The Secret Of My Heart

The Secret Of My Heart
Pernikahan Ana & Ares


__ADS_3

Senyum mengembang tak pernah hilang dari bibir Arin. Tak jauh dari tempatnya berdiri, Ana dan Ares tampak bahagia menyalami semua tamu yang datang. Meski kadang Ana melakukannya sambil duduk, sejak dia mengetahui tentang kehamilannya dia memang sering merasa mudah lelah.


Resepsi pernikahan mereka digelar pasca pemberkatan pernikahan siang tadi.


"Berbahagialah, Kak. Haha.. rasanya lucu ketika gue harus manggil elo kakak. Sekarang, udah saatnya elo ngurusin hidup elo sendiri. Nggak melulu ngurusin hidup gue dan apapun tentang gue. Makasih buat semua yang udah elo lakuin buat gue. Makasih udah jadi sahabat dan kakak yang baik buat gue. Gue sangat bersyukur, akhirnya gue bisa ngelihat senyum bahagia elo lagi. Sebentar lagi elo akan jadi ayah dari 2 orang anak. Ahh...Tuhan itu baik banget kan!"


"Ngelamunin apa sih mbak? Sampai nggak kedip gitu lihatin Kak Ares??" Arin tersentak dari lamunannya ketika sebuah tangan menepuk pundaknya. Rion berdiri dengan gagah disampingnya. Dia terlihat tampan dengan kemeja putih, dasi hitam, blazer abu-abu dan celana senada dengan blazernya. Ketampanannya bertambah dua kali lipat dengan rambut pirang gelapnya. Entah sudah berapa kali bulan ini rambut pria dihadapannya ini berubah. Pasca hubungannya dengan Shereen yang mendadak kandas, perlahan mengubah pribadi adik sambungnya ini.


"Nggak lagi nglamunin apa-apa. Mbak hanya bahagia ngelihat Ares akhirnya bisa bertemu kembali dengan jodoh yang sudah diberikan Tuhan untuknya. Kamu tahu banget kan Ri, gimana hancurnya Ares ketika dia ditinggalkan sama Eve 1 hari sebelum pernikahan mereka. Bahkan Om Herman sampai sakit gara-gara itu. Bertahun-tahun Ares terpuruk sampai akhirnya dia bisa jatuh cinta sama Ana dan ceria seperti dulu. Apalagi, Ares masih terus-terusan merasa bahwa dia adalah awal dan penyebab kematian om Herman."


"Ya...Rion bahkan sangat bahagia, mbak. Ternyata mbak Ana bisa merubah segalanya. Dia benar-benar wanita yang sangat luar biasa, karena bisa membuat Ares hyung kembali membuka hatinya."


Arin tersenyum, "Takdir membawa mereka ke perjalanan yang lebih indah. Siapa yang bakalan nyangka kalau mereka ternyata disakiti oleh orang yang sama. Siapa yang bakalan nyangka kalau jodoh Ares saat ini adalah mantan istri Maher Rajassa, pria yang membawa Eve kabur malam sebelum pesta dimulai.


"Ya..takdir memang tidak bisa ditebak." Rion mengangguk setuju.


"Ngomong-ngomong, kok kamu sendirian?? Nggak ajak gandengan??" Arin memandang sekeliling Rion, namun pria itu tampak seorang diri.


"Kan mbak juga tahu kalau aku sama Shereen udah putus, dia sekarang bahkan ngilang nggak tahu kemana. Aku aja rasanya udah frustasi mbak buat nyari dia kemana."


"Kenapa sampai putus sih? Kalian udah cocok banget lho. Bukannya kamu juga udah ada rencana buat ngelamar dia"


"Udah mbak, aku bahkan udah bilang sama mama papanya, kalau bunda sama papa bakalan datang ngelamar dia. Eh.. malah tetiba dia ngilang gitu aja."


"Mungkin elo punya salah kali sama dia."


"Bang Erick!" Erick tiba-tiba muncul diantara Arin dan Rion, ikut menanggapi apa yang sedang dialami oleh Rion.


"Masalahnya gue sedikit aja nggak pernah nyenggol dia bang. Apa yang dia pengen, apa yang dia mau, selama gue mampu gue pasti turutin bang."


"Biasanya nih Ri, kita para cowok ini nggak paham sama apa yang sebenarnya mereka mau. Jadi menurut kita bener buat kaum hawa pasti salah."


"Itu kan kalau ceweknya nggak terbuka, hubungannya via mata batin. Lha kalau Shereen kan nggak bang. Dia minta kesana, minta ini itu transparan langsung ngomong."

__ADS_1


"Artinya dia yang lakuin kesalahan ke kamu. Makanya dia takut kamu kecewa dan pergi." kata Arin


Deg..


Kata-kata mendadak Arin membuat Rion membisu. Pikirannya seolah terbagi.


"Kesalahan???"


"Mommy..." panggilan Aleesha mengalihkan perhatian ketiga orang tersebut. Aleesha berlari kearah Arin dengan menggandeng seorang gadis yang Arin tidak kenal. "Halo om Erick, om Rion.." suara imut dan lucu Aleesha membuat Erick dan Rion tertawa.


"Hi sweet heart. How are you baby?? Maaf ya.. Om baru bisa kesini. Kemarin pas kamu bangun om nggak ada." Erick langsung menggendong Aleesha dan menciumi pipinya.


"No problem om. Oya om.. apa hari ini Leesha cantik??" tanya Aleesha


"Yes, of course. You looks so beautiful" puji Erick. Dan Erick sama sekali tidak berbohong dengan pujian itu. Aleesha benar-benar cantik. Diusianya yang ke 7, dia sangat luar biasa.


"Thank you. Om juga sangat tampan."


Arin hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah putrinya dengan kakak sulungnya.


Cupp...


Erick terkejut dengan ciuman yang diberikan Leesha untuknya, bukan di pipi melainkan dibibirnya. Meski keponakan, Erick tidak pernah mencium mereka lebih dari ciuman pipi. Karena dia tahu dimana batasannya. "Tentu saja Om Erick."


"Jadi Om Rion nggak ganteng gitu??" tanya Rion pura-pura marah.


"Ganteng. Tapi gantengan om Erick. Daddy ganteng, tapi kan daddy udah punya mommy. Om Ares, punya tante Ana. Om Rion punya ehmm.. punya siapa ya?? Itu tante Iren. Kalau om Erick, dia milik Aleesha.. Cuma Aleesha" ketiga orang dewasa itu tertawa mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Aleesha.


"Om???"


"Kenapa sayang???"


"Om mau nggak nikah sama Aleesha??"

__ADS_1


"What???" Tidak hanya Erick, Arin dan Rion, juga terkejut dengan ungkapan yang baru saja dilontarkan oleh Aleesha. Bagaimana bisa gadis berusia 7th meminta pria berusia 32 th untuk menikah dengannya.


Karena salah tingkah dan bingung harus berkata apa, Erick hanya tertawa.


"Kenapa om Erick ketawa sih Emangnya ada yang lucu???? Leesha nggak bercanda lho om, nanti kalau udah gede dan sudah secatik tante Ana om mau kan jadi suami Aleesha??" Eric benar-benar mulai bingung, dia menatap Arin dan Rion yang sedari tadi terus melongo melihat kata demi kata yang keluar dari bibir anak dan keponakannya.


"Aleesha itu masih kecil. Masih jauh masa depannya. Tugas Aleesha itu belajar. Bukan memikirkan hal yang tidak seharusnya. Oke sayang?"


"Ta.."


"Nona kecil boleh tante kembali kesana??" Sanggahan seorang gadis yang dibawa Aleesha tadi menyadarkan ketiga orang dewasa disana bahwa disana tak hanya mereka bertiga.


"Kamu siapa?" Tanya Arin lembut,


"Saya Jazzy.. Saya temannya Ella. Kalau boleh saya permisi, karena tadi nona ini membawa saya"


"No... aunty nggak boleh pergi. Temani Aleesha main" larang Aleesha sembari turun dari gendong Erick.


"Leesha...!!" teguran terdenhar dari bibir Arin.


"Tapi mom, Leesha pengen main sama aunty Jazzy." rajuk Aleesha.


"Sayank, aunty Jazzy ada perlu. Ini sudah malam, dan aunty juga harus pulang. Lain waktu, Leesha bisa minta tolong aunty Ella untuk bisa main sama tante Jazzy. Gimana??" Jazzy mulai memberi penawaran. Pasalnya, dia harus segera keluar dari gedung ini.


"Aunty janji!"


"Iya.."


"Oke. Aunty boleh pulang!" tutur Aleesha akhirnya.


"Good girl." Jazzy mengelus pucuk kepala Aleesha. "Kalau begitu saya permisi nyonya, tuan" Tanpa menunggu jawaban Jazzy meninggalkan keempatnya.


...**♤♤♤♤♤♡♡♡♡...

__ADS_1


Kisah Jazzy ini bakal ada di SPIN OFF dari cerita ini nantinya. Nggak hanya Jazzy, tapi Aleesha akan ad noverlnya sendiri ya**.


__ADS_2