
"Aresss!" Ana tidak jadi menyelesaikan ucapannya ketika seorang wanita memanggil Ares. Dia, Arin. Arin berjalan kearah Ares dan Ana berada. Ana yang melihatnya mendadak iri, keberaniannya menciut. Keakraban yang tadi terjalin antara dirinya dan Ares menjadi sedikit canggung. Dengan sedikit canggung, Ana menatap penampilan Arin dari atas hingga kaki.
"Cantik sekali?? Dia siapa?? Apa dia pacar mas Ares??"
"Arin? Hehe..lama ya?? Nyampe nyusul kesini." Ares menggaruk rambutnya yang tidak gatal.
"Nggak kok. Cuma udah hampir sejaman. Kirain gue ditinggal pulang. Ditinggal pacaran toh ternyata??" seloroh Arin, niatnya bercanda.
"Ck.. siapa sih yang pacaran?? nanti kalau gue pacaran beneran elo nangis" Ares menanggapi dengan gurauan juga kata-kata Arin. Tapi keduanya tidak sadar dengan perubahan wajah Ana menjadi sendu. Karena secara nggak langsung ucapan Ares menegaskan kalau wanita didepannya adalah pacarnya, dan dia tidak ada kesempatan apapun untuk mendapatkan hati Ares. Tanpa dia sadari, dirinya jatuh cinta pada pria dihadapannya.
"Palingan tidur diluar" cuek Arin
"Yahh.. dingin donk." ujar Ares "oya kenalin, ini Ana temen gue. Dan An, ini Arin wanita nggak punya akhlak yang selalu ngintilin gue kemana pun" Ares tersenyum mengejek Arin.
"Brengsek. Bukannya elo yang selalu ngintilin gue." balas Arin "Hai... gue Arin" Arin mengulurkan tangannya dengan senyum merekah. .
"Ana" Ana menyambut uluran tangan Arin, dengan hanya tersenyum tipis
"Oya Res... handphone elo bunyi terus." Arin menyerahkan ponsel Ares yang sedari tadi ia genggam di tangan kirinya.
"Siapa??" Arin mengangkat bahunya pelan, menggeleng menandakan ia tidak tahu siapa yang menghubunginya.
"Halo.. ini siapa?"
"Yakk...Galaxy Antaressss, elo sekarang dimana? Udah dari tadi malem gue nghubungin elo dan baru sekarang elo angkat. Elo nggak tahu, sejak semalam gue muter-muter kota cuma buat nyariin elo sama Arin. Apa susahnya sih elo ngangkat telpon gue sebentar??" Ares sampai menjauhkan ponsel dari telinganya ketika orang diseberang berteriak sangat kencang.
"Ken??" mendengar nama Ken disebut, Arin spontan menoleh. Lalu bertanya 'kenapa' hanya degan gerakan bibir tanpa suara. Ares menggeleng.
"Ya..ini gue Ken?? Elo sekarang dimana?? Sama Arin nggak??"
"Gue lagi selesai meeting Dan ponsel gue ketinggalan di meja. Kenapa emangnya?? Dan tadi elo nanya apa? Arin?"
"Iya Arin. Elo sekarang sama Arin nggak??"
"Nggak. Gue nggak sama Arin, emang kenapa?? Bukannya elo yang semalem ngajakin Arin pergi. Semalem Arin bilang sama gue dia lagi sama elo. Nganterin elo ke rumah Maira. Kenapa elo malah nanya ke gue si Arin kemana? " Ares berbohong, karena dia tidak akan mungkin bisa berkata jujur pada Ken sekarang.
"Astaga,, kemana anak itu?? Gue udah nyari dia kemana-mana. Sampai sekarang masih belum ketemu. Dia tiba-tiba aja ninggalin gue di rumahnya Maira. Nggak ngomong apa-apa juga nggak ninggalin pesen apapun. Gue semalam langsung kerumah dia tapi kamarnya masih gelap, dia belum pulang. Gue sampai nungguin dia di depan gerbang , berharap pas dia pulang gue tahu. Tapi tadi pagi saat gue dibangunin pak Agus, katanya dia belum pulang juga"
"Elo nungguin Arin di depan rumahnya??" Ares terkejut begitupun Arin yang sekarang sudah berdiri disamping Ares.
__ADS_1
"Iya Res.. soalnya Perasaan gue nggak enak, apa elo nggak bisa ngubungin dia atau siapa gitu?? Gue udah buntu nih. Gue khawatir dia kenapa-napa"
"Emm..ntar gue coba telpon temen-temen agency dia deh. Mungkin dia ada pemotretan mendadak. Elo 'kan juga udah hafal, dia kalau ngilang tiba-tiba pasti alesannya nggak jauh-jauh dari pemotretan. " Ares mencoba menutupi debaran jantungnya.
"Sorry Ken, gue mesti bohongin elu lagi"
"Kok mas Ares bohong. Bukankah tadi perempuan ini mengatakan namanya Arin?? Kenapa mas Ares bilang dia nggak sama Arin??" Ana menatap kedua orang didepannya penuh pertanyaan. Kenapa keduanya mesti berbohong pada orang yang saat ini menelpon
"Elo coba hubungin mereka ya. Biar gue cari-cari di sekitar tempat dia biasa nongkrong." usul Ken
"Mending elo istirahat deh Ken, biar gue gantian nanti yang cari Arin" tawar Ares. Dia nggak mungkin membiarkan Kenzhou keliling mencari Arin. Karena Kenzhou hanya akan membuat dirinya sendiri kelelahan.
"Ta .."
"Pulang Ken... ntar kalau Arin ketemu gue suruh dia nelpon elo."
"Okelah.."Sambungan telpon terputus, Ares melirik Arin disebelahnya yang kini justru terlihat memperhatikan Ana begitupun sebaliknya.
"Rin?" Arin menoleh,
"WA dulu sana!" Suruh Ares
"Menurut elo?? Siapa yang elo tinggal semalam?? Kan gue udah bilang dari semalem, kabarin! Dia muter-muter jakarta buat nyariin elo. Bahkan nungguin elo didepan rumah"
"Whatt??? ya ampun Res.. gue lupa" Arin merogoh tas kecilnya dan mengambil handphone untuk mengabari Ken.
"Kebiasaan. Bilang sama dia elo ada pemotretan."
"Okey" Arin kembali sibuk dengan handphonenya.
"Na.. maaf ya. Tadi ada telpon. Kamu jadi saya cuekin."
"Nggak apa-apa kok Mas. Ehm.. kalau gitu saya permisi ya mas. Kayaknya saya sudah terlalu lama disini. Kasihan Langit nungguin saya. Saya permisi ya mas."
"Lhoh...kok buru-buru An" Ares menahan tangan Ana., melihat itu Arin tersenyum manis disamping Ares sambil memainkan ponselnya. "Saya masih pengen membahas terkait kondisi anak kamu. Supaya saya bisa bantu untuk penanganannya"
"Nggak buru-buru kok mas, cuma memang Ana udah terlalu lama disini kasihan Langit. Dan, untuk penanganan Langit biar dr. Ersa yang mengurus. Permisi" kini Ana benar-benar berlalu dari hadapan Ares. Mendadak dia merasa cemburu.
"Cemburu?? Apa iya aku cemburu sama perempuan disamping mas Ares. Memangnya aku ini siapanya mas Ares sih?? Astaga... Ana! Mimpi jangan ketinggian" batin Ana
__ADS_1
"Cantik banget. Siapa?? Pacar baru elo?" Ares menggeleng namun ekor matanya tetap mengikutii kepergian Ana.
Arin tersenyum simpul, dan sedikit terkekeh. Dia tahu sahabat baiknya itu tengah jatuh cinta.
"wah.. wahh... ada yang lagi jatuh cinta nih." Arin menyenggol pundak Ares, menggoda pria tampan itu.
"Siapa yang lagi jatuh cinta sih Rin??"
"Elo... hahaha.." tawa Arin menggema dikantin yang tidak terlalu ramai. Tawanya membuat Ares tersenyum tipis, memandang Arin dengan penuh ketulisan.
"Terima kasih Tuhan. Akhirnya aku bisa melihat tawa itu lagi. Senyum dan tawa yang tanpa beban lagi."
"Res??" panggil Arin
"Hem??" Ares hanya menyahut saja.
"Siapa sih tadi?? Serius gue penasaran. Dia cantik banget. Beneran dia bukan pacar elo??" Ares menggeleng.
"Bukan. Nggak sengaja pernah ketemu sebelumnya. Trus ini tadi ketemu lagi." jelas Ares.
"Serius elo nggak ada hati sama dia??" tanya Arin
"Entah" Ares mengangkat bahunya.
"Kok entah, gimana sih lo?? Masih belum move on karena Eve?" Ares langsung menggeleng kuat.
"Udah nggak ada rasa sama dia Rin.. kenapa mesti dibahas sih??" mata Ares melotot kearah Arin mendengar nama sang mantan kekasih disebut. Bahkan Ares sudah lupa, sejak kapan dia tidak lagi memikirkan Eve.
"Ya bagus deh kalau elo udah move on. Tapi, cewek tadi cocok banget sama elo. Bunda pasti suka."
"Elo nggak denger gue tadi sama dia ngebahas apa?" Arin menggeleng. "Dia udah punya anak Rin. Anaknya sakkit dan dirawat disini juga."
"Yah.. udah nikah ternyata" Arin tertunduk lesu "Padahal mau gue jodohin sama Ares. Biar hidupnya nggak hanya ngurusin gue sama Kenzhou terus"
"Janda anak 1"
"WHATTTT????"
...■■■■■■■■■...
__ADS_1