman, Vano meninggalkan Daisy.


"Mas.. " Vano pura-pura tidak mendengar dan melanjutkan langkahnya. "Mas Va.."


"Biar Ares aja bun" Ares mencegah Daisy yang baru akan beranjak menyusul Vano. Ares menyusul Vano dengan langkah yang tak kalah lebarnya.


"Pah" Ares memanggil Vano keras tepat sebelum pria itu membuka pintu lift.


"Ares?? Ngapain kamu disini?? Kan papa minta kamu jagain bunda kamu"


"Pah.. maafin bunda ya.


Vano mengernyit bingung mendengar ucapan Ares


"Maafin bunda??? Emang bunda salah apa??"


"Pah... bunda nggak ada maksud buat bilang gitu ke Papa. Bunda hanya... "


"Bukan kamu yang harus menjelaskan Res.. lagi pula papa paham apa maksud bunda kamu. Papa harus segera kembali. Masih ada sejam sebelum meeting selesai. Papa harus bergegas." Vano tersenyum, menepuk bahu Ares dan masuk kedalam lift.


"Hati-hati pah... jangan ngebut" Vano hanya tersenyum.


"Mas Vanoo... " teriakan Daisy terlambat, karena lift sudah terlanjur tertutup.

__ADS_1


Ares menatap nanar pada bundanya. Ares tahu, bukan maksud bundanya mengatakan hal tadi. Hal yang seolah-olah kehadiran Vano nggak penting. Bukan... Ares tahu, kata-kata itu justru karena Daisy tak ingin Vano kelelahan di jalan.


...■■■■■■■■■...


__ADS_2