
"Dasar Kenzhou... seenaknya aja ninggalin gue disana. Belanjaan juga ditinggal gitu aja. Sebenarnya siapa wanita yang dimaksud karyawan outlet tadi?? Sampai Kennzhou setega itu ninggalin gue?? Aishhh... Kenzhou, seharusnya kalau dia mau ninggalin gue, setidaknya dia bawain barang-barang gue.. Dasar suami lucknut" Arin terus saja mengerutu meski telah sampai didalam kamar hotel tempatnya menginap. Dia masih tak habis fikir, kenapa Kenzhou meninggalkan barang belanjaannya begitu saja. Dia jadi penasaran sebenarnya siapa wanita yang ditemui Kenzhou, sampai dia jadi semenjengkelkan itu.
Tok.. Tok.. Tok..
"Ahh..itu pasti dia. Awas aja!!" Arin membuka pintu kamarnya, dan benar saja dia mendapati Kenzhou berdiri di depan pintu dengan nafas terengah-engah seperti habis berlari jarak jauh.
"Rin... maaf.. Please!!" Kenzhou meminta maaf dengan nafas yang masih ngos-ngosan. Arin cuek, hanya diam dan masuk begitu saja. Dia benar-benar sedang jengkel. Bagaimana tidak Jengkel, jika suaminya meninggalkannya di pusat perbelanjaan dan pergi dengan wanita lain. Suami?? Ahh.... Arin rasanya ingin mengatakan sebutan itu setiap saat. Tapi apa daya..
"Ayolah, Rin, ma...maafin gue. Gue beneran lupa" mimik memelas terlihat diwajah Kenzhou.
"Elo lupa sama gue nggak masalah Ken. Gue bisa pulang naik taksi atau tuktuk. Tapi elo ninggalin semua barang belanjaan gue didepan outlet gitu aja. Untung pegawainya baik hati. Kalau nggak terus barangnya ilang, elo mau ganti?? Gue beli pakai uang bukan daun" Emosi Arin meledak-ledak.
"Maaf Rin." sesal Kenzhou
"Sebenarnya elo ketemu sama siapa sih? Kata mbak-mbak penjaga elo pergi sama cewek."
"Kalau Arin tahu gue pergi bersama Maira, bisa-bisa dia bakalan makin ngamuk. Aishh...gimana ini??? Masa gue harus bohong"
"Heh..kenapa elo diem?? Gue jadi..."
"Ta...tadi gue ketemu temen gue SMP. Udah lama banget gue sama dia nggak ketemu. Makanya tadi gue excited banget. Apalagi pas dia ngajakin gue makan siang. Karena gue laper, jadinya gue langsung iyain aja. Kan lumayan gue dapat makan siang gratis. Hehe.. dia laki-laki Rin, bukan perempuan" Arin menatap Kenzhou dengan pandangan tidak percaya.
"Laki-laki??? Tapi penjaga outlet tadi bilang elo pergi sama cewek. Jangan coba-coba bohong ya Ken. Gue tahu"
"Serius Rin.. Gue nggak boong. Dia laki-laki tapi... em you know lah disini... " Kenzhou memberikan tanda kutip dengan jarinya untuk kalimat terakhir. Dan Arin langsung bergidik. Tidak membayangkan seperti apa orang yang disebut Kenzhou dengan teman itu.
"Mudah-mudahan Arin percaya"
"Aishh....Ya udah balik sana. Gue mau tidur. Ngantuk, capek. Gue butuh ngumpulin tenaga sebelum pestanya Noy nanti malem. Mana gue laper banget lagi. Huh... gara-gara elo gue gak jadi makan siang" Gerutu Arin sambil berbalik kearah tempat tidur namun tangannya di tahan Kenzhou
__ADS_1
"Apalagi sih Ken?? Gue capek"
"Jadi elo belum makan siang??"
"Ck.. ya belum lah. Elo ngilang, emang gue kepikiran buat makan?? Ya nggak lah. Gue nyari elo keliling, tahunya yang dicariin dapat makan siang gratis" Arin sedikit emosi, tapi dia sudah malas dan pengen cepet tidur.
"Ayo makan, gue temenin. Atau gue pesenin dari restaurant bawah??" Kenzhou menarin tangan Arin.
"Gue nggak napsu. Mending elo balik sana"
"Rin.."
"Apalagi????" Arin sudah benar-benar kesal saat ini.
"Maaf..."
"Iya...sudah sana keluarrrr..." Arin mendorong Kenzhou keluar dari kamarnya.
"Iya..iya..Nyonya besar. Aishh..."
"Maafin gue Rin.. gue udah bohongin elo."
Kenzhou berlalu, kembali ke kamarnya sendiri, yang hanya berjarak 2 pintu dari kamar Arin.
Pikirannya masih tertuju pada pertemuannya dengan Maira yang terjadi tanpa disengaja, beberapa jam yang lalu. Dirinya membaringkan tubuhnya diatas ranjang dan menarik selembar foto dari dalam dompet miliknya. Foto kebersamaan dirinya dengan Maira. Entahlah... meski dirinya mulai ragu dengan perasaannya pada Maira karena omogan-omongan dan bukti yang menyatakan kalau dirinya adalah suami Arin, tapi melihat gadis itu lagi membuat jantungnya berdebar lebih kencang.
"Kamu yang hari ini dan 3 th lalu benar-benar berbeda Mai. Style dan penampilanmu benar-benar berubah. Aku tidak menyangka, waktu 3 th cukup untuk membuatmu berpenampilan layaknya wanita dewasa. Tapi kecantikanmu tidak pernah berubah. Hanya saja, sayangnya keputusanmu yang lalu sama sekali belumlah berubah. Hahhh...andai kamu tahu Mai, aku benar-benar sangat mencintaimu. Kuharap dimasa depan nanti jika Tuhan memberikan kita kesempatan, aku ingin kita bisa hidup bersama." Sadar atau tidak, Kenzhou benar-benar mengharapkan hidup bersama Maira.
...***...
__ADS_1
"I Miss You honey!!" Maira, wanita itu baru saja kembali ke kamar hotelnya. Memeluk tubuh kekar seorang pria dari arah belakang, yang tak lain adalah suaminya sendiri. Kepalanya dia sandarkan penuh kemanjaan dipunggung Mario. Tangan kananya ia susupkan kedalam kemeja sang suami, membelai abs milik lelakinya tersebut.
"Ahh... baiklah Fai. Aku dan istriku akan dengan senang hati datang. Sampai jumpa nanti malam" Mario mengakhiri sambungan teleponnya dan menarik tubuh Maira kehadapannya. Lalu memeluknya erat.
"Kamu benar-benar nakal Maira."
"Aku tidak melakukan apapun." Maira berkata tanpa dosa, "Aku hanya memeluk suamiku. Kamu terlalu sibuk dengan teleponmu sampai tak melihatku kembali"
"Maafkan aku sayang. Aku baru saja menerima telepon dari Fai. Salah satu rekan bisnisku. Mumpung kita ada disini, dia meminta kita berdua untuk hadir di pesta ulang tahun putrinya" jelas Mario.
"Fai? Apa maksudnya Anatachat Vajilakorn?? Suaminya Serena Amanda?" Mario mengangguk,
"Kamu kenal??"
"Hanya Serena~nya aja. Itupun nggak akrab. Tapi aku nggak nyangka, kamu kenal akrab dengan pebisnis kelas kakap seperti Fai"
"Hahaha" tawa Mario pecah, tentu saja siapapun tak kan menyangka kalau dirinya bisa akrab dengan Fai, bahkan dirinya sendiri. Level bisnis mereka berbeda jauh.
"Oya...aku akan mengenalkanmu dengan pemilik AKA Group. Perusahaan baru yang belum ada 5 tahun, tapi sudah berasa satu level dibawah kerajaan bisnis Fai. Malam ini dia akan hadir juga dengan istrinya. Seorang model ternama. Kamu bisa kenalan sama dia, dan bertanya soal dunia fashion"
"Wah...Wah... aku jadi tidak sabar untuk bisa bertemu dengan teman-temanmu itu"
"Sekarang istirahatlah, masih ada waktu untuk tidur sejenak. Kalian pasti lelah."Belaian tangan sang suami pada perutnya membuat Maida sangat nyaman, dan terasa mengantuk.
"Ehmm...temani.." Maira menggelendot manja dilengan kiri suaminya. Tangan kanannya kembali sibuk bermain didalam kemeja lelakinya itu.
"Jangan memancing gairahku, Mai. Kamu tahu, aku tidak bisa bermain soft. Aku tidak ingin menyakiti kalian.". Mario melihat Maira dengan tatapan penuh gairah. Namun juga menahan diri.
"Aku sedang ingin yang hard sayang" bisik Maira tepat disamping telinga Mario
__ADS_1
...#########....