
Setelah hampir 1,8 th menempuh pendidikan Master, akhirnya Kenzhou, Arin, dan Ares dinyatakan lulus. Ketiganya lulus dari Fakultas yang sama, yaitu Fakultas Ekonomi. Hanya dari jurusan yang berbeda.
Setelah acara wisuda siang tadi, saat ini mereka bertiga tengah berkumpul di Logaritma Cafe. Sejak Cafe ini didirikan Ares, mereka memang lebihsenang menghabiskan waktu nongkrong di Cafe ini.
"Akhirnya...gue lulusssssssss...!" Kenzhou berteriak kencang, dia tidak perduli menjadi perhatian banyak orang. Dia akhirnya lega bisa menyandang gelar master, setelah berjuang 6 bulan. Seminggu setelah hubungannya dengan Maira kandas, 6 bulan yang lalu, dia memutuskan untuk fokus pada pendidikannya. Dia ingin segera lulus, bisa bekerja, dan membuktikan dirinya pantas untuk Maira.
"Aduh Ken... malu.. Bisa nggak sih pelan-pelan aja. Semua orang ngeliatin elo. " Arin memcubit pinggang Kenzhou. Namun Kenzhou hanya menanggapi dengan cengiran tak perduli.
"Fix... gue nggak kenal" gurau Ares sambil menyembunyikan wajahnya. "Malu anjir"
"Ya elahh... pakai malu segala. Gue masih pakai baju lengkap. Jadi santaii" Kenzhou memang tidak peduli dengan pandangan orang lain padanya saat ini.
"Tapi nggak keras-keras juga Anjirrr...." gerutu Arin
"Biarin lah.. eh.. habis ini kalian mau ngapain???"
"Makanlah!" jawab Arin dan Ares barengan.
"Njirr.. bukan itu maksud gue. Maksud gue setelah selesai S2 ini kalian ada rencana apa?? Kerja atau apa gitu??" tanya Kenzhou
"Kalau gue mungkin belajar buat mulai terjun ke bisnis bokap lah. Soalnya kak Jingga nggak mungkin balik ke Indo dalam waktu dekat. Mau enggak mau, gue tetep harus turun. Waktu yang papa kasih ke gue udah hampir habis. Gue udah nggak bisa ngasih alesan buat ngelak lagi." jawab Ares. Ya sudah saatnya dia turun tangan pada bisnis keluarganya. Bisnis yang dirintis mendiang ayahnya, yang saat ini dijalankan oleh Papa tirinya, Elvano Sebastian. Vano sudah tidak ingin lagi memegang perusahaan itu ketika Ares memang telah siap. Tugasnya hanya menjaga, dan menjalankan sementara. Hak penuh tetap pada anak-anak Herman dan Daisy. Sebenarnya Ares ingin Vano saja yang handle, karena dia tahu papa tirinya itu handal dalam berbisnis namun jawabannya waktu Ares menohon waktu itu membuat Ares berhenti membujuknya.
"Papa hanya diamanati untuk menjaga dan menjalankan perusahaan mendiang ayahmu hingga salah satu dari kalian siap. Papa tidak akan mengambil keuntungan apapun dari wasiat ayahmu. Papa akan kembalikan setelah kamu, Jingga, atau Rion mampu. Papa akan dampingi proses kalian, tapi kalau kamu minta papa untuk sampai tua ngurus perusahaan, papa nggak bisa. Papa sudah cukup sibuk mengurus perusahaan papa. Karena hingga saat ini Arin belum mau turun tangan. Bisa-bisa papa tidak jadi pensiun dini. Dan menikmati masa tua mengasuh cucu sama bunda kamu. Hehe"
"Kalau elo Rin??"
Arin menggeleng, "Belum tahu. Paling ya tetep jalan modelling. Kalau nggak ya ambil S3 lah."
"Astaga Arin... elo masih mau ambil S3? Emang otak elo nggak berasa sakit? Setiap hari belajar terus. Elo tahu nggak, kepala gue rasanya udah mau pecah gara-gara tiap hari liat angka-angka" Kenzhou menggeleng heran.
"Ya... itu yang ada dipikiran gue saat ini. Gue belum ada niatan bantuin Bang Erick di perusahaan papa. Elo sendiri kenapa nanya kita habis ini mau ngapain?? Emang elo punya rencana apa setelah ini??" Giliran Arin bertanya pada Kenzhou..
__ADS_1
"Rencananya gue pengin mengajak kalian untuk bekerja sama."
"Kerja sama?? Kerja sama apa?? Elo nggak ada niatan ngajak gue sama Arin buat jadi pembunuh bayaran atau jadi anggota mafia kaya di novel-novel kan? Auww.."dua pukulan sendok mendarat di kepala Ares dari dua tangan yang berbeda, tangan Arin dan Kenzhou
"Jangan asal bicara, Res!"bahkan Kenzhou dan Arin kompak membentak Ares. Bibir Ares yang tadi monyong kini bertambah monyong setelah mendapat bentakan. Bahkan, tangannya masih saja mengelus kepala yang tadi kena pukul.
"Kan gue cuma menebak-nebak. Antisisapi. Emangnya elo mau ngajakin kerja sama apaan?"
Wajah Kenzhou terlihat serius sekarang, "Gue mau ngajak kalian bangun bisnis bareng. Hotel, Resort, dan Department Store. Gue rasa pengalaman Ares yang sedikit demi sedikit sudah mulai turun tangan menangani perusahaan bisa membantu dalam bisnis ini. Dan, kepandaian elo dalam hitung menghitung atau merencanakan anggaran juga akan semakin membantu Rin."
"Lah trus elo ngapain???"
"Gue multitasking donk. Tapi intinya gini, Gue mau elo berdua bantu gue bangun usaha ini dan ikut nanam saham disini"
"Kalau hanya membantu dan menanam saham gue bisa, Ken. Tapi kalau ikut menghandle, sorry gue nggak bisa. Seperti yang gue bilang tadi, gue sudah harus turun tangan di bisnis mendiang bokap.".
"Nggak masalah Resh. Yang gue butuh support dan bantuan elo dalam usaha gue ini. Elo kan udah ada basic, kalau gue bener-bener masih buta dalam hal bisnis."
"Ehm..tawaran menarik. Boleh lah gue ikut. Kan buat latihan gue juga. Siapa tahu gue ada minat handle perusahaan kaya bang Erick." Arin tersenyum sangat manis, hatinya merasa bahagia, ketika mendengar Kenzhou sudah berniat membangun bisnisnya sendiri.
"Terima kasih, kalian memang sahabat gue yang terbaik. Habis ini rencaananya gue mau nyiapin beberapa berkas untuk pengajuan pinjaman di bank untuk tambahan modal. Mudah-mudahan niat baik gue bangun bisnis ini berjalan lancar. Jadi gue bisa segera berdiri diatas kaki gue sendiri, tanpa lagi harus meminta ke papa"
"Pinjaman bank?? elo yakin Ken??" Arin bertanya untuk meyakinkan pendengarannya.
"Iya Rin"
"Ken.. tapi itu resikonya besar. Memang apa jaminan yang bakal elo berikan ke pihak bank??" tanya Arin lagi.
"2 rumah gue yang gue bangun dengan uang hasil beli saham di bisnisnya bokap sama Kei"
Deg
__ADS_1
Baik Arin dan Ares sama-sama terkejut dengan jawaban Kenzhou. 2 rumah itu adalah hidup Kenzhou. Dan Kenzhou merelakannya untuk jaminan.
"Elo yakin Ken??" tanya Ares, dan dijawab dengan anggukan oleh Kenzhou. "Elo tahu benar resiko kalau sampai bisnis ini tidak berjalan lancar dan elo nggak bisa a bayar pinjaman. Rumah itu impian elo, elo yakin udah siap dengan resiko terberatnya??"
"Iya Ken.. tolong dipikirin lagi. Jangan pinjam bank dengan jaminan rumah itu. Gue ta..."
"Rin .. Res.. its okay. Gue tahu resikonya dan gue nggak masalah dangan itu.. Kalau pun nanti bisnis ini berjalan tidak sesuai ekspektasi gue, gue udah ikhlas kok."
"Gue yang nggak ikhlas." batin Arin
"Gimana kalau elo jaminin Villa sama Rumah gue aja.?" tawar Arin. Sebuah tawaran yang membuat Kenzhou dan Aresh terkejut.
"Ya jangan donk Rin.. gue yang mau memulai masak elo yang jadi penjamin. Kan nggak etis. "
"Etis-etis aja. Nggak ada yang ngelarang kok" jawab Arin santai.
"Gue yang ngelarang. Gue nggak mau. Elo boleh bantu dengan menanam saham. Tapi nggak dengan elo jaminin aset elo ke bank" jawab Kenzhou tegas. Diikuti anggukan persetujuan oleh Ares yang sejak tadi hanya diam menatap tajam ke arah Arin.
"Oke... kalau gitu elo harus terima yang ini" Arin menarik sebuah kartu dari dalam dompetnya. Kartu yang tidak pernah Kenzhou izinkan keluar dari dalam tasnya. Sebuah kartu prioritas sebuah bank ternama.
"Rin..." geram Kenzhou.
"Eits.. elo bilang gue harus nanam saham kan?? Ya ini... gue beli saham di perusahaan elo dengan semua uang gue yang ada di kartu ini. Gue nggak nerima protes apapun." gantian Arin yang menatap Kenzhou dengan padangan tegas namun lembut.
"Tapi Rin..."
"Nih... punya gue juga." Ares juga mengeluarkan kartunya, meski bukan kartu sakti seperti milik Arin. Namun uang didalamnya dipastikan tidak sedikit.
"Kalian..."Kenzhou terharu, dia menatap Arin dan Ares bersamaan. Dan dibalas senyum penuh ketulusan dari keduanya.
...■■■■■■■■■...
__ADS_1