The Secret Of My Heart

The Secret Of My Heart
Melamar Maira


__ADS_3

"Ken, elo bisa diem nggak sih? Elo dari tadi malah cuma bikin gue emosii tau nggak?" Arin merasa jengah karena sedari tadi pria yang duduk disampingnya itu bergerak gelisah dan tak tenang. Hari ini, seperti janjinya Arin menemani Aris kerumah Maira untuk melamar.


Ken menoleh menghadap Arin, dia melihat Arin saat ini tengah merajuk dan bersedekap. Bibirnya merahnya manyun. Sepertinya dia benar-benar sebal dengan polah Ken.


"Gue nervous Rin"


"Perasaan dulu dia ngelamar gue nggak ada nervous-nervousnya." omel Arin pelan. sangat pelan dan terdengar seperti kumbang berterbangan.


"Elo ngomong sesuatu Rin???"


"Nggak...!!Mending sekarang elo turun, masuk kedalem temuin Maira dan Ungkapin niat baik elo itu . Gue udah pusing ngeliat elo kaya' cacing di kasih garem."


"Oke... fyuhh....wish me luck" Ken bersiap-siap dan merapikan bajunya. Dia juga mengecek apakah cincin yang dia beli beberapa hari yang lalu sudah ada di saku celananya.


"Gimana penampilan gue?? Uah keren belum??"


Arin menghela nafasnya jengah, pengen rasanya dia mengacak-acak rambut Ken saking kesal dan gemasnya.


"Emang ada orang yang meragukan ketampanan seorang Kenzhou Alatas? Orang gila aja terpesona ngeliat elo, apalagi orang waras. Jadi elo tahu benar 'kan jawabannya apa."


"Baiklah. Gue turun sekarang. Ta..." Ken kembali terlihat ragu ketika tangan kanannya hendak menarik handle pintu mobilnya.


"Apa lagi sih Kennnnnn?"


"Kalau gue ditolak gimana??"


"Ya itu resiko yang harus elo tanggung." Arin langsung mendorong Ken keluar dari mobil.

__ADS_1


"Aduhh... pelan-pelan donk Rin." Ken merasa tidak terima didorong begitu saja keluar dari mobilnya, pasalnya dia benar-benar belum siap dan masih sangat gugup sekarang ini.


tok..tok..tok.


Ken mengetuk kaca samping kursi penumpang dimana Arin duduk. Arin membuka kaca dan wajahnya tampak malas melihat Siwon.


"Apa lagi sih Ken??? Mau sampai kapan elo dari tadi bolak-balik nggak jelas?? Ini udah malem ya Ken, gue nggak mau nginep disini karena kelakuan elo."


"Kalau gitu kita pulang aja ya Rin... gue mendadak ragu" wajah Ken terlihat memelas dan gugup.


"Cepat masuk atau elo bakalan nyesel seumur hidup karena Maira jauh disana dan elo gak akan lagi punya kesempatan untuk mengubah pendirian dia. Elo nggak akan bisa memiliki dia lagi. Gue nggak mau kalau sampai elo nangis kaya' minggu lalu, trus nyusahin gue sama Ares" Arin lalu menutup kembali kaca mobil Ken, dan mendengarkan musik dari iphone miliknya. Dia acuh tak acuh ketika Ken terus menerus mengetuk kacanya. Karena merasa tak ditanggapi Ken dengan perlahan memberanikan diri memasuki halaman rumah Maira.


Ken berjalan dengan kaki gemetar. Bahkan hingga sampai didepan pintu pun kaki Ken masih terus bergetar. Ken menarik nafas dalam dan menghemburkannya. Setelah detak jantungnya berjalan sedikit normal, Ken dengan perlahan mengetok pintu bercat putih dihadapannya.


tok...tok...tokk...


"Ken?? Ngapain kamu disini??"Pertanyaan Maira membuat Ken tersentak, pasalnya suara lembut yang biasa dia dengar dari Maira kini berubah menjadi sapaan halus namun dingin.


"Mai, aku pengen ngomong sesuatu sama kamu. Apa aku boleh masuk??" Ken memandang sekeliling, merasa tak enak jika nanti ada orang yang melihatnya di depan rumah Maira. Takut ada yang berfikiran aneh-aneh, seorang pria bertamu namun hanya berdiri di depan pintu tanpa dipersilahkan masuk.


"Kan nggak lucu kalau gue dikira debt collector" batin Ares


"Ya udah ngomong aja. Aku lagi nggak punya banyak waktu. Aku harus nyiapin semua keberangkatanku ke Paris besok pagi. Jadi kalau mau bicara ya cepat, nggak usah pake basa-basi" Maira tetap tidak beranjak dari pintu, dia juga benar-benar tak mengizinkan Ken masuk kedalam rumah.


"Mai, aku mohon kamu ubah keputusan kamu 2 minggu yang lalu.?" pinta Ken, bahkan dia dengan berani memegang kedua tangan Maira meskipun akhirnya ditepis oleh Maira.


"Keputusan mana yang kamu maksud?"

__ADS_1


"Tentang hubungan kita Mai. Kamu tahu kan Mai, aku sangat mencintai kamu. Aku nggak akan bisa jauh dari kamu Mai. Aku janji nggak akan ngehalangin apapun cita-cita kamu, pendidikan bahkan hingga karir kamu pun aku nggak akan menghalangi. Tolong Mai difikirkan lagi."


"Maaf Ken, tapi aku nggak bisa"


"Mai pleasee. . aku kesini juga bukan hanya untuk itu. Aku ingin ketemu kedua orang tua kamu. Aku pengen ngelamar kamu juga Mai." Ken akhirnya mengutarakan niat sesungguhnya dia datang kerumah Maira.


"Tadi kamu bilang apa Ken?? Melamar??" Ken mengangguk menjawab pertanyaan Maira, membuat Maira mendengus kasar dan berjalan kearah teras samping.


"Kamu emang udah gila ya Ken?" Ken cukup terperangah mendengar ucapan Maira. "Kamu nggak mungkin lupa apa yang aku ucapkan 2 minggu yang lalu kan? Aku sangat ingin mengejar karirku sebagai seorang model profesional, tidak hanya di indonesia tapi juga di Luar Negeri, di Paris tepatnya. Dan aku sama sekali nggak ingin sebuah komitmen menghalangi semua cita-citaku dan menghancurkan karirku. Dan sekarang kamu dateng tiba-tiba buat ngelamar aku??? Aku yakin, kamu jelas tahu apa jawaban yang akan aku berikan 'kan Ken." ucap Maira panjang lebar


"Tapi Mai, kita ini saling mencintai 'kan?? Aku mencintai kamu dan kamu juga mencintai aku."


Maira tertawa sinis, "Ya..aku memang mencintai kamu Ken, sangat. Tapi kamu harus aku beri tahu satu hal, rasa cinta yang aku miliki untuk kamu, tidak lebih besar dari pada rasa cinta yang aku punya untuk dunia modelling ku. Menjadi model adalah impian ku sejak kecil. Dan lagi pula, mana ada orang yang melamar seorang gadis tapi hanya datang seorang diri tanpa keluarga, dan justru datang bersama wanita lain." Maira melirik kearah Arin yang berada didalam mobil tengah asik menelpon seseorang.


"Dan satu lagi, apa kamu juga belum sadar Ken??. Kamu aja masih kuliah, belum ada penghasilan sendiri. Uang aja kamu masih minta sama orang tua kamu. Emang kamu sanggup membiayai semua kebutuhan ku termasuk menyokong karir ku?? Nggak 'kan Ken??" Ken menggeleng perlahan. Apa dia merasa terhina?? Tidak.. tidak sama sekali. Itu adalah kenyataan dan dia tidak marah. "Kamu tahu itu lalu kenapa kamu masih nekad untuk melamar aku. Aku yakin, pada dasarnya kenapa kamu kemari tanpa kedua orang tuamu juga karna mereka nggak setuju dengan niat kamu ini 'kan??"


Ken menunduk mendengar jawaban Maira, apa yang hari ini didengarnya dari bibir Maira, secara garis besar sama dengan apa yang Papanya dan Arin katakan minggu lalu.


"Tapi, aku bisa bekerja setelah lulus kuliah. Aku akan membuktikan pada keluargamu bahwa aku pantas untukmu. Tapi, aku mohon pikirkan lagi keputusanmu. Aku mencintai kamu Mai. Sangat mencintaimu." Ken menggenggam tangan Maira erat, namun sekali lagi Maira melepas genggaman tangan Ken dan berlalu kearah pintu bersiap untuk masuk.


"Jawabanku tetap sama untuk saat ini sampai 7 th kedepan. Aku tetap harus mengakhiri hubungan ini. Tapi, kalau memang kamu cinta sama aku, kamu bisa menunggu hingga aku kembali 7th lagi. Dan mungkin aku akan merubah keputusanku saat itu. Namun kalau kamu nggak sanggup buat nunggu aku, kamu boleh mencari wanita lain untuk kamu nikahi. Pulanglah, dan selamat malam." Maira menutup pintunya pelan. Ken menundukkan kepalanya dalam, menerima penolakan keras yang diberikan Maira.


"Baik..aku akan menunggumu hingga kau kembali. 7 th lagi aku akan membuktikan aku sudah pantas mendampingimu, aku akan kemari bersama kedua orang tuaku dan kedua adikku. Tunggulah hari itu Mai" Ken yang merasa tertantang dengan ucapan Maira, berjanji dari hatinya untuk menunggu gadis yang dicintainya itu.


"Buktikan Ken... "


Ken berjalan menunduk keluar dari halaman rumah Maira. Sesekali Ken masih menoleh kebelakang berharap Maira akan keluar dan mengubah segala keputusannya. Tapi sepertinya harapan itu percuma, karena Maira memang tak akan mau merubah keputusannya saat ini. Ken benar-benar lemas setelah penolakan ini. Dia merasa menjadi pria yang tak berguna. Entahlah.. itu yang dia rasakan. Begitu masuk kedalam mobilnya, Ken menyandarkan tubuhnya pada kursi kemudi, matanya terpejam, dia terus saja menghembuskan nafasnya kasar Mencoba mengurangi sesak di dadanya.

__ADS_1


...■■■■■■■■■. ...


__ADS_2