The Secret Of My Heart

The Secret Of My Heart
Kabar Bahagia


__ADS_3

Ares terlihat sibuk dengan berkas-berkas ditangannya. Minggu ini dia memutuskan untuk lembur penuh sebelum pernikahannya terjadi seminggu lagi.


"Mas" Ana,.. wanita itu memanggil Ares dari pintu ruang kerja Ares.


"Ahh. .sayang. Kemari!!" Ares memberikan intruksi yang langsung diruruti oleh Ana. Wanita cantik itu lalu duduk dipangkuan Ares. "Ada apa, hem??" Ares menghentikan sebentar pekerjaannya dan menatap wanita yang kini sudah mulai tinggal satu atap dengannya, dirumahnya.


"Ehmmm.. " Ana nampak ragu untuk mengatakan niatnya.


"Ada apa, sayang?? Bilang aja?? Kamu pengin beli sesuatu??" Ana menggeleng. "Lalu?"


"Aku...aku"


"Iya..aku apa sayang?"


"Aku ha..hamil mas" Ana membisikan kata itu lirih. Tubuh Ares menengang, ada perasaan yang tak terkira didalam rongga dadanya.


"Hamil?? Kamu serius?" Ana mengangguk, wajahnya menunduk takut, ya dia takut kalau Ares tidak mau bertanggung jawab.


"I.. iya mas. Apa mas nggak bahagia??


"Sayang, kamu ngomong apasih? Gimana kamu bisa nanya apa aku nggak bahagia?? Gimana aku nggak bahagia, kalau wanita yang sangat aku cintai sedang mengandung darah dagingku. Apakah ada alasan aku tidak senang??Aku bahkan sangat senang. Karena sebentar lagi mimpiku akan jadi nyata, menjadi seorang ayah dari wanita yang sangat berharga." Saking senangnya Ares bahkan tidak sadar mengulang kata-katanya. Dia bahkan menciumi jari-jemari Ana dengan semangat. Sejak hubungan mereka terjadi, mereka memang kerap melakukan hubungan layaknya suami istri. Mereka tahu itu tidak benar, tapi mereka kerap tak bisa menahan diri. Namun baru dua bulan lalu, mereka berhubungan tanpa menggunakan pengaman. Dan disini, Ares memang sengaja melakukannya.


"Aku kira..."


"Aishh...kenapa pikiranmu selalu Nethink padaku Nyonya Antares.?? Aku mencintaimu, aku melakukan semuanya karena aku tak mau kehilangan dirimu. Dan sekarang disini, dirahimu, ada anak kita. Aku sangat bersyukur, kamu harus menjaganya dengan baik. Jangan sampai kelelahan. Oke" Ana mengangguk.


"Jadi mas Ares sayang...anda harus bisa menahan diri sampai 3 bulan kedepan" Ares tersenyum dan mengecup dahi Ana hangat.


"An, mas cinta sama kamu bukan karena napsu. Harus puasa sampai kamu lahiran pun akan mas lakukan. Apapun itu, yang penting kamu dan anak kita sehat."


Tingg...


Sebuah pesan masuk kedalam handphone Ares. Memecah kehangatan yang baru saja tercipta.


"Siapa mas??"


"Rui??"


From : Karui


Mas, Aleesha kritis. Minta doanya ya Kak. Kata Bang Jeff, kita hanya ada waktu 1 X 24 jam. Kalau sampai Aleesha tidak melewati masa kritisnya, Bang Jeff akan melepas semua alat bantunya. Kita harus siap dengan kondisi paling buruk sekalipun.


Tubuh Ares merosot, kebahagiaan yang baru saja dia rasakan berbanding terbalik dengan kesedihan yang dirasakan kedua sahabatnya.


"Sayang, aku harus kerumah sakit. Aleesha kritis. Dan Jeff bilang, kita harus siap dengan kemungkinan terburuknya jika dia tidak bisa melewati masa kritisnya. Aku harus menemani Arin, maaf mas harus ninggalin kamu sebentar"

__ADS_1


"Aku ikut. Aku..."


"JANGAN...!! Sayanng, kamu lagi hamil, istirahatlah dirumah, jaga Langit. Besok pagi, kamu boleh nyusul kerumah sakit"


"Ta.."


"Tidak ada penolakan. Mas mencintaimu, mas pergi dulu"


Ana mengangguk dan menatap kepergian Ares dengan tatapan khawatir.


"Tuhan, selamatkan Aleesha. Arin sudah banyak berkorban untuk mereka, jangan mengambil salah satu kebahagiaannya lagi."


...***...


"Arin!!" Ares berlari dari basement hingga ke dalam ruang ICU tempat Aleesha dirawat. Dia benar-benar khawatir bukan hanya dengan kondisi Alessba namun juga dengan kondisi Arin.


"Res" Arin bangkit dari dekapan Kenzhou dan memeluk Ares. Airmatanya menetes deras, dia melepas semuanya didada Ares. Saat bersama Kenzhou dia kelihatan tegar demi menjaga kondisi Kenzhou. Tapi bersama Ares, dia lupa segalanya. Yang dia ingat hanya dia butuh sandaran. Dan dada kakak tirinya adalah yang terbaik.


"Baby, don't cry. Please! Gue udah bilang kan, Aleesha akan bangun. Dia akan sembuh. Percaya sama gue." Arin mengangguk, lalu Ares mencium pucuk kepala arjn dengan sayang. Membuat Kenzhou sedikit terbakar cemburu.


"Hei, Nyonya Alatas. Disini ada suamimu. Jangan harap kamu bisa selingkuh. Apalagi terang-terangan seperti ini." Kenzhou mengintrupsi keduanya, Arin spontan melepas pelukan Ares dan mendorongnya.


"Ehm..mas" Arin menunduk takut, jemarinya saling bertautan.


"Ken?? elo?" Ares mendekat kearah Kenzhou dan menatap nya intens dari ats hingga kebawah. "Ini beneran Kenzhou??? Elo udah inget?? Elo ingat semuanya??" Ares terus saja membolak balik tubuh Kenzhou.


"Akhirnya!" Ares memeluk Kenzhou erat, namun tiba-tiba tangannya memukul kepala Kenzhou, "Kenapa kepala elo lama banget sih Ken ingetnya" gerutu Ares


"Heh... bangsat. Sakit woy.. lagian elo sama Ana udah tahu gue sadar, ngapain pake acara sok-sokan kaget. Anjir elo.. cari kesempatan aja buat ngegeplak kepala gue depan bini gue"


"Biarin lah...."


"Res.. elo udah tahu??"


"Hehe.. udah dari kapan hari.. hehe"


"Ka.."


Ucapan Kenzhou terhenti ketika tiba-tiba Jeff berlari masuk kearah ruangan Aleesha, kejadian ini sama seperti beberapa jam yang lalu.


"Aleesha!!"


"Tenanglah, biarkan dokter menanganinya."


"Res.. gue.."

__ADS_1


"Percaya sama gue. Dia akan bangun."


Kekhawatiran mereka semakin membuncah ketika Jeff tak kunjung tak juga keluar dari. Kaca kecil yang biasanya sedikit terbuka, kali ini tertutup rapat.


"Kenapa lama sekali??"


"Sabar."


"RES..."


Kenzhou baru akan mengeluarkan seluruh emosinya ketika pintu ruangan Aleesha terbuka.


"Jeff ada apa dengan Aleesha. Kenapa muka elo kayak gini??" tanya Ares dengan perasaan tidak enak. Namun Jeff hanya diam nampak sedikit linglung.


"Jeff.."


"Gue udah nglepas semua alat ditubuh Aleesha. Di..."


Bugh...


Sebuah pukulan mendarat di wajah Jeff, membuat semua orang dalam ruangan itu terkejut. Namun tak ada yang melakukan apapun, mereka seolah larut dalam keterkejutan.


"Ken dengerin gue du..."


Bugh...


Sekali lagi, pukulan mendarat diwajah Jeff.


"APA MAKSUD ELO?? GUE UDAH BILANG, ELO NGGAK BOLEH LEPAS APAPUN DARI TUBUH ANAK GUE. MAKSUD ELO APA JEFF??"


Bugh... Bugh..


"Ken.. tenang. Dengerin gue dulu." Jeff mencoba meredam emosi Kenzhou, dia harus menjelaskan. Dia menahan tangan Kenzhou. Dia sebenarnya bingung harus mulai menjelaskan darimana, sedangkan orang disekitarnya dipenuhi duka.


"Aleesha.." Jeff mulai berbicara


"Daddy.. Mommy.." Tubuh semua orang didalam ruangan itu menegang, suara lembut lirih dan kecil terdengar dari dalam ruangan melalui pintu yang sedikit terbuka.


"Ini yang mau gue jelasin. Gue lepas alat dari tubuh Aleesha karena dia sudah bangun. Kondisi tubuhnya sangat bagus dan baik-baik saja seperti tidak mengalami kecelakaan sebelumnya." jelas Jeff


Tanpa aba-aba keempat orang tersebut langsung masuk kedalam ruangan dan memeluk Aleesha yang tersenyum kecil. Sangat kecil, namun cantik. Mereka meninggalkan Jeff yang terlihat babak belur.


Jeff menghela nafas lemas, pipinya terasa kebas karena tinju dari tangan Kenzhou sangat keras dan lumayan menyakitkan.


*Astaga Jeff.. setelah nggak ada satupun yang ngucapin selamat ulang tahun. Sekarang elo malah dapat hadiah bogem 4X. Mantap.

__ADS_1


...■■■■■■■■■*...


__ADS_2