The Secret Of My Heart

The Secret Of My Heart
PDKT Ala Ares


__ADS_3

Ares begitu kesal ketika pagi tadi dirinya mampir ke AKA demi bertemu dengan Ana, namun ternyata ibu satu anak itu sedang ikut Kenzhou meninjau proyek baru di Bandung. Ini kali pertama Kenzhou mengajak Ana, karena biasanya dia akan mengajak Arin untuk mengikutinya. Hanya saja, hari ini Arin beralasan sedang sibuk.


Dan demi menghilangkan rasa kesal dan kecewanya karena lagi-lagi gagal pendekatan dengan Ana, Ares menuju rumah sakit. Menjenguk Aleesha sekaligus menunggui Langit. Ares tahu ruangan Langit setelah beberapa waktu selalu berpas-pasan dengan ibunya Ana, ketika dirinya ingin menjenguk Aleesha. Dan secara khusus dia tahu, bahwa bocah kecil usia 4 th itu hanya akan ditunggui ketika sudah malam. Sisanya hanya ditunggui oleh suster. Jadi Ares menggunakan kesempatan ini untuk menunggui Langit.


Ares tidur terbaring dan mulai memejamkan matanya diatas sofa ruangan khusus keluarga pasien yang dirawat di ICU.


"nak Ares??" Ares yang baru saja mulai terlelap merasa kaget ketika sebuah tangan menepuk tangannya pelan.


"Ahh.. " Ares memegang kepalanya yang mendadak pusing, kebiasaan ketika dia terbangun karena kaget.


"Ma.. maaf. Apa ibu membangunkan kamu?"Ares belum bisa menjawab pertanyaan yang diajukan padanya. Dia masih mencoba menetralisir rasa terkejutnya. "Nak.. nak Ares baik-baik saja 'kan?"


"Iya buk. Maaf... saya biasa seperti ini jika sedang kaget. Tapi sudah tidak apa-apa. Ibu tidak perlu khawatir."


"Syukurlah... ibu tadi terkejut karena melihat nak Ares tidur disini. Makanya ibu menepuk tangan nak Ares. Ibu ndak tahu kalau nak Ares akan sekaget itu"


"Nggak apa-apa buk.... saya juga yang salah karena tiba-tiba ada diruangan Langit, belum minta izin pula" Ares menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Dia merasa tidak enak ketika langsung ketahuan oleh ibunya Ana, Yani.


"Kok bu Yani udah disini?? Ini baru jam 2 siang. Harusnya 'kan beliau masih dirumah"


"Nak Ares sudah lama?" tanya Yani basa-basi. Sebenarnya dia ingin bertanya, bagaimana bisa Ares disini dan sedang apa.


"Ehm... lumayan buk. Tadi saya menjenguk keponakan saya di ruang 4. Trus mampir kesini. Mau jenguk Langit. Saya kira ada orang, ternyata sepi. Jadi saya menunggu disini" karena tak tahu harus menjawab apa, Ares menjawab dengan sedikit jujur dan sedikit berbohong. "Ibu sendiri??"


"Iya.. hari ini Ana menginap di Bandung, mendampingi atasannya. Bapak lagi dinas malam, maklum security pabrik, kalau si Rani jaga rumah. Jadi hanya ibu saja"


"Kalau nggak keberatan, boleh Ares temani??" Ares menawarkan diri.


"Boleh.. kalau nak Ares sedang tidak sibuk. "


"Aman kok buk. Hari ini tidak terlalu banyak agenda kerja. Jadi bisa sedikit santai" Yani mengangguk pelan. Sempat canggunng beberapa menit. Hingga Yani mengucapkan kata yang membuat Ares terkejut.

__ADS_1


"Nak Ares.. terima kasih"


Ares menoleh dengan dahi berkerut, "Terima kasih? Terima kasih untuk apa ya bu?? Saya merasa tidak melakukan apapun hingga pantas menerima ucapan terima kasih"


Yani tersenyum, pria muda dihadapannya ini begitu rendah hati. Dia tahu, banyak hal baik diterima keluarganya karena campur tangan Ares.


"Nak Ares sudah banyak membantu keluarga ibu. Ibu sangat berterima kasih untuk itu."


Ares terdiam, "Apa bu Yani tahu??"


"Dulu awal bertemu Ana, nak Ares menolong Ana saat jatuh. Lalu di rumah sakit nak Ares menolong Ana lagi. Menolong Rani yang hampir dirusak orang, lalu juga membawa Ana kerumah sakit dan mengobatinya saat hampir keserempet mobil."


"Buk... semua itu kebetulan yang sudah direncana Tuhan. Lagi pula Ana juga sudah membantu mama saya.. Ibu tidak perlu sungkan, hingga harus mengucapkan Terima Kasih seperti itu. Sebagai manusia kita diwajibkan saling tolong menolong 'kan??" senyum tulus tercipta dibibir Ares.


"Ana diterima di perusahaan sekarang juga karena nak Ares 'kan??" Ares terkejut mendapati pertanyaan itu. Namun dia bisa menahan ekspresi kagetnya itu.


"Itu karena Ana memang layak buk. Saya hanya merekomendasikan pada teman saya. Kalau memang Ana kompeten, berarti tidak ada alasan untuk Kenzhou menolaknya"


Ares tersenyum, "Buk, janda itu hanya sebuah status yang harus disandang Ana karena ketidak beruntungannya dalam urusan rumah tangga. Background Ana sebelum menikah adalah sekretaris dan dia kompeten. Kenzhou orang yang lebih mengutamakan skill dari pada status atau latar belakang orang. Jadi, saya tidak berperan apa-apa dalam hal ini. Semua murni karena kemampuan Ana"


"Dan..."


"Astaga buk.. masih ada lagi??"


Yani tersenyum dan mengangguk, "Sudah ibuk katakan bahwa nak Ares telah banyak membantu keluarga ibuk. Dan yang terakhir ini, membuat ibuk dan keluarga benar-benar berhutang nyawa pada nak Ares"


Deg...


Mendengar itu Ares menunduk dan menarik nafas dalam. Cepat atau lambat, keluarga Ana pasti tahu. Meskipun dia telah meminta para dokter dan pihak rumah sakit untuk menutupi semuanya.


"Terima kasih, nak Ares sudah berkenan membayar semua biaya perawatan Langit. Sudah merekomendasikan dokter terbaik untuk Langit, bahkan menandatangani surat tindakan operasi Langit dan juga mendonorkan sumsum tulang belakang nak Ares untuk Langit. Demi Tuhan... ibu dan keluarga benar-benar berhutang nyawa. Langit bukan siapa-siapa nak Ares. Tapi nak Ares sudah rela melakukan apa saja untuk Langit."

__ADS_1


Ares menggenggam tangan bu Yani, menenangkan ibu dari wanita yang ia cintai itu agar lebih tenang.


"Buk..tidak ada hutang nyawa. Ares ikhlas. Demi Tuhan, Ares tulus melakukan semuanya untuk Langit. Langit masih kecil, masa depannya masih panjang. Jangan berpikir macam-macam ya buk. Ares benar-benar tidak membutuhkan balasan apapun. Cukup doakan saja, semoga operasi Ares dan Langit berjalan lancar. Dan tubuh Langit tidak menolak sumsum pemberian Ares. Dan lagi, Langit bukan orang lain untuk Ares, dia putranya Ana. Wanita yang sangat Ares cintai. Wanita yang ingin Ares lindungi dengan seluruh hidup Ares ini buk"


Bu Yani tersentak kaget, dia memandang tak percaya pada pria muda dihadapannya. Pria tampan, pebisnis muda, masih single, anak dari mendiang pengusaha sukses, Herman Sudjatmiko, menyukai putrinya yang seorang janda.


"Ka...kamu???"


"Iya buk, saya mencintai Ana. Sangat mencintainya. Saya ingin menjaga Ana dan Langit, saya juga ingin Ana menjadikan saya tempatnya bersandar dan bercerita. Saya tidak perduli dengan statusnya, bagi saya status itu tidak penting. saya mencintai Ana dan saya menerima Ana dengan segala kekurangannya."


"Apa nak Ares yakin?? Nak Ares selamanya hanya akan jadi yang kedua dalam hidup Ana, tidak akan bisa mendapatkan yang pertama."


"Tapi...saya akan menjadi yang terakhir untuknya" Ares berkata dengan sangat mantap.


"Orang tuamu??"


"Setelah pertemuan kedua kami dirumah sakit, dan setelah tahu bahwa dia bukan lagi seorang gadis, saya sudah menceritakan semua niat saya pada kedua orang tua saya. Dan mama sangat mendukung apapun keputusan saya. Mama bahkan saat ini begitu dekat dengan Ana. Dan sangat menyayangi Ana juga Langit.. "


Bu Yani tersenyum bahagia, dia membelai rambut Ares penuh kasih sayang.


"Terima kasih sekali lagi, karena nak Ares berkenan mencintai putri ibuk dengan segala kekurangannya"


"Bagi Ares, Ana sudah sangat sempurna sebagai seorang wanita terlepas dari semua masa lalunya. Nanti setelah dia pulang dari Bandung, Ares akan bicara dengannya dan mengungkapkan semuanya. Ares minta doa dan restunya ya buk"


"Ya...kalian harus bisa saling bicara, ibu titip Ana dan Langit ya nak Ares. Ibu mohon, jangan sakiti Ana. Buat dia bahagia. Ibu merestui niatmu nak"


"Terima Kasih buk. Ares janji akan membahagiakan Ana dan nggak akan membuat airmata jatuh lagi dari kedua matanya. Ares akan buktikan janji itu.."


Ares tersenyum dan memeluk wanita setengah baya itu. Ares lalu berdiri mendekat kearah pintu rawat, menatap balita berusia 1,5th yang terbaring lemah didalam sana.


"Langit, om minta doa restumu ya. Izinkan om untuk membahagiakan mama mu. Om berjanji, om nggak akan pernah menyakiti mamamu walau hanya seujung kuku. Cepatlah sembuh, dan om akan membawamu jalan-jalan kemana pun kau mau. "

__ADS_1


...●●●●●●●●...


__ADS_2