The Secret Of My Heart

The Secret Of My Heart
Biar Aku Sendiri


__ADS_3

"What... elo gila Ken? Elo kesini cuma mau numpang tidur sama numpang makan?? Yang bener aja elo Ken?" Arin menggerutu sambil duduk disebelah Ken yang sudah tidur terlentang di ranjang milik Arin


"Haiss.. pertama gue kesini sekedar mau berkunjung aja sih. Kedua, gue mau ngasih tahu kalau lusa kita bakal berangkat ke Bangkok buat hadir di ulang tahunnya Noy. Anaknya Serena dan Fai. Ketiga, gue bener-bener butuh tidur dan makan"


"Noy ulang tahun?? kok Serena nggak email gue?" Serena, istri dari Anathachat Vajilangkorn atau Fai, rekan bisnis Kenzhou, adalah sahabat baik Arin di dunia modelling.


"Buka email elo! Fai bilang, Serena udah email elo puluhan kali. Tapi emailnya nggak elo bales. Boro-boro dibales. Gue yakin emailnya juga belum tentu elo buka dan baca" sindir Kenzhou


"Ohj.. hehe. gue udah lama nggak buka email pribadi??" Arin mengambil ponselnya dan mengecek email masuk melalui ponselnya. Dan benar saja, ada 20 email masuk dan semuanya berasal dari alamat email Serena, isinyapun sama.


Serenafai@gmail.com : Hai Rin, Noy akan ulang tahun. Kuharap kau bisa datang bersama Kenzhou. Selain ini undangan persahabatan, ini juga undagan bisnis dari suamiku. Sebenarnya kuharap Aleesha bisa ikut, tapi....


Ahh..pokoknya kau harus datang


Arin tersenyum melihat email itu, dia mengetik sebuah balasan singkat untuk sahabatnya itu,


KareninAS@gmail.com : Maaf aku baru membalas pesanmu, Ser. Aku akan datang. See you at bangkok.


Setelah mengirim balasan Arin menghapus semua pesan di inboxnya.


"Gimana? Udah elo bales??" Arin mengangguk menanggapi pertanyaan Kenzhou.


"Kalau gitu entar malem temenin gue beli hadiah buat Noy ya" Ken mengangguk dengan mata terpejam.


"Tapi biarin gue tidur disini bentar aja. Gue ngantuk banget" Arin memandang Ken dengan senyum penuh kebahagiaan.


"Boleh nggak Ken, gue berharap elo kayak gini terus"


"Katanya laper, nggak makan dulu??" tanya Arin,


Ken membuka matanya dan memandang Arin manja, "Masakin sop iga donk!"


"Busyett.. nglunjak ni anak"


"Ayolah Rin.. gue kangen Sop Iga buatan elo"


Deg...


Baik Arin dan Kenzhou, keduanya sama-sama terkejut mendengar ucapan Kenzhou.


"Kenapa gue tiba-tiba bilang kangen sop iga buatan Arin ya.. emang nya Arin bisa masak itu??"


"Ken minta dimasakin sop iga.. Tuhan.. bolehkah aku berharap dia sudah kembali"


"Ehmm.. Rin... itu"


"Tapi, makannya lewat jam makan siang nggak apa-apa kan? Udah jam segini, takut nya iganya nggak empuk kalau buru-buru. Sambil nunggu, elo bisa tidur duluan." Arin memotong ucapan Kenzhou.


"Oke.."

__ADS_1


"Gue turun dulu" Arin berjalan keluar kamarnya dan menuju dapur untuk membuatkan pesanan Kenzhou. Tanpa disadari Arin, Kenzhou mengikutinya.


"Bi, apa di freezer ada Iga Sapi??"


"Ada non, baru kemarin bibi restock. Emang non maau bikin apa non?"


"Kenzhou minta dibikin Sop Iga Sapi." Jawaban Arin membuat bik Lastri dan bik Sun menghentikan kegiatannya.


"Non..."


"Iya bik... Arin harap ini awal yang baik Bik. Mudah-mudahan, Kenzhou segera pulih" jawab Arin


bik Lastri tersenyum dan mengelus puncak kepala Arin, "Seberapa besar cintamu padanya, sampai kamu rela menahan semua kesakitan ini sendiri? Bibi kadang tidak sampai hati melihat mu seperti ini.."


"Jangan tanya sedalam dan sebesar apa cintaku padanya bi, karena tidak akan terukur oleh apapun. Aku sangat mencintai Kenzhou, baik itu dimasa lalu, sekarang, atau dimasa depan nanti. Meski Ken saat ini sama sekali tak mengingatku, namun aku akan selalu membuatnya bahagia. bibi tahu kan?? Bahwa bagiku kebahagiaannya adalah kebahagiaanku, dan kesedihannya adalah kesedihanku juga. Meski pernikahan kami baru 2 ha terlaksana, tapi aku bahagia karena sampai saat ini aku bisa selalu berdiri disampingnya tanpa dinding apapun. Meski hanya sebatas sahabat. Tempat yang sama, seperti 6th yang lalu."


"Non Arin tetaplah yang memiliki hati den Kenzhou."


"Tidak ada yang tahu masa depan bik. Sejak dulu hatinya Ken tidak pernah ada namaku. Aku tahu, dia menerima tawaran Papa Malik hanya sebagai ucapan terima kasih"


"Kenapa non Arin bicara begitu?? Bukankah sebelum kecelakaan itu, Den Kenzhou sudah menyatakan perasaan pada non Arin"


"Sudahlah bi, nggak usah dibahas. Biar ini semua aku sendiri yang tahu dan merasakan. Arin cuma berharap semuanya akan kembali baik-baik saja. Meski bukan dengan ku nantinya, setidaknya Kenzhou sudah sembuh ketika dia memutuskan memilih pendamping hidupnya. Melanjutkan bersama ku atau bercerai dengan ku. Em.. sekarang, bantu Arin bikin sop nya ya bik." Arin menujuk bahan-bahan yang telah ia keluarkan dari dalam lemari pendingin.


Kenzhou yang sejak tadi bersembunyi didepan pintu dapur, kembali ke kamar Arin dengan segala kegelisahan hati.


Setelah hampir satu jam berkutat didapur, akhirnya makanan yang dibuat Arin selesai juga. Arin membawa sop iga itu kekamarnya bersama sepiring nasi putih untuk Kenzhou. Tak lupa dengan segelas Lemon Juice favorite pria itu.


Arin membuka pintu kamarnya, pemandangan yang pertama kali dia lihat adalah Kenzhou yang tertidur pulas. Setelah meletakkan nampan yang ia bawa diatas meja kecil disamping ranjang, Arin tak langsung membangunkan Kenzhou. Dia justru duduk disamping Kenzhou dan menatap sendu kearah Kenzhou.


"Mungkin, kalau kecelakaan itu nggak pernah terjadi. Saat ini mungkin kita udah hidup bahagia sama anak-anak kita Ken. Sayangnya, hari itu kecelakaan itu membuat aku tidak hanya kehilangan kamu, tapi juga anak-anak kita Ken" lirih Arin. Sakit... rasannya sakit ketika mengingat malam tragis itu.


"Eghhh...." Arin buru-buru menghapus airmatanya dan mengambil nampan dimeja ketika Kenzhou membuka matanya, seolah-olah baru bangun tidur. Padahal sebenarnya sejak tadi Kenzhou tidak tidur. Dia mendengar semua ucapan Arin, dan itu membuat hati Kenzhou semakin nggak nyaman.


"Buruan bangun, ini pesenan elo Ken!" Kenzhou mendudukkan tubuhnya diranjang, dan menatap makanan yang dipegang Arin.


"Cuma satu???" Arin mengangguk. "Buat elo??"


Arin tersenyum, "Hehe...gue udah duluan nyicip sama sama bik sun juga bik lastri. Habisnya gue laper" Ken mengangguk, dan melahap masakan buatan Arin.


"Gimana? Enak???"


Kenzhou menatap Arin dan tersenyum, "Selalu enak..."


Arin tersenyum senang melihat Kenzhou menyantap masakan  buatannya dengan sangat lahap. "Habisin.. ntar dibawah masih ada kalau mau dibawa pulang. Sekalian bawain buat Tante Rena."


"Oke.. ehmm.. oya Rin"


"Kenapa??"

__ADS_1


"Boleh gue nanya???" Kenzhou menatap Arin dengan tetap memakan makanannya.


"Sejak kapan elo kudu minta izin cuma buat bertanya sama gue sih Ken?"


"Gue serius Rin"


"Iya.. iya. emang elo mau tanya apaan sih Ken??"


"Elo punya pacar??" tanya Kenzhou


"Pacar?? Pacar apaan??"


"Ya pacar.. orang yang elo suka"


"Elo sama Ares yang paling tahu lho Ken. Kan 11th ini gue kemana-mana cuma sama elo berdua. Elo pasti udah tahu jawabanya donk"


"Iya sih... tapi masa nggak ada cowok yang elo suka sih Rin? Kayaknya elo sekali-kali harus cari circle lain selain gue sama Ares deh, biar elo punya pasangan"


"Males gue Ken.. jomblo gini aja gue bahagia."


"Mana ada jomblo bahagia." gerutu Kenzhou


"Hati gue udah penuh, udah nggak bisa dibuka. Mungkin..."


"Mungkin apa?"


"Mungkin hati ini ditakdirkan hanya untuk mencintai satu orang.


Dan perasaan itu telah jatuh pada dirimu yang entah kapan akan menjadi milikku lagi."


"Mungkin apa???"


"Aisshh...kau ini banyak tanya. Cepat habiskan makananmu." Arin mencoba menghindari setiap pertanyaan Kenzhou.


"Baiklah. Ehm...Rin"


"Apalagi???"


"Menurut elo cinta itu apa???"


"Sebelum elo kesini, elo nggak kebentur meja 'kan Ken?? perasaan, dari tadi elo itu aneh."


"Udah jawab ajja.."


Arin menghela nafas dalam, "Buat gue, Cinta adalah sebuah perasaan yang diberikan oleh Tuhan pada sepasang manusia untuk saling saling mencintai, saling memiliki, saling memenuhi, juga saling pengertian. Cinta adalah sesuatu yang murni, putih, tulus dan suci yang timbul tanpa adanya paksaan atau adanya sesuatu yang dibuat buat."


Arin menatap Kenzhou yang juga tengah menatapnya. "Apa anda puas dengan jaeaban saya, Tuan Alatas. Sekarang, jangan banyak tanya dan cepat makan!!"


"Iya...iya..."

__ADS_1


"Aku mencintaimu dengan segala kekhawatirannya, Ken. Semua ini datang dari hati tanpa aku bisa menolaknya. Biar aku sendiri yang menyimpan semuanya rapat-rapat.


...●●●●●●●●...


__ADS_2