
"Elo nggak denger gue tadi sama dia ngebahas apa?" Arin menggeleng. "Dia udah punya anak Rin. Anaknya sakkit dan dirawat disini juga."
"Yah.. udah nikah ternyata" Arin tertunduk lesu "Padahal mau gue jodohin sama Ares. Biar hidupnya nggak hanya ngurusin gue sama Kenzhou terus"
"Janda anak 1" Ares tersenyum kecut.
"WHATTTT????"
Arin terkejut tidak percaya.. Gadis muda yang tadi berkenalan dengannya merupakan janda anak 1.. Ares semakin tersenyum kecut saat mendengar teriakan Arin. Apa yang Arin rasakan, sama dengan apa yang tadi Ares rasakan.
Senyum kecut dan jawaban kecewa dari Ares didengar dan dilihat langsung oleh Ana yang ternyata masih berdiri di belakang tembok tak jauh dari tempat Ares dan Arin berdiri . Membuat hatinya yang tadi sempat mengembang karena dia tahu Arin bukan pacar Ares, tiba-tiba hancur remuk. Dia langsung pergi dari tempat itu tanpa mengetahui lanjutan ucapan Ares..
"Elo serius Res?? Elo nggak lagi nge prank gue kan?" tanya Arin lagi.
"Ckk.. buat apa sih Rin gue ngeprank elo. Unfaedah banget. Dia emang janda anak 1, umur anaknya baru 2 atau 3 tahun."
"Dia masih mudaa banget anjir.. gue rasa umurnya paling baru 20 tahunan"
"cuma beda 2 tahun doang sama kita. Umurnya 22th." jelas Ares.
"Kok elo tahu??" tatap Arin curiga.
"Ya gue nanya-nanya ke dia lah Rin. Basa-basi." Arin menatap kearah mata Ares. Arin sempat melihat senyum tipis Ares ketika mengatakan kata basa basi.. Senyum itu, senyum yang sama yang diberikan Ares ketika dia jatuh cinta pada Eve beberapa tahun silam..
"Kayaknya elo beneran jatuh cinta sama dia"
"Maybe." jawaban Ares membuat Arin tersenyum. Arin tahu, Ares menyukai wanita itu tapi Ares tidak mudah untuk mengungkapkannya.. "Gue nggak tahu apa yang gue rasain ke dia Rin.. pertama gue ketemu dia, ada kesan tersendiri. Dia kayak punya magnet yang kuat, yang menarik gue mendekat. Dan tadi saat dia bilang dia janda, gue terkejut Rin." Ares menghela nafas berat. "Gue takut dia belum siap memulai sebuah hubungan. Status dia yang adalah janda anak 1 sepertinya bakalan jadi tantangan tersendiri kalau gue bener-bener mengejar dia nantinya."
"Res, janda itu kan cuma status. Tidak ada wanita yang kepingin jadi janda. Apalagi menjadi janda karena sebuah penghianatan. Janda itu adalah wanita yang hebat, dia membesarkan putranya, bekerja untuk keluarganya, dll. Dia tegar, kuat, dan tangguh. Namun, hatinya tetaplah lembut. Perempuan tadi sepertinya patut untuk dilindungi. Kalau elo suka sama dia, KEJAR!! Sudah saatnya elo mikirin diri elo sendiri, dan nggak melulu ngurusin hidup gue yang kusut ini Res. Elo berhak bahagia. Dan gue rasa bunda bakalan seneng kalau elo pulang bawa dia sebagai calon mantu. bunda bukan orang yang membedakan status orang lain, buktinya bunda bisa menerima bang Aiden sebagai suami Mbak Jingga meski dia seorang duda. Malah dari bang Aiden, bunda dapat free 2 cucu. hehe.. Yang penting elo harus usaha. Deketin terus. Gue dukung."
__ADS_1
Ares tersenyum pada Arin.
"Gue harap langkah gue mudah. Karena hampir sama kayak mbak Jingga, deketin dia 'kan juga By One Get One.... langsung dapat bonus."
"Deketin dulu aja anak sama keluarganya." saran Arin
Ares tersenyum, "Dipikir nanti. Pulang yuk!! Gue takut Ken masih terus nyariin elo. Lagian, elo harus tidur yang bener-bener tidur. Semaleman elo nggak bisa tidur nyenyak"
"Pulang kerumah besar ya. Gue kangen bunda"
"Iya.. tadi bunda juga kirim pesan, minta anak gadisnya pulang kerumah"
"Udah nggak gadis Aresss... seneng banget bilang gue gadis. Laki gue bisa beneran murka kalau dia denger." Ares tertawa.
"Iya.. iya.. emak-emak anak satu" Ares kembali tertawa keras, namun hanya Arin balas tersenyum dan berjalan beriringan bergandengan tangan. Yang tidak tahu apapun, tetap akan mengatakan kalau Arin dan Ares pasti punya hubungan khusus. Padahal keduanya adalah kakak beradik, meski bukan kandung.
"Arin.. Ares." keduanya berhenti dan menoleh ketika ada yang memanggil..
...***...
Ceklek...
Pintu kamar mandi terbuka, terlihat Ares keluar dengan rambut basah. Terlihat lebih segar. Kedatangan wanita yang dipanggil Arin dengan sebutan mamah itu membuat kepulangan mereka tertunda. Jadinya mereka kembali keruangan sampai saat ini.
"Mau pulang apa nginep sini??" tanya Ares, pada kedua wanita yang masih betah berpelukan di tengah-tengah sofa. Mata wanita setengah baya itu bahkan masih terlihat merah karena menangis sejak tadi siang.
"Mah.. mamah pulang ya!" Arin menatap sendu wanita dihadapannya, ibu mertuanya. "Nanti dicariin papah..," namun wanita itu menggeleng dan memeluk Arin lagi dengan erat.
"Mamah disini aja, nemenin kamu. Baru hari ini mamah bisa keluar bebas dan nemuin kamu disini tanpa banyak pertanyaan. Maafin mamah sama papah ya nak." wanita itu kembali menangis. Membuat Arin ikut menangis lagi. Entah sudah berapa lama keduanya tidak bisa saling memeluk dengan bebas seperti sekarang ini.
__ADS_1
"Mah, Arin nggak apa-apa. Kondisi Leesha sudah stabil. Mamah pulang ya.. biar di anterin sama Ares sampai rumah. Arin nggak mau kalau papanya Aleesha nanti bertanya banyak hal kenapa mamah pergi nggak sama papah. Arin baik-baik aja mah, selama Leesha dan papanya juga baik-baik aja."
"Tan.. benar yang dibilang Arin. Tante pulang ya! Lagi pula disini nggak ada ranjang untuk tidur, nanti tante sakit kalau tidur sambil duduk.. Tante nggak perlu khawatir siapa yang akan nemenin Arin disini. Nanti biar Ares balik kesini nemenin Arin."
Mendengar bujukan Arin dan Ares juga mendapat pesan dihandphonenya yang menyuruhnya pulang, akhirnya mamah mertua Arin bersedia diantar pulang.
"Baiklah, mamah akan pulang. Tapi kamu harus janji untuk selalu sehat. Biar kuat jagain cucu mamah."
"Iya mah. Mamah tenang aja. Arin strong kok" jawab Arin dengan senyum tulus. Senyum yang ibu mertuanya bisa merasakan kalau senyuman itu adalah senyuman penuh kelalahan dan rasa sakit. Ibu mertuanya tahu, selama ini Arin berjuang sendiri tanpa bantuan dia dan suaminya. Yang notabe adalah kakek nenek dari Aleesha.
"Mamah dan papah masih berusaha untuk membuat Papanya Aleesha sadar Rin. Kamu yang sabar ya nak. Mamah mohon, kamu jangan bosan ataupun lelah. Mamah hanya mau punya mantu kamu bukan orang lain. Tolong bersabarlah sedikit lagi"
"Mah..arin nggak punya alasan untuk menyerah. Apalagi bosan dan lelah. Arin nggak akan kemana-mana mah.. Arin akan selalu disini untuk keduanya." Jelas Arin
"Makasih ya sayang" Arin memejamkan matanya ketika ciuman ibu mertuanya terasa dikeningnya.
"Tuhan.. tolong kembalikan semua seperti semula. Aku tidak akan sanggup lebih lama lagi melihat Arin seperti ini. Aku tidak ingin melewati batasanku."
Ares menatap nanar kedua wanita dihadapannya yang baru melepaskan pelukan.
"Mamah pulang ya"
"Hati-hati mah. Salam buat papah."
"Iya nanti mamah sampaikan ya"
"Res jaga mamah ya. Antar sampai rumah." pesan Arin.
"Okey.. elo juga hati-hati disini. Tidur aja, nanti gue balik kesini agak malam ya." Arin mengangguk dan sebentar melihat kepergian mereka.
__ADS_1
...■■■■■■■■■...