
"Baby, apa yang kamu rasakan?? Apakah sakit,? Dimana yang sakit?? Katakan pada Daddy??" Aleesha menggeleng dan tersenyum.
"Mommy.."
"Iya sayang ini Mommy. Ada apa ??"
Aleesha menggeleng dia hanya memeluk leher Arin erat.
"Aku merindukanmu, Mom"
"Miss You too baby, kau membuat Mommy, Daddy, Uncle, Aunty, Grandpa, Grandma khawatir. Kenapa kamu tidur lama sekali nak?" Arin menciumi wajah Aleesha tanpa henti. Airmatanya terus menetes haru. Anak yang dirawatnya sejak bayi, akhirnya kembali dalam pelukannya.
"Maafkan Aleesha mommy, mommy jangan menangis. Aleesha jadi sedih."
"Apa hanya mommy yang kamu rindukan sayang??? Daddy tidak??"
"I miss you too dad" Mereka bertiga berpelukan.
"Jeff, apa kondisi Aleesha sudah benar-benar stabil." Ares bertanya pada Jeff yang akhirnya mau tidak mau mengikuti keempatnya masuk keruangan Aleesha.
"Itulah hal yang membuat gue cukup terkejut Res. Pasalnya beberapa saat yang lalu, gue meriksa dia kondisinya masih benar-benar kritis. Bahkan harapannya sudah diambang batas. Dan tiba-tiba Sus Asri yang ada diruangannya menekan tombol emergency. Karena dia terkejut dengan kerja alat yang menurutnya nggak normal. Gue baru mau ngecek, tiba-tiba dia bangun. Dan dia masih ngenalin gue. Padahal udah 4th. Dia manggil gue liriih, katanya lapar. Tadi sempat disuapi Sus Asri makan. Dia kelihatan seperti bukan orang habis koma, cuma seperti anak kecil yang baru bangun tidur terus kelaparan. Tapi gue tetap harus lakuin Test penuh besok, untuk memastiskan kondisi Aleesha."
Mendengar penjelasan Jeff, Kenzhou mulai menyadari kesalahannya. Dia melepaskan pelukan pada Aleesha dan Arin, lalu menghadap Jeff.
"Jeff.. maafin gue"
Jeff tersenyum dan mengangguk dengan sudut bibir yang mulai terlihat biru.
"It's okay Ken. Gue paham kekhawatiran elo. Kalau gitu gue permisi. Dan tolong, jangan biarkan Aleesha kelelahan dulu. Biarkan dia istirahat" Jeff menepuk pundak Kenzhou sebelum dia benar-benar meninggalkan ruangan Aleesha.
"Thanks Jeff" ucap Ares
"Oke.. santai"
Kenzhou langsung kembali memeluk istri dan anaknya. Dia dan Arin tak henti-hentinnya mencium dan memeluk tubuh Aleesha.
"Tuhan terima kasih. Terima kasih kau mengembalikan semua kebahagiaan kepada Arin. Aku mohon, selalu berikan kebahagiaan kepada mereka. Biarkan dia bahagia setelah semua kesakitannya."
__ADS_1
...***...
Sejak sadarnya Aleesha dan setelah pemeriksaan intensif dari dokter, baik Kenzhou ataupun Arin tak sedikitpun meninggalkan gadis kecil itu. Mereka berdua selalu mendampingi dan menemani Aleesha. Memenuhi apapun keinginan yang diucapkan gadis itu. Saat ini mereka tampak asyik bercanda satu sama lain, bahkan mereka tak menyadari banyak anggota keluarga yang sudah datang untuk menjenguk Aleesha.
"Ekhem..." suara deheman Ares membuat mereka menghentikan candaan mereka, "Kalian ini! Kami juga ingin menjenguk Aleesha. Memang hanya kalian saja yang rindu."
"Om Aresssss... Aleesha kangennn!" Aleesha berteriak kegirangan melihat om kesayangannya. Semalam, saat sudah sadar Aleesha memang tak sempat menyapa Ares. Karena Kenzhou terus menerus menyuruhnya istirahat dan Ares juga buru-buru keluar ruangan untuk mengabari beberapa keluarga.
Arin mundur selangkah membiarkan Ares mendekat pada Aleesha disusul oleh Ana dibelakangnya. "Hai baby, bagaimana keadaanmu !hari ini??"
"I'm okay. Ehm.. om bawa apa??" Rupanya pengelihatan Aleesha lumayan tajam. Sampai dia bisa melihat hadiah yang telah disembunyikan Ares dibelakang tubuhnya.
"Haha... taraaa...." Ares mengeluarkan sebuah boneka Gajah berwarna biru.
"Wah..elephant. Terima kasih om Ares kesayangan Aleesha." Aleesha tersenyum sangat manis, mata sabitnya semakin terlihat indah.
"Yapp.... cepat sembuh. Dan om bakalan bawa Leesha ketempat yang banyak sekali boneka"
"Really??" Mata Aleesa berbinar, gadis kecil itu memang sangat menyukai boneka. "Eoh.. Om, siapa tante cantik dibelakang om??" Aleesha menanyakan soal Ana, yang sejak tadi tak beranjak dari belakang Ares.
"Haii cantik, nama tante Ana. Tante temannya om Ares."
"Trus aku harus bilang apa mas?? Emangnya Aleesha tahu kalau aku bilang, mas calon suamiku??" jawaban Ana membuat Ares berpikir
"Iya juga ya"
"Tante Ana ini calon tante nya Aleesha. Sebentar lagi om Ares akan menikah dengan tante Ana" Arin menjelaskan pada Aleesha.
"Menikah?? Seperti mommy dan daddy waktu itu??" tanya Aleesha polos
"Iya."
"Wahh... keren. Halo tante Ana, aku Aleesha. Salam kenal tante." celotehan akrab Aleesha itu membuat Ana paham kenapa banyak ora begitu khawatir dengan gadis kecil ini. "Tante cantik"
Ana tertawa pelan, "Kamu lebih cantik sayang" puji nya
"Mungkin karena mama juga cantik, tante. Iyakan Mom? Aleesha mirip mama?? Jadinya Aleesha canntik" baik Kenzhou dan Arin tersenyum sambil mengangguk membenarkan perkataan Aleesha. Kenzhou sudah sepakat dengan Arin untuk tidak menutupi soal Nabila pada Aleesha. Meski harus ada bagian yang mereka buang dari cerita itu, biar bagaimanapun Aleesha tetap berhak tahu siapa ibu kandungnya.
__ADS_1
"Gantian...gantian.. aku juga ingin bertemu keponakanku." Keiko menyela kehangatan pembicaraan Aleesha dan Ana.
"Aishh..penganggu!" Ares mencibir Keiko
"YAKK..."
"AUNTY JANGAN BERTERIAKKK...!!" Aleesha mengintrupsi Keiko ketika baru saja akan mengumpat Ares. Selain karena Ares adalah Om kesayanganya, dia memang tak menyukai jika auntynya itu sudah berteriak.
"Heii.. kamu juga teriak-teriak bocah!"
"Tapi suaraku tidak sejelek suara aunty" dengan santainya Aleesha menjawab Arin.
"What??"
Semua orang dalam kamar itu tertawa terbahak, melihat perdebatan antara Keiko dan Aleesha.
"Jangan marah Kei! Apa yang diucapkan sama Aleesha itu fakta. Jadi elo..."
"Elo apa??" Tatapan Keiko menggambarkan Siaga 1 untuk Karui. Kakak kembarnya yang adalah tim utama pendukung Aleesha.
"Bukan apa-apa. .. Baby bagaimana kabarmu?" Karui lebih sennag mengalihkan pembicaraan ketimbang berakhir jambak-jambakan dengan Kei. Karena Kei pasti akan menyerang area rambut Karui yang memang sedikit panjang.
"Baik Om. Kok rambut om panjang??"
"Ini sedang tren sayang. Biar om makin ganteng" jawab Rui
"Cih.. ganteng. Nggak ada ganteng-ganntengnya, yang ada pengen gue jambak rambut elo" Kei sebenarnya sudah gemas ingin mencukur rambut Rui sejak lama. Tapi pasti berakhir bertengkar dengan kembarannya itu.
"Berisik!" sahut Rui, "Apakah om kelihatan jelek??"
"Jelek sih nggak om. Tapi om benar-benar terlihat seperti aunty Kei. Kalian seperti kembar perempuan" jawaban Aleesha sukses membuat Kei menyemburkan tawanya. Karena itulah yang dia rasakan saat jalan dengan Rui tp dengan tampilan seperti ini. Bahkan tak sedikit teman cowoknya yang meminta nomor HP Rui, dan mereka akan misuh-misuh saat Kei bilang kalau Rui adalah cowok. Sungguh, Rui terlihat cantik dan bukan tampan..
"Anyepppp..." gerutu Rui, dan menimbulkan gelak tawa..
Arin tersenyum bahagia dari tepi jendela sudut ruangan, dia memang memilih memberikan kesempatan untuk yang lain bisa melihat Aleesha.
"Terima Kasih Tuhan."
__ADS_1
...■■■■■■■■■...