
Berbeda dengan Arin dan Ares yang masih menyimpan sedikit rasa khawatir setelah kolapsnya Aleesha. Ken masih menunduk dalam tanpa bersuara sedikit pun didalam mobilnya. Dia sibuk menata hatinya. Dia mencoba menormalkan denyutan yangbterasa sakit didadanya, akibat penolakan Maira.
"Rin gue beneran ditolak. Disini rasanya nyesek banget" Ken memukul-mukul dadanya, berharap sesaknya bisa berkurang. "Dia bahkan nantangin gue buat nunggu dia sampai 7th lagi. Kira-kira gue sanggup nggak ya Rin,? Gue bisa bertahan nggak ya?? Dan menurut elo, apa dalam waktu 7th ini gue bisa sukses?? Gue janji sama dia, kalau gue bakal datang kesini lagi ketika gue udah sukses dan bisa menuhi semua kebutuhan dia." Setelah terdiam cukup lama akhirnya Kenzhou berbicara. Namun sayangnya tak ada jawaban apapun dari Arin. "Rin, kok elo??" Kenzhou terkejut ketika menoleh kesamping namun tak mendapati Arin disampingnya. (Ya iyalah... orang Arinnya udah kabur). Ken sampai menoleh kebelakang bahkan keluar untuk mencari Arin.
"Arinnn...." Ken berteriak untuk memanggil Arin, dia tidak peduli kalau-kalau ada security yang akan memarahinya. Dia sudah masa bodoh. Arin~nya menghilang. Tiba-tiba menghilang.
tapi diluar sini Sepi..
Lenggang..
dan tak ada orang..
Arin sama sekali tak nampak disekitar tempat itu. Bahkan satpam yang di takuti Kenzhou akan menegurnya pun tak terlihat. Lalu satpam rumah Maira??? Sayangnya.. rumah gadis itu bukanlah tipe perumahan mewah dengan penjagaan satpam pribadi. Rumah Maira adalah tipe rumah sederhana dengan taman didepannya.
Dengan gusar Ken menekan beberapa digit nomor di ponselnya. Dia mencoba menghubungi nomor ponsel Arin, namun sayangnya ponsel Arin justru tidak aktif.
"Astaga..Rin..elo dimana?? Apa mungkin dia udah pulang kerumah?? tapi kenapa dia nggak WA atau SMS?"
Ken kembali kedalam mobilnya dan dengan kecepatan tinggi Ken melaju menuju rumah Arin. Yang ada dipikirannya saat ini adalah dimana keberadaan Arin. Bagaimana gadis itu bisa tiba-tiba menghilang dari dalam mobilnya tanpa memberitahu atau meninggalkan pesan. Sampai didepan rumah Arin, Ken nampak celingak-celinguk. Tidak ada pak Agus di tempatnya. Gerbang digembok sempurna, semua lampu rumah mati, kecuali ruang tamu dan rumah paviliun kecil disamping rumah utama, yang Ken tahu itu adalah tempat ketiga asisten rumah tangga Arin tinggal.
"Lampu kamarnya masih mati, itu artinya Arin belum pulang. Lalu kemana anak itu? Kenapa perasaan gue mendadak nggak enak gini ya??"
Ken menepikan mobilnya didepan rumah Arin, dia memutuskan menunggu gadis itu hingga pulang. Hatinya tidak akan tenang sebelum melihat Arin tiba dirumahnya dalam kondisi baik. Biar bagaimanapun, dirinyalah yang tadi mengajak Arin pergi, dan dirinyalah yang bertanggung jawab tentang keselamatan Arin..
"Gue harap elo baik-baik aja Rin!"
***
tok... tok.. tok..
Mobil Kenzhou diketuk dari luar, tidak hanya sekali tapi sudah berkali-kali. Hingga diketukan kesekian kalinya, sang empunya mobil mengerjabkan matanya.
__ADS_1
"Astaga.. sudah pagi" Kenzhou mengerjab menajamkan penglihatanya. Lalu menoleh kearah orang yang mengetuk kaca pintu kemudianya. Melihat Pak Agus berdiri disamping mobilnya, Kenzhou buru-buru menurunkan kaca mobil.
"Iya pak??"
"Astaga... den Kenzhou?? Bapak kira siapa. Aden ngapain disini den??? Pagi-pagi banget sudah nyampai sini." tanya Pak Agus dengan wajah terkejut.
"Saya ketiduran sejak semalam pak"
"Hah.. semalam?? Aden semalaman disini??" Kenzhou mengangguk, "Kenapa nggak klakson den? Kan kalau aden klakson bisa pak Agus bukain pintunya."
"Rumah udah gelap pak, trus gerbangnya digembok."
"Saya jaga didalam den. Soalnya non Arinnya nggak pulang semalam"
Ken terkejut,. "Arin nggak pulang kerumah pak??" Pak agus menggeleng.
"Dia nggak ngabarin??"
"Tapi semalem saat pergi sama saya dan tiba-tiba menghilang, Arin nggak ninggalin pesan apapun. Makanya saya kesini pak. Saya kira dianya sudah pulang"
"Belum ada den, atau mungkin non Arin~nya ada pekerjaan mendadak den. Kan aden tahu, pekerjaan non Arin nggak kenal waktu." jawaban Agus membuat Kenzhou mengangguk mengiyakan "Oya.. aden mau masuk?? Biar dibuatin kopi sama simbok??" tawar Pak Agus. Simbok yang dimaksud adalah Bik Sun, ibunya pak Agus.
"Nggak usah pak, saya langsung pulang aja. Tapi saya boleh minta tolong nggak pak??"
"Minta tolong apa den??"
"Nanti kalau Arin pulang, tolong sampaikan suruh ngabarin saya ya pak!"
"Siap den! nanti pak Agus sampaikan," Kenzhou langsung tancap gad setelah mendengar jawaban pak Agus, tujuannya adalah rumah utama. Dia ingin mandi, setelah itu kembali mencari Arin.
***
__ADS_1
Suasana kediaman keluarga Alatas nampak sepi, Tuan Malik sudah lebih dulu berangkat menuju kantornya, sedangkan Karui dan Keiko sudah berangkat ke kampus setengah jam yang lalu. sekarang hanya tinggal sang nyonya rumah yang nampak gusar diruang tamu. Sudah sejak semalam, putra sulungnya Ken belum juga kembali. Bahkan dia sama sekali tidak mengabari. Dia hanya khawatir jikalau tiba-tiba Ken kembali merasakan sakit dikepalanya, mengingat apa yang beberapa hari lalu Dr. Dennis menghubunginya dan mengatakan tentang kondisi Ken.
"Kondisi Ken sudah semakin membaik, hanya saja dia bisa kapan saja kembali merasakan sakit. Terutama ketika dia tiba-tiba mengingat potongan masa lalunya, karena sejatinya ingatan Ken sedikit demi sedikit telah kembali"
"Ken, kamu dimana nak? Kenapa nomor kamu nggak aktif. Kenapa juga nomor Ares dan Arin ikut-ikutan nggak aktif. Tuhan, semoga tidak terjadi apa-apa sama mereka bertiga"
krekk..
Pintu utama terbuka, rona bahagia terpancar di wajah Nyonya besar Alatas. Ken terlihat berdiri diambang pintu dengan wajah lelah dan menahan kantuk.
"Ken... kamu baik-baik aja kan nak?? Kamu kemana aja sih Ken?? Mama khawatir sama kamu. Ponsel kamu nggak aktif, bahkan sampai sekarang. Kamu beneran nggak apa-apa kan?? Nggak ada yang luka 'kan??" Rena bertanya dengan tanpa jeda sambil meneliti dan meraba seluruh tubuh putranya.
"Ken nggak apa-apa kok ma. Semalam Ken ketiduran dirumah Arin. Handphone Ken mati. Maaf ya."
"Kamu tidur dirumah Arin??" Rena menatap penuh selidik kecurigaan.
"Didepan rumahnya ma. Semalem pas pergi sama Ken, Arin tiba-tiba ngilang. Ken udah nyari tapi belum ketemu, makanya semalem Ken inisiatif tidur didepan rumah Arin. Tapi sampai sekarang Arin~nya belum sampai rumah.." jelas Kenzhou.
"Arin ilang??" Kenzhou menganggguk. "Trus??"
"Trus ya belum ketemu mah. Ini Kenzhou mau mandi trus mau nyari Arin lagi."
"Tapi kamu pasti lelah Ken. Istirahat dulu. Nanti coba kamu telepon aja. Mungkin Arin kerja." nasihat Rena.
"Iya mah. Nanti Ken istirahat dulu. Kalau gitu Ken keatas sekarang." Ken mengecup puncak kepala Rena dan berlalu ke kedalam kamarnya untuk mandi.
"Kemana Arin?? Apa jangan-jangan??" menyadari ada yang tidak beres, Rena langsung mengambil tas dan kunci mobilnya di kamar. Dia tahu harus kemana sekarang. Sedangkan Kenzhou, begitu sampai dikamar dia langsung mengcharger handphonenya. Berharap Arin menghubunginya atau sekedar mengiriminya pesan.
"Gue harap elo baik-baik aja Rin"
...■■■■■■■■■...
__ADS_1