
Arin dan Kenzhou terlihat sedang berjalan-jalan di salah satu surga belanja di Thailand. Ini adalah hari kedua mereka di negeri gajah putih tersebut. Mereka mendarat di Thailand kemarin siang, setelah melakukan perjalanan 3 jam 30 menit dari bandara Soetta menuju bandara Suvarnabhumi.
Sebelum menghadiri pesta ulang tahun putri sahabat dan rekan bisnis mereka, Arin mengajak Kenzhou untuk jalan-jalan di sekitar hotel tempat mereka menginap lalu mampir ke Mall untuk membeli beberapa oleh-oleh. Pesanan Ares adalah yang paling banyak yang harus mereka beli. Bahkan sudah sejak pagi mereka keluar masuk semua toko yang ada di tempat tersebut.
"Masih ada lagi yang pengen dibeli???" Kenzhou memandang Arin yang masih terlihat antusias dengan acara belanjanya. Sejak hari dimana dirinya mendengar sedikit kebenaran hari itu, Kenzhou selalu ada waktu untuk menemani Arin.
"Ehm..apalagi ya??" Arin nampak berfikir, dia memandang semua tas belanjaan yang ada dalam genggaman tangannya dan Kenzhou
"Aishhh....masih berapa lagi sih Rin?? Gue laper banget, sumpah!! Bisa nggak kita makan dulu? Udah jam 12 siang ini." Rasa lapar di perut Kenzhou benar-benar tak bisa diajak kompromi.
"Okelah... tapi tunggu disini, gue mau ke toilet"
"Ya cepetan!" Arin beranjak dari tempat tersebut, mencari toilet. Kenzhou meletakkan semua barang belanjaan Arin disamping tempatnya berdiri. Dia sedikit lelah menenteng semua barang belanjaan milik Arin yang terbilang tidaklah banyak. Hanya 15 tas.
"Dasar perempuan,, Sepertinya shopping adalah pekerjaan utama mereka. Auwww...."
Tiba-tiba Kenzhou jatuh terduduk karena ada tubuh yang menabraknya dengan begitu keras.
"Ahh.. I'm so sorry mister."
"What the..." Kenzhou menggantungkan kalimat kemarahannya ketika dirinya mendapati wanita yang selama 3th terakhir memenuhi seluruh rongga kehidupannya. "Ma.. Maira???"
Wanita itu, Maira, dia sama terkejutnya dengan Kenzhou. Pria yang dulu pernah mengisi hatinya itu kini berdiri di depan matanya.
"Kenzhou?? Ah.. Aku minta maaf. Aku benar-benar tidak sengaja." Maira membungkukkan badannya berulang-ulang kali.
"Nggak apa-apa Mai. Cuma terkejut aja. Apa kabar kamu Mai?? Gimana Kuliah sama Karir kamu?? Lancar? Kamu ngapain di Thailand? Ada shotting atau??" Kenzhou memberikan pertanyaan beruntun. Pasalnya dia benar-benar antusias melihat Maira lagi setelah sekian lama.
Maira tertawa mendengar pertanyaan beruntun yang keluar dari bibir Kenzhou. Membuat Kenzhou sejenak terfokus pada tawa yang selalu dirindukannya.
"Mana yang harus ku jawab lebih dulu, Ken???"
Kenzhou menggaruk tengkuknya pelan, dia malu. Karena terlalu antusias dia jadi terlihat bodoh.
"Hehe...maaf. Jawab saja yang kamu ingat."
"Baiklah! Kabarku, luar biasa baik. Karir dan kuliahku berjalan normal dan lancar. Aku sedang melakukan pemotretan disini, dan dijamin semuanya dalam kondisi aman terkendali. Kamu sendiri gimana kabarnya? dan sedang ada acara apa disini?"
"Kabarku juga sangat baik meski mungkin nggak sebaik kamu, hanya saja sekarang sering kurang tidur karena banyaknya pekerjaan yang harus aku tangani. Disini aku sedang melakukan perjalanan bisnis." jelas Kenzhou
"Wah kamu sekarang sukses ya Ken??"
"Ini karena kamu menolak lamaranku 2,5 th yang lalu!"Kata-kata Kenzhou membuat Maira menundukkan kepalanya penuh sesal.
"Ken Maaf, tapi kamu tahu kan ..."
"Sudahlah itu tidak masalah. Itu justru memotivasiku untuk menjadi lelaki yang lebih baik dari sebelumnya. Ehmm...apa kamu ada waktu luang??? Gimana kalau kita makan siang lebih dulu??"
__ADS_1
Maira tampak berfikir sejenak, sebelum akhirnya dia mengangguk. Anggukan kepala Maira membuat Kenzhou melupakan segalanya. Rasa bahagia bisa bertemu dengan gadis yang dicintainya membuat dia melupakan Arin yang sedang berada dikamar toileg, bahkan dia meninggalkan seluruh belanjaan Arin di depan sebuah outlet pakaian.
"Mister.. your shopping bag!!" Panggilan salah seorang karyawan yang berada di depan outlet sama sekali tak dihiraukan Kenzhou.
Tak berselang lama Arin kembali ketempat tadi. Matanya menatap kiri dan kanan namun tak didapatinya Kenzhou maupun seluruh belanjaannya tadi.
"Astaga... Kenzhou kemana sih??"
"Excuse me miss"
Arin menbalikkan tubuhnya ketika seseorang menyapanya dari belakang. Dilihatnya seorang gadis berseragam karyawan menenteng semua belanjaanya.
"Isn't this my shopping bags??"
"*Yess miss"
"Then.. where is my husband?? Why are all my shopping bags with you*?"
"He left with a woman. I called him but he didn't hear it."
"A woman??"
"*Yes, miss"
"Ahh... I'm so sorry and thank you for your help*" Arin mengambil semua barang belanjaannya setelah mengucap terima kasih.
"AWAS ELO KENNNNN...."
...***...
Dilain tempat, meninggalkan Arin dengan kekesalannya. Kenzhou dan Maira, keduanya nampak duduk berhadapan namun tak berbicara apapun. Keduanya tengah asik menyantap makan siang mereka di salah satu restaurant yang menawarkan banyak jenis makanan, tidak hanya makanan Thailand. Decorasi restaurant ini juga sangat menarik, restaurant ini bahkan memiliki bar yang letaknya diatap gedung.
Hanya Kenzhou yang sesekali mencuri pandang kearah Maira.
"Dia semakin cantik. Benar-benar cantik"
"Ehmm.. Mai???"
"Iya kenapa Ken??"
"Bagaimana Perancis??"
"Ehh...Ehm...perancis sangat indah. Orang-orangnya juga ramah. Pekerjaanku juga lancar"
"Syukurlah." Mereka kembali sama-sama terdiam
"Ken??"
__ADS_1
"Ya??"
"Kamu membuka bisnis apa??"
"Aku bekerja sama dengan teman-temanku membuka bisnis Hotel, Resort, dan Restaurant."
"Sudah berapa lama??? Sepertinya bisnismu berkembang pesat"
"Ehm..sudah lama, mungkin kalau tidak salah 6 bulan setelah kita putus. Ya...seperti inilah. Aku bersyukur bisnis ini berjalan baik, ini juga berkat kedua sahabatku." Kenzhou tersenyum memandang lekat Maira. Gadis yang dulu berambut hitam itu merubah rambutnya menjadi blonde. Baju sederhana dan kesan polos yang ditunjukannya dulu kini berubah. Bajunya terlihat mewah dan elegan, bibirnya merona merah dengan make upnya.
Benar-benar berbeda.
"Aku kangen sama kamu, Mai"
Maira tersentak ketika Kenzhou secara tiba-tiba mengungkapkan kerinduannya.
"Ken.. Aku..."
"Ahh ...Maaf. Aku tidak bermaksud membuatmu tak nyaman. Aku hanya mengatakan apa yang aku rasakan selama hampir 3 tahun belakangan ini. Perasaanku masih sama Mai, belum berubah. Aku masih berharap bahwa kita bisa kembali bersama seperti dulu."
"Ken maaf, kamu pasti tahu apa jawabanku. Keputusanku tetaplah sama hingga saat ini. Aku tetap tidak bisa terikat dengan hubungan apapun." Maira dan Kenzhou sama-sama menunduk. Kenzhou bersedih, sedang Maira dia berbohong. Kenzhou tidak tahu, bahwa wanita itu kini telah bersuami. Bahkan kalau Kenzhou peka, wanita itu kini sedang hamil.
Kring..Kring...Kring
Bunyi suara telepon mengintrupsi pembicaraan mereka. Tubuh Maira menegang ketika melihat nama orang yang menelponnya. Suaminya, Mario. Dengan cepat Maira mengangkat telponnya, berharap Kenzhou belum melihat nama sang penelpon.
"Ha..halo..."
"..."
"Aku sedang berbelanja dan jalan-jalan. Aku akan segera kembali."
"..."
"Baiklah..kamu tenang saja."
"..."
"Bye!" Maira menatap Kenzhou dan tersenyum, "Ken, sepertinya aku udah terlalu lama diluar. Managerku sudah menelponku. Maaf aku harus permisi. Oya Ken, kayaknya kamu tadi membawa banyak belanjaan. Sepertinya kamu tinggalin di depan outlet tempat kita tabrakan tadi. Sebaiknya cepat kamu ambil, sebelum hilang diambil orang. Aku duluan ya."
Kenzhou langsung teringat sesuatu,
"Astaga...Arin??"
Kenzhou langsung berlari kembali kearah pusat perbelanjaan yang tidak jauh dari Restaurant. Namun, setelah berkali-kali mencari dan berkeliling Kenzhou sama sekali tak mendapatkan Arin ataupun belanjaannya. Dia sudah mencoba menghubungi Arin, namun ponselnya mati.
"Astaga..Arin pasti marah padaku." Kenzhou langsung bergegas menuju hotel tempatnya menginap.
__ADS_1
...■■■■■■■■...