
2 TAHUN KEMUDIAN
Mata Ares terlihat merah, ini sudah jam setengah 6 pagi dan dia sama sekali belum tidur.
Pikirannya melayang entah kemana. Yang ada dalam otaknya saat ini adalah Wanita bernama ANA. Entah kenapa setiap hari dia memikirkan Ana. Wanita yang secara diam-diam telah mencuri hatinya. Ini sudah sangat lama sejak pertemuan terakhir mereka di kantin rumah sakit waktu itu. Sudah hampir 2 tahun, dan Ares sama sekali tidak pernah bertemu dengannya lagi. Dia ingin menemui Ana dirumah sakit, tapi dia bahkan tak tahu siapa nama anak Ana yang dirawat. Bukan tidak tahu, demi Tuhan Ares lupa nama anaknya Ana. Kalau kerumahnya.. Astaga.. bahkan Ares belum seberani itu untuk pergi kesana.
Apakah dia tahu rumah Ana? jawabanya adalah iya. Entah kebetulan atau takdir, setelah percakapan dikantin waktu itu. Sehari setelahnya Ares bertemu Kirani, adik Ana, di depan club dan mengantarnya pulang.
"Akkhhhh....kenapa elo selalu ada dipikiran gue sih Na??"
tok..tok...tok..
"Bang, buruan bangun!! Ditungguian sama bunda sama papa buat sarapan! Bang... elo belum bangun ya?" mendengar Rion yang berisik, Ares membuka pintu untuk adik bungsunya dan kembali menjatuhkan tubuhnya ketempat tidurnya.
"Abang masih ngantuk banget Ri," Orion berjalan kearah ranjang dan meneliti kakak kesayangannya itu dengan seksama.
"Abang semaleman nggak tidur?? itu mata udah kaya panda??" Ares mengangguk.
"Kenapa sih Bang?? Mikirin sesuatu??"
Ares mengangguk lagi.
"Cewek???" Kali ini Ares menggeleng. "Trus??"
"Seorang wanita, Ri."
"Astaga.. sama aja kali Bang. Cewek sama wanita" Orion ikut berbaring di ranjang king size milik Ares.
"Jelas beda donk Ri. Kalau cewek itu yang masih gadis. Kaya mantan pacar elo itu, siapa namanya???"
"Rani"
"Nah kaya si Rani. Kalau wanita itu kaya Kak Jingga."
"Kayak Kak Jingga??" Ares mengangguk, "Bang, elo nggak lagi demenin bini orang 'kan??"
Bukk...
__ADS_1
Sebuah bantal mendarat dikepala Orion, "Gue nggak segila itu juga Ri. Ya kali gue ngrebut istri orang. Bisa dicoret dari daftar Kartu Keluarga gue.. Lagian berfikir untuk hal itupun nggak. Hanya saja,.." Ares menggantungkan ucapannya, membuat Rion mendengar seksama karena penasaran.
"Hanya apa bang?"
"Abang bingung gimana caranya buat deketin dia. Udah 2 tahun, dan abang belum berani untuk menyapa dia lagi, bahkan untuk sekedar main ke rumahnya."
"Siapa wanita itu bang?? Siapa wanita yang udah bikin abang gue galau kaya gini? sampai dibela-belain 2th mendem rasa sendirian."
"Gue yakin elo kenal"
"Gue kenal?? siapa bang?? Kak Arin??"
"Sembarangan!!" Ares menjitak kepala Rion sedikit keras.
"Aduhh.. kenapa di pukul sih bang?? Kan gue cuma nebak doank"
"Tapi ya elo nebaknya nggak sengasal itu juga kali Ri. Mana mungkin abang suka sama Arin. Bisa-bisa abang disunat lagi sama bunda, kalau adik sendiri juga masih di embat."
"Kan nggak kandung bang"
"Trus siapa donk??"
"Kakak mantan pacar elo."
"Kakak mantan pacar gue? Siapa?"
"Kakaknya Rani, Ana" jawab Ares jujur
"Hah?? A.. abang suka sama kak Ana? Kakak yakin?? Serius?," Ares cuma bisa mengangguk menanggapi pertanyaan bertubi dari Rion.
"Abang serius." jawab Ares
"Tapi, kak Ana itu janda beranak 1 lho bang?? Abang beneran suka sama dia???"
"Ya gue tau"
"Bang.. elo gak ada niatan ngasih mama menantu Janda 'kan? Cukup Kak Felix dan.. ehmm..."
__ADS_1
"Memang apa salahnya status duda atau janda, Ri??" Ares dan Rion serempak menoleh kearah pintu, dan mendapati bunda mereka berdiri diambang pintu dengan senyuman yang tulus dan menenangkan.
"Bunda?? Sejak kapan bunda disitu??" baik Ares maupun Rion, keduanya nampak salah tingkah.
"Sejak bunda nyuruh anak bungsu bunda buat manggil abangnya tapi malah ndak turun-turun. Rupanya lagi pada curhat disini."
"Hehe.. maaf bun"
"Ngomong-ngomong, siapa wanita beruntung yang bisa membuat anak bunda jadi bucin kaya gini?" Daisy mendekat pada kedua putranya, dan duduk disamping Ares mengusap puncak kepalanya sayang.
"Ares mengenalnya secara nggak sengaja bun. Waktu itu ditaman, dan ketemu lagi di rumah sakit" jelas Ares.
"Dan anak bunda ini jatuh cinta??" Ares mengngguk, "Kalau gitu anak bunda harus berusaha untuk dapetin dia dong. Tahu rumahnya nggak??" Ares mengangguk, "Samperin, ajak jalan. Bawa kesini, kenalin sama Bunda juga papa"
"Tapi dia janda bun, anaknya 1" Daisy hanya tersenyum.
"Trus emangnya kenapa? Ada yang salah dengan statusnya?? Jangan lupa, bunda menikah dengan papa kalian dengan status janda anak 3 cucu 2. Ya.. walau kasusnya beda, karena papa anaknya pun 3. Tapi ya nggak apa-apa. Balik lagi janda hanya status" baik Ares ataupun Rion hanya diam
Daisy kembali tersenyum, "Kejar kalau kamu memang cinta sama dia. Cinta itu tidak memandang status. Semua orang pasti memiliki masa lalu, baik itu masa yang indah ataupun masa yang pahit. Dan semua orang yang pernah terluka juga berhak kembali mendapat kebahagiaannya. Yang terpenting adalah, jangan pernah melukai hatinya lagi. Itu akan membuatnya tak akan mempercayai apapun lagi. Lagipula, nggak ada wanita yang mau jadi janda."
"Kalau aku ngejar dia, apa bunda bakal setuju dan merestui kami berdua??"
Daisy mengangguk pelan, "Bunda setuju apapun keputusan kamu. Bunda restuin niat kamu. Bunda tahu, butuh waktu lama untuk kamu bisa mencintai dan percaya akan cinta lagi. Kamu pikir bunda akan menghalangi perasaan kamu, setelah bertahun-tahun bunda berdoa supaya ada wanita yang bisa bikin kamu jatuh cinta lagi? Nggak bang, bunda nggak akan lakukan itu. Bunda akan mendukung kamu bahkan sampai 1000%"
"Makasih bun.. bunda emang yang terbaik. Aku bakalan kejar cinta aku bun. Aku akan membuatnya bahagia, dan aku akan segera membawa dia ketemu sama bunda. Makasih ya bun."
"Sudah sana mandi, trus turun buat sarapan. Kalau mau tidur lagi nanti setelah makan. Ri, ayo turun! kamu juga harus sarapan, dan berangkat kuliah. Atau Iren bakalan ngamuk nggak kamu jemput. Dan bunda mau ngingetin kamu satu hal, jangan pernah memandang orang lain hanya dari statusnya. Meski Mas Felix adalah seorang duda, dia bisa membuat kakakmu bahagia. Dia juga kepala rumah tangga yang bertanggung jawab. Begitupun, wanita yang dicintai abangmu. Tidak ada satupun orang yang ingin menyandang status tersebut, jadi ingat baik-baik pesan mama." Rion mengangguk.
"Iya bun.. maaf. Gak Rion ulangin lagi."
"Ya udah.. ayo turun! papa udah nunggu dari tadi. Kasian 'kan, ditinggal sendirian. Ares... cepet mandi."
"Iya bun"
Daisy dan Rion keluar dari kamar Ares bersamaan. Ares pun beranjak untuk mandi.
...■■■■■■■■■...
__ADS_1