
Arin tersenyum bahagia dari tepi jendela sudut ruangan, dia memang memilih memberikan kesempatan untuk yang lain bisa melihat Aleesha.
"Apa elo bahagia sekarang" Arin tersenyum dan mengangguk mendengar pertanyaan dari Ares. Pria itu memilih menyingkir sejenak dari perdebatan antara Karui dam Keiko didepan Aleesha.
"Sangat."
"Syukurlah."
"Res"
"Hem??" Ares menoleh memandang Arin yang berdiri disampingnya.
"Terima Kasih"
"Terima kasih?? Buat??"
"Semuanya." Ares mengerutkan keningnya pertanda dia tak mengerti maksud dari ucapan Arin. "Makasih elo selama ini udah mau berdiri disamping gue, nguatin gue ketika orang-orang yang gue sayang sedang berjuang. Makasih selalu menanamkan keyakinan pantang menyerah. Dan makasih, sudah bantuin gue memaksa ingatan Kenzhou kembali"
"Kenapa harus bilang makasih?? Itu udah jadi bagian dari tanggung jawab gue sebagai kakak elo. Gue nggak bakalan biarin adek gue terus-terusan menderita. Meski ada resiko besar yang mungkin bakal gue hadapi. Dan... dari mana elo tahu kalau gue yang udah maksa ingatan Kenzhou buat balik???"
"Memang ada orang lain yang megang master dari foto-foto gue sama Kenzhou selain elo??."
"Hehehe.. Gue kira cara itu gagal. Soalnya muka Kenzhou lempeng aja. Gue cerita elo berjuang mati-matian aja dia cuma diem. Eh tiba-tiba pas elo sakit dan pingsan, dia ngamuk"
"Elo cerita apa sama Ken??" Pandangan Arin memincing curiga.
Ares tersenyum, "Semuanya.."
"What??"
"Termasuk tentang elo yang ngelunasin hutang-hutang dia ke bank Central"
Arin melotot tajam kearah Ares, "Res?? Elo.."
"Ya..gue tahu semuanya."
"Habislah gue! Ares ihh... kenapa mesti cerita sih kalau emang elo udah tahu."
"Gue harus cerita"
__ADS_1
"Ck.. Kenzhou jadi tahu kan. Dan dia bakalan marah besar sama gue" omel Arin.
"Dia nggak bakalan marah sama elo. Gimana dia bisa marah sama wanita yang sudah berkorban lahir dan batin buat dia. Gak bakalan tega dia. Lihat elo pingsan aja dia udah traumma."
"Itu bukan perngorbanan Res. Buat gue itu adalah salah satu tanggung jawab gue sebagai seorang istri. But.. sekali lagi, terima kasih. Gue nggak tahu akan jadi apa hidup gue tanpa elo. Mungkin, gue harus nunggu lebih lama untuk bisa meluk Ken lagi. Dan.. gue ngak bisa bales apapun ke elo. "
"Bisa.. Elo bisa bales gue dengan satu hal"
"Apa?? Kalau harus bayar gue nggak punya duit."
"Njir... gue nggak bakal meres adik sendiri. Cukup dengan elo cariin sekretaris baru buat Kenzhou. Itu udah bayaran paling mahal buat gue"
"Sekretaris?? Wait... elo pengin Ana keluar dari kerjaannya?? Elo serius?" tanya Arin, diiringi anggukan serius dari Ares.
"Gue serius. Bentar lagi gue nikah sama dia, dan elo tahu gue punya cita-cita punya istri yang diem dirumah, ngurusin gue dan anak-anak gue, yang ngehabisin uang hasil kerja gue, dan menjadikan gue tumpuan hidup dia. Bukan untuk dia mengabdi ke gue, tapi elo tahu gue senang ketika orang yang gue cintai cukup diam dirumah dan menikmati hasil kerja keras gue. Lagian, dia lagi hamil, gue nggak mau dia kecapean." ucap Ares santai.
"What?? Hamil??" Ares mengangguk "Bocah edan.. kira-kira aja Res. Masa' elo bikin Ana hamil duluan? Kalau bunda atau papa tahu, bisa dihajar elo" Arin melotot tajam kearah kakak tirinya itu.
"Gue nikah tinggal seminggu lagi. So.. gue rasa nggak masalah kalau Ana sekarang hamil. Jangan lupa, mbak Jingga juga hamil duluan."
"Eh.. kutu badak, mentang-mentang mbak Jingga juga trus elo ikut-ikutan?? Dasar ya elo.. siapa yang ngajarin elo jadi brengsek sih?"
"Ck... gue brengsek bertanggung jawab ya Rin. Gu berani ngajakin dia kaya gitu karena gue yakin dia itu bakal jadi istri gue. Lagian ini bukan pertama buat dia, malah gue yang diperjakain sama dia. Dia bahkan lebih agresif,,, ah... ternyata dapat janda itu mantap" Ares menaik turunkan alisnya membuat Arin ingin melempar apapun kearah Ares. Untung saja jarak antara jendela dan kasur Aleesha jauh. Karena ruangan VVIP rumah sakit ini serasa kamar suite hotel bintang 5.
"Elo mau tahu siapa yang ajarin gue??" Arin mengangguk, Ares lalu menunjuk sesuatu dengan dagunya, Arin mengikuti arah dagu Ares, matanya membulat sempurna ketika yang ditunjuk adalah suaminya.
"Kenzhou??? Jangan sembarangan elo Res.."
"Ck.. elo pikir gue nggak tahu, kalau sebelum elo nikah sama Kenzhou, elo berkali-kali making love sama dia. Dan parahnya, gue lihat live anjir.."
"What??"
"Gue lihat elo sama Kenzhou gelut di apartment dulu banget.Trus belum lama ini, sebelum kepergian elo kebangkok. Elo juga bercinta kan sama... ehmm" Arin membungkam mulut Ares dengan tangannya. Dia masih berpikir, bagaimana caranya Ares bisa tahu dia pernah bercinta dengan Kenzhou, ketika pria itu amnesia beberapa waktu lalu.
"Dari mana elo tahu, vangke??"
"Makanya kalo mendesah itu pelan-pelan aja, jangan 'AHH.. KENZHOUUU'"
plak...
__ADS_1
"Anjirrr ... sakit woy" teriakan Ares membuat semua orang dikamar itu mengalihkan pandangannya kepada mereka berdua.
"Kenapa Res??" tanya Daisy yang melihat putranya mengusap kepalanya berulang-ulang.
"Nggak apa-apa kok bun, gak sengaja kejepit cendela"
"Emang kamu ngapain sih mas, sampai kejepit cendela??" tanya Ana
"Biasa lagi ghibah sama Arin, sambil mainin cendela. Hehe..."
"Ghibahin apa elo sama bini gue?? Mojok berduaan disitu" Kenzhou memincing curiga.
"Tentu saja mengghibahkan elo lah siapa lagi??" jawab Ares enteng
"Awas aja kalau elo ngajarin bini gue yang nggak-nggak"
"Serah gue donk, dia adik gue kalau elo lupa" Arin hanya bisa geleng-geleng melihat perdebatan didepannya.
"Udahh.. kalian ini kaya anak kecil aja sih. Udah tua. Malu sama umur."
"Ares duluan yang mulai bunda.." adu Kenzhou pada Daisy.
"Dih.. ngapain elo ngadu sama emak gue ogeb??"
"Dia mertua gue kalau elo lupa" balasan Kenzhou membuat Ares ingin melempar sendal ke kepalanya.
"Sudah-sudah.. kenapa malah berantem sih?? Ini lho mas, Ares minta aku buat cariin sekretaris baru buat kamu. Dia pengen Ana resign." Arin melerai sekaligus mengutarakan keinginan Ares.
"Resign?? Kenapa harus resign??" tanya Kenzhou penasaran.
"Ya .. elo tahu, gue lebih seneng punya bini yang dirumah aja"
"Ck... yang punya cita-cita istri dirumah aja nggak cuma elo bege... gue juga. Kalo resign nya mendadak siapa yang bakalan gantiin??" keluh Kenzhou
"Sabodo teuing... pokoknya Ana harus resign." kekeh Ares
"Resign.. ya resign Res! Tapi ya nggak mendadak" jawab Kenzhou
"Gue nggak..."
__ADS_1
"An.. punya rekomendasi nggak buat jadi sekretarisnya Kenzhou??" tanya Arin tanpa peduli perdebatan Kenzhou dan Ares yang kesekian kalinya hari ini.
...■■■■■■■■■...