
Pagi ini Ares sedang jalan-jalan santai sambil joging ditaman dekat rumahnya.. Sudah lama sekali dia melupakan rutinitas rutin yang selalu dia lakuman sejak kecil. Mungkin sudah hampir 3 bulan terakhir dia tidak pernah melakukannya. Selain sibuk mengurus kuliah Masternya yang sebentar lagi usai, dia juga sibuk mengurus perusahaan milik almarhum ayahnya, menggantikan sementara kakak tertuanya Mars Adromeda. Mars saat ini sedang berada di Belanda menemani sang istri, Liliana, yang sedang menunggui ayahnya berobat.
bruk..
"Aww..."Seorang gadis jatuh terduduk dihadapan Ares, bukan karena tertabrak tubuh besar Ares namun terpeleset kulit pisang yang entah siapa yang membuangnya.
"Mbak... mbak nggak apa-apa?" Ares reflek membantu gadis didepannya.
"Ah..nggak apa-apa mas. Cuma shock sedikit. Lagian siapa sih yang ngebuang kulit pisang disini." Gadis dihadapan Ares menggerutu sambil menahan rasa sakit. Membuat Ares tersenyum kecil ketika melihatnya.
"Cantik!"
"Tapi sepertinya kakimu tidak dalam keadaan baik. Apa sakit??" dia mengangguk, "Ayo... kubantu bangun." Ares mengulurkan tangan, gadis itu mengangkat wajahnya. Tatapan matanya bertemu dengan tatapan mata hazel milik Ares. Ares memang bukan asli orang Indonesia, ada darah Jerman di dalam tubuhnya. Yang membuat dia memiliki mata Hazel yang indah, seperti mata almarhum kakeknya dari pihak ibu.
"oh.. my god. kenapa dia ganteng banget"
"Benar-benar cantik"
Ares membantu gadis itu tanpa melepas pandangannya, gadis itu pun juga tak melepas pandangannya pada Ares.
"Kemarikan kakimu"
"Hah?"
"Kemarikan kakimu. Aku ingin melihatnya. Takutnya ada retak." Dengan sungkan gadis itu menaikan kakinya keatas pangkuan Ares.
"Astaga aku ini siapa?? sampai ada pria setampan ini begitu peduli padaku."
"Sepertinya hanya keseleo... apa kamu bisa menahan sakit sebentar."
"Ehmm... a.."
"Tahan ya..."
klekk..
"IBUUUUUU...." Gadis itu menjerit kencang ketika kakinya ditarik oleh Ares dengan sekali tarikan kencang. Bunyinya saja membuat ngilu apalagi rasanya. Bahkan airmatanya sampai menetes dipipi cantiknya. "Hiks... sakitt"
"A...apa saya terlalu kencang menarik kaki kamu???" Gadis itu mengangguk. "Sakit banget??" dia mengangguk lagi. "Sekarang coba kamu gerakan... pasti udah enakan kok. Tenang, saya tidak sedang melakukan malpratik kok" Ares mencairkan suasana dengan guyonan garingnya, dan gadis itu berhasil tersenyum meski tipis.
Lalu kaki gadis itu bergerak-gerak kecil lalu sedikit lebih keras dan lebih keras. "Bagaimana?"
"Ahh... rasanya tidak sakit lagi. Lebi baik dari yang tadi. Terima kasih.. eh... saya harus manggil apa ya.. dari tadi saya belum tau siapa nama mas?" Gadis itu bertanya, karena dia sama sekali tidak tahu bahkan belum pernah melihat Ares sebelum-sebelumnya.
"Nama Saya Antares, Galaxy Antares. Panggil saja Ares. Kalo mbak sendiri namanya siapa??" Ares mengulurkan tangan pada gadis itu.
"Saya Berliana, panggil saja Ana." Ana membalas uluran tangan Ares dengan lembut, "Sekali lagi saya ucapkan terima kasih karena Mas Ares sudah membantu saya. Kalau nggak ada mas Ares, nggak tahu gimana kaki saya."
"Sama-sama. Tidak perlu minta maaf. Kebetulan saya sedang jogging, saya nggak mungkin membiarkan orang lain terluka." Ares tersenyum. Senyum memikat yang bisa meluluh lantahkan hati siapapun.
"Ibu... kenapa dia ganteng banget. Ya Tuhan... betapa beruntungnya pemilik hati pria ini"
"Mas Ares baru ya di daerah ini?? Saya nggak pernah lihat??" tanya Ana
"Saya sudah tinggal disini sejak kecil. Dulu sering Jogging, tapi udah 3 bulan terakhir ini lagi males-malesnya karena terlalu banyak pekerjaan. Kamu sendiri, asli sini juga??"
__ADS_1
"Bukan mas. Saya cuma kebetulan jualan diujung sana!" Ana menunjuk kearah stand makanan dan minuman yang berjarak tidak jauh dari tempat sekarang mereka duduk.
"Itu makanan tradisional???" tanya Ares, Ana mengangguk. "Apa ada bubur campur???"
"Ada mas. Mas Ares mau??" Ares mengangguk semangat. "Kalau gitu mas Ares tunggu disini ya, biar saya bungkuskan."
"Ayo kesana...!" Ares langsung berdiri,
"Hahh..." Ana mengangga tak percaya,
"Kenapa???"
"Mas mau kesana??"
"Lho emang kenapa?? saya kan mau beli."
"Iya mas.. maksudnya biar saya ambilin aja. Biar mas gak perlu jalan jauh-jauh." jelas Ana
"Apanya yang jauh sih?? Orang cuma depan situ. Lagian kaki kamu itu belum sembuh, masa' kamu mau bolak-balik sana sini cuma buat nganterin bubur. Sedangkan saya yang kakinya masih bisa buat lari malah nungguin disini. Cha... ayo kita kesana" Ares berdiri dan mengulurkan tangannya untuk membantu Ana berdiri.
"Makasih mas!"
"Sama-sama. Bisa jalan sendiri???" Ana mengangguk.
Ana dan Ares berjalan beriringan menuju stand makanan tradisional milik Ana. Tempatnya kecil tapi justru ramai oleh pengunjung. Bahkan, seorang wanita setengah baya nampak kuwalahan meladeni para pembeli.
"Bu... " Ana memanggil wanita itu dan membiatnya menoleh sekilas sebelum...
"Astagaa.. Na. Kamu itu dari mana to ndukk... kamu ndak liat ini banyak pembeli. Ibu kuwalahan.. adek mu pulang ibu suruh bikin sirup gula buat nanti sore. Ayo sini cepet bantu ibu." Wanita itu berbicara panjang lebar tanpa melihat putrinya, dia tidak tahu kalau putrinya berjalan tertatih untuk bisa sampai kearahnya.
"Itu dibungkusin 5, yang kanan punyanya ibu baju merah. Yang lain tinggal bayar aja."
"Iya bu."
"Sini saya bantu." Ares menawarkan diri untuk mengurangi kerepotan dihadapannya.
"Nggak usah mas." tolak Ana
"Udah.. kamu itung aja berapa harganya. Biar saya yang masuk-masukin ke kantong. Biar cepet. Kasihan mereka nunggu, kasihan juga kamu kalau harus berdiri lama-lama" kata Ares
"Iya ... makasih mas"
Ares, Ana, dan ibunya bekerja sama untuk melayani pembeli yang datang. Bahkan tak terasa waktu sudah menunjukan jam 10 pagi.
"Alhamdullilah... habis semua dagangannya. Rejeki buat si Thole ini" Ibu Ana mengucap syukur karena dagangannya hari ini ludes nggak bersisa.
"Alhamdullilah ya buk."
"Iya... Kamu tadi dari mana to nduk? Katanya cuma beli susu, kok lama???"
"Tadi, Ana jatuh bu."
"Jatuh.. jatuh dimana?? Kamu ndak apa-apa to??" mendadak perasaan ibu Ana berubah cemas.
"Nggak apa-apa kok buk. Tadi ada Mas Ares yang bantuin Ana. Malah tadi mas Ares juga bantu jualan. Ibu pasti ndak sadar ya.."
__ADS_1
"Ini.."
"Perkenalkan... saya Ares buk." Ares mengulurkan tangannya dan menjabat serta mencium tangan ibunya Ana. Sejak kecil, Ares diajarkan oleh kedua orang tuanya untuk mengjargai dan menghormati orang yang lebih tua.
"Saya Yani, ibunya Ana. Terima Kasih ya, Nak Ares sudah membantu Ana. Malah ikutan bantu di sini"
"Nggak apa-apa buk. Malahan seru... "Jawab Ares tulus.
"Tapi mas... maaf bubur nya habis."
"Bubur???" tanya Yani
"Iya buk. Tadi itu niatnya mas Ares kesini mau beli bubur campur. Eh.. malah bantuin jualan. Trus sekarang malah kehabisan." Adu Ana pada ibunya.
"Waduhhh... ibuk ndak tau. Kamu kenapa tadi nggak nyenggol ibu sih??" Yani mencubit lengan Ana gemas.
"Kan lagi rame banget buk. Ibu diajak ngomong aja udah nggak liat kanan kiri."
"Nggak apa-apa buk. Lain kali aja saya mampir lagi." kata Ares halus.
"Ibu jadi ndak enak lho ini... Maaf lho nak Ares"
"Nggak..."
Kringg... Kringg...
Kuririn 💜 Calling
Belum sempat Ares menjawab, handphonenya sudah berbunyi. nama Arin tertera di layar.
"Maaf bu, saya angkat telpon dulu." Setelah beberapa saat menjauh dari Ana dan ibunya, Ares mengakhiri telponya.
"Maaf An, ibu. Sepertinya saya harus pulang sekarang,"
"Lho kok buru-buru nak Ares. Tadi ibu udah minta adiknya Ana buat nganterin bubur yang ada dirumah buat nak Ares"
"Nggak perlu repot-repot buk. Lain kali saja saya mampir lagi. Kebetulan saya ada kepentingan mendesak, saya harus mengantar teman saya ke rumah sakit."
"Ini beneran nak Ares nggak nunggu dulu, cuma sebentar. " bujuk Yani
"Maaf bu, bukannya saya menolak rejeki. Tapi saya benar-benar harus segera pulang."
"Ya sudah kalau gitu hati-hati"
"Iya bu. Ana, saya permisi dulu ya. Mudah-mudahan besok kaki mu sudah tidak sakit lagi ya."
"Amin, Terima kasih ya mas. Mas Ares sudah banyak membantu saya dan ibu saya hari ini." ucapan dan senyum tulus meluncur dari bibir indah Ana
"Tidak perlu sungkan. Sesama manusia kita memang harus saling tolong menolong."
"Sekali lagi, makasih ya Mas"
"Sama-sama. Kalau begitu saya permisi dulu ya." Ares pamit pada Yani dan Ana. Bahkan dia mencium dan merangkul Yani. Ares melangkah keluar stand dan menghampiri Audi R8 yang diparkir tidak jauh dari kedai. Membuat Ana dan ibunya semakin berdecak kagum.
"***Orang kaya ternyata"
__ADS_1
...●●●●●●●●●***...