
"Mas bangun.. tolong mas. Ini sakit.."
"Siapa kamu??"
"Mas tolong!!! Bangun mas!! Jangan tinggalin kita mas."
"Siapa kamu?? Kamu dimana??"
"Mas kumohonn...."
"Arghhhhh..." Kenzhou terbangun dari mimpi buruknya. Mimpi yang selama sebulan terakhir ini selalu mendatanginya. Nafasnya terengah-engah, peluh membasahi seluruh tubuhnya. Tubuhnya gemetar, tangannya bergerak perlahan meraih segelas air putih disamping ranjang dan meminumnya hingga habis. Kenzhou masih mencoba menormalkan detak jantungnya yang berpacu begitu cepat.
"Siapa mereka?? Kenapa akhir-akhir ini gue sering banget mimpiin mereka?? Siapa wanita itu dan siapa anak kecil itu?? Wajahnya sama sekali nggak kelihatan, tapi mereka kelihatan butuh banget bantuan gue. Mereka berlumuran darah. Teriakan mereka rasanya menyakitkan untuk di dengar, rasanya ulu hati gue sakit banget. Gue harus bisa menginggat mereka, siapa sebernarnya mereka? Dan apakah gue punya hubungan dengan mereka berdua? Apa ada sesuatu yang gue lupain karena kecelakaan 3th yang lalu??Gue ngerasa, gue nggak nglupain apapun. Gue ngerasa kalau gue inget semuanya. Apa mereka korban yang gue tabrak?? Ta.. akh..." Kenzhou tiba-tiba memegang kepalanya yang mendadak terasa nyeri. Rasa sakit ini selalu datang setelah Kenzhou terbangun dari mimpinya dan mencoba mengingat-ingat sesuatu.
"Tuhan, tunjukan padaku siapa sebenarnya mereka. Aku tidak ingin menyakiti seseorang karena melupakannya. Atau kalau memang mereka adalah korban, izinkan aku bertemu mereka untuk meminta maaf atas kelalaian ku." Kenzhou menatap jam di samping ranjangnya, saat ini jam masih menunjukan pukul 02.30 dini hari. Dia kembali membaringkan tubuhnya keranjang mencoba kembali memejamkan matanya, namun nihil, matanya tak mau terpejam.
To : My Love
Besok datang keruangan gue pagi-pagi ya Rin. Ada yang mau gue yanyain ke elo.
Kenzhou mengirimkan pesan pada Arin, tidak berharap dibalas, karena ini masih sangat pagi. Namun, setidaknya Arin akan membaca pesannya ketika terbangun.
ting..
Bunyi notifikasi lesan membuat Kenzhou terkejut. Lebih terkejut lagi ketika mendapati Arin membalas pesannya
^^^From : My Love^^^
^^^Ada apa Ken??^^^
To : My Love
Elo udah bangun?? Atau belum tidur??
__ADS_1
^^^From : My Love^^^
^^^Gue bangun karena kelaparan. Elo mau ngomong apa emangnya?? Penting banget?^^^
To : My Love
Besok aja. Kalau udah selesai buruan tidur lagi. Nggak lagi nginep di rumah Ares kan??
^^^From : My Love^^^
^^^Nggak kok. Bobok dirumah^^^
To : My Love
Ya udah.. gue mau tidur lagi. Ngantuk.
^^^From : My Love^^^
To : My Love
Besok aja gue cerita. See you
^^^From : My Love^^^
^^^Oke. See you^^^
Setelah mengakhiri Chattingan dengan Arin, Kenzhou mencoba kembali memejamkan kedua matanya. Kali ini tak sesusah biasanya, dia langsung kembali tertidur.
***
Arin menatap pria dihadapannya dengan tatapan heran. Sejak tadi pagi datang kekantor, Kenzhou hanya diam nampak memikirkan sesuatu. Padahal pria itu sendiri yang meminta padanya untuk datang pagi-pagi ke kantor karena ada yang ingin ditanyakan. Tapi sekarang, pria dihadapannya itu justru hanya diam saja.
"Ken elo nyuruh gue pag-pagi kesini buat apa sih?? Liatin elo ngelamun?? Semalem elo bilang mau bicara, sekarang malah diem aja. Udah 2 ja gue ngeliatin elo cuma diem aja. Ayolah Ken.. gue banyak kerjaan. Kalau elo masih diem aja, gue balik ke ruangan gue. Nggak ada faedahnya gue dari tadi cengo disini. Sedangkan kalau gue ngerjain laporan, pasti udah dapet 3 map." Arin mulai terlihat kesal, dia sudah mulai beranjak untuk meninggalkan ruangan Kenzhou. Pekerjaannya sudah menumpuk menunggu untuk dikerjakan.
__ADS_1
"Rin..." Arin berhenti lalu membalikkan badannya, raut wajahnya seolah berbicara "Akhirnya elo bicara juga!"
"Kenapa??" Arin kembali duduk di sofa ruangan Kenzhou dan menatap pria yang kini semakin terlihat gagah itu dengan serius.
"Rin, apa elo bisa bantu gue buat ceritain semua masa lalu gue?" tubuh Arin menegang ketika Kenzhou mengungkap alasan kenapa menyuruhnya datang pagi-pagi keruangannnya. Tubuhnya bergerak gelisah, dia takut dan tak tahu harus berkata apa.
"Masa lalu?? Ma..masa lalu yang mana???"Tubuh Arin benar-benar bergetar, raut wajahnya berubah pucat.
"Sebelum kecelakaan!"
"Sebelum kecelakaan??? Bukannya Ares udah cerita? dan lagi pula bukannya elo ingat semuanya?? Kenapa elo malah nanya ke gue sih??" Arin mencoba menutupi kegugupannya.
"Gue ngerasa ada yang aneh. Hampir tiap malam selama sebulan ini gue mimpi aneh.. Gue disamperi perempuan dengan anak kecil yang meminta tolong. Hati gue selalu ngerasa sakit ketika mendengar jeritannya, tapi gue nggak bisa mengingat apapun tentang mereka. Apa gue pernah memiliki seseorang dimasalalu, ahhh...maksudku sebelum kecelakaan itu, apa dia sedang berhubungan dengan seseorang?? Tapi kenapa gue sama sekali tidak mengingatnya. Kalau elo tahu sesuatu, tolong katakan Rin! Gue nggak mau nyakitin sesorang karena gue nggak inget apa-apa."
Setetes airmata bening jatuh membasahi pipi Arin, namun ia buru-buru menghapusnya. Dia tidak ingin Kenzhou melihat airmatanya dan semakin bertanya yang dia sendiri tak tahu harus menjawab apa.
"Mungkin itu hanya halusinasi elo aja. Mungkin elo kecapean. Jangan berfikir macam-macam, kecelakaan itu nggak mengakibatkan apapun, karena hanya kecelakaan kecil. Toh, itu hanya mimpi, kenapa elo mikirnya sampai kayak gini??" Arin mencoba membuat Kenzhou melupakan pertanyaannya,
"Iya, gue tahu ini memang cuma mimpi. Tapi kayak nyata Rin. Ulu hati gue selalu merasakan sakit. Gue benar-benar penasaran. Dan ingin mencari tahu" Kenzhou adalah orang yang kekeh dengan keinginanya, dia benar-benar nampak frustasi mencoba mengingat masalalunya.
Arin berjalan mendekat kearah Kenzhou dengan gemetar, tanganya berkeringat sangat basah. Dia memegang pundak Kenzhou, membuat Kenzhou menatapnya. Senyum cantik tergambar di bibir Arin membuat hati Kenzhou menghangat.
"Ken, udah ya. Jangan maksain buat mengingat sesuatu kalau elo nggak mampu. Lagipula nggak ada yang perlu elo ingat semua akan kembali pada tempatnya ketika waktunya sudah tiba. Percaya sama gue, semua akan baik-baik saja."
Kenzhou mengkerutkan dahinya bingung,
"Maksud elo??"
Arin tersenyum, "Nggak ada. Elo itu cuma kecapean karena sejak perusahaan berkembang pesat elo jarang istirahat. Ambil cuti dulu sana buat ngecharge energi. Biar segar lagi. Ya udah.. gue balik ke ruangan ya. Pekerjaan gue udah numpuk banyak banget. Jangan lupa, siang ini elo ada meeting dengan Mrs. Han dari GAIN Group. Jangan sampai telat, semua berkas sudah ada didepan elo. pelajari dengan benar. Dan..gue mohon, please elo cari sekretaris. Gue udah ggak sanggup kalau harus menjadi Account Manager sekaligus sekretaris elo. Cha..gue pergi dulu. Bye.." Arin meninggalkan ruangan Kenzhou dengan lelehan airmata yang sudah sejak tadi dia tahan.
"Kenapa gue ngerasa ada sesuatu yang disembunyikan Arin. Tapi apa?? Ahh .. sudahlah" Kenzhou memandang tumpukan berkas dihadapannya, dia menghela nafas dan mulai mengerjakan dan mempelajari berkas itu dengan baik. Dia tidak akan mengecewakan siapapun yang telah membantu membangun bisnisnya. Dia bertekad untuk memenangkan tender pertamanya dengan perusahaan international, GAIN group.
...■■■■■■■■■...
__ADS_1