The Secret Of My Heart

The Secret Of My Heart
Cinta Ares dan Ana [02]


__ADS_3

Sejak berada didalam mobil, tidak ada satupun kata yang terucap baik dari bibir Ares maupun Ana. Keduanya membisu. Namun, tangan kiri Ares tak sedetikpun melepaskan tangan kanan Arin. Bahkan, sesekali Ares mengecup tangan mungil Ana dengan sayang.


"Emmm...mas??" Ana mencoba memecah keheningan, membuat Ares menolehkan kepalanya sebentar sebelum kembali fokus pada kegiatan menyetirnya.


"Kenapa An, kamu lapar??"


"Nggak mas. Kan tadi udah makan kue. Em.. kita mau kemana sih mas? Ini jalan kearah Bandung 'kan??? mas mau ngapain ngajakin Ana ke bandung?"


Ares tersenyum "Kamu akan tahu jika kita sudah sampai. Kalau kamu lelah, tidurlah dulu. Perjalanan kita masih lumayan jauh" Ares mengelus puncak kepala Ana, mata Ana nampak merah menahan kantuk.


"Emang nggak apa-apa kalau Ana tidur??? yang nemenin mas Ares??" Ana nampak ragu, karena jika dia tidur maka Ares akan menyetir seorang diri tanpa teman bicara. Meski sejak tadi mereka juga tidak saling mengobrol.


"Nggak apa-apa an... Tidur aja. Nanti kalau sudah sampai, mas bangunin kamu. Lagian kita mungkin akan sampai saat jam makan malam."


"Aku tidur dulu ya mas"


"Hemm" Ana memejamkan matanya untuk tidur, wajah tenangnya membuat Ares menyunggingkan sebuah senyuman. Ares melepas genggaman tangan Ana, mengambil ponsel miliknya dan menghubungi sebuah nomor,


"Apa semua sudah tertata dengan baik??"


"......"


"Bagus. Terima kasih atas kerja keras kalian semua selama 6 bulan ini. Aku akan mentransfer langsung ke rekening kalian."


"....."


"Terima Kasih..."


Ares menoleh kearah Ana, tangannya bergerak membelai rambut Ana.


"Sudah saatnya kamu bahagia, dan aku berjanji akulah yang akan membahagiakanmu"


Kring...Kringg...Kring..


Bunyi handphone Ares yang nyaring, membuat Ana yang belum terlalu lelap tidur terbangun. Namun, ketika tak sengaja melihat siapa yang menelpon Ares, Ana memilih pura-pura untuk memejamkan matanya.


"Halo Rin.. kenapa??"


"Lagi dimana? Bunda bilang belum pulang dari pagi?"

__ADS_1


"Jalan mau ke Villa, kenapa??"


"Elo mau bawa Ana kesana? Emangnya udah jadi semuanya?"


"Hemm,, Gue baru aja telepon mereka. Semuanya udah beres. Wish me luck ya"


"Gue selalu berdoa untuk kebahagiaan elo Res.. Udah saatnya elo bahagiain diri elo sendiri. Setelah bertahun-tahun elo hanya mikirin gue dan Aleesha."


"Elo dan Aleesha masih jadi prioritas gue Rin. Apapun akan gue lakuin supaya kalian bahagia. Termasuk memaksa ingatan Kenzhou kembali."


"Apa maksud mas Ares?? Sebenarnya apa yang disembunyikan mas Ares dari Pak Kenzhou. Hubungan seperti apa yang dijalani Pak Kenzhou, Mbak Arin sama Mas Ares??" Ana mendengar dalam kepura-puraannya.


"Jangan lakukan itu Res.. Gue nggak mau Kenzhou sakit"


"Rin, mau berapa tahun lagi?? Kita nggak bisa terus-terusan ngebiarin Kenzhou lupa. Semakin lama, dia bakal lupa sama kalian."


"Belum waktunya Res. Biarkan saja, kalau memang Gue dan Kenzhou masih ada jodoh, kami pasti akan kembali bersama."


"Baiklah, terserah elo aja. Ya udah, gue mau nyetir dulu. Bilang sama bunda, calon mantunya gue bawa pulang."


"Oke bye!!"


Ares mengakhiri sambungan telponnya dengan Arin lalu kembali fokus menyetir.


"Setelah ini urusan sama Ana nanti selesai.. kayaknya gue harus lakuin sesuatu buat Kenzhou sama Arin." gumam Ares.


Hampir 2 jam perjalanan tanpa hambatan, dan hanya terjeda beberapa menit karena mampir ke minimarket untuk membeli minuman, akhirnya Ares dan Ana tiba di puncak. Di villa pribadi milik Ares. Villa yang dibangunnya sejak beberapa tahun silam, dan baru selesai di renovasi 6 bulan ini.


"Akhirnya..." Ares menoleh kesamping kirinya, Ana masih tertidur lelap tanpa terganggu. Dengan perlahan Ares keluar dari dalam mobil, beralih ke pintu kursi penumpang. Membuka perlahan pintunya dan dengan hati-hati Ares menggendong Ana. Bi Sarni dan Mang Teja, baru akan menyambut keduanya ketika Ares memberikan intruksi untuk keduanya diam dan kembali ke belakang.


Ares menggendong Ana ala bridal style dari halaman villa hingga kamar utama di lantai 2. Menidurkan Ana dengan perlahan, supaya ibu 1 anak itu tidak terusik dari tidur lelapnya.


"Istirahat yang nyenyak ya Nyonya Antares. Love you" lirih Ares seraya mendaratkan kecupan manis di kening Ana, sebelum dirinya berlalu kedalam kamar mandi untuk membasuh tubuhnya yang sudah terasa lengket.


...***...


Cahaya matahari masuk kedalam sebuah kamar mewah melalui celah-celah tirai jendela. Membuat tubuh seseorang yang terbalut selimut diatas ranjang kamar itu menggeliat. Matanya mengerjap menyesuaikan dengan cahaya yang masuk.


"Owhh...Dimana ini???" Ana sontak terbangun lalu menengok kekanan kiri melihat sekeliling, dia benar-benar asing dengan tempat ini. Semalam dia meminta izin untuk tidur ketika berada di dalam mobil Ares. Dan ini jelas bukan mobil Ares ataupun kamar miliknya. Kamar ini benar-benar bagus, dan ini seperti kamar yang dia impikan.

__ADS_1


"Sudah bangun Nyonya Antares????" suara serak Ares membuat Ana tersentak.


"Ih.. mas Ares. Ngagetin Ana aja?? Sejak kapan mas disitu? Kok Ana nggak denger suara orang buka pintu?"


"Sejak kamu ngelamun sambil ngelihatin kamar ini."


"Hehe.. kamarnya bagus Mas. Ngomong-ngomong ini rumah siapa mas??" tanya Ana


Ares mendekat kearah Ana dan duduk dihadapannya.


"Kamu suka??"


"Tentu.. kamar ini benar-benar indah." Ana tersenyum sangat lembut.


"Syukurlah kalau kamu suka. Sekarang bangun dan mandilah! Setelah ini turun dan sarapan"


"Heem.. tapi mas Ares belum jawab pertanyaan Ana. Ini rumah siapa??"


"Villa. Ini bukan rumah tapi Villa."


"Villa?? mas ngajakin Ana keluar kota buat nginep di Villa ini??" Ares mengangguk "Ya ampun mas... Ana harus bolos kerja cuma karena ini??. Kenapa sih harus jauh-jauh kesini, kan bisa ngomong di Jakarta aja mas. Mas, sayang uangnya buat nyewa Villa ini"


"Kamu itu ternyata cerewet juga ya Na.." Ares tertawa dan membuat Ana langsung terdiam, merasa malu.


"Kok diem sih??"


"Ma.. maaf"


"Kamu kenapa?? Overthingking lagi? Udah.. kamu mandi dulu. Nanti aku jelasin sama kamu, kenapa aku bawa kamu kesini. Baju-baju kamu di almari."


"Baju?? Baju siapa mas? A.. ana kan nggak bawa baju?"


"Baju kamu lah! Semua yang ada ditempat ini punya kamu, milik kamu. Udah sana... di dalam juga ada Underwear, mudah-mudahan ukurannya pas ya.." Ares langsung pergi tanpa peduli ekspresi Ana yang sudah seperti ingin menerkamnya.


Ana langsung melangkah kearah almari dan membukanya. Itu bukan almari, lebih tepatnya Walk In Closet karena saat dibuka, itu bukan pintu almari tapi pintu masuk ruangan besar yang isinya begitu banyak jenis pakaian dari berbagai merk ternama. Bahkan ada berbagai tas dan sepatu, juga pakaian dalam.


Pakaian dalam. 2 kata itu yang kini menyita perhatian Ana. Dia membuka lacinya, dan melihat-lihat ukurannya.


"Ke.. kenapa ukurannya sama? Da...darimana Mas Ares tahu ukuran pakaian dalam ku? Jangan-jangan..." mata Ana melotot tiba-tiba dan... "MAS ARESSSSS..... " Ana berteriak kencang dan membuat Ares tersedak kopi yang baru saja dia nikmati.

__ADS_1


...■■■■■■■■■...


__ADS_2