
Jam 5 sore, Kenzhou benar-benaar sudah standby dikamar Arin. Bahkan wanita itu sempat misuh-misuh karena Kenzhou datang terlalu sore.
"Astaga Ken...ini masih jam 5. Gue aja belum mandi, belum juga dandan. Pestanya mulai jam 8. Masih ada 3 jam Ken."
"Berisik... sana mandi, gue tungguin."
"Elo yakin mau nungguin gue mandi sama dandan. Ntar ngomel lagi"
"Buruan Arin... Makanya biar gue nggak ngomel, jangan lama-lama" Arin langsung masuk kekamar mandi. Menyelesaikan ritual mandinya lebih singkat dari biasanya. Bahkan saat keluar dari kamar mandi Arin sudah berbalut Dress maroon miliknya. Dress yang senada dengan warna kemeja Kenzhou.
"Kok sama" Kenzhou terkejut ketika Arin keluar dengan dress sewarna kemejanya. Pasalnya mereka tidak janjian.
"Sehati mungkin" jawab Arin ngasal. Padahal dia tak sengaja mengintip isi koper Kenzhou. Dari semua isinya, hanya kemeja ini saja pakaian formal yang dibawa oleh Kenzhou. Dan dirinya ingat betul, kemeja itu dia beli senada dengan gaunnya. Mereka berdua membeli itu untuk dipakai saat ulang tahun Daniella 4th yang lalu.
"Hemm..."
"Dandan dulu ya!" dengan cekatan Arin memoles wajahnya. Dan Kenzhou masih setia memandangi wajah cantik Arin.
"Nggak usah menor-menor. Udah cantik" Entahlah.. kenapa Kenzhou mengatakan itu. Tapi nyatanya, Arin memang sudah cantik dari sananya.
"Cuma biar nggak pucet aja Ken." Arin memang hanya memoles pelembab dan lipstik, dia sudah tahu kalau dari dulu Kenzhou tak menyukainya dalam balutan make up.
"Cha.. selesai. Ayo berangkat!" Arin menyambar tas nya di tempat tidur dan menyeret Kenzhou untuk segera berangkat.
"Ck.. pelan-pelan. Masih jam 8 kan??"
"Gue kangen ketemu Noy.." Noy, gadis kecil itu sudah terbiasa dengan Arin. Bahkan Arin masih jadi aunty kezayangannya Noy hingga hari ini.
"Iya tapi pelan-pelan. Tadi elo bilang ke sorean.. ini malah gue elo seret-seret" Arin hanya nyengir mendengar protesan Kenzhou. Pasalnya, yang dia katakan mandi tak selama biasanya itu memakan durasi hingga 1,5 jam. Dan kini jam sudah menunjukan angka 7. Satu jam lagi acara dimulai tapi tidak ada salahnya mereka berangkat lebih awal.
Setibanya di kediaman Fai, terlihat beberapa tamu sudah datang. Bahkan rumah Fai sudah hampir penuh.
"Ken.. gue langsung ke Serena ya" pinta Arin
"Oke.. gue juga harus menemui Fai dan teman-teman disana." Kenzhou menunjuk sekumpulan pengusaha yang ada di tengah-tengah ruangan.
"Baiklah, bye"
"Susul gue kalau ada sesuatu"
__ADS_1
"Siap" Arin berlalu menuju tempat Serena, sedangkan Kenzhou bertemu rekan-rekan bisnisnya.
"Selamat malam, tuan-tuan" Kenzhou menyapa para rekan bisnisnya dengan santai. Usia yang hanya terpaut beberapa tahun, membuat mereka semua akrab sudah layaknya teman.
"Ahhh...Kenzhou. Long time no see. Thanks for coming. Gimana bisnis, aman??" Fai menjabat tangan Kenzhou dan memeluknya sebentar.
"Aman. Masih belajar, yahh siapa tahu bisa sebesar bisnismu."
Fai tertawa, "Kalau begitu, ayo rencanakan kapan kita semua bekerja sama dalam 1 project"
"Bisa diatur" jawab Kenzhou diiringi tawa teman yang lain.
"Mana Arin?? Kamu nggak mungkin datang kesini sendiri 'kan??"
"Sepertinya mencari istrimu kedalam. Cuma bilang mau ketemu sama Serena. Dia udah kangen banget sama Noy"
"Yah begitulah Arin. Dia memang sangat menyukai Noy" Kenzhou mengangguk-angguk membenarkan.
"Wahh... siapa itu Arin??? Istrimu??" Virgoun salah satu rekan bisnisnya melontarkan pertanyaan yang membuat Kenzhou tersenyum. Ingin menjawab ya, tapi dia belum yakin.
"Bukan bang. Dia adalah temanku sejak high school, dia juga Account Manager di perusahaanku."
"Haha... nggak punya pacar. Mumet mikirin bisnis." Mereka terus bersendau gurau. Seru dengan bahasa Indonesia. Fai menjadi satu-satunya yang orang Thailand. Namun, karena mengejar Selena dia jadi fasih berbahasa.
"Selamat malam semua?" sebuah sapaan yang membuat keempat pria tadi serempak menoleh. Semua tersenyum kecuali Kenzhou. Rahangnya mengeras tatapannya tajam. Menatap siapa yang saat ini berdiri di hadapannya. Wanita yang baru tadi pagi bertemu dengannya mengatakan padanya tak bisa kembali bersama karena karir. Kini justru datang bersama seorang pria yang adalah rekan bisnisnya. Sungguh,, Kenzhou terkejut.
"Mario... Welcome to my daughter party."
"Terima Kasih, karena tuan Fai berkenan mengundang saya"
"Ck.. tak perlu seformil itu. Santai... disini pesta anak usia 5 th, bukan pesta bisnis.. Jadi santai saja. Oke" pinta Fai dan dijawab anggukan oleh Mario. "Ngomong-ngomong, ini siapa?? Pacarmu??" tanya Fai pada Mario.
"Bukan. Dia istriku. Maira Dimitri" tubuh Kenzhou menengang. Baru saja otaknya menepis, bahwa Maira disana hanya untuk menemani bos~nya namun pengakuan Mario mengejutkan. Istri... Kenzhou menggeleng tak percaya. Bagaimana mungkin pria didepannya ini mengatakan bahwa Maira adalah istrinya.
"Sayang, ayo kenalkan dirimu."
"Se.. selamat malam tuan-tuan semua. Saya Maira, i..istri Mario" tergagap, tubuhnya gemetar.
"Aku tidak tahu kalau kau sudah menikah Mario." Suara Kenzhou dia buat serileks mungkin, dia mencoba menyembunyikan luka yang sudah menganga.
__ADS_1
"Benarkah??? Apa undanganku tidak sampai ditanganmu??? Padahal beberapa bulan yang lalu aku mengirimimu undangan langsung ke AKA Hotel."
Kening Kenzhou mengeryit, "Undangan??? Aku tidak menerimanya. Padahal, kalau aku menerimanya aku pasti akan datang. Ini adalah pernikahan rekan bisnisku dengan juniorku,, ahh..aku melewatkannya." Nada suara Kenzhou datar, matanya tak berhenti menatap Maira dengan sorotan tajam.
"Kamu seniornya Maira?"Kenzhou mengangguk.
Mario menoleh kearah istrinya, "Serius?? Tuan Kenzhou ini teman sekolah mu"
"I.. iya"
"Ahh... ternyata. Padahal tadi aku bilag ingin mengenalkanmu dengan pemilik AKA. Tapi ternyata kalian sudah saling mengenal"
"Berapa lama kalian pacaran??"
"Sebenarnya pernikahan kami sudah terjadi hampir 2,5 tahun. Kemarin itu undangan resepsi. Anak pertamaku, bahkan sudah bisa berjalan. Sekarang bahkan istriku sudah hamil lagi" Kenzhou tersenyum kecut.
"*Ternyata ka**mu membohongiku, Maira*."
"Benarkah?? Seingatku dulu Maira ingin memulai karir modellingnya, tidak jadi??" pertanyaan Kenzhou makin membuat Maira tak enak hati.
"Ah.. Tuan Kenzhou tahu itu?" tanya Mario,
"Dulu dia terkenal disekolahnya. Jadi banyak yang tahu cita-citanya.. "
"Ahh.. ya masih model kelas bawah. Masih harus belajar dengan istrimu dan istri Fai" jawab Mario. Jawaban Mario membuat Maira terkejut.
"Dia bisa menemui istriku dan Serena disana" Kenzhou menunjuk Arin yang saat ini tengah berbincang akrab dengan Serena. Ketiga orang disana hanya menyaksikan Kenzhou dan Mario saling melempar pertanyaan dan jawaban.
"Aku ke toilet sebentar" Maira tiba-tiba meminta izin pada Mario, dan dijawab Mario dengan mengangguk.
"Disebelah sana, Nyonya Dimitri" Fai menunjuk jalan kearah toilet.
"Terima Kasih." Maira langsung berlalu menghindari Kenzhou dan semua teman-teman bisnis Suaminya. Dia benar-benar seperti maling yang baru saja tertangkap basah.
"Aku permisi dulu. Mau menghubungi sekretarisku."
Kenzhou berlalu meninggalkan keempat pria yang kini menatapnya heran. Kenzhou berjalan tepat dibelakang Maira. Dia bisa melihat tubuh wanita yang tak jauh dari hadapannya itu gemetar.
"Jadi inikah alasan mu memutuskan hubungan kita dan menolak lamaranku, MAIRA DIMITRI"
__ADS_1
...■■■■■■■■■...