
Sudah seminggu berlalu sejak pesta ulang tahunnya yang ke 27, Kenzhou selalu tak bisa tidur sampai pagi menjelang. Akhir-akhir ini tidak hanya pekerjaan yang semakin menumpuk yang membebani pikirannya. Tapi, perkataan wanita bernama Jihan yang tak sengaja ditemuinya seminggu yang lalu itupun terus saja berputar diotakknya.
"Apa yang sebenarnya terjadi sama gue?? Kenapa gue nggak inget apapun tentang masalalu gue?? Atau malah gue merasa nggak melupakan apapun?? Apa iya gue amnesia?? Apa benar kalau Arin itu istri gue? Tapi kenapa gue nggak merasakan apapun waktu sama dia? Gue nggak punya chemisty apa-apa.? Yang gue rasakan hanyalah perasaan sayang sebagai sahabat saja??? Akkhhh....."Kepala Kenzhou mendadak terasa sakit ketika ia mencoba dengan keras mengingat masalalunya. Dia mengambil obat dinakas samping tempat tidurnya, dan meminumnya.
"Selalu seperti ini. Kenapa selalu sakit ketika gue mencoba mengingat masalalu?? Apa memang terjadi sesuatu sama gue? Apa gue harus ketemu dokter untuk mengetahui kondisiku? Tetapi siapa dokter yang harus gue temui?? Gue nggak mungkin menemui Dr. Firza. Dia adalah dokter keluarga, jika dia kong kalikong dengan mama papa, dia pasti tidak akan jujur sama gue. Karena gue rasa keluarga gue sendiri menyembunyikan sesuatu dari gue. Gue harus cari dokter yang lain. Gue nggak bisa terus-terusan begini. Gue harus mencari tahu sendiri tentang kondisi gue yang sebenarnya. Gue nggak mau nyakitin siapapun dengan kondisi gue sekarang. Gue nggak pengen nyakitin Arin, kalau memang dia istri gue."
Kenzhou menggambil ponselnya dan menghubungi sebuah nomor,
"Selamat pagi Pak Ken? Ada yang bisa saya bantu?? Kenapa bapak pagi-pagi nelpon saya ya pak??"
"An, hari ini aku tidak masuk. Tubuhku sedang tidak fit. Kalau ada file yang harus kupelajari atau ku tanda tangani, letakkan saja dimejaku. Dan kalau ada meeting tolong minta Arin untuk menghandle semuanya ya"
"Baik pak.. nanti saya sampaikan ke mbak Arin"
"Baiklah..Terima kasih, An." Kenzhou memutuskan telponnya, dan kembali berbaring diranjang king sizenya. Otaknya kembali berputar memikirkan masalah yang dihadapinya.
"Kalau Arin beneran istri gue, apa yang mesti gue lakuin?? Sedangkan gue hanya menganggapnya sahabat dan tidak lebih. Sampai saat ini, dihati gue hanya ada Maira. Ck... ini gara-gara wanita bernsma Jihan itu. Dia udah buat gue pusing hingga tak bisa tidur" Kenzhou mengacak-acak rambutnya kesal.
"Kenapa kak??" Kenzhou menoleh kearah pintu, terlihat Rui berdiri diambang pintunya.
"Oh.. nggak papa kok. Ada apa Ru??"
"Nggak ada apa-apa sih kak. Kebetulan lewat trus nggak sengaja denger kakak teriak." jelas Karui
"Ohh... kirain ada apa?? Ngomong-ngomong mau kemana kamu udah rapi? Ada kuliah pagi?" tanya Kenzhou sambil menilik penampilan adiknya.
"Mau ngantar Kei ke rumah sakit. Hari ini aku jam siang. Jadi bisa nganter dia dulu. Kakak sendiri nggak kerja? Udah jam segini masih aja betah di kasur??" bukan masuk kedalam kamar Kenzhou, Karui hanya bersandar di pintu.
"Aku lelah, mau tidur. Sekali-kali bolehlah CEO izin. Megang Kei kenapa? Sakit??"
"Nggak.. cuma untuk Medical Check Up rutin aja. Nanti malam dia harus terbang ke Singapore. Ada acara disana."
"Owhhh..."
"RUII BURUAANNNN"
"IYA SABARRRRR.. berangkat dulu kak. Timbang nyonyah kembaran teriak-teriak. Mending kakak tidur lagi. Biar cepet fit juga."
"oke.. hati-hati. "
"Okeyy..." Karui berlalu meninggalkan Kenzhou yang kembali termenung diatas ranjangnya.
***
"Na, apa Kenzhou ada didalam???" Ana mengangkat wajahnya, ketika namanya disebut. Didepannya berdiri Arin dengan dress kantornya yang elegan, rambutnya yang dulu hitam kini berubah berwarna light brown. Dan satu hal yang selalu bisa membuat Ana tersenyum ketika melihat Arin, yaitu matanya yang selalu ikut tersenyum ketika dia tersenyum.
__ADS_1
"Pak Kenzhou nggak ada mbak. Tadi beliau mengabarkan kalau hari ini tidak masuk kantor"
Dahi Arin mengeryit"Tidak masuk kantor? Kenzhou sakit?"
"Hanya sedang lelah aja mbak katanya. Tadi pak Ken juga pesan supaya mbak Arin menggantikan beliau untuk meeting dengan klien siang ini" Ana memperjelas informasinya.
"Oh..iya mbak, tadi receptionist menitipkan undangan. Katanya untuk pak Kenzhou, dari Pak Mario." Ana menyerahkan undangan itu kepada Arin.
Mata Arin membulat sempurna membaca dua nama yang tertera disampul undangan. Bahkan foto di sampul tersebut sukses membuat Arin menegang.
"Mario Dimitri & Maira Anjali??"
"Kenapa mbak??"
"Nggak... bukan apa-apa. Hanya aku merasa tidak asing dengan nama calon istri Mario. Oh ya.. jam berapa meeting Kenzhou hari ini??"
"Setelah makan siang di President Restaurat mbak."
"Baiklah. Aku yang akan berangkat. Siapkan semua berkasnya, hari ini aku akan berangkat sendiri. Tolong kamu yang handle kantor dengan Rency. Dan..aku pesan, jangan sampai Kenzhou tahu tentang undangan ini. kau mengerti Ana??" Arin memberikan intruksi pada Ana, wajahnya semakin tegang. Dia masih memikirkan undangan yang saat ini ia genggam ditangannya.
"Tapi..."
"Ikuti saja intruksiku. Dan siapkan berkasnya, Sekarang!" Arin menyela ucapan Ana dengan dingin, membuat Ana menunduk
"Baik mbak" Arin lalu meninggalkan Ana sendiri didepan mejanya. Dia harus segera menyelesaikan ini.
"Ck... gue baru aja mau telepon Ana untuk ngajak dia makan siang nanti. Ada apa sih Rin?? Nggak bisa ketemunya ntar sore atau kapan-kapan aja gitu?? Gue mau pedekate" tolak Ares
"Gue nggak nerima penolakan! persetan dengan PDKT mu"
"Ada apa sayang? Tumben kata-katanya sangat kasar." tanya Ares halus
"Nggak cuma gue yang akan berkata kasar saat menerima surprise ini. gue yakin, elo juga akan melakukan hal yang sama saat melihatnya. Sudahlah jangan banyak tanya dan alasan, temui gue saat makan siang. Apa anda sudah paham Galaxy Antares???"
"Baiklah.. Nyonya ratu." jawab Ares, lalu mematikan sambungan teleponnnya. Sedangkan Arin kembali menatap datar pada undangan yang ada digenggamannya.
"Apakah ini alasan sebenarnya kenapa Maira pergi?" Arin kembali merenung, "Kenapa aku menjadi tidak rela jika Kenzhou melihat undangan ini? Bukankah dengan melihat ini, Kenzhou bisa perlahan melupakan rasa sukanya pada Maira. Tapi, apakah jika aku menunjukan undangan ini, Kenzhou akan kembali padaku semudah itu? Sepertinya tidak. Aku nggak boleh gegabah. Aku nggak mau kehilangan dia lagi."
...***...
Sreeeett...
Ares mendongkak ketika sebuah undangan disodorkan tepat dihadapan wajahnya. Arin terlihat masih kesal ketika menyerahkan undangan itu.
"Rin, elo nyuruh gue menunda PDKT ke Ana cuma karena undangan ini??" Arin mengangguk, sedangkan Ares menatap wajah Arin dengan pandangan kesal dan tak percaya.
__ADS_1
"Lihat dan baca benar-benar undangan itu. Lalu setelah itu, kalau elo mau marah, silahkan!" Ares langsung menatap kebawah dan memandang tajam kearah undangan itu.
"Mario Dimitri & Maira An... What??? I.. ini undangan, elo dapat dari mana?? Kok ada nama Maira disini?? sama Mario? Rekan bisnis baru Kenzhou?"
"Elo tahu 'kan sekarang? Kenapa tadi gue marah-marah??" Ares mengangguk, dia pun merasa emosi sekarang. Meski sebenarnya itu bukan urusannya jika Kenzhou terluka, tapi akan jadi urusannya ketika Arin akan ikut terluka.
"Darimana elo dapat ini?"
"Dari Ana. Katanya undangan itu dititipkan ke resepsionis kantor"
"Wanita itu membohongi Kenzhou rupanya. 2th yang lalu dia bilang ingi fokus pada karir yang dijalaninya. Alasan klasik yang membuatnya meninggalkan Kenzhou. Dan sekarang dia nyebar undangan? Great"
"Itulah...untung saja hari ini Kenzhou nggak masuk, dan gue yang lebih dulu mendapat undangan ini. Coba kalau hari ini Kenzhou masuk dan mendapatkannya lebih dulu, apa yang akan terjadi??? Dia pasti hancur banget. Diputuskan Maira saja dia sudah seperti orang gila, apalagi dia tahu Maira mau nikah"
"Elo selalu mikirin perasaan Kenzhou, trus kapan elo mau mikirin perasaan kamu sendiri sih Rin??" Ares menatap nanar kearah Arin. Wanita dihadapannya ini menyimpan begitu banyak luka, namun dia masih bisa menutupi dengan senyumnya. Hanya dia... yang tau betapa rapuhnya wanita ini.
"Kebahagiaan Kenzhou adalah kebahagiaan gue. Dan kesedihannya adalah kesedihan gue juga"
"Haishhh...klasik. kenapa elo lebih senang terluka sih Rin? Kenapa elo nggak kasih aja undangan itu ke Kenzhou? Biar dia tahu,"
"Lalu membiarkan Kenzhou menjadi benar-benar depresi??"
"Dia nggak akan depresi. Elo bisa jadikan undangan ini alat supaya elo bisa mendapatkan Kenzhou lagi"
"Res... you know more than anyone.. Kenzhou bahkan nggak ingat apa-apa. Dia bahkan nggak inget gue ini siapa. Kalau gue nunjukin undangan itu, apa serta merta Kenzhou akan membenci dan melupakan Maira? Apa dia akan langsung mengingat gue dan Aleesha? Apa dia akan kembali begitu saja pada kami?? Nggak Res.. nggak sesimple itu. Elo bahkan paham, sampai saat ini gue saja masih belum berani membawa Kenzhou untuk menemui Alessha. Dan gue nggak bisa manfaatin keadaan yang bahkan akan menyudutkan gue dan menempatkan gue pada perasaan yang lebih terluka lagi." Arin menunduk meneteskan airmatanya. Hanya didepan Areslah dia mampu melakukan ini.
"Rin boleh aku bertanya sesuatu??"
"Sejak kapan elo harus meminta izin ketika bertanya padaku?"
"Saat elo menyembunyikan ini, elo tahu dampak apa yang akan terjadi. Jika Kenzhou benar-benar menunggu Maira hingga 6th kedepan, apa yang bakal elo lakuin??" Ares sebenarnya ragu ingin menanyakan ini.
Arin tersenyum, "Kita tidak tahu masa depan Res. Kalau memang takdirnya Kenzhou sama Maira, ya apa mau dikata. Tapi, gue berharap, Tuhan berbaik hati padaku. Sebelum 6 th kedepan, semoga Tuhan sudah mengembalikan ingatan Kenzhou. Meski bukan gue, tapi setidaknya dia memilih pendamping hidupnya dalam keadaan telah sembuh dari amnesia."
Ares mengelus puncak kepala Arin lembut, "Saat itu akan segera datang. Bersabarlah."
"Tentu Res. Ehm...oya Res.. setelah makan temani gue meeting." Arin penuh arti.
"Okey... No problem! By the way, elo tadi sendiri?? Nggak sama Rency??"
"Aku memintanya membantu Ana menghandle pekerjaan di Hotel. Kan sudah ada elo yang pasti akan nemenin gue, jadi gue tenang."
"Aishhh...mencuri kesempatan dalam kesempatan"
"Hahaha... bukankah itu memang keahlian gue!"
__ADS_1
Mereka tertawa bersama, seolah tadi tak terjadi apapun.
...●●●●●●●●...