The Secret Of My Heart

The Secret Of My Heart
Kembali Pura-Pura


__ADS_3

"Argghhh...." Ares berteriak frustasi didepan Ana, karena teriakannya Langit yang baru akan terlelap kembali terbangun.


"Mas Ares!!! Langit jadi bangun kan! Bisa pelan-pelan aja nggak sih??" Ana nampak menggerutu, susah payah dia menidurkan putra kecilnya itu dan sekarang anaknya itu terbangun lagi.


"Hehe. Maaf yank, kelepasan." Ares meringis seperti tanpa dosa membuat Ana mendengus.


"Langit sayang, tidur lagi ya nak." Ares berbicara lembut pada calon putranya itu, namun Langit justru mengangkat kedua tangannya berharap digendong Ares.


Dengan cekatan Ares menggendong tubuh kecil yang baru beberapa bulan ini bisa bermain dengan normal seperti kebanyakan balita seusianya. Kepala Langit bersandar didada Ares, dia terlihat nyaman dengan timangan Ares. Bahkan dia sudah kembali memejamkan matanya.


"mas, kok Langit cepet banget tidurnya? Tadi aja dia lama banget nggak tidur-tidur" Ana selalu takjub ketika putranya itu lebih dekat dengan Ares ketimbang dirinya.


"Langit memang sudah sangat mengantuk. Tadi hanya kaget sebentar. Jadi mudah tidur ketika ditimang lagi" jawab Ares lembut, sambil terus mengelus punggung Langit agar semakin nyaman tidurnya..


"Mas Ares tadi teriak kenapa sih??" Ana mencoba mengambil alih gendongan Langit, namun bayi itu justru menggeliat menandakan bahwa ia terusik.


"Biarkan saja, biar aku yang gendong." Ana menganngguk.


"Tadi siang aku menjalankan rencana kita untuk membawa Kenzhou melihat semua aktivitas yang dilakukan Arin, bahkan aku pura-pura mengajaknya menuju bank Central untuk melunasi hutangnya, dan membuat dia kembali mengetahui kalau Arin sudah banyak berkorban buat dia. Tapi, Kenzhou sama sekali nggak menunjukan rasa penyesalan atau memgingat sesuatu. Ekspresinya lempeng kaya papan. Rasanya mas pengen banget nonjok mukanya, atau kalau nggak jedotin kepalanya ke tembok" Ares berbicara pelan namun tajam. Ana mengelus bahu calon suaminya itu dengan penuh kelembutan.


"Sabar mas. Kita pasti bisa, ini baru langkah awal. Oya..ngomong-ngomong apa foto kenangan itu sudah sampai ke pak Kenzhou ya??" Ya.. Ares memang bersekongkol dengan Ana untuk memaksa ingatan Kenzhou kembali. Mereka berdua tidak tahu saja, kalau Kenzhou bahkan sudah mengingat sampai ke detail terkecil dalam hidupnya.


"Mas nggak tahu. Karena pas mas masuk ke kamar, pandangan Kenzhou masih pandangan putus asa."


"Apa mungkin kado itu di terima sama anggota keluarga Alatas yang lain?? Dan disembunyikan dari Pak Kenzhou??"


"Nggak mungkin, karena saat kita ngirim paketnya Om Malik sama Tante Rena lagi ada di Jepang. Keiko lagi di Paris, dan Karui?? Ahh.. dia nggak seenggak punya kerjaan itu sampai harus sibuk ngurusin paket.". Ares pun merasa heran, karena paket yang mereka kirimkan tak bereaksi apa-apa bagi ingatan Kenzhou.


"Oya. sayang...kapan kita fitting??"

__ADS_1


"Ehm..sepertinya lusa. Ini fitting terakhir sebelum hari H. Aku harap semuanya berjalan lancar ya mas."


"Amin. Semoga apa yang kita cita-citakan tercapai. Dan mas benar-benar luar biasa bahagia karena sebentar lagi kita akan resmi sebagai suami istri. Jadi mas akan segera bisa menjaga kalian berdua dengan intens"


Ana memeluk Ares dari samping kanan, dan mencari kenyamanan didada sebelah kanan Kenzhou.


"Astaga aku punya 2 bayi sekarang,,,hahahah"


Ana mempoutkan bibirnya sebal,


Cupp...


"Aww..." Ares mendapat cubitan dipinggang kirinya setelah mencium bibir Ana sekilas.


"Sakit..."


"Jangan asal nyosor ya mas, kalau ada yang lihat dikiranya kita pasangan mesum"


Sepertinya mereka lupa kalau mereka berada di sofa ruang tamu kamar ICU milik Aleesha.


...***...


"Malem semua" Kenzhou menyapa seluruh keluarganya, yang sudah duduk rapi di meja makan. Sapaan Kenzhou membuat semua anggota keluarga menghentikan acara makan mereka dan menatap Kenzhou dengan pandangan tak percaya.


"Kok Kenzhou nggak dipanggil? Kenzhou kan juga lapar"


"Ken..." Rena memanggil putra sulungnya yang saat ini sedang mencentongkan nasi ke piring miliknya.


"Ya mah.. kenapa?" tanya Kenzhou tanpa mengalihkan pandangannya, dan lebih fokus pada lauk-pauk komplit yang ada di depannya. "Wah.. ada sop iga nihh..hem"

__ADS_1


"Abanggggg..." Tanpa aba-aba Keiko langsung merangkul Kenzhou, bahkan sendok yang baru akan masuk kemulutnya terbang karena spontan terlempar oleh Kenzhou.


"****... Keii... sendok abang terbang." Kenzhou hanya bisa menatap nanar sendok yang mendarat tak jauh dari tempatnya duduk. "Keikooo...abang lapar Kei. Ck.. Kenapa pake acara peluk-peluk segala sih, jadi terbang kan sendol abang. Ihhh.." Kenzhou terus meronta mencoba melepas pelukan erat Keiko. Namun, belum bisa lepas kini sebuah pelukan erat diterima Kenzhou.


"Ken.. ini beneran Ken anak mama kan??" Rena memeluk Kenzhou sama eratnya dengan Keiko.


"Ya kali anak mama ada duplikatnya. Ken bukan naruto yang punya Kagebunshin kali mah"


"Ahh.. Kenzhou.."


"Mah.. Ken lapar mah.. ih.. lepasin!! Pah, Rui, tolongin dong. Nggak bisa nafas ini" Ken benar-benar kualahan menghadapi 2 serangan wanita strong dirumahnya.


"Mah, Kei.. kasian itu! Lepasin bang Ken nya, mukanya bang Ken merah." mendengar perkataan Karui, Rena dan Keiko spontan langsung melepas pelukan mereka.


"Akhirnya,,, fyuh..." Kenzhou menghela nafasnya panjang. Dia benar-benar hampir tidak bisa bernafas karena pelukan yang terlalu erat. "Mah, Kei, kalau mau peluk kira-kira donk" gerutu Kenzhou.


"Maaf Ken, mama terlalu excited lihat kamu akhirnya mau keluar kamar setelah 6 bulan. Ya ampun Ken,,, tahu gitu tadi mama masak yang lebih banyak."


"Iya bang.. Akhirnya mbak Arin bisa istirahat" Kei langsung spontan menutup mulutnya saat dia merasa keceplosan. Tatapan tajam Karui makin membuatnya salah tingkah.


"Memang Arin kenapa??" tanya Kenzhou pura-pura tidak tahu.


"Ee.. ee.."


"Arin yang menggantikan kamu menghandle perusahaan Ken. Dibantu Ares. Selama 6 bulan ini dia berusaha tanpa lelah, hanya supaya karyawan kamu bisa makan." Malik menyelamatkan putri bungsunya. Dengan alasan yang memang benar.


Kenzhou menunduk menyesali perbuatannya.


"Maaf pah. Kenzhou salah"

__ADS_1


"Hemm.. sudahlah! Makan dulu! Kita bahas itu nanti. Sekarang waktunya makan. Papa sudah lapar." Semua mengangguk menyetujui ucapan Malik. "Makan dahulu baru bicara"


__ADS_2