
"Baru kali ini ada seorang istri yang merekomendasikan wanita lain untuk suaminya" Kenzhou terkekeh
Deg..
Arin berkaca-kaca ketika Kenzhou mengucapkan itu.
"K.. Ken?"
"Hem.."
Hiks..
"Eh..." Kenzhou terkejut ketika Arin terisak. "Sayang... kok nangis. Eh... jangan nangis dong. Kamu nggak capek ya 4th nangis terus." Ken masih mencoba untuk bercanda. Hal itu malah membuat Arin menangis semakin keras. "Sayang, please jangan nangis lagi dong!! Mending kamu pukulin aku, dari pada nangis gini."
Dan benar saja, Arin langsung menghadiahi Kenzhou dengan pukulan dan cubitan dengan masih airmata yang berderai.
"Aduh.. sayang.. duh. Rin.. eh.. ini.. heii.. stop sayang. Kok beneran dipukul, aduhh...." Kenzhou sibuk menangkis pukulan dan cubitan Arin yang bertubi-tubi. Dan ketika Kenzhou berhasil menahan tangan Arin, pandangan keduanya bertemu. Dengan tatapan senada rindu yang sama. Kenzhou dengan cepat menarik Arin kedalam pelukannya.
"Aku meridukan kamu yank. Sangat"
"Aku lebih merindukan kamu mas..," Kenzhou tersenyum mendengar sebutan itu. Hatinya berbunga-bunga, Kenzhou memeluk Arin makin erat. Isakan Arin kembali terdengar dalam pelukan Kenzhou.
"Sayang.. please jangan nangis lagi ya. Kan sekarang aku disini, disamping kamu. Mas..."
Cupp..
Dengan berani Arin mencium bibir Kenzhou. Sempat hanya diam, Kenzhou akhirnya membalas ciuman Arin. Keduanya menyalurkan segala kerinduan yang menyeruak dan membuncah dari dalam hati. Menyalurkan kehangatan yang sempat hilang selama 4th terakhir.
Hosshh...hoshh..hoshh..
Kenzhou mengusap bibir Arin yang basah karena ulahnya, Arin menuduk dengan rona merah dipipinya.
"Kalau aja nggak banyak hal yang pengen mas tanyain sama kamu, mas nggak yakin bisa nahan diri buat nggak makan kamu yank"
Arin mendaratkan cubitan keras di perut sixpack Kenzhou.
__ADS_1
"Ck... mesum!"
"Tapi kamu juga menikmati....heeii.." Kenzhou tidak jadi melanjutkan perkataannya ketika Arin akan kembali mencubit perutnya.
"Ken.. kamu beneran udah inget sama aku??"Arin menatap Kenzhou dengan pandangan yang masih tidak percaya.
"Kamu mau bukti apa hem??? Kalau Kenzhou masih lupa ingatan gak bakalan tadi kita ******* yank" Arin tersenyum mendengar jawaban Kenzhou, dan kembali memeluknya erat. "Sebenernya sih, aku masih pengen pura-pura amnesia. Tapi lihat kamu sakit, sampai pingsan, dan masuk rumah sakit akhirnya nggak jadi"
"Kenapa mau pura-pura amnesia?? Sengaja mau bikin aku nunggu lebih lama lagi???" Arin memincingkan mata menatap Kenzhou curiga.
"Ck.. Mas cuma nunggu kamu datang dan jujur. Semua orang menutupi segalanya dari mas. Bahkan saat mas Amnesia nggak ada yang mencoba nyadarin mas tentang posisi kamu. Semua ngiyain aja waktu mas bilang kamu sahabatku. Dan mereka ngebiarin aja aku nyakitin kamu selama ini" Kenzhou membelai pipi Arin yang terlihat tirus.
"Kita semua takut kondisimu makin memburuk mas. Itu sebabnya kita semua diam aja. Kita nggak berani nggambil resiko memaksa ingatan mu kembali, dengan dampak aku harus kehilangan kamu mas. Aku nggak akan mungkin sanggup kehilangan kamu mas."
"Aku sudah kehilangan senyuman Aleesha, aku nggak mau saat kami memberitahu kalau aku istrimu, aku kehilangan senyum kamu mas.. Seenggaknya, meski kamu nggak inget aku sebagai istri. Aku masih bisa berdiri disamping kamu, lihat senyuman kamu, tanpa batasan apapun. Ya.. meski kadang makan hati"
"Maaf ya.. aku udah khianatin kamu dengan pacaran sama orang lain." Ken menyesal, sungguh. Dia merasa menjadi pria paling nggak berguna dan brengsek setelah menginggat semuanya.
"Aku maklumin karena kamu amnesia. Tapi kalau sekarang setelah ingat trus kamu punya niatan genit sama cewek-cewek.. silahkan anda tidur diluar tuan Kenzhou Alatas." Kenzhou tertawa terbahak-bahak. Dia tidak akan mengambil resiko tidur diluar, dan dia juga tidak ada niatan menduakan wanita dihadapanya ini.
"Sayang... dimana Aleesha??" seolah baru tersadar, Kenzhou langsung mengingat putri kecil mereka.
"Dia dimana sayang?? Dimana putri kecil kita,?? Dimana baby A??" Kenzhou bertanya dengan tidak sabaran. "Dia baik-baik aja kan?? Aleesha nggak kenapa-napa kan yank?"
Arin menghapus airmatanya yang menetes dipipinya, "Aleesha disini mas"
"Disini?? Disini dimana??" Kenzhou melihat sekeliling, namun tidak ada apapun hanya mereka berdua yang ada disini.
"Sayang, kamu jangan bikin aku takut? Dimana Aleesa.'"
"Disini. Di ruang ICU rumah sakit ini. Di..dia koma mas"
Deg
Jantung Kenzhou serasa dicabut dari tempatnya. Putri kecilnya koma.
__ADS_1
"A.. apa???" Kenzhou menggeleng, dia tidak percaya dengan apa yang dikatakan Arin, "Nggak.. itu nggak mungkin"
Arin menahan tangisnya mengingat kondisi putri sambungnya, "Aku yang salah mas, aku tidak bisa melindungi Aleesh malam itu. Kecelakaan itu menyebabkan benturan keras dikepala Leesha, yang menyebabkan pendarahan otak. Leesha dinyatakan koma, tepat saat kau juga dinyatakan hilang ingatan." Arin menghela nafasnya yang terasa sesak.
"Aku benar-benar terpukul, ketika aku harus mendapat dua kenyataan menyakitkan. Apalagi a.. a..aku...yang menyebabkan semua ini terjadi, mas. An...andai malam itu aku tak memaksa mas Ken untuk merayakan ulang tahun di Bandung pasti semua ini nggak akan terjadi, aku..."
"Sayang..Please dont cry. Apa yang terjadi sama kita itu sudah ditetapkan sama Tuhan. Bagian dari cerita kita. Apa setelah kamu sehat, kamu bisa antar mas keruangan Aleesha?? Mas kangen sama dia. Mas mau ketemu dia."
"Heem" Arin mengangguk, "Tapi, setelah aku makan ya mas. Aku lapar."
"Baiklah. Tapi, aku suapi ya" Arin mengangguk lagi. Dengan telaten Kenzhou terus menyuapi Arin, dan terus memandang wanita itu dengan penuh cinta..
"Sayang!" Arin menantap manik mata Kenzhou ketika pria itu memanggilnya lembut.
"Kenapa sih mas??"
"Kamu nggak pernah makan ya? lihat badan kamu mas jadi ngeri. Berapa kg kamu kehilangan berat badan"
"Emmm..."
"Sangat kecil" sambil menyuapi dengan tangan kanannya, Kenzhou merengkuh Arin dengan tangan kirinya. "Jangan lakukan lagi"
"Maaf mas...tapi aku melakukan ini demi perusahaan dan para karyawan. Kalau aku tidak berusaha keras, aku takut perusahaan akan bangkrut dan mas Ken nantinya akan sedih jika sampai itu terjadi." Arin menunduk.
"Tapi kamu malah jadi nyakitin diri kamu sendiri yank. Pinggang ini, dulu pinggang ini nggak sekecil ini" tangan Kenzhou yang tadi hanya merengkuh, kini mengelus pinggang Arin hingga kearah perut ratanya.
"mas...apa yang..."
"Sst..." Kenzhou meletakkan telujuknya dibibir Arin, "Aku mendadak merindukanmu yank. Dan...aku menginginkanmu sekarang"
Hembusan nafas panas Kenzhou membangkitkan gairah Arin. Entah siapa yang memulai, namun kini bibir keduanya saling tertaut satu sama lain. Gairah, napsu, kasih sayang, cinta, kerinduan, dan kebutuhan tergambar jadi satu.
"Astaga..!" Teriakan seorang gadis membuat Arin dan Kenzhpu tersentak kaget dan spontan keduanya mau tidak mau harus melepaskan ciuman mereka.
"Bang Ken, Mbak Arin, kalian sedang apa???
__ADS_1
"****.. gagal total. Awas kamu Keiko!!"
...■■■■■■■■...