
Arin tengah menyendiri dibalkon kamarnya. Paska pesta pernikahan Ares yang baru beberapa saat usai, dia memutuskan untuk mengajak Kenzhou dan Aleesha pulang kerumah Kenzhou.
"Sayang, ngapain disitu? Dingin! Sini masuk!" Kenzhou yang baru saja masuk kamar, meminta Arin untuk kembali kedalam.
"Sebentar. Masih pengen ngadem" jawab Arin tanpa menoleh. Membuat Kenzhou sedikit penasaran. Ken melangkah mendekat kearah Arin, namun baru sampai diambang pintu balkon kamarnya, Kenzhou melihat Arin menangis.
"Sayang, kamu nangis??" Arin yang tak menyadari Kenzhou di dekatnya jadi gelagapan dan berusaha menghapus jejak airmatanya, namun dicegah Kenzhou. "Sayang, kamu kenapa? Kok nangis?? Ada yang sakit?" Arin menggeleng, "kamu mau sesuatu???" Arin menggeleng lagi. "Sayang..cerita donk. Kamu bikin aku takut" Jujur saja, melihat airmata Arin membuat Kenzhou ketakutan. Kenzhou takut istrinya itu tengah terluka arena perbuatannya.
"Aku nggak apa-apa mas. I'm okay, aku hanya terlalu bahagia. Semuanya sudah kembali seperti sedia kala." Arin tersenyum dengan sisa-sisa airmata di pipinya.
"Beneran??" Arin mengangguk.
"Tapi, ada sesuatu yang harus aku sampaikan sama kamu mas"
"Apa? Bilang sama aku"
"Besok, aku mau ngenalin kamu sama seseorang mas. Ehm... karena sekarang mas udah inget lagi, aku rasa udah saatnya mas ketemu sama dia" jelas Arin pelan.
"Dia?? Dia siapa sayang??"
"Mas akan tahu besok. Tapi mas bisa kan, ngluangin sedikit waktu buat ketemu sama dia. Sebentar aja kok " bujuk Arin.
"Kalau sekarang aja nggak bisa?? Jangan bikin maas jadi penasaran"
"Besok aja mas. Ini udah malem. Nggak enak bertamu malam-malam begini." jawab Arin tersenyum.
"Bisa spill nama gak yank?? Siapa tahu aku kenal??"
"Kevin"
"Kevin?? Dia cowok??" Pertanyaan Kenzhou dijawab anggukan oleh Arin. "Bukan pacar kamu kan yank??"
plak..
"Sembarangan" Arin memukul lengan Kenzhou.
"Trus siapa donk??"
"Ada lah. Aku harap kamu baik ya sama dia" senyum Arin membuat Kenzhou curiga.
"Yank.. seriusan ini... jangan bikin aku penasaran donk."
"Ck.. udah. Bobok yuk. Besok ketemu sama Kevin. Aku udah janji sama dia soalnya." Arin meninggalkan Kenzhou di balkon dengan senyum smirk usilnya.
"Yank.." Rengek Kenzhou,
"Tidur Ken!!"
...***...
Arin tersenyum ketika melihat bayangan dirinya dicermin, wajahnya terlihat merona.
__ADS_1
Wajahnya semakin bersemu ketika mengingat yang terjadi semalam antara dirinya dengan Kenzhou. Bukan yang pertama memang, tapi jadi yang pertama sejak Kenzhou mendapatkan kembali ingatannya.
Setelah menghabiskan waktunya didalam kamar mandi, kaki indahnya melangkah memasuki kamarnya dan Kenzhou. Senyum mengembang dibibirnya ketika dia melihat suaminya itu masih bergelung dengan selimut tebalnya.
"Mas bangun yuk!!" Arin menepuk pundak Kenzhou perlahan, berniat membangunkan suaminya itu.
"Enghh...." Kenzhou tak merespon justru mengeratkan selimutnya untuk menutupi tubuhnya yang topless.
"Sayang, bangun yuk! Udah jam 6 lebih, kamu udah janji mau ketemu sama Kevin lho. Bangun yuk!!" Arin tetap tidak menyerah, kini dia duduk ditepi ranjang dan terus mengganggu tidur Kenzhou dengan pukulan di pundaknya.
"Lima menit lagi yank" Kenzhou malah memeluk pinggang Arin dan tidur dipangkuannya.
"Mas. Cepetan bangun.."
"Bentar yank..."
"Ba..."
Cupp...
Belum juga selesai dengan kata-kata omelannya, Kenzhou telah lebih dulu membungkam bibir Arinnn dengan bibirnya. Arin sempat terdiam beberapa saat sebelum akhirnya membalas ciuman Kenzhou. Bibir mereka saling bertautan lembut, hangat, penuh cinta dan tanpa napsu. Mereka saling mengungkapkan kasih sayangnya satu sama lain.
Dok..Dok...Dok...
"Mommy.. Daddy..." Suara gedoran pintu bersautan dengan suara teriakan Aleesha. Membuat tautan bibir keduanya terlepas. Mereka saling memandang penuh cinta sebelum akhirnya tertawa bersama.
"Pengganggu datang yank!" gurau Kenzhou
Dok..Dok..Dok..
"Daddy... Mommy... buka pintunya!!" teriak Aleesha.
"Iya baby sebentar"
"Buruan mommyy ... !"
Arin menggeleng mendengar celotehan putri sulungnya, gadis kecilnya yang dia rawat sejak masih bayi, buah cinta Kenzhou hasil dari pernikahan pertamanya dengan mantan istrinya, Nabila.
"Cepat mandi! Aku nggak mau Aleesha lihat kamu telanjang "
"Hei..mas masih pakai celana yank"
"Aishhh...cepat mandi!"
"Mommy...."
"Iya sayang sebentar, mommy sedang ganti baju. Dan daddy sedang mandi, tunggu sebentar." Arin menari tangan Kenzhou dan mendorongnya kedalam kamar mandi.
"Yak..yakk...yank ..." Kenzhou meronta ketika didorong-dorong oleh Arin untuk segera masuk kamar mandi
"Aishh...cepat mandi!"
__ADS_1
"Bajuku???" Arin menepuk jidatnya lalu mengambil pakaian yang tadi sudah dia sediakan untuk Kenzhou.
"Ini.."
K3nzhou langsung menutup pintu kamar mandi, baginya akan berbahaya jika membiarkan Aleesha tetap berada di luar lebih lama, karena hal itu akan membuat semua penghuni rumah terbangun. Arinn membuka pintu setelah merapikan rambutnya dan melihat putri kecilnya itu bersedekap dengan bibir mengerucut.
"Uhmm...cantiknya anak mommy"
Aleesha tak membalas pujian Arin namun justru masuk begitu saja dan duduk diatas ranjang.
"Aleesha kenapa kok cemberut?? Marah sama Mommy??" Aleesha tetap diam dan memalingkan wajahnya, tak berniat menatap Arin yang duduk berjongkok dihadapannya.
"Sayang, Aleesha marah sama mommy? Mommy kan sedang ganti baju. Mommy nggak munngkin buka pintu hanya pakai handuk kan?? Masak gitu aja Aleesha nangis??"
Aleesha masih saja diam. Membuat Arin menghembuskan nafasnya perlahan. "Wah.. bakal susah ini bujuknya"
"Sayang nya mommy, jangan marah donk! Iya mommy minta maaf. Habis ini kita jalan-jalan yuk! Kemana aja yang Aleesha mau"
Krieettt..
Kenzhou membuka pintu kamar mandi dengan telah berpakaian rapi. Tshirt hitam casual membuat Kezhou terlihat semakin gagah.
Begitu melihat sang ayag, Aleesha langsung berlari menghambur memeluk kaki Kenzhou. Membuat Kenzhou menatap keheranan.
"Dia kenapa??" Arin menggeleng menandakan dia juga tidak mengerti ada apa dengan putri sulungnya itu.
"Sayang... Are you okay..??"
"Daddy??"
"Kenapa sayang?? Ada apa hem?? Kamu marah sama Mommy Daddy karena membuka pintu terlalu lama??" Aleesha menggeleng "Lalu??"
"Apa daddy sayang Aleesha?" Kenzhou mengangguk,
"Tentu sayang"
"Mommy?" kini Aleesha gantian bertanya pada Arin, yang dijawab dengan senyuman ketulusan. Yang tanpa kata-kata Aleesha sudah tahu arti senyuman itu. "Meski nanti Aleesha punya adik, mommy dan daddy masih akan tetap sayang Leesha kan??" raut wajah Arin berubah sendu mendengar pertanyaan putrinya.
"Lho memang kenapa?? Aleesha nggak pengen punya adek??" tanya Kenzhou pelan. Dia tidak ingin memaksa putrinya tapi juga tak ingin menyakiti hati istrinya yang sudah banyak berkorban. Dia menyadari wajah Arin berubah sepersekian detik tadi.
"Mau. Aleesha pengen punya adek. Asal daddy sama mommy tetap sayang Leesha." Arin tersenyum lalu mendekati Aleesha dan duduk dihadapannya.
"Sayang.. meski Leesha punya adik nantinya, Leesha akan tetap jadi kesayangan Mommy sama Daddy. Buktinya selama ini nggak ada yang berubah kan??" Aleesha menggeleng, namun pertanyaan itu justru menumbuhkan pertanyaan baru di benak Kenzhou.
"Ngomong-ngomong, kenapa Leesha mendadak bertanya begitu??"
"Aunty Kei bilang, daddy sama mommy akan punya adek bayi yang lucu. Bakal lupa sama Aleesha"
Arin dan Kenzhou kompak menepuk jidat mereka,..
"KEIKO ALATASS.... ELO BILANG APAAN SAMA ANAK GUEEEEEEE???" Teriakan Kenzhou menggema diseluruh kediaman keluarga Alatas.
__ADS_1
...♡♡♡♡♡♡♡♡...