The Secret Of My Heart

The Secret Of My Heart
Pertama Setelah 2th


__ADS_3

Menuruti perkataan Arin beberapa waktu yang lalu, Kenzhou benar-benar membuka lowongan untuk mencari seorang sekretaris. Sejak tadi pagi sudah lebih dari 15 orang perempuan yang melamar menjadi sekretarisnya, namun tidak ada satupun yang menarik bagi Kenzhou. Kenzhou terus mengatakan "TIDAK" kepada para perempuan yang datang. Hal itu sampai membuat Arin dan Ares yang ikut menemaninya melakukan rekruitment benar-benar kesal.


"Ken.. elo sebenarnya lagi nyari sekretaris apa lagi nyari istri sih? Udah 15 orang yang daftar,, elo tolak semua. Bahkan dari mereka adalah orang-orang yang menurut gue kompeten dalam bidang ini. Mau nyari yang kaya apalagi sih Ken??"


Kenzhou mendesah lelah, "Rin,, elo ngeliat mereka semua 'kan?? Elo ngeliat mereka udah kaya kucing betina yang lagi birahi. Gue ngeri-ngeri sedep kalo sampai diterkam sama mereka. Gue nyari yang normal Rin, nggak lucu kan kalau lagi kerja trus tiba-tiba gue diperkosa sama mereka"


"Hahahahaha"Tawa Ares dan Arin seketika pecah. Wajah lelah, polos, dan jengkel Kenzhou benar-benar lucu.


"Ken, itu resiko yang harus elo tanggung.. Dari dulu kan emang semua perempuan hawa nya kalau deket elo itu pengen nerkam, trus berkembang biak" Ares menggoda Kenzhou yang memutar bola matanya malas.


"Elo kira gue kucing"


"Emang elo mau cari sekretaris kaya apa sih Ken?" gantian Arin yang bertanya.


"Good Looking, itu salah satu syarat utama. Tapi, tidak menor dan tidak berpakaian seperti cewek-cewek tadi. Good Looking dalam artian rapi dan enak dipandang, Gak malu-maluin waktu diajak meeting sama klien. Bisa mengimbangi cara kerjaku, cekatan. Aku tidak perduli dia masih gadis, sudah menikah atau janda sekalipun. Yang penting lagi, dia berdedikasi pada pekerjaannya. Kompeten lah!"


"Banyak mau!" Ares menggeleng mendengar jawaban Kenzhou.


"Sekarang sudah hampir jam makan siang, ini yang terakhir sebelum kita break. Ren, bisa kamu panggilkan yang terakhir??" Arin memerintah asistennya.


"Baik Bu. Nona, silahkan masuk!"Gadis itu tersenyum manis sebelum memasuki ruangan, begitu sampai didalam ruangan tubuhnya menengang. Iris matanya bertemu dengan iris mata Ares, pria yang sudah mengacaukan hatinya beberapa waktu terakhir. Gadis itu, Ana. Ini jadi pertemuan pertemuan Ana dan Ares setelah 2 th.


"Silahkan, nona" Arin menyilakan Ana untuk duduk dihadapannya, lebih tepatnya dihadapan mereka bertiga.


"Boleh minta CV mu?"


"Ahh..ini bu." Ana menyerahkannya dengan tangan gemetar, sekilas dia melirik Ares yang kini juga sedang meliriknya.


"Panggil saja Arin. Bukankah sebelumnya kita pernah bertemu?? Benar begitu kan Res?? Udah agak lama sih, mungkin kamu lupa" Arin sengaja menggoda Ares, yang duduk disampingnya dengan gelisah.


"Ehmm.. iya. Oh ya Ken, Rin, gu harus pergi duluan. Bunda ngirim pesen nyuruh jemput di mall deket sini" Ares sudah tidak bisa mengontrol hatinya, kalau dia tidak segera keluar dari ruangan itu dia pasti akan melompat dan berteriak kegirangan. Karena wanita yang dipikirkannya akhir-akhir ini, kini muncul secara kebetulan dihadapannya.


"Yakk..elo mau kemana??? elo udah janji mau lunch bareng gue sama Arin"


"Elo mau bunda ceramah gak kelar-kelar gara-gara gue nggak mau jemput?? Mending elo makan berdua aja sama Arin. Itung-itung kencan" Ares keluar dari ruangan Kenzhou sambil memegang dadanya yang berdegub kencang. Dia mengambil ponsel dan menulis pesan singkat pada Kenzhou.


"Sorry Ken, gue nggak bisa didalam lebih lama lagi. Cewek di hadapan elo sekarang, itu cewek yang bikin gue kayak orang gila beberapa bulan terakhir. Please.. gue harus pergi. Elo nggak mau 'kan kalau gue tiba-tiba meluk dia disitu. Dan gue harap elo nerima dia. Awas kalau sampai elo nggak nerima dia.. "


Kenzhou mendengus ketika menerima pesan dari Ares.


"Kenapa Ken??"


Kenzhou melempar ponselnya pada Arin, membuat Arin dengan sigap menangkap ponsel tersebut, "Baca saja pesan dari pacar gelapmu itu"


Kening Arin mengerut, namun sedetik kemudian senyum dibibirnya mengembang. Dia menatap Kenzhou yang mempoutkan bibirnya lucu.

__ADS_1


"Nggak usah ngambek deh,, tinggal turutin aja apa maunya 'kan?"


"Terserah anda saja, tuan putri!"Kenzhou berdiri dan berlalu kesudut ruangan untuk mengambil Ice Coffee didalam kulkas.


Arin menggeleng sambil tersenyum, "Berliana Anisa, 24 th, status...." Arin menatap Ana sebentar, "Janda. Lulusan Universitas A jurusan Bisnis Management. Pernah bekerja sebagai Sekretaris CEO 'MAXI Group'?" Arin menatap Ana lagi, "Kau mantan sekretaris Maher??"


"Iya."


"Berapa tahun kau bekerja dengan Maher??" kini giliran Kenzhou yang bertanya, nadanya dingin dan mata tajamnya berubah memerah mengingat Maher Rajassa. Pria yang akan selalu dikenalnya sebagai pria brengsek yang menghancurkan kebahagiaan orang terdekatnya.


"Dua tahun, sebelum saya menikah dengannya"


"Whattt????"mata Kenzhou dan Arin sukses dibuat membulat sempurna oleh pernyataan Ana.


"Jadi kau mantan istri bajingan itu???" Kenzhou bertanya sarkatis, Ana hanya bisa mengangguk lalu menunduk.


"Dasar bajingan tengik. Kalau ketemu, ingin rasanya aku habisi dia" Kenzhou mengucapkan kata dengan penuh ungkapan dendam.


"Kalau aku boleh tahu, kenapa kalian bercerai? Maaf..kalau pertanyaan ku bersifat pribadi"


Ana tersenyum, "Tak masalah, Maher meninggalkanku saat aku sedang mengandung putra semata wayangku, Langit Rajassa. Dia kabur bersama..."


"Velove Geraldine" Kenzhou mengucapkan nama wanita itu lebih dulu, bahkan sebelum Ana membuka mulutnya.


"Tentu, kami mengenal baik wanita tidak tahu diri itu... Ve adalah wanita yang sudah memporak-porandakan kehidupan sahabat baikku, Antares. Dia meninggalkan Ares satu hari sebelum pernikahan mereka terjadi. Butuh waktu 2th, sampai saya dan Arin bisa melihat Ares kembali seperti dulu."


Ana nampak tertegun "Ya Tuhan, ja..jadi wanita itu mantan pacar mas Aress?? Jadi..kami disakiti oleh dua orang yang sama?? Takdir apa yang kau bawa untuk kami Tuhan???Ataukah ini hanya sebuah kebetulan yang terjadi? Pria yang tanpa sadar mengganggu tidurku selama 2th ini ternyata adalah mantan tunangan wanita yang membuat hidupku berantakan."


"An.. Anna.. An.. apa kau baik-baik saja?"


Ana nampak terkejut ketika dipanggil, rupanya dia melamun, entah berapa lama, tapi selama dia melamun Siwon telah selesai membaca semua lampiran dalam CVnya "Ahh..Ma.. maaf.. saya melamun"


Arin tersenyum, "Nampaknya Kenzhou sangat menyukai pengalamanmu dalam bekerja, dan dia sepertinya menemukan sekretaris yang diidamkannya. Kau tahu An, hari ini dia terus mengatakan TIDAK pada semua orang yang masuk keruangan ini. Namun, kali ini dia mengatakan YA. Jadi selamat ya An, kau bisa mulai bekerja besok."


"Be.. benarkah???Ja..jadi saya diterima??" Ana menatap Arin dan Kenzhou bergantian, dia sangat tidak percaya dengan apa yang baru didengarnya.


"Tentu! Mulai besok kau bisa Overcap bersama Arin. Bekerjalah dengan baik, aku percaya padamu. Dan kau bisa meminta kunci mobil dinasmu pada Arin"


"Mobil??"


"Ya...kau akan mendapatkan mobil dinas. Kau bisa menggunakannya selama kau bekerja disini. Kau bisa menggunakannya mulai besok. Kau juga berhak atas sebuah apartmen, tapi setelah kau lepas training."


"Terima Kasih, Pak. Sungguh, saya sangat berterima kasih. Bisa bekerja disini saja, saya sudah sangat beruntung. Ditambah semua fasilitas tersebut. Sekali lagi terima kasih" Ana tidak menyangka dirinya akan mendapatkan semua hal ini.


"Sudah jangan memanggilku pak.. aku merasa sangat tua sekarang. Kau bisa memanggilku Ken, atau apa lah terserah senyamanmu." Pinta Kenzhou

__ADS_1


"Tidak sopan rasanya kalau hanya memanggil nama."


"Santai saja An, tidak perlu sungkan. Demi Tuhan, Ken risih dengan panggilan pak. Dia tidak menyukainya. Panggil saja Ken."


"Tapi..."


"Gini aja.. kamu panggil pak kalau sedang dinas diluar atau didepan karyawan lain. Tapi kalau disini, diruangan ini kamu panggil dia Ken aja. Okay.."


"Baik bu"


"Oh... ayolah An.. panggil saja aku Arin, kita kan sudah saling mengenal"


"I.. iya... tapi.. nggak enak bu"


"Ck.. mbak aja deh. Jangan ibu" tawar Arin


"Iya mbak.. oh iya, apa saya boleh meminta satu permintaan? Saya tahu ini lancang, tapi saya harus mengatakannya."


"Permintaan apa""


"Bolehkah jika saat ada dinas atau meeting keluar negeri saya tidak ikut?? Putra saya sedang sakit dan dirawat intensif dirumah sakit, saya tidak bisa meninggalkannya begitu jauh terlalu lama." Ana mengutarakan niatnya dengan pelan, dia takut ditolak.


"Ohh..masalah itu. No problem, setiap meeting keluar Jakarta ada Arin yang akan menemaniku. Jadi kau tak perlu khawatir"


"Ahh.. terima kasih pak"


Arin dan Kenzhou kompak memberikan sebuah senyum tulus pada Ana.


"Cha~ .. sudah saatnya makan siang. Sekarang ayo kita makan siang. Ana, ikut makan siang dengan kita berdua ya.. ada Rency juga lho" tawar Arin.


"Maaf mbak Arin, saya harus kerumah sakit untuk melihat kondisi putraku" Ana menolak ajakan Arin dengan lembut.


"Ahhh..begitu. Kalau begitu mari kami antar"


"Tidak perlu, Mbak. Akan sangat merepotkan, aku juga akan mampir kesuatu tempat lebih dulu. Jadi mohon maaf, bukan bermaksud menolak rejeki."


Arin nampak sedikit kecewa namun dia tetap tersenyum, "Baiklah, semoga putramu lekas sembuh. Dan hati-hati dijalan"


"Kalau begitu saya permisi"


"Ya.. hati-hati" Arin dan Kenzhou menjawab bersama. Ana keluar dari ruangan itu dengan senyum mengembang diwajahnya. Dia tersenyum pada Rency yang duduk dibelakang sebuah meja, meja yang besok akan menjadi tempat dirinya bekerja. Rency juga membalas senyuman itu dengan tulus.


"Langit, akhirnya mama diterima bekerja. Setelah ini, mama akan mengumpulkan banyak uang agar kau tetap bisa menjalani perawatan. Tuhan terima kasih." Ana tersenyum senang, dia sudah tidak sabar ingin bertemu anak dan keluarganya untuk membagi kabar gembira ini.


...●●●●●●●●...

__ADS_1


__ADS_2