The Secret Of My Heart

The Secret Of My Heart
Kembali


__ADS_3

"Pagi An" sapaan tegas yang sudah 6 bulan tidak didengarnya, kini Ana kembali mendengarnya lagi. Bahkan sang presdir biang kerok dari semua kekacauan di kantor besar ini udah berdiri tegap dihadapnnya.


"Pak Kenzhou??" Ana melotot terkejut kearah Kenzhou.


"Kamu kenapa sih An? Liatin saya nya nggak selow banget. Kamu kayak baru aja ngelihat hantu"


"Pak Kenzhou udah sembuh??" tanya Ana


"Memangnya saya sakit??" tanya Kenzhou polos,


"Kan sakit hati pak" Ana yang merasa keceplosan langsung menutup mulutnya. Reaksi spontan Ana mengundang tawa Kenzhou.


"Udah sembuh An, obat nya udah ketemu soalnya. Ngomong-ngomong, apa Arin udah datang??"


"Ehm.. sudah dari tadi pagi pak. Arin ada di dalam" Kenzhou mengerutkan kening "dari tadi pagi??", lalu dia melirik jam tangannya masih jam 7 pagi. Artinya dia tidak kesiangan, justru kepagian.


"Jam berapa dia datang?"


Ana menggeleng, "Arin udah disini sebelum saya datang pak" Kenzhou hanya mengangguk paham, lalu masuk kedalam ruangannya..


"Kok pak Kenzhou bisa disini?? Bukannya kemarin mas Ares bilang kalau dia sama sekali nggak ngrespon dan cuma ngalamun. Aku kok ngerasa ada yang aneh ya.." meninggalkan Ana dengan segala fikirannya, Kenzhou berdiri diambang pintu sambil memperhatikan Arin yang nampak sibuk dengan semua pekerjaannya.


Kenzhou tersenyum getir melihat istrinya, tubuh indah yang dulu dimiliki kini hampir semuanya mengurus.


"Elo semalem nggak pulang, jam segini udah kerja" Gantian tubuh Arin yang menegang mendengar suara dingin namun tegas itu. Suara yang amat sangat dirindukannya.


"Ken.. Kenzhou???" Mata Arin berkaca-kaca, melihat tubuh gagah itu berdiri tak jauh darinya. Entah bagaimana awalnya, Arin dan Kenzhou kini saling berpelukan erat dengan airmata Arin yang sudah turun membasahi kedua pipinya.


"Gue kangen Ken.." Arin sudah tak memikirkan respon Kenzhou saat dia mengatakan rindu, karena Arin sudah tidak bisa menahan kerinduan itu. 6 bulan melihat suaminya menangisi wanita lain, kalian bisa berfikir bagaimana perasaannya.


"Sama.. Maaf ya selama beberapa bulan ini gue udah ngrepotin elo, Ares, Ana,dan Rency" tutur Kenzhou yang masih betah memeluk Arin, melepas rindu pada istrinya. Rindu yang entah bagaimana rasanya sangat menyiksa. Kalau bisa Kenzhou ingin memeluk Arin sepanjang hari. Sebagai penebus kesalahannya.


"Ya Tuhan. .. wangi ini yang ku rindukan. Akhirnya aku bisa memelukmu sayang"


"Hiks... "

__ADS_1


"Hei.. please dont cry.. I'm fine Rin.. look!" Kenzhou melepas pelukannya dan menatap hangat kearah Arin. Membuat Arin makin menangis. "Oh ya ampun.. Arin please.. " Kenzhou kembali memeluk Arin dan menenangkannya.


Sudah sejam lebih, ruangan Kenzhou menjadi hening sejak drama keduanya berpelukan sambil menangis. Bahkan sekarang Arin masih betah berada di pelukan Kenzhou. Dan Kenzhou juga sama sekali nggak berniat melepas pelukannya. Bahkan makin erat memeluk, seolah enggan melepaskan.


"Udah sarapan??" Arin menggeleng, membuat Kenzhou mendesah dan melepas pelukannya. Memandang Arin dengan tajam namun penuh kekhawatiran "Udah berapa bulan elo nggak pernah sarapan sama makan siang hem??"


Arin hanya menggeleng sambil menunduk, tubuhnya yang selama 6 bulan ini bekerja tanpa lelah, bagaikan robot tanpa batrai, mendadak merasakan kelelahan luar biasa. Bahkan tiba-tiba dirinya merasa pandangannya mengabur.


"Rin??"


"Astaga Arin.." Kenzhou terkejut ketika Arin mendadak jatuh lemas dipelukannya.. "Rin.. hei sayang.. wake up! Rin.. jangan bikin aku takut!" Tanpa pikir panjang Kenzhou langsung menggendong Arin keluar dari ruangannya.


"Ken, Arin kenapa??" Ares dan Ana yang nampak tengah menggobrol dengan serius, terkejut ketika ruangan Kenzhou mendadak terbuka dengan si empunya berlari sambil menggendong Arin.


"Gue nggak tahu, Arin tiba-tiba lemas. Res, bantuin gue nyetir." pinta Kenzhou, langsung diiyani oleh Ares.. "Na, tolong kamu batalin apapun pertemuan Arin hari ini. Setelah itu susul kerumah sakit"


"Baik pak!" Entah Kenzhou dengar atau tidak, yang jelas dia sudah lebih dulu meninggalkan Ares dan Ana dengan langkah lebarnya.


"Sayang, sebelum ke rumah sakit mampir kerumah bunda. Minta bunda siapin baju Arin. Nanti bawa ke rumah sakit ya." Aku duluan.


Cup


...***...


Kenzhou masih betah duduk disamping Arin sejak wanita itu selesai mendapat perawatan dari dokter. Airmatanya terjatuh tanpa bisa ditahan, ketika melihat wanita yang sudah 4 tahun menjadi istrinya itu lemah tak berdaya diatas ranjang rumah sakit.


Arin didiagnosa Hipoglikemia, kondisi dimana Arin kekuragan gula dalam darah. Kondisi yang terjadi setelah hampir 6 bulan Arin sama sekali tidak makan dengan teratur. Bahkan lebih sering tidak makan. Kondisi yang tidak pernah dia rasakan, dan ketika tiba-tiba kekhawatiran dalam dirinya hilang, maka hilang juga kekuatan yang ada dalam dirinya.


"Sayang, bangun." lirih Kenzhou, tangannya terus menggengam erat tangan Arin bahkan sesekali menciuminya.


klek..


terllihat Ares dan Ana masuk dengan membawa beberapa baju ganti milik Arin.


"Belum sadar Ken?" Kenzhou menggeleng tanpa mengalihkan pandangannya pada Arin.

__ADS_1


"Kenapa elo biarin Arin kayak gini Res?? Kenapa elo biarin dia sampai nggak makan??" Kenzhou berdiri lalu mendekat kearah jendela ruang rawat Arin, memandang ramainya kota Jakarta dari lantai 8 RS Medika Husada. Sambil menahan anarah pada dirinya sendiri.


Ares menggaruk lehernya yang tidak gatal, dia bingung mau menjawab apa.


"Gue sama Ana udah ngingetin bolak balik Ken, tapi Arin~nya nggak mau denger. Gue sampai bingung mau nyuruh kaya gimana lagi"


"Kenapa elo nggak jagain istri gue dengan baik Res?"


Pertanyaan Kenzhou, membuat Ares dan Ana spontan menoleh kearah Kenzhou karena terkejut.


"Ken elo??"


"Kenapa elo biarin istri gue terus menderita selama 4th ini? Kenapa elo nggak nyadarin gue saat elo lihat gue lupa sama istri gue? Kenapa elo nggak ingetin gue saat gue mencintai wanita lain?? Kenapa Res?? Kenapa elo nggak jagain Arin selama gue amnesia??"


"Kenapa elo nggak hajar gue saat gue nyakitin dia lagi Res?? Kenapa elo harus nurutin semua keinginan istri gue buat ngelindungin gue?? Kenapa Res,, KENAPA GUE MESTI JADI BAJINGAN LAGI?? Arrgghh " Kenzhou memukul kaca didepannya sebanyak 3 kali sampai pecah tidak berbentuk.


"Kenzhou"


"Pak Ken"


"Ken.. Apa-apaan sih elo?? Elo bisa terluka" Ares mendekat dan menyeret Kenzhou menjauh dari jendela yang pecahan kacanya telah berhamburan.


"Gue brengsek Res. .. Gue brengsek. Gue udah ngebuat istri gue menderita.. Gue.."


"Ken... Stop. Jangan kaya gini, Arin bakalan sedih kalau dia bangun dan ngelihat elo kayak gini. Dia berusaha mati-matian biar elo nggak sampai kecewa, jadi please.. Jangan bikin dia kecewa dengan ngelihat elo kaya gini"


"Tapi Arin sakit gara-gara gue Res... dia.."


"Dia cinta sama elo Ken, apapun bakalan dia lakuin buat elo. Yang penting sekarang, elo udah ingat dan elo bisa perbaiki semuanya."


"Gue..."


"Eughh.." suara lenguhan mengalihkan perhatian ketiganya.


"Arin..!!"

__ADS_1


...■■■■■■■■...


Masih penulis abal-abal, mohon dukungan dan kritik juga sarannya. Terima Kasih untuk yang sudah berkenan membaca.


__ADS_2