
Daisy sejak tadi mengoceh tidak jelas karena Ares yang tak kunjung kembali. Anaknya itu pamit untuk membeli buah dan bunga untuk dibawa ke rumah sakit. Ares memang mengajak dirinya untuk menemui cucunya, Aleesha, yang sampai saat ini masih harus dirawat dirumah sakit.
"Kenapa lama banget sih? Hanya beli bunga sama buah aja. Dasar Ares.. gini ini kalau punya anak bujang nggak kawin-kawin. Milih bunga sama buah aja kaya milih calon istri"Daisy melihat dari balik kaca mobilnya, Ares masih saja sibuk di toko buah seberang jalan.
"Mending nyusul. Kalau nggak, bisa besok lusa aku nenggokin Leesha."
Daisy nampaknya begitu terburu-buru dan rasa antusiasnya begitu tinggi. Dia benar-benar merindukan Aleesha. Karena selama ini hanya Ares dan Arin yang bisa menjenguk gadis kecilnya itu. Daisy berniat menyusul Ares ke toko buah, namun karena terburu-buru, Daisy sama sekali tak memperhatikan jalan ketika akan menyebrang.
Tinnnnnn....
"Akhh..."
"Nyonya Awasss"Sebuah tangan perempuan menarik tubuh Daisy tepat waktu. Namun, karena sama-sama menggunakan heels keduanya tersandung dan membuat keduanya sama-sama terjatuh ditrotoar jalan.
"Akh..."
"Nona, kau tidak apa-apa???" Daisy menatap khawatir pada gadis yang menyelamatkannya, karena gadis itu jatuh terduduk dengan tulang ekor menghantam trotoar sangat keras, ditambah tubuhnya yang sedikit berisi menimpa gadis bertubuh kurus dihadapannya ini.
"I.. iya nyonya.. Auhh.."
"Bunda..." Ares yang melihat Bunda~nya hampir saja tertabrak, langsung berlari menghampiri wanita yang sudah melahirkannya itu. Bahkan buah yang tadi dibelinya tak nampak dalam genggamanya.
"Bunda.. Bunda nggak apa-apa kan? Bunda mau kemana sih? Kan Ares udah bilang, tunggu di mobil aja" Dari nada bicaranya dia sangat khawatir.
"Bunda itu mau nyusul kamu. Soalnya kamu itu lama banget. Bunda tadi terburu-buru, jadi nggak lihat jalan. Untuk aja nona ini, sekarang dia yang sepertinya kesakitan.. Dia jatuh keras banget Res" Ares menoleh untuk melihat orang yang sudah membantu mamanya, namun betapa terkejut dirinya saat melihat gadis dihadapannya yang masih saja memegangi tulang ekornya.,
"Ana???" Ana juga merasa terkejut dengan kehadiran Ares, lebih terkejut lagi Daisy mendengar Ares menyebut nama wanita yang selalu diceritakan padanya.
"Astaga Ana, Bunda kita bawa dia kerumah sakit"
"Eh... iya. Angkat Res, biar segera ditangani. Bunda kabari Ben dulu" Daisy langsung mengambil handphonenya dan mengabari, Ben, salah satu dokter di rumah sakit tempatnya dulu bekerja.
"Ti..tidak...Akh..." Ana mencoba menolak tawaran Ares.
"Jangan cerewet dan jangan membantah. Kenapa setiap bertemu denganku kamu selalu terluka sih? Ayo bun!"
"Ma... maaf"
"Sudah jangan cerewet." Ana hanya bisa diam sambil menahan rasa sakitnya, dia menatap Ares dengan mata berkaca-kaca.
"Terima kasih"
__ADS_1
Ares menatap Ana hangat, "Ck... berhentilah berterima kasih. Dan jangan menangis! Aku tidak mau kau mengeluarkan air matamu lagi. Bisa-bisa air matamu kering, setiap saat terus menangis."
Ares menurunkan Ana di kursi belakang, yang sudah dibuka oleh Daisy. Mendudukan wanita yang diam-diam dikaguminya, disamping wanita yang menjadi cinta pertama dalam hidunya, sang bunda.
Ares menjalankan mobilnya dengan cepat tepat. Meski cepat dia tidak asal menyetir.
"Res..pelan-pelan saja!"
"Bun, kita harus segera sampai dirumah sakit"Suara kekhawatiran terdengar dari mulut dan cara bicara Ares, membuat bibir Daist tertarik membentuk seulas senyum tipis.
"Iya bunda tahu, tapi kalau kamu nyetirnya secepat ini dan nasib sial menimpa. Tidak hanya Ana yang bakalan di obati Ben, tapi bunda sama kamu juga. Bunda juga nggak mau urusan sama polisi karena kamu kebut-kebutan" Ares langsung mengurangi sedikit kecepatannya.
"Ana. Namanu Ana 'kan? apa sangat sakit??"
"Tidak nyo.. "
"Panggil tante aja ya. Jangan nyonya, saya bukan nyonya besar. Lagian panggilan tante, itu terdengar lebih akrab"
Ana sedikit terkejut, dia sempat melihat arah depan dan menangkap gerakan mengangguk dari Ares yang mengisyaratkan padanya agar menuruti perkataan mamanya. "I.. iya tante"
"Terima kasih, karena kamu sudah menolong tante tadi. Kalau nggak ada kamu, tante nggak tahu akan seperti apa jadinya" Daisy mengelus rambut Ana penuh kasih sayang.
"Tidak apa-apa tante. Sebagai sesama manusia kita memang sudah seharusnya saling membantu. Dulu, Mas Ares juga sering ngebantu saya. Dan secara kebetulan, hari ini yang saya tolonh adalah mamanya Mas Ares." Ana merasakan kehangatan yang luar biasa dari elusan tangan Daisy yang ada dipucuk kepalanya.
"Tadi saya baru saja melamar pekerjaan di AKA Group, dan berniat kerumah sakit untuk menemui anak saya yang sedang dirawat di rumah sakit"
"AKA?? Res.. bukankah itu perusahaan milik Kenzhou yang didirikan bersamamu dan Arin??"
"Iya bun"
"Apa Kenzhou menerimamu" tanya Daisy lagi.
"Iya tante, saya diterima.."
"Syukurlah. Jadi Arin nggak harus kerja double kaya kemarin-kemarin. Aku kira Kenzhou masih mau keras kepala. Sejak tadi pagi, tidak ada pelamar yang menurutnya sesuai. Aku sampai jengkel. Syukurlah, kau diterima"
"Artinya itu adalah rejeki itu milik Ana. Dan rejekinya Arin juga. Jadi dia nggak terlalu capek. Bunda kadang nggak tega liat dia kelelahan. Ngomong-ngomong putramu sakit apa An??"
"Anemia Sickle Cell tan. Dan sekarang dirawat intensif di "Ana menundukkan wajahnya. Mengingat putra semata wayangnya, membuat ia kembali bersedih.
"Tenanglah, Tante yakin putramu akan segera sembuh. Bukankah, Dr. Andrew yang menanganinya??"
__ADS_1
"Tante mengenal Dr. Andrew"
"Sangat... dia putra adiku. Adik sepupunya Ares. Jadi kamu jangan khawatir ya. Andrew sangat kompeten, dia akan mengusahakan segala cara untuk menyembuhkan putramu." Genggaman tangan Daisy memberikan ia sebuah kekuatan.
"Amin,, semoga tante."
"Apa sudah ada instruksi untuk operasi sumsum??"
"Sudah, tapi saya belum memberikan keputusannya tante. Karena, hanya sumsum ayahnya saja yang cocok dengan sumsum Langit. Tapi, saat ini saya tidak tau dimana Ayahnya Langit tinggal"
"Apa tidak mau mencoba mencari donor dari luar??"
"Kemarin dokter Andrew mengatakan itu bisa jadi solusi lain kalau memang ayah Langit sulit untuk ditemui. Namun, saya tidak yakin ada orang luar yang mau membantu anak saya. Mana ada orang yang mau berkorban nyawa untuk orang lain." lirih Ana
"Pasti ada.. Kita sudah sampai" jawaban Ares mengalihkan fokus Ana dan Daisy. Mereka bahkan tidak menyadari telah sampai di RS karena terlalu larut berbicara.
Ares turun terlebih dulu, lalu membantu Ana. Ares sempat ingin menggendongnya laagi,, namun Ana menolak. Tidak nyaman dilihat banyak orang. Apalagi sudah ada suster dan seorang dokter yang menunggu kedatangan mereka dilobi, dengan membawa kursi roda. Bahkan mereka dengan sigap membatu Ana.
"Ben, tolong di cek detail ya. Tante takut ada yang retak. Soalnya tadi jatuhnya keras banget, ditambah ketimpa badan tante yang semok montok ini" Daisy meminta pada Ben, sambil bergurau.
"Iya tante. Tante tenang aja ya. .. Suster Diana, tolong bawa keruangan pemeriksaan ya."
"Baik dok"
"Na,, kamu tenang aja. Ben ini ponakan tante juga. Dokter Tulang paling best. Tante jamin kamu pasti sembuh" Ana hanya tersenyum canggung sambil mengangguk.
"Ya udah tan, tante sama Ares tunggu diruangan aku aja ya. Nanti, kalau hasil pemeriksaannya keluar aku temuin tante disana."
"Tante tunggu di kamar Aleesha aja ya... tante kangen soalnya"
"Oke deh tan.. nanti aku kesana" Mereka berpisah, Ana ikut dengan Dokter Ben dan suster Diana menuju ruang pemeriksaan. Sedangkan Daisy ditemani Ares menuju kamar tempat Aleesha dirawat intensif. Masih terlihat dari sudut mata Ana, banyak dokter-dokter yang menyapa Daisy dan Ares dengan akrab.
Setelah berpisah cukup jauh, Ben memecah keheningan dengan berkata.
"Terima kasih sudah menolong tante Daisy"
"Eh... i.. iya dok sama-sama. Mas Ares juga sudah sering membantu saya. Oya dok.. maaf kalau saya lancang bertanya. Sepertinya banyak dokter yang mengenal Tante Daisy disini"
"Tante Daisy itu dulunya dokter bedah senior disini. Beliau memutuskan untuk pensiun saat putrinya kecelakaan 3 tahun lalu. Lagipula, rumah sakit ini juga milik mendiang Om Herman, suami tante Desi."
"Astaga... ternyata mas Ares berasal dari keluarga yang sangat kaya. Apa pantas aku memiliki perasaan ini??? Rasanya kok tidak pantas."
__ADS_1
...●●●●●●●●...