The Secret Of My Heart

The Secret Of My Heart
Serpihan Ingatan


__ADS_3

Kenzhou nampak merenung di meja kerjanya. Sudah 2 hari dia kembali dari Bandung. Dan kemarin dia memutuskan untuk menemui Dokter Albert, salah satu dokter terbaik di Jakarta. Perkataan dokter Albert kemarin masih sangat mengganggu hatinya.


"Tuan Kenzhou menurut pemerikasaan disini, memang benar ada luka benturan di kepala tuan bagian kanan. Bahkan memar akibat benturan itu masih ada, bisa dibilang itu luka dalam. Dan, luka itu memang berpotensi menyebabkan anda kehilangan ingatan. Namun, saya tidak bisa mengatakan apakah saat ini tuan sedang amnesia atau tidak. Pasalnya, saya bukanlah dokter yang menangani anda ketika kecelakaan. Saran saya, lebih baik anda bertanya kepada dokter yang dulu menangani anda. Untuk mengetahui seperti apa kondisi anda sebenarnya"


"Arrggghh...dokter Albert malah bikin gue semakin penasaran. Bagaimana gue bisa tahu, kalau semuanya seakan menutupi kondisi gue saat ini.. Gue nggak mungkiin tanya mama sama papa. Apalagi Rui sama Kei. Gue juga nggak mungkin nanya sama Arin. Kejadian pas ulang tahun gue kermarin aja dia masih menutup-nutupi.... Akhhh siall" Kenzhou mengacak-acak rambutnya frustasi.


"Elo kenapa Ken??" Kenzhou menoleh kesumber suara, dilihatnya Ares sudah duduk santai diaras sofa ruang kerjanya.


"Sejak kapan elo disitu??!"


"Ck... ditanya malah balik nanya??? Gue disini sejak elo ngacak acak rambut elo jadi kaya singa kagak sisiran." canda Ares "Kenapa sih??"


"Lagi pusing aja gue..."


"Pusing?? Mikirin apaan?? Tender udah goal, tinggal eksekusi lapangan 'kan??"


"Bukan soal kerjaan Res"


"Trus?"


"Soal gue sama Arin"


"Elo sama Arin?? emang lo sama Arin kenapa?? Elo lagi berantem sama Arin?? Perasaan kemarin-kemarin masih baik-baik aja" tanya Ares keheranan


"Gue sama Arin nggak lagi berantem Res.. cuma.." Kenzhou menggantungkan ucapannya.


"Apa sih Ken?? Jangan bikin gue mati penasaran. Gue belum kawin" canda Ares


"Res"


"Hem.. apaan sih??" Ares menggumam sambil membaca majalah bisnis dihadapannya.


"Please jujur sama gue!"


Ares menoleh dan mengerutkan dahinya heran, "Jujur masalah apa Ken?? Gue nggak pernah bohong sama elo"


"Tentang masalalu gue"


"What???Masalalu lo? Masa lalu yang mana Ken???"


"Ya semuanya. Apa gue punya hubungan dengan seseorang sebelum kecelakaan?"


"Hahahaha" diberi pertanyaan, Ares justru tertawa keras, "Ken, elo itu playboy. Kalau cuma cewek, sebelum kecelakaan 100 cewek bisa elo pacarin dalam setahun.. semua orang tau itu Ken."


"Haishh...bukan itu."


"Lalu?,"


"Apa gue punya hubungan sama Arin sebelum kecelakaan itu?"


"Lah.. kok elo nanya itu ke gue??? kan elo yang ngejalanin. Elo nggak lagi amnesia kan Ken?? Emang menurut lo hubungan kaya apa yang lo jalani sebelum ini sama Arin?? Kalian 'kan sahabatan.."


"Gue merasa kalau gue amnesia Res. Gue kaya nglupain separuh kehidupan gue."


Ares menggaruk-garuk rambutnya yang tidak gatal, "Gue mesti jawab apa ini??? kalau gue jujur, Arin bakalan ngamuk. Kalau gue nggak jujur, sampai kapan rahasia ini bakalan terus tersimpan??"


"Res"

__ADS_1


"Ehmm... gimana ya Ken?? Elo sendiri kenapa berpikiran kalau elo lagi amnesia??" hanya pertanyaan itu yang sekarang terpikir dalam otak Ares.


"Elo inget hari ulang tahun gue kan?."


"Ya... trus hubungannya?"


"Gue ketemu seseorang hari itu. Tepat sebelum gue pulang kerumah"


"Siapa yang elo temuin??" hati Ares mendadak tidak enak, karena ada banyak orang dimasa lalu yang jelas tahu kisah Kenzhou dan Arin.


"Jihan Andela"


Deg...


Jantung Ares berdetak lebih kencang dari yang tadi. Salah satu nama yang Ares saangat mengenalnya. Wanita itu, adalah sahabat baik Arin ketika di dunia modelling.


"Jihan bilang, kalau gue sama Arin itu adalah sepasang suami istri. Udah nikah. Itu semua bener nggak sih Res?? Please Res, tolong jujur sama gue. Apa iya Arin itu istri gue?" tanya Kenzhou


"Dan elo percaya sama apa yang dibilang Jihan.. Jihan itu??" tanya Ares


Kenzhou diam dan menunduk, "Gue nggak tahu dan gue nggak yakin" jawaban itu jujur dari dalam hati Kenzhou. Dia memang tidak yakin, karena dia tidak merasakan apapun ketika bersama Arin.


"Ken.. elo tau nggak? Elo itu aneh. Keluarga elo aja sering banget nggak elo percayain. Sekarang omongan orang yang nggak elo kenal, bikin elo kepikiran.. Sudahlah nggak usah mikirin hal yang aneh-aneh. Dan kalau misal, emang Arin itu istri elo. Trus elo mau ngapain??" Ares memancing perasaan Kenzhou. Dia ingin tahu, disisa ingatan Kenzhou apa perasaan untuk Arin itu masih ada.


"Nggak tahu Res. Gue bahkan nggak ada pandangan apa-apa. Elo tahu siapa wanita yang gue cintai. Elo tahu saat ini gue berjuang mati-matian agar pantas bersama Maira. Dan gue masih bakal setia nungguin dia. Dan Arin, setiap dekat sama dia gue nggak merasakan sesuatu yang berlebihann. Semua biasa aja. Sesuai porsinya.


Ares menghela nafas pelan, "Ya udah lah... kalau emang elo nggak merasakan apa-apa, lebih baik nggak usah elo pikirin kata-kata si Jihan. Itu cuma bakan bikin kesehatan elo menurun. Udah lah.. gue mesti balik. Ada urusan"


"Ya...hati-hati"


Ares hanya mengangguk dan berjalan meninggalkan Kenzhou.


"Ehm..."Kenzhou menatap punggung Ares yang berada diambang pintu.


"Kalau elo merasakan sakit ketika mengingat dengan otak lo, cobalah mengingat dengan hati lo." Setelah memngucapkan kata itu Ares meninggalkan Kenzhou dengan kebingungan lagi.


***


Siang itu saat jam makan siang, Kenzhou memilih untuk menemui Arin. Entah sudah sejak kapan dia tidak pernah datang kerumah sahabatnya itu. Mungkin terakhir 2,5th yang lalu, saat dia berniat mengajak Arin membeli cincin untuk melamar Maira.


"Siang bik Lastri?? Arin nya ada??" Kenzhou menyapa dengan senyum, wanita paruh baya yang sering membantu Arin dirumahnya ini.


"Ada den, non Arin ada dikamarnya. Sepertinya tadi bersih-bersih kamar"


"Kalau gitu, boleh donk Ken langsung keatas???"


Bi Lastri tersenyum saat mendengar pertanyaan Kenzhou. "Ya ampun den, nggak usah minta izin atuh den. Tanpa izin pun aden bebas mau keluar masuk rumah ini"


Sebenarnya Kenzhou ingin bertanya tentang apa maksud dari ucapan bik Lastri itu, namun wanita itu telah berjalan kembali kearah dapur. Dengan santai Kenzhou menuju lantai 2 dimana kamar Arin berada.


"Arin.. Arin?? Elo didalem???" tidak ada jawaban dari dalam kamar Arin.


klekk...


"Nggak dikunci??? Tapi kok sepi??? Kemana dia??" Telinga Kenzhou mendengar gemericik air dari arah kamar mandi membuat dirinya tersenyum.


"Sedang mandi rupanya"

__ADS_1


Kenzhou memutuskan untuk masuk kedalam kamar dengan nuansa hitam tersebut.


"Sejak kapan Arin suka warna-warna monochrome kaya gini?? Perasaan dulu, kamar ini warnanya Pink."


Kenzhou berjalan semakin dalam ke kamar Arin. Ada rasa rindu yang menjalar kedalam seluruh tubuhnya ketika dia menatap setiap detail kamar tersebut.


"Chanel No. 5"


Kenzhou spontan mengucapkan nama salah satu parfum terbaik wanita ketika dirinya mencium aroma kamar ini.


Dirinya merasakan sangat nyaman ketika menghirup perpaduan aroma vanilla, may rose dan jasmine. Kenzhou merasakan dipeluk hangat oleh bayang-bayang Arin.


Kenzhou mendudukkan tubuhnya diatas ranjang Arin, bibirnya tak pernah berhenti untuk tersenyum.


Srettt


"Apa ini" Kenzhou merasakan tubuhnya menduduki sesuatu, seperti sebuah foto tanpa figura. Foto itu memperlihatkan gambar antara dirinya dan Arin, yang berpose mesra..


"Kapan gue sama Arin foto kayak gini ya?? Gue kok nggak pernah merasa kita foto beginian??" Ken membalikkan foto tersebut dan mendapati sebuah tulisan.


POST WEDDING PHOTOSHOOT, 10 FEBRUARY 2017.


HAPPY BIRTHDAY HONEY


"I.. ini?? Akh...."Kepala Kenzhou mendadak sakit, ada beberapa potongan gambar masa lalu yang berputar didalam ingatannya. Kenzhou sampai harus memejamkan matanya menahan rasa sakit tersebut, namun dia justru melihat bayangan dirinya dan Arin tertawa bersama seperti berada dalam studio pemotretan.


"A...apa itu tadi.?? Ke..kenapa memory itu ti..tiba-tiba muncul?? Apa jangan-jangan ini...?? Ya tuhan, apa benar foto ini adalah foto setelah pernikahaku dengan Arin?? Sejauh itukah hubungan kami?? Tapi kenapa, kenapa gue nggak mengingat apapun?? Kenapa hanya bayangan gue melakukan pemotretan ini bersama Arin yang muncul?? Kenapa?? Kenapa nggak seluruh ingatanku tentang semua ini??" Kenzhou memegang foto itu dengan erat, setetes airmatanya turun. Bukan hanya karena rasa sakit yang tadi tiba-tiba menyerang dirinya, namun juga karena dia merasa takut dan bersalah pada Arin.


Klek...


Pintu kamar mandi terbuka, Kenzhou buru-buru mengembalikan foto itu ketempat asalnya, tak lupa ia menghapus airmatanya.


"Astaga.. Kenzhou?? Ngapain elo disini?!" Arin terkejut melihat Kenzhou duduk diatas ranjangnya.


Kenzhou masih menatap Arin tanpa berkedip. Membuat Arin merasa risih dan aneh dengan tatapan Kenzhou. Arin bahkan sampai meneliti tubuhnya sendiri.


"Apa ada yang salah sama gue ?? kayaknya nggak deh, bukan hal aneh kan kalau gue oake hot pants sama Tshirt?? Bukannya Ken udah pernah liat gue pake baju lebih **** dari ini?Ehh...mau apa si Ken, kok kesini?"


Arin berjalan mundur ketika Kenzhou berjalan maju mendekat kearahnya masih dengan tatapan tajam.


"Ken... e.. elo mau apa?? Jangan macem-macem ya Ken" Kenzhou tak bergeming dia justru menarik Arin kedalam pelukannya, membuat Arin semakin tersentak kaget.


"Yaakk..Ken.. elo mau apa? Lepasin gue !!"Tidak peduli dengan teriakan dan penolakan Arin, Ken tetap memeluk dan menyandarkan seluruh tubuhnya pada tubuh Arin.


"Biarin kayak gini dulu Rin.. Gue capek"Suara serak Kenzhou membuat Arin berhenti meronta. Sekarang bahkan dia membalas pelukan Kenzhou dan mengusap lembut punggung bidang milik Kenzhou.


"Elo kenapa? Ada masalah??" Kenzhou menggeleng, "Jangan buat gue khawatir Ken?? Bilang, kenapa??"


"Nggak ada apa-apa Rin.. tapi biarin sebentar aja"Permintaan Kenzhou membuat Arin terdiam.


"Kenapa nyaman banget Rin?? Kenapa?? Apa tubuh dan raga ini yang batinnya udah gue lukai?? Tuhan, kumohon jika memang aku kehilangan memoryku, kembalikan semuanya seperti sedia kala. Kumohon. Aku tidak ingin menyakiti dia lebih lama lagi" Kenzhou menghapus airmatanya dan melepas pelukan Arin.


"Sumpah.. elo bikin gue takut Ken." Kenzhou tersenyum miring menanggapi kejengkelan Arin, "Gue mending elo mencak-mencak ketimbang mode melow gini. By the way, ngapain elo kesini?? Gue lagi cuti lho ini Ken... lho gak ada nyuruh gue buat kerja kan???"


"Ck... cerewet banget sih Rin" Kenzhou tersenyum gemas dan mengacak-acak rambut Arin, "Gue kesini mau numpang tidur sekalian numpang makan siang. Buatin gue makan gih!"


"Hah..." Arin melongo mendengar jawaban Kenzhou.

__ADS_1


●●●●●●●●●


__ADS_2