
Kenzhou berlari cepat kedalam rumah setelah memarkirkan mobilnya asal. Perasaanya penuh kekhawatiran, yang ada didalam fikirannya saat ini adalah sang mama.
Sore tadi saat dirinya sedang jalan-jalan di mall untuk melepas penat, dia mendapat pesan dari Keiko. Yang mengatakan bahwa mamanya sedang sakit.
Mas.. Mas Ken lagi dimana? Cepet pulang Mas, mama sakit
Setelah membaca pesan itu, Kenzhou langsung bergegas pulang.. Bahkan dia mengendarai mobilnya dengan kecepatan diatas rata-rata.
"Mah? Pah?? Keii?? Rui?? Kalian dimana? Mah.. mama dimana mah? Mama baik-baik aja kan??" Kenzhou terus memanggil nama seluruh anggotanya, namun tak ada yang menjawab.
Lalu tak lama, iris matanya menangkap sebuah cahaya berwarna pink dalam kegelapan, cahaya-cahaya itu adalah lampu LED berbentuk sebuah penunjuk arah. Membuat Kenzhou berjalan perlahan mengikutinya. Dia tidak tahu kemana penunjuk arah itu akan membawanya, terlalu gelap.
Setelah beberapa saat, Kenzhou tak lagi melihat cahaya LED itu. Namun dirinya kini berhadapan dengan sebuah pintu. Dengan perasaan khawatir, dia langsung mendobrak pintu itu dengan kakinya.
"Happy birthday Kenzhou, Happy birthday Kenzhou, Happy Birthday, Happy Birthday, Happy Brithday Kenzhou. Selamat ulang tahun Kenzhouu" teriak semua orang yang ada dihadapannya.
Kenzhou terpana tak percaya dengan pemandangan yang dilihatnya. Taman dan kolam renang yang ada dibelakang rumah orang tuanya berubah menjadi tempat pesta yang luar biasa meriah. Kedua orang tuanya, kedua adiknya, Ares, Ana, Rency, dan juga Arin, wanita yang seharian ini sukses membuat darahnya mendidih, Semuanya berkumpul menjadi satu. Bahkan, mamanya tampak sehat dan tersenyum begitu cantik dihadapannya.
Meja-meja tertata rapi dengan berbagai makanan dan minuman. Ada alat barbeque juga di taman samping kolam. Nampaknya, malam ini akan menjadi pesta barbeque yang special.
"Rin..??" Kenzhou baru akan mengutarakan kekesalannya ketika Ares menyelanya.
"Jangan banyak bicara, dan jangan dulu marah-marah. Lebih baik elo tiup lilinnya, Arin pasti lelah memegang kue itu."
"Awas elo Res, kita juga punya urusan yang harus diselesaikan. Dan..!" Ken lalu menunjuk Kei, "Denganmu juga Kei"
"Kei hanya ngikutin instruksi ya mas. Jadi jangan marah sama Kei donk. Silahkan marah sama yang buat acara" elak Kei tak mau disalahkan.
"Sudah...cepetan tiup lilinnya. Tangan gue rasanya udah mau patah" Arin terlihat kesal.
"Dan gue juga punya urusan sama elo, Nonaa Sebastian" Setelah make a wish sebentar, Kenzhou meniup lilin berbentuk angka 27.
"Selamat ulang tahun Ken. Maaf ya udah bikin elo marah-marah sehaarian. Tadi ponsel gue ketinggalaan di kamar Kei, jadi gue nggak bisa bales pesan elo.." Arin tersenyum dengan polosnya.
"Aishh...elo pasti yang ngrencanain semuanya 'kan??" Arin menggeleng, lalu menunjuk kedua orang tua Kenzhou. "Papa sama mama yang ngasih ide. Kita cuma bagian eksekusi aja kok"
"Papa??" Kenzhou terkejut,
"Hahh.. Selamat ulang tahun, Kenzhou, anak sulung papa. Sekarang kamu sudah makin dewasa, harus lebih bertanggung jawab lagi. Mengerti 'kan?"
Kenzhou tersenyum, "Iya pah, Kenzhou paham. Makasih ya pah" Kenzhou memeluk papanya erat. Sekian detik, lalu dia beralih ke mamanya.
"Mah.."
__ADS_1
"Selamat ulang tahun ya sayang, doa terbaik untuk kamu. Maaf ya mamah bohongin kamu."
"Jangan lakuin itu lagi ya mah.. Kenzhou bener-bener takut mama kenapa-napa" mama Ken tersenyum lalu memeluk Kenhou erat.
"Ayo semuanya, kita makaannnnnnn" Kei berteriak kencang, diiringi tawa dan persetujuan dari semuanya.
Pesta sederhana tapi meriah itu berjalan lancar, banyak canda dan tawa yang tercipta. Bahkan sampai saat ini, mereka masih bergurau dan bercanda bersama di tepi kolam renang. Padahal jam sudah menunjukan pukul 23.00 wib.
"Gimana? Elo suka???" Kenzhou menoleh dan mendapati Arin berdiri disamping kursi ayunan yang kini ia duduki.
Kenzhou mengangguk dan tersenyum hangat, "Duduklah! Ada yang mau gue bicarain. Sebelum gue lupa"
Arin menurut, melihat raut wajah Kenzhou yang nampak berfikir sangat keras dia yakin ini sesuatu yang penting. "Ada apa Ken?? Kok kayanya serius banget. Elo ada masalah??"
Kenzhou menggeleng lalu mengangguk, "Aishhh...bagaimana maksud nya sih"
"Tadi gue nggak sengaja ketemu temen modelinh elo, namanya Jihan Andela" Tubuh Arin menegang ketika nama Jihan terdengar di telinganya.
"Ji.. Jihan?? Jihan siapa Ken??"
"Iya. Dia mengaku bahwa dia adalah sahabat elo, dia bahkan kenal gue, hanya..."
"Ahh..Ken, gue ingat...gue punya sesuatu buat elo. Sebentar!" Arin berlari kearah rumah, cukup lama, lalu dia kembali dengan tas kecil di tangan kirinya.
"Ini apa??" Kenzhou memandangi tas kertas itu dengan seksama.
"Buat elo. Buka aja!! Ini sesuatu yang udah lama banget elo pengen"
Kenzhou membuka tas itu dan mendapati sebuah kotak Jam Tangan bertuliskan ROLEX, brand jam tangan favoritnya. Dia menatap Arin penuh tanya, namun Arin hanya mengangguk mengisyaratkan agar Kenzhou segera membukanya.
"Astaga..." Kenzhou menutup kedua matanya seperkian detik, menahan gejolak dihatinya.
"Suka nggak???"
Pertanyaan itu membuat Kenzhou langsung menutup kotak hadiah itu dengan kasar. Dia mengalihkan pandanganya ke Arin, menatap gadis itu dengan vata merahnya. Kenzhou menahan emosinya. "Jangan bilang kalau elo pakai Black Card buat beli ini??"
"Ehmm...hehe...sedikit.. Jangan marah ya"
"Gue sudah bilang, Ja.."
chuu~♡
Sebuah kecupan manis mendarat dipipi kanan Kenzhou, membuat pria itu menghentikan emosi yang tadi akan meledak. Kenzhou menatap Arin tak percaya, namun gadis itu justru mengedipkan matanya dengan imut kearah Kenzhou.
__ADS_1
"Please .. jangan marah ya!! Gue cuma pakai sedikit kok."
"Sedikit??? Rin... gue nggak bodoh sampai nggak tahu harga jam ini. Nggak usah aneh-aneh deh Rin. Gue bukan anak kecil yang harus diberi hadiah saat ulang tahun. Umur Gue sudah 27th. Tidak terlalu penting sebuah hadiah, Gue hanya bu..." ucapan Kenzhou terhenti ketika dia melihat raut wajah Arin berubah sendu. "Rin.."
"Gue kan cuma pengen ngasih kado yang elo pengen... lagian jam itu bermanfaat waktu elo kerja. Agar elo nggak lupa waktu meski sedang sibuk kerja."
"Tapi ini terlalu mahal Rinn... kita kenal bukan sehari atau dua hari. Kita kenal udah lama. Elo jelas tahu kalau gue memang tidak terlalu menyukai hadiah mahal"
"Please, Ken.. kali ini aja. Terima hadiah ini ya. Gue janji ini hadiah mahal terakhir yang gue kasih buat slo."Pinta Arin
"Hahhhh...Baiklah. Hanya kali ini dan tidak ada lain kali. Apa anda mengerti nona Sebastian??"
"Yes.. i'm promise" Arin tersenyum lalu menunduk, "Setidaknya Kenzhou tidak melanjutkan pertanyaannya tadi. Gue harus telpon Jihan, jangan sampai Kenzhou curiga"
Kenzhou menatap Arin dalam, tanpa sepengetahuan gadis itu,
"Gue tahu Rin, elo nyela gue dan ngasih hadiah ini ke gue hanya untuk mengalihkan gue dari pertanyaan tadi. Apa yang elo sembunyiin dari gue Rin?? Apa yang dikatakan Jihan tadi benar, kalau elo itu istri gue? Lalu kenapa gue justru nggak ingat apa-apa??Baiklah.. kalau elo nggak mau ngebahas ini, maga gue akan cari tahu dengan cara gue sendiri."
Beberapa saat yang lalu, ketika Kei menghubunginya dan mengabarkan bahwa mamanya sedang sakit, Kenzhou langsung bergegas. Bahkan karena terlalu terburu-buru, Kenzhou sampai menabrak salah satu pengunjung Mall.
"Aww..." gadis itu sampai jatuh terduduk karena tertabrak tubuh Kenzhou dengan keras.
"Maaf.. maaf mbak. Saya nggak sengaja!." Kenzhou membantu gadis itu bangun dengan sangat hati-hati "Apa mbak baik-baik saja??"
"Iya mas. Saya baik-baik saja. Mas s... Kenzhou???" gadis itu terkejut melihat siapa pria yang menabraknya.
Kenzhou mengerutkan kening, pertanda dia mencoba mengingat apakah dia mengenal gadis yang ada didepannya.
"Maaf, apa kita saling kenal??"
"Astaga Ken, elo lupa sama gue? Gue Jihan. Jihan Andela. Gue sahabatnya istri elo, Arin. Saat kami berdua masih sama-sama menjadi model. Elo bener-bener lupa??"
"Arin??? istri?? Kayaknya mbak salah orang deh. Saya dan Arin memang dekat. Kami sudah berteman lama. Tapi dia bukan istri saya. "
"Hah... elo nggak lagi renggang kan? Atau kalian nggak sedang dalam proses cerai kan??? Soalnya gue juga udah lama banget nggak ngelihat berita keluarga kalian di infotaiment." tanya Jihan lagi
"Tidak ada yang renggang ataupun cerai karena kami memang tidak memiliki hubhungan apa-apa selain persahabatan, apalagi pernikahan. Mustahil. Maaf mbak. Saya duluan. Maaf karena sudah menabrakmu."
Percakapan sore tadi jujur saja masih menganggu pikiran Kenzhou. Pasalnya, gadis itu berkata penuh keyakinan. Namun, Ken sama sekali belum bisa menemukan titik terang hanya dari keterangan satu orang saja.
"Aku harus banyak mencari tahu. Ada apa sebenarnya denganku. Aku mulai merasa, ada banyak rahasia yang disembunyikan oleh mereka semua. Papa, Mama, Karui, Keiko, Arin bahkan Ares. Harus aku pilah satu persatu. Aku harus tahu, apa sebenarnya yang mereka sembunyikan di balik senyum palsu itu"
...●●●●●●●●...
__ADS_1