The Secret Of My Heart

The Secret Of My Heart
Kamu Pantas


__ADS_3

"Na.. gimana?? Kamu mau 'kan nikah sama aku??" ulang Ares untuk kesekian kalinya.


"Ya Tuhan, apa sudah saatnya aku membuka pintu hatiku untuk orang lain. Tapi...Mas Ares pria yang baik.. Dia berhak mendapatkan yang lebih baik dariku. Apa yang harus aku lakukan Tuhan???" Ana masih bimbang dengan jawaban apa yang akan diberikan.


Jika harus diakui, dirinya memang sangat menyukai Ares. Tapi dirinya takut berharap, dan takut terluka lagi. Dirinya benar-benar takut untuk memulai.


"An... ma.. maaf kalau aku terburu-buru. Tapi aku benar-benar menyukai kamu An. Aku pengen hidup dan menua bareng sama kamu. Kalau kamu bingung, kamu nggak harus jawab aku sekarang Na.. ka.."


Grepp..


Sebuah pelukan dan anggukan kepala dalam dekapan, membuat Ares tersenyum bahagia dan lega. Dia membalas pelukan Ana dengan sama eratnya.


"Makasih An. Makasih sudah menerima ku" Ana menggeleng,


"Aku yang harusnya berterima kasih sama Mas Ares.. Sudah mencintaiku sebanyak ini" Ana mengeratkan pelukannya.


"Kamu pantas untuk mendapatkan semuanya An."


"Rasanya aku terlalu kecil untuk menerima cinta dan pengorbanan kamu yang sebesar ini mas. Bahkan, aku sama sekali tidak pernah bermimpi akan ada pria yang menerima aku, setelah masalalu ku. Ditambah keberadaan Langit."


"Tidak An.. kamu layak. Kamu wanita dan ibu yang hebat. Dan kamu pantas untuk dicintai lebih besar dari ini. Makasih An... udah nerima aku. Aku akan menjaga kamu dan Langit, sampai akhir usiaku." pelukan Ares makin erat, bahkan tak henti-hentinya Ares mencium puncak kepala Ana.


"Mas..??"


"Hem.."


"Tadi pagi mas Ares bilang, kalau baju-baju itu milikku. Maksudnya apa Mas?? Kenapa semua nya pas ditubuh aku, bahkan pakaian dalam tadi juga.." Ana menggantung ucapannya, dia malu jika mengingat tentang kejadian pakaian dalam tadi lagi.


"Ya.. itu semua punya kamu. Semuanya.. bahkan Villa itu milik kamu, atas nama kamu." Ana langsung melepas pelukannya dan menatap Ares tajam.


"Maksud nya??"


"Iya.. Mas bangun Villa itu buat kamu dan anak-anak. Semuanya atas nama kamu. Tanah nya juga atas nama kamu" jawab Ares enteng.


"Mas jangan bercanda."


"Siapa yang bercanda sih?? Mas serius"


"Tapi mas.. itu berlebihan" Ana benar-benar merasa tak enak hati dengan semua pemberian Ares.


"Tidak ada tapi-tapian. Dan nggak ada yang berlebihan. Semua sudah bunda dan Mas bicarakan matang-matang. Jadi Nyonya Antares, sekarang yang harus kita pikirkan adalah kesehatan Langit dan pernikahan kita"


"Pernikahan??"


"Iya.. Pernikahan. Kamu nggak mau nikah sama Mas?? Kamu nggak berpikir, mas bilang suka sama kamu cuma buat ngajakin kamu pacaran kan?" Ana menggeleng,


"Bukan gitu mas. Ana cuma nggak nyangka kalau mas Ares sudah berpikir sejauh itu. Ana pikir, mas Ares masih pengen pengenalan dulu" Ares tertawa mendengar jawaban Ana.


"Pengenalan?? Astaga Na.. kamu sama mas ini bukan lagi anak SMP. Kenapa harus ada tahap pengenalan lagi sih? Mas sudah tahu semua tentang kamu, kenal keluarga kamu, tahu masalalu kamu. Trus, dilihat darimananya Mas harus lebih mengenal kamu lagi? Kamu yang harus mengenal Mas lebih jauh. Tapi itu bisa kamu lakukan setelah kita nikah aja. Fokus kita sekarang, Langit. Jagoan kita itu harus segera sembuh."


"Mas.. makasih ya. Kamu begitu baik sama aku, Langit, dan keluargaku. Harusnya Maher yang mendonorkan sumsum tulang belakang untuk Langit, tapi malah mas yang harus berkorban sebanyak itu." Ana terisak, sedang Ares melotot kaget. Dia belum mengatakan pada Ana kalau donor untuk Langit berasal dari nya.


"Kamu tahu soal donor itu??" Ana mengangguk dan menatap Ares begitu dalam dan rapuh. Sisi yang baru bisa Ana tunjukan setelah sekian lama tersimpan rapi.


"Terima Kasih mas.. pengabdian seumur hidup aku disamping kamu nantinya, aku yakin nggak akan bisa membayar hutang nyawa ini mas"


"Heii.. Hei... ini bukan hutang An. Dan nggak perlu dibayar. Aku membantu Langit karena dia anak ku. Aku ayahnya, dan aku yang menjamin hidupnya. Aku memintamu menjadi istriku, bukan untuk mengabdi karena balas budi. Tapi karena aku mencintai kamu, dan aku ingin kamu mendampingi aku. " Air mata Ana menetes lagi. Pria didepannya ini benar-benar terlalu baik.


"Hei, jangan nangis" Ares menghapus airmata Ana, dan memeluknya lagi. "Mas nggak mau melihat setetes air matapun keluar dari mata indahmu mulai hari ini. Kamu harus berjanji bahwa kamu akan selalu bahagia. Ngerti!"

__ADS_1


"Iya mas"


"Aku mencintai mu An!"


"Aku juga mas"


Cinta itu tidak perlu sebuah alasan, karena jika cinta beralasan, dan alasan mencintai telah hilang maka cintapun akan hilang.


"Oya na.. satu lagi.. hehe. Kayaknya kalau mas nggak bilang ini kamu bakalan cemburuan terus sama Arin."


"Aku nggak akan cemburu kok mas sama Mbak Arin, karena aku tahu yang dia cintai pak Kenzhou. Jadi.."


"Ya syukurlah kalau kamu nggak cemburu. Tapi kamu harus tetep tahu. Arin itu adik tiri mas.. hehe.."


"What..."


"Bunda sama Papa nikah 9 tahun lalu, saat aku sama Arin masih SMA. Papa itu sahabat baiknya Ayah. Sebelum Ayah pergi, beliau minta sama Papa untuk jagain bunda, Kak Jingga, aku dan Rion."


"Astaga....." "


Jadi selama ini aku cemburu sama calon adik ipar sendiri. Aduhh malunya..


...***...


"Rani.. tunggu!" Rani, gadis itu terkejut ketika mengetahui siapa yang memanggilnya. Pria yang masih dikaguminya hingga hari ini, mantan kekasihnya, Alfa Orion.


"Kak Rion?? Kok kakak ada disini??" Rani sebenarnya heran, kenapa Rion bisa ada kampusnya. Sedangkan pria kuliah di kampus lain.


"Iya, lagi ada urusan. Kamu ada waktu nggak Ran, kakak ingin bicara sama kamu"


"A.. ada apa ya kak? Apa ada sesuatu yang penting??" tanya Rani. Sebenarnya ini sudah lama sejak terakhir Rani dan Rion berbicara.. Bisa dibilang ini adalah percakapan pertama setelah mereka memutuskan untuk berpisah hampir 3tahun yang lalu.


"Ada kak. Mau bicara dimana?? Disini atau??"


"Di warung mang Adi depan, gimana??" tanya Rion


"Boleh" Rion dan Rani berjalan beriringan menuju warung Mang Adi. Warung Siomay didepan kampus Rani, yang sebenarnya sering Rion datangi.


"Kamu mau pesen nggak Ran?"


"Aku masih kenyang kak, aku pesen es teh aja"


"Okey. Mang, siomay komplit dua. Lemon tea Es nya 2, Es teh satu" pesan Rion


"Kok dua kak, kan..."


"Nanti temenku mau nyusul."


"Oh... gitu. Ngomong-ngomong kakak mau bicara apa ya??"


"Oh... ini Ran. Bentar.. " Rion nampak mengeluarkan sebuah kotak dari dalam tas Ranselnya. Jantung Rani berdegub kencang, kotak itu. Kotak kado yang dikirimannya diulang tahun Rion yang ke 20. Beberapa minggu yang lalu.


"I.. itu….."


"Ran... kakak sebenarnya sengaja kesini mau ngembaliin ini ke kamu. Maaf, bukannya kakak nggak menghargai pemberian kamu. Hanya saja, kakak tidak bisa menerimanya. Ada hati yang harus kakak jaga. Lagipula, hubungan kita sudah lama berakhir. Saat ini kakak juga sudah punya calon istri. Dan kakak nggak bisa nerima hadiah dari wanita lain." Ucapan Rion cukup membuat telinga Rani mendadak menuli. Dia bahkan tidak pernah tahu, kalau pria dihadapannya ini sudah tak sendiri. Padahal Rani selalu mencari informasi tentang Rion. Bahkan dari informasi yang dia dapat, Rion saat ini masih sendiri.


"Kakak.. punya calon istri?? Kakak nggak lagi bohongin aku kan??"


"Bohongin kamu?? Kenapa kakak harus membohongi kamu??"

__ADS_1


"Ka..."


"Permisi den.. ini pesenannya."


"Makasih mang."


"Tumben den Rion nggak sama Neng Iren?? Belum selesai kuliahnya?" tanya Mang Adi menambah ketidaknyamanan hati Rani ketika mendengar nama wanita lain.


"Palingan bentar lagi mang... yang ini komplit kaya biasa kan mang??"


"Sesuai request den Rion sama Neng Iren tiap makan disini"


"Makasih mang??"


"Iren siapa kak??" setelah Mang Adi pergi, Rani memberanikan diri bertanya.


"Calon istri kakak"


"Kak, ini serius??"


"Iya.. kakak serius Ran"


"Tapi kenapa selama ini kakak selalu mencari perhatian ke Rani kak?? Kenapa kakak selalu ngunjungin Rani, nungguin Rani tiap latihan Cheers?? Meski kakak nggak pernah berkata-kata dan pergi gitu aja, tapi Rani tahu kakak memperhatikan Rani" ujar Rani menggebu-gebu.


"Sepertinya kamu salah paham Ran.."


"Salah paham apalagi kak?? Kenapa kakak kayak gini??"


"Ran.. dengerin ka..."


"Sayang.. maaf ya nunggu lama" belum selesai bicara, seorang wanita cantik menghampiri keduanya.


"Kak Shereen"


"Hai Ran..." wanita itu membalas sapaan Rani


"Kamu udah selesai kuliahnya??"


"Heem.. kamu masih belum ya??" Rion menggeleng, "Ya udah lanjutin aja. Aku dengerin, sambil makan nggak apa-apakan?? Aku laper soalnya"


"Abisin aja... kalau kurang, punya aku masih utuh."


"Makasih sayang."


Deg...


Jantung Rani dipompa semakin cepat ketika mendengar jawaban Sheeren.


"Ran... inilah kesalahpahaman yang aku maksud. Sebenarnya aku kekampus ini, selalu nungguin anak-anak cheers latihan, itu karena dia. Shereen Amanda. Dia pacar aku hampir 2 tahun ini. Kami menjalin hubungan sejak masih jadi Maba dikampus masing-masing. Kami kenal ditempat les. Dan saat ini hubungan kami ditahap yang lebih serius. Kakak sudah berencana untuk melamar Iren dalam waktu dekat. Itu sebabnya, kakak ingin meluruskan semuanya." Rani masih belum berkata-kata. Yang kini ia rasakan adalah sakit dan malu. Sedang Iren, dia tidak merasa terganggu sama sekali. Dia membiarkan keduanya, sedangkan dia tetap santai menikmati makannya.


"Ran.. sekali lagi mohon maaf ya. Lagipula, kita juga tidak akan bisa bersama meski kakak dan Iren tidak berpacaran. Karena, kita akan segera jadi saudara.."


"Hah... "


...●●●●●●●●●...


(Ada sedikit spoiler nihh... Cerita Rion, Iren, dan Rani ini nantinya bakal aku jadiin novel sendri. Tapi sekarang tak selipin spoilernya dulu ya.)


Danke 🥰

__ADS_1


__ADS_2